
Ampun Tuhan, sejenak kaki ku rasanya berat. Nggak bisa di gerakin. Apa ini? Kenapa William memintaku menjadi pacarnya, padahal kan kami kenal belum nyampe satu bulan. Dan itu pun aku masih nggak tahu bagaiman perasaan ku terhadap nya. Mampus apa yang harus ku jawab. Willi masih
memandang ku dengan amat dalam. Tetapi wajahku hanya sanggup untuk menunduk, dan aku tak berani menghadap wajahnya.
"Ndien? Kamu nggak papa?"
Perlahan tapi pasti aku sedikit menaikkan wajah dan mulai memandang matanya yang penuh harapan.
"Aku nggak papa kok. Hanya saja aku bingung harus ngapain. Aku nggak tahu mau jawab apa!"
"Aku maklum, aku ngerti kok. Kamu pasti belum bisa ngasih jawaban sekarang. Tapi aku bakalan nunggu sampai kamu siap jadi pacarku"
"Sorry ya"
"Oh ya udah mau malam, pulang yuk"
Akhirnya kami pulang juga. Tapi aku masih belum tenang. Kali ini bukan karena melihat Dava yang bermesraan dengan Jessika melainkan karena Willi yang mengungkapkan perasaan. Aku bingung harus ngapain. Setibanya di rumah, Willi langsung pamit pulang ke rumahnya. Sementara aku dengan lesu dan wajah suram memaksakan kaki untuk masuk ke dalam rumah. Bibi menyapa ku saat aku masuk, tetapi aku hanya berjalan lurus dengan wajah tertunduk. Lalu naik ke atas tangga dan masuk ke kamar. Kali ini aroma masakan Bi Ina tidak berhasil membuatku lapar. Aku merebahkan tubuh di atas kasur, bolak balik kasur. Tapi tak jua kunjung tenang. Entah apa yang harus ku lakukan agar kepalaku bisa tenang dan seluruh sarafku bisa kembali bekerja seperti biasanya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk aja Bi, nggak di kunci"
"Non, ada Nyonya di bawah, lagi nunggu Non buat makan malam"
"Iya Bi, nanti Nadien turun"
"Bibi tinggal dulu ya Non"
"Iya Bi"
Aku beranjak dari tempat tidur dan segera mengganti pakaian. Lalu aku pun turun menuju ruang makan.
"Malam sayang"
"Malam Ma"
"Kamu kok kayak nggak semangat gitu? Ada masalah ya?"
"Nggak kok Ma, biasa aja"
"Oh ya kamu tadi dari mana? Kok lama banget pulangnya. Bibi udah khawatir lho sama kamu. Untung Mama punya kunci serap bisa masuk ke rumah. Kalau nggak bisa terkunci kita di luar semalaman. Telpon Mama juga nggak ada kamu jawab-jawab"
"Nadien habis dari taman Ma"
"Ya udah nggak papa, tapi lain kali kasih tahu kalau kamu lama pulang"
"Iya Ma maaf"
"Yaudah makan ya sayang"
Mama menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring ku. Kemudian kami bertiga menyantap makanan kami masing-masing.
"Oh ya Bi, gimana kabar Siska?" Mama memulai pembicaraan dengan Bibi. Aku sama sekali tidak tertarik mendengar pembicaraan mereka. Apalagi kalau yang di bahas itu Siska.
"Sudah ada kemajuan Nyonya. Hanya saja belum sembuh total. Mudah-mudahan besok sudah bisa sembuh"
"Iya amin..." Mama melirik ke arah ku lalu terlihat kerutan kecil di keningnya.
"Kamu kenapa Ndien?"
"Nggak kenapa napa Ma"
"Tapi kok kayaknya lesu banget. Ada masalah ya?"
"Nggak ada Ma"
"Yakin?"
"Iya Ma"
"Ya deh"
Tok.. tok... tok... "Ndien? Buka pintunya sayang, ini Mama"
"Masuk aja Ma, nggak di kunci"
"Hai sayang, kamu ada apa, kayaknya Mama lihat dari tadi kamu kurang bersemangat, ada masalah ya?"
"Nggak ada Ma. Nadien baik-baik aja kok. Mungkin karena ke capek an makanya agak nggak semangat aja bawaannya"
"Capek apa galau?"
"Ih.. Mama apaan sih!"
"Memang nya kamu aja yang pernah muda? Mama juga pernah muda. Dilema yang kamu rasakan juga Mama rasakan. Bahkan Mama duluan yang merasakan nya. Pasti karena cowok, ya kan?"
"Mama apaan sih? Ya nggak lah Ma, Nadien nggak pernah mikirin cowok"
"Kalau kamu nggak mikirin cowok berarti kamu nggak normal dong"
"Ya nggak gitu juga, hanya saja Nadien belum mau pacaran lagi"
"Tuh kan benar, pasti kamu habis di tembak ya. Sama siapa sih, oh Mama tahu. Pasti sama Will... William ya kan"
"kok Mama tahu?"
"Ya iyalah, kan Mama udah bilang apa yang kamu rasakan itu udah Mama rasakan waktu muda"
"Hmm ya deh. Jadi gitu Ma, barusan Willi nembak Nadien, tapi belum Nadien jawab. Habis Nadien bingung mau jawab apa!"
"Jawab apa adanya. Yang penting kamu nggak nyakitin perasaan Willi terus kamu juga nggak merasa terpaksa jadi pacarnya Willi. Mama rasa, apapun jawaban yang kamu kasih, Willi bisa kok terima"
"Iya Ma, tapi aku sendiri nggak tahu mau jawab apa!"
"Mama tanya kamu, kamu ada rasa nggak sama Willi?"
"Entah. Aku kan baru kenal Willi beberapa minggu, sedangkan waktu pacaran sama Dava aja aku kenal Dava berbulan-bulan baru pacaran sama dia. Ini baru beberapa minggu masak sih langsung jadian"
"Banyak kok yang kayak gitu. Nah kamu harus ngerti, kadang cowok itu kalau udah suka sama seseorang mereka nggak akan sanggup nahan perasaannya. Apalagi kalau sempat tahu cewek yang dia suka banyak penggemar. Pasti bakalan berusaha ekstra keras buat dapetin cewek yang dia suka. Beda dengan perempuan, kalau perempuan bisanya cuma nunggu. Karena kita dipilih sayang bukan memilih"
"Gitu ya Ma. Trus kalau salah milih gimana?"
"Ya kayak Mama. Dulu Mama pikir Papa kamu itu cinta sejati Mama, tapi baru 9 bulan nikah eh dianya udah selingkuh, bahkan sampai sekarang"
"Trus Mama nggak nyesal?"
"Sometimes. Tapi nggak ada guna juga kan"
"Hmmm. Hal lain yang membuat Nadien nggak bisa ngasih jawaban karena ternyata Willi sama Dava itu kembar Ma. Tapi Nadien belum sepenuhnya percaya"
"Masak sih. Kamu tahu dari mana? Perasaan waktu dinner Carla cuma bawak satu anak"
"Iya itu juga yang buat Nadien nggak percaya"
"Tapi bisa aja sih. Mungkin Dava tahu kita bakalan dinner bareng mereka, atau mungkin emang Dava nya aja nggak suka ikut-ikutan acara makan malam orang tuanya"
"Bisa jadi. Oh ya Ma, Nadien ngantuk. Nadien istirahat dulu ya"
"Ok... ingat pesan Mama jangan gantungin orang, mereka bukan hanger lho ya. Yang jelas kamu nggak nyakitin mereka dan kamu juga nggak tersakiti. Ok"
"Iya Ma. Pasti"
"Bye"
"Good night Momy"
"Good night Honey"
Mama memberiku kecupan sebelum meninggalkan kamarku dan membiarkan ku terlelap dalam mimpi. Aku beruntung Mama mulai berubah menjadi Mama yang hangat yang selama ini aku dambakan. Semoga Mama selalu seperti ini, dan somoga kelak keluarga ku bisa menjadi harmonis seperti keluarga yang lainnya.
Amin.