WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
10



Minggu...


Seperti biasa aku dan Bibi selalu ke Gereja untuk mengikuti Misa ke-2 setiap hari Minggu. Tentu saja tanpa Mama dan Papa. Sebenarnya Bibi lebih senang ikut Misa-1 karena jemaat yang hadir tidak terlalu ramai, jadi Gereja tidak sesak dan banyak bangku kosong yang tersedia. Jadi kami tidak perlu berdesak-desakkan dengan jemaat yang lain. Namun karena aku susah di bangunin, akhirnya Bibi terpaksa ikut Misa ke-2. Soalnya dia tidak tega melihat aku Misa sendirian di Gereja.


Aku memanaskan motor sambil menunggu Bibi keluar dari kamar. Bibi walaupun kesehariannya nggak pernah dandan dan berpakaian seadanya layaknya pembantu lainnya, tapi di saat hari Minggu kalau mau ke Gereja Bibi selalu berpakaian rapi sekalipun bukan pakaian yang mahal. Yang jelas pakaian nya bersih, rapi dan wangi, rambutnya pun di tata dengan rapi, sekalipun tidak di balut dengan make-up. Dandanan Bibi jauh berbeda dengan anaknya Siska. Kalau Siska pergi ke Gereja dia selalu memakai gaun yang seksi minimal pakai rok mini. Kadang aku heran aja ngeliat dandanan nya, nggak sesuai aja ngeliatnya. Kalau kami bertemu Siska di Gereja, Siska langsung minder dan berusaha nyari kursi yang jauh dari kami. Maklumlah dia takut kalau ada yang tau Siska itu sebenarnya anak seorang Pembokap. Terkadang aku kasihan melihat Bi Ina yang tersinggung dengan kelakuan anaknya dan tidak pernah diakui oleh anaknya sendiri. Kalau udah ngeliat raut wajah Bi Ina yang lesu, aku langsung menyentuh pundaknya dan berkata. "Sabar aja Bi, ntar dia sadar sendiri". Lalu Bi Ina mengangguk dan kami pun mencari tempat yang menurut kami nyaman.


Bibi keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah lalu ku laju kan motor keluar gerbang. Aku menunggu Bibi yang sedang mengunci gerbang, setelah gerbang terkunci Bibi langsung naik di atas motor ku, saat kurasa posisi Bibi sudah nyaman aku langsung melajukan motor ke jalan raya menuju Gereja Katedral. Setibanya di Gereja Katedral aku mencari tempat parkir. Lalu ku parkir motor ku di parkiran yang masih kosong. Setelah memarkirkan motor kami pun masuk ke Gereja. Untung kami datang agak cepat, jadi masih bisa menemukan bangku kosong. Aku dan Bibi langsung mencari tempat yang kosong dan kami pun langsung duduk di bangku itu. Terlihat ada seorang pria yang sebaya dengan ku duduk sendirian di bangku bagian tengah. Tanpa ragu kami pun duduk di samping nya, lagian tempat itu masih bisa di isi sekitar 6 orang lagi. Aku duduk pas disamping pria tersebut sedangkan bibi duduk disampingku. Lalu aku bersujud dan berdoa sebelum misa di mulai.


"Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin"


Aku menyelesaikan doaku dengan membuat tanda Salib lalu duduk.


"Ndien"


Aku terkejut saat pria di samping ku menepuk bahuku. Lalu aku menoleh ke samping.


"Astaga Willi... kamu tu ya kebiasaan, suka banget ngejutin orang"


"Itu nggak ngagetin"


"Terserah tapi sama aja, aku jadi kaget"


"Hehehehe"


Bibi yang mendengar kami berdua langsung menoleh ke arah kami dan dia sangat senang karena melihat Willi.


"Nak Willi"


Sapa nya dengan senyuman mempesona seolah bertemu dengan artis idaman.


"Hai Bi"


"Bibi seneng kita bisa ketemu di sini satu bangku lagi"


"Iya Bi saya juga senang bisa ketemu Bibi di sini, Nadien juga seneng kayak nya Bi"


"Idih, siapa yang seneng, yang ada aku jadi ilfeel dan rasanya pengen keluar dari sini"


"Jangan gitu dong, ini kan Gereja"


"Bodo amat"


"Ya nggak lah"


"Karena kita jodoh"


"Ihhh.. amit-amit... nggak ya, apa hubungannya ketemu di Gereja dengan jodoh"


"Ada, kamu nggak percaya liat aja nanti, dalam waktu 30 hari ke depan kamu akan jatuh cinta denganku, atau bahkan nanti malam kamu akan mikirin aku terus sampai nggak bisa tidur"


"Hehe.. lucu ya, nggak mungkin, yang ada paling kamu tuh yang suka dengan ku. buktinya kamu ngikutin aku terus"


"Yeee... nggak percaya, liat aja nanti, lagian aku nggak ngikutin kamu kok. Buktinya aku duluan yang nyampe Gereja, kalo kemaren sih, emang aku ngikutin kamu, tapi kalau yang ini nggak murni karena Tuhan yang mempertemukan"


"Yeeee ngayal"


"Bagaimana kalau kita taruhan"


"Aduh udah deh Will... ini bukan waktunya bermain tapi waktunya untuk berdoa"


"Iya aku tau.. tapi aku mau taruhan"


"Udah deh Wil"


"Kamu takut?"


"Aku takut? Ya nggak lah"


"Terus kalo takut kenapa nolak?"


"Ok... apa taruhan nya"


"Kalau dalam satu bulan ini kamu jatuh cinta sama aku kamu harus nurutin semua yang aku minta"


"Kalau aku nggak jatuh cinta?"


"Aku bakalan lakuin apa pun yang kamu suruh"


"Menarik. Ok, deel"


Au menerima tantang nya dengan menjabat tangan nya, dia pun sangat antusias karena aku menerima tantangan ini. Siapa takut. Pikirku.