WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
13



Setelah merapikan rambutku, Willi menggenggam tanganku dan dengan santainya dia membawaku ke Kelas. Kami berpas-pasan dengan Siska and the Geng, terlihat cibiran di wajah mereka. Jelas saja, pasti mereka cemburu karena aku bisa jalan sama cowok yang nggak kalah ganteng nya dengan Dava. Bahkan lebih ganteng malahan. lebih tinggi, lebih cool, lebih ramah, dan yang lebih penting lebih gentle. Sekalipun aku berusaha bersikap biasa saja, namun aku sangat-sangat tidak nyaman. Apalagi melihat reaksi semua orang yang melihat kami berjalan berdua. Terkadang ada yang teriakin kita berdua.. seperti kata cieeeee... cieee... terus ada juga yang ngejek si kuper dapat gebetan baru ya... pakai apa tuh, jangan-jangan pelet lagi. Dan masih banyak lagi kata-kata yang menyakitkan. Semakin banyak yang mengejek, semakin erat pula Willi menggenggam tanganku. Aku jadi nggk karuan wajah memerah rasa habis terbakar. Willi mengantar ku sampai di depan kelasku.


"Udah nyampe"


"Kenapa harus sampai kelas sih?"


"Lho, kan aku udah bilang mau ngantarin kamu"


"Tapi kan nggak perlu sampai di Kelas Will, malu tau. Terus ini apa pegang-pegang tanganku"


"Mmmmm.. biar orang-orang tau kalau kamu udah aku boking selama satu bulan ini. Jadi nggak akan ada yang ganggu kamu ataupun ngerayu kamu"


"Astaga... kamu tu pdnya lumayan tinggi ya"


"Hmmm..."


"Yaudah gi sana ke Kelas, ntar bel masuk bakalan bunyi"


"Ok... bye.."


Willi melepaskan tanganku dengan sangat tidak ikhlas lalu ia mengacak rambutku dan memegang pipiku. Aku jadi makin memanas serasa mau gosong. Baru kali ini ada cowok yang mau ngelakuin hal ini padaku. Selama ini Dava nggak pernah menyentuh ku. Kita berdua sama-sama kaku. Tapi sejak ketemu Willi aku merasakan ada hal baru, dan aku merasa aku berubah menjadi sosok yang berbeda. Kemudian Willi meninggalkanku di depan kelas dengan jantung yang berdegub kencang. Aku memandangi punggungnya. Secara bersamaan aku juga melihat dava yang sedang berjalan menuju kelas.


Kurasa Dava melihat apa yang di lakukan Willi pada ku tadi.


Saat Dava sampai di depan pintu, ia berhenti dan menatapku.


"Aku nggak nyangka, ternyata kamu cukup populer juga ya. Atau mungkin kamu cukup gesit mencari cowok. Aku pikir cuman aku cowok bego yang mau pacaran sama kamu"


Apa maksudnya itu.


"Bukan urusan kamu. Dan lagian memangnya kamu doang cowok ganteng di sekolah ini. Ingat di atas langit masih ada langit"


Habis bicara seperti itu Dava meninggalkan ku di depan pintu sendirian sambil senyum-senyum. Aku sangat tersinggung dengan omongannya.


Ada ya manusia semunafik itu.


Lalu aku masuk ke Kelas dan meletakkan tas di atas meja, lalu duduk di bangku ku. Tak lama kemudian Jessika masuk ke dalam kelas dan langsung melengketkan badan di badan Dava.


"Hai sayang"


Sapa Jessika pada Dava untuk memanas-manasiku.


"Hai"


"Mmm sori ya tadi aku nggak bisa ke Sekolah bareng soalnya hari ini kan jadwal aku sama temen-teme. Kamu nggak papa kan sayang"


"Nggak papa kok"


"Hmm... hehehe"


Tiba-tiba saja Jessika melirikku yang sedang pura-pura membaca buku seolah aku tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Oh.. ya sayang, tadi aku ngeliat mantan kamu jalan sama cowok deh. Kayaknya dia udah berubah ya, jadi cewek genit"


"Biar aja mungkin emang selama ini dia genit cuman jaga image aja kali makanya nggak di nampakin. Baru sekarang ketahuan"


"Ya udahlah ya... paling juga bentar lagi di tinggalin"


"Hmmm.."


Kurang ajar. Dia nggak ngaca ya... kalau aibnya itu udah nyebar dimana-mana. Padahal dia itu hobinya ke klub, minum-minum, mabuk-mabukkan, joget-joget seperti orang yang kesurupan. Idih... cewek kayak gitu di bangga-banggain. Ih... kalau aku jadi Dava mending ngejomlo daripada harus pacaran sama dia.. hmm...