WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
36



Dokter masuk beberapa menit setelah Dava keluar dari ruangan.


“Bagaimana Ndien, kamu udah merasa lebih baik sekarang?”


“Lumayan Dok” hanya saja masih kesel Dokter.


“Coba saya periksa dulu ya. Sepertinya kamu sudah baikan sekarang”


“Sudah boleh pulang kan Dok?”


“Boleh, tapi jangan lupa minum obat. Terus kalau ada masalah lagi harus cepat ke Rumah Sakit, Ok”


“Baik Dokter”


Kemudian Dokter itu menyuruh seorang Perawat untuk membuka infus dari tangan ku. Sedangkan William mengurus administrasi di ruang resepsionist untuk kepulangan ku. Dan juga sekaligus mengambil resep Dokter. Setelah semuanya beres, William menuntun ku dengan kursi roda menuju parkiran. Sesampainya kami di parkiran, Willi membuka pintu mobil dan menuntun ku untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu William pun menyusul, dia duduk di bangku supir dan kemudian dia mengendarai mobil yang kami tumpangi dengan perlahan. Sejenak suasana di dalam mobil terlihat hening dan sepi. Aku membuka kaca mobil dan menghirup udara kebebasan. Rasanya sangat damai akhirnya aku bisa juga merasakan udara segar.


“Kamu kayak baru keluar dari penjara aja”


“Memang. Eh Will kamu nggak bakalan kenapa-napa kan, aku diajarin sama Dava”


“Nggak papa sih, kan demi kebaikan kamu juga”


“Memangnya kamu nggak bakalan cemburu, marah atau gimana gitu?”


“Memang nya aku pacar kamu?”


“Iya.. memang sih kamu bukan pacar aku, tapi kamu kan suka sama aku. Memangnya kamu nggak bakalan kepikiran gitu, kalau aku dekat sama Dava ntar aku flashback, terus jatuh cinta lagi sama dia. Kamu nggak takut?”


“Itu ramalan kamu atau rencana kamu?”


“Ya ampun, kamu kok malah ketularan Dava sih?”


“Lagian ngapain juga aku marah, kalau pun aku kepikiran kalian bakalan baperan karena sering berduaan, aku bisa apa. Paling galau nya seminggu doang, abis itu aku ngilang”


“Kok kamu gitu sih ngomong nya”


“Kamu aja belum jawab”


Iya juga sih, aku baru nyadar selama ini aku sudah menggantungkan cintanya William seperti koleksi gantungan kunciku. Sorry ya Will, bukannya mau nyakitin kamu tapi aku lagi nyari waktu yang tepat buat jawab sekalian lagi ngumpulin nyali.


Kalian para cowok harus merenungi satu hal ini, kalian harus berfikir bahwasannya bukan hanya kalian saja yang nggak berani ungkapin rasa. Kami juga, kalian pikir kalian aja yang ragu yang sok jaga image. Justru gengsi kami lebih tinggi dibandingkan ego kami. Bukan cuma rindu aja yang berat, tapi mengungkapkan rasa juga berat, lebih berat malah.


Akhirnya kami sampai di depan gerbang, Bibi langsung membukakan pintu gerbang. Kamudian willi memasukkan mobil ke halaman depan rumah. Lalu mesin dimatikan.


“Thanks ya udah jagain aku selama ini. Sorry aku sudah banyak ngerepotin kamu”


“Kamu nggak pernah ngerepotin aku”


“Ya deh, yaudah aku masuk dulu”


“Hati-hati”


“Kamu nggak singgah dulu?”


“Sorry Dien kayaknya aku nggak bisa singgah, kamu masuk sendiri aja ya. Soalnya aku buru-buru, aku ada janji sama angota band ku buat latihan”


“Oh ya deh. Sekali lagi makasih ya”


“Sama-sama”


“Bye”


“Bye”


Aku turun dari mobilnya, lalu dia memundurkan mobilnya dan meninggalkan ku bersama Bibi di rumah.


“Bibi seneng akhirnya kamu sembuh dan bisa pulang ke rumah, Bibi kangen soalnya”


“Nadien juga kangen sama Bibi”


“Yuk masuk, Bibi udah siapin ayam kecap yang super enak buat kamu”


“Bibi tahu aja deh kalau Nadien lagi pengen makan enak hari ini”


“Ya iya lah Bibi tahu, kamu itu sudah Bibi anggap kayak anak sendiri”


“Makasih Bi”


“Ya udah yuk masuk ntar makanan nya dingin lagi”


“Hahaha, iya Bi”