WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
17



Keesokan harinya seperti biasa aku bangun, lalu sarapan lalu berangkat ke sekolah. Saat aku sedang sarapan willi mengirim pesan.


Willi: Ndien aku udah di depan rumah, cepetan dong, ntar telat lagi.


Melihat sms dari Willi aku jadi tambah semangat, lalu cepat-cepat ku kunyah sandwich yang di buatkan Bi Ina.


"Non, pelan-pelan dong makannya. Ntar keselek lho!"


"Mmmm... nggak papa Bi. Willi udah nunggu di luar pagar"


"Oooo..... dasar anak muda"


"Kenapa Bi?"


"Nggak... nggak ada apa-apa"


"Aku jalan dulu ya Bi"


"Iya hati-hati di jalan"


Aku setengah berlari menuju luar rumah. Lalu saat aku telah berada dekat Willi, refleks aja aku senyum-senyum seolah aku menantikan kedatangannya. Dia pun membalas senyumanku dan memberikan helmnya padaku. Kemudian kita berangkat ke sekolah.


Hari ini aku merasa nyaman banget dan nggak ada kekhawatiran sama sekali kalau nanti aku jatuh cinta sama nya. Atau mungkin aku sudah jatuh cinta? Huf, entahlah... yang jelas Willi nggk boleh sampai tahu apa yang aku rasakan. Kurang lebih 15 menit kami berkendara akhirnya kami tiba di sekolah.


Saat di parkiran ternyata Jessika dan Dava juga baru nyampe dan sedang memarkirkam motor. Kebetulan motor kita terparkir bersebelahan. Jessika yang melihat kehadiranku langsung menempelkan badannya ke punggung Dava lalu melingkarkan tangan nya di pinggang Dava.


Ngapain coba, kan udah nyampe sekolah, harusnya dia tuhh turun dari jok motornya Dava kemudian pergi ke kelas.


Aku pura-pura nggak ngeliat. Lalu aku turun dari motornya Willi, begitu juga dengan Jessika. Namun ia agak sedikit berlagak mesra dengan Dava. Mereka mendahului kami dengan bergandengan tangan. Sepanjang jalan Dava mengacak-acak rambutnya Jessika. K**ampungan. Tapi cukup membuatku kepanasan, dan rasanya ingin terbakan.


"Nggak papa kok, aku cuma heran aja. Harus ya.. pamer kemesraan di sekolah"


"Kamu jelous?"


"Ya.. nggak lah. Ya udah yuk ke Kelas. Emm oh ya, kamu nggak perlu nganterin aku sampai Kelas"


"Iya nih, aku juga lagi buru-buru ke Kelas ku ada pr soalnya yang harus di kumpulin hari ini, cuman belum siap. Aku mau nyalin punya teman"


"Oh.. bagus dong. Ya udah aku duluan ya"


"Hmm.. sampai jumpa di Kantin"


"Ok.. bye.."


Padahal memang benar aku jelous. Aku masih belum ikhlas, Dava mencampakkan ku hanya untuk mendapatkan gadis murahan seperti Jessika. Apa sih keunggulan Jessika? Cantikan aku kalau di pikir-pikir.


Aku pun berlalu dan berlari kecil menuju Kelas, dengan perasaan yang masih campur aduk. Sampai di Kelas bel masuk pun berbunyi. Kami semua bersiap-siap duduk di bangku masing-masing dan menyiapkan buku Matematika. OMG. Bisa bayangin nggak kamu baru bangun terus dipaksa berpikir setengah mati. Matematika ini sungguh menguras isi otakku. Hari ini kami belajar Operasional Suku Banyak. Pelajaran kemarin aja belum kelar tentang Limit, sekarang udah muncul pelajaran baru.. yang makin susah lagi. Aduh.. bisa tinggal Kelas nih. Hmm..


Aku berusaha untuk bisa memahami yang di jelaskan Buk Leila di depan Kelas. Tapi semakin kuat aku berusaha, semakin sakit yang kurasakan. Belll.. cepatlah bell..


Hal yang akhirnya bisa membuat kepalaku sedikit tenang adalah melihat jam sambil menunggu bel. Dan akhirnya bel pergantian pelajaran berbunyi. Jam pelajaran ke-2 adalah Bologi. Ketua kelas kami Iyan, menyuruh kami untuk membawa buku ke ruang Labor. Karena Guru Biologi sedang menunggu di sana. Kami semua bergegas menuju Lab. Biologi. Ternyata Kelas nya Willi berada di samping Labor. Aku baru tahu Kelas nya Willi di mana. Karena nggak sengaja mata kami bertemu saat aku melirik sebuah Kelas yang berada di samping Labor. Refleks aja aku senyum-senyum melihat wajahnya Willi yang nggak fokus dengan apa yang sedang mereka pelajari, dia pun membalas senyumanku seolah mendapatkan hiburan dari jenuh nya pikiran nya. Sepertinya dia sedang menghayal sambil menatap luar jendela untuk menghilangkan suntuk. Kami semua sudah berkumpul di dalam Lab Biologi. Lalu kami di bagi menjadi 5 kelompok dalam satu kelompok isinya ada 5 orang. Kami semuanya berjumlah 25 orang. Teman sekelompok ku ada Rina, Riko, aku, Rani dan Dava. Rani juga termasuk siswa yang berprestasi. Bahkan dia sering memenangkan berbagai lomba ataupun Olimpiade Saintek.


Aku sedikit kesal, kenapa harus satu kelompok dengan Dava. Selama dalam kelompok, hanya aku yang terdiam. Nggak ngerti sama sekali dengan apa yang sedang kami teliti. Untungnya Rani orangnya ramah, jadi aku diajarin sama dia. Yaaa.. lumayan lah. Aku cuma dikasih tugas untuk mencatat kesimpulan dari hasil penelitian kami. Karena cuma itu yang bisa kuandalkan, mencatat hasil buah pemikiran orang lain.


Jessika bukan satu kelompok dengan kami. Jadi dari tadi dia memperhatikan kami terus. Mungkin dia takut aku merebut Dava darinya. Padahal aku nggak punya pikiran seperti itu. Sekalipun aku masih gugup dan rada deg-degan takut salah tingkah terhadap Dava. Tapi aku berusaha untuk tetap fokus pada penetian. Agar aku mengerti apa yang kami teliti. Karena tidak ada lagi yang dengan sukarela mau mengajari ku sampai mengerti. Begitupula dengan Guru Guru, tidak mungkin mereka mengistimewakan satu siswa, agar bisa paham dengan apa yang mereka ajarkan. Jadi aku harus ekstra belajar keras agar bisa mendapatkan nilai yang cukup, setidaknya memenuhi batas KKM.