
Willi mengantar ku pulang dengan meninggalkan rasa bersalah di hatiku. Aku masuk ke kamar dan tidur di atas kasur. Kenapa ya segitu ribetnya buat berhubungan sama lawan jenis. Semuanya serba salah, jujur salah, bohong salah, semuanya salah. Aku nggak bermaksud buat nyakitin perasaan nya. Tapi tadi tuh emang aku lagi ingat waktu Dava megang tangan Jessika. Tapi bukan berarti aku masih suka sama dia. Dan bukan berarti aku juga masih memikirkan nya. Sikap ku yang suka keceplosan selalu membuat ku sial. Seandainya aku bisa sedikit saja mengurangi sikap buruk dan membuat sial ini, pasti Willi nggak akan marah. Hah... aku menarik nafas lalu membuang nafas pelan.
"Telpon nggak ya. Tapi nanti kalau nggak di angkat gimana?"
Aku mengotak atik handphone. Aku berniat untuk menelponnya tapi niat itu ku urungkan, karena aku takut nanti dia tidak mau menjawab telpon dariku. Aku jadi semakin merasa bersalah. Bodoh nya aku, sudah membuat orang yang begitu baik dan ramah padaku menjadi kecewa, hanya karena seorang pengecut seperti Dava.
"Telpon nggak? Telpon nggak? Telpon nggak? Telpon nggak ya?"
Aku berpikir lagi, selama ini William selalu baik dan berhasil membuat ku merasa lebih berarti, selama ini dia selalu memperhatikan ku, jadi nggak ada salah nya kalau aku menelpon nya dan memastikan bahwa dia tidak salah paham dengan ku. Segera ku pencet nomor telpon nya dan langsung terhubung.
Tut...tut...tut...tut..
"Tuh kan nggak di angkat"
Aku memencet nomor nya lagi.
Tut... tut...tut...tut... 3×
Hampir 3 kali aku menelpon nya namun tidak ada jawaban. Aku pun jadi kecewa dan tambah merasa bersalah. Lalu aku menutup hanphone ku dan ku taruh di dada lalu ku tutup mataku sambil menarik nafas. Tiba-tiba handphone ku berdering dengan cepat aku langsung mengangkat telpon dari Willi.
"Hallo Ndien"
"Hallo Will" suara ku sedikit mengecil karena aku takut dia bakalan marah-marah padaku.
"Iya kenapa Ndien? Sory tadi nggak sempat ngangkat soalnya aku lagi mandi"
"Oh gitu. Aku cuman mau mastiin kamu masih marah atau nggak"
"Oh soal tadi. Ya nggak lah Ndien, buat apa aku marah. Itu kan hak kamu mau suka sama siapa. Justru aku nggak punya hak apapun buat marah hanya karena kamu masih suka sama Dava"
"Tapi aku nggak punya perasaan apapun sama dia serius, sumpah"
"Terus kenapa kamu tadi tiba-tiba mikirin dia?"
"Oh itu, iya waktu itu aku kepikiran aja saat ngeliat Dava mengang tangan Jessika di Rumah Sakit"
"Oh... kamu masih cemburu?"
"Ya nggak lah. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba kepikiran dia waktu itu"
"Hmm"
"Nggak usah di bahas lagi ya, aku bersyukur kamu nggak marah"
"Aku kan bukan pacar kamu, jadi ngapain aku harus marah"
"Tapi tadi kamu keliatan kecewa"
"Hmm... iya sih tapi dikit kok, udah deh tapi katanya nggak usah di bahas"
"Iya"
"Kamu lagi ngapain?"
"Lagi tiduran di kamar"
"Oh, belum tidur?"
"Belum ngantuk"
"Mmm... terus kapan kamu tidur?"
"Kalau udah ngantuk"
"Mau dengar aku nyanyi nggak? Siapa tahu kamu bakalan tertidur dengar suaraku bernyanyi"
"Boleh"
"Bentar ya aku ambil gitar dulu"
"Oky"
"Hallo Ndien?"
"Iya"
"Oh, kirain udah di matiin"
"Belum, tapi kamu mau nyanyi"
"Iya. Kamu mau lagu apa?"
"Terserah"
"Barat atau Indonesia?"
"Terserah"
"Well... Ok"
* I'm not a perfect person
There's many things I wish I didn't do
But I continue learning
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with everyday
And all the pain I put you through
And be the one who catches all your tears
That's why I need you to hear
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I've found a reason to show
A side of me you didn't know
A reason for all that I do
And the reason is you*
Suara Willi membuat ku terbuai dengan rayuan dari setiap kata yang Ia ucapkan. Kata-kata yang memiliki banyak makna membuat ku semakin yakin untuk menerima cintanya. Hanya bisa berharap suatu hari saat aku siap mengatakan aku mau jadi pacar kamu, Willi benar-benar menjaga cintanya hanya untuk ku. Karena aku ingin kisah ini selalu mengalir seperti sungai. Aku ingin kisah ini abadi sampai selamanya.
"Gimana Ndien? Ngantuk nggak?"
"Belum. Tapi makasih ya aku terhibur. Suara kamu bagus juga, kenapa kamu nggak jadi vokalis aja?"
"Nggak semua orang mau nyanyi di atas panggung Ndien"
"Iya juga sih. Aku juga nggak berani kalau di suruh nyanyi di atas panggung"
"Bukan nya nggak berani. Tapi aku lebih senang kalau orang-orang mendengar alunan gitar ku daripada suara ku"
"Oh. Tadi itu bukan nya lagu jadul ya!"
"Nggak jadul-jadul amat sih. Kenapa?"
"Nggak ada, aku pernah dengar tapi nggak tahu penyanyi sama judul lagu nya"
"Oh, yang nyanyi in band Hoobastank judul nya The Reason"
"Oh, ntar aku searching"
"Kamu suka ya sama lagu nya!"
"Iya, lagu nya bagus"
"Hmm. Kamu nggak perlu searching ntar kalau di sekolah aku bagi deh lewat share it"
"Nggak usah aku bisa kok download lagu nya"
"Nggak papa, itung-itung hemat kuota"
"Kamu apaan sih, paling juga 300 MB yang habis. Segitunya hematin kuota"
"Hahahaha... ya deh terserah"
"Ada ada aja kamu"
Diam....
"Ndien... udah malam kamu tidur ya"
"Kamu udah ngantuk?"
"Belum sih, tapi kasihan kamu nanti telat bangun, terus telat juga ke Sekolah"
"Kan ada kamu yang bakalan bangunin sama ngantar aku ke Sekolah"
"Sejak kapan kamu bisa gombal kayak ini? Aku kaget lho dengar nya"
"Huh... nggak jadi deh. Ya udah aku tidur ya"
"Eh tunggu dulu, kamu kok ngambek?"
"Siapa yang ngambek?"
"Kamu"
"Nggak kok. Aku memang ngantuk"
"Ya deh. Ya udah selamat malam, selamat tidur"
"Iya"
"Bye"
"Bye"
Telpon pun terputus. Entah kenapa jantung ku berdebar-debar. Senyuman ini tidak bisa hilang dari bibir ku. Hingga akhirnya aku terlelap dan larut dalam mimpi.