WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
32



Sebelum pulang...


"Will, kamu serius kita nyeker pulang ke rumah?"


"Mau gimana lagi, sepatu kita masih basah, trus aku nggak bawak duit. Gimana caranya mau beli sandal jepit"


"Iya juga sih, aku juga bawa duit pas-pasan tadi pagi. Udah habis pula buat beli makan dan minum tadi siang"


"Yaudah terima resiko aja, kamu nggak bakalan malu kan?"


"Ya malu lah, mana ada orang nyeker nggak malu"


"Yaaa mau gimana lagi. Hehhehe" kami tertawa geli membayangkan kami nyeker saat pulang Sekolah nanti.


Saat di Parkiran William menggantungkan sepatu nya di leher. Untungnya sepatu itu di kalungkan di depan, coba aja kalau di kalungkan di belakang habis lah aku, bisa pingsan aku di buat nya. Sepanjang perjalanan semua orang heran melihat kami. Bagaimana tidak, motor yang kami bawa keren gagah berani, orang nya juga kece, eh giliran di lirik bagian bawah kayak ayam nggak pakai alas apapun. Sendal jepit puun nggak, gimana mereka nggak heran. Sepatu di jinjing lagi, masih mending aku sepatu ku ku jinjing. Lah Willi, sepatu nya di kalungin, apa nggak di kira gila dia sama orang-orang yang ngeliat kami di jalan raya. Aku semakin malu saat kami terpaksa berhenti saat lampu merah menyala. Sungguh memalukan, namun aku malah tersenyum geli melihat keadaan kami. Sudah lah badan kusut, pakaian kusut kayak habis dari jemuran, sudah itu rambut kusut, nyeker pula tuh. Gimana nggak malu coba. Saat lampu mereah menyala aku memperhatikan di sekeliling kami, semua nya menaikkan sebelah bibir mereka. Tandanya mereka illfeell. Oh My God, nambah lagi deh rasa maluku. Lalu aku memperhatikan William, kemudian aku bertanya padanya.


"Will kamu mau pamer sepatu atau jualan sepatu?"


"Pamer, kenapa?"


"Oh... kamu lagi kesel ya?"


"Nggak tapi lagi nortor"


"Nortor itu nari Kingkong"


"Udah tahu orang lagi kesel masih juga nanya"


"Iya deh maaf"


"Lampu merah lama pula berganti jadi hijau. aku udah nggak tahan ngeliat tatapan orang-orang ini"


"Aku pikir kamu nggak malu Will"


"Nggak malu gimana? Harga diri aku sebagai cowok tertampan dan terkece hilang seketika. Ini semua gara-gara kamu tahu nggak?"


"Ya ya ya, terus aja salahin aku"


"Hah" dia hanya bisa menarik nafas.


"Kamu mau buat aku jantungan?"


"Sorry soalnya kau udah nggak tahan nih, nyeker seharian"


"Oh, yaudah nih helm nya. By the way makasih ya, aku juga minta maaf gara-gara aku telat bangun kamu malah kena imbasnya"


"It's ok. Ndien aku boleh nggak pinjam sendal kamu?"


"Kamu gila? Sandal aku kan kekecilan buat kamu. Udah itu warnanya pink semua, kamu nggak malu?"


"Biar aja, dari pada nyeker"


"Ya udah yuk masuk"


Kami pun masuk ke dalam rumah. Mama kaget ngeliat aku sama Willi nyeker pas masuk rumah.


"Lho Ndien sepatunya kenapa di jinjing? Terus William sepatu bukannya di kaki ya, kenapa kamu kalungin"


"Panjang ceritanya Ma"


"Ya deh. Oh ya Mama udah siapin makanan buat makan siang"


"Pas banget Tante Willi lagi laper. Hehehe"


Nih anak ya, nggak tahu malu. Giliran makan aja langsung cepat.


"Ya udah yuk masuk, tapi sepatu nya lepas dulu"


"Oh iya Tante"


Aku menaruh sepatu ku di tempat sepatu begitu juga dengan William. Lalu kami masuk ke ruana makan. Kemudian kami menyantap hidangan yang di sediakan Mama sejak pagi. Kira-kira sekitar 15 menit lamanya kami menghabiskan waktu untuk makan bersama. Setelah selesai, aku pun membawa Willi di ruangan sepatu tempat aku mneyimpan semua sandal ku. Aku menyuruh nya memilih, dan akhirnya dia memilih sandal yang berbulu halus dan ada karakter kucing di bagian atas nya. Cuma ini satu-satunya sandal yang muat di kaki Willi. Kemudian William pamitan untuk pulang.


"Jangan lama-lama di balikin"


"Mudah-mudahan"


Aku naik ke kamar, ganti baju lalu aku langsung merebahkan badan ku di atas kasur. Kemudian aku tidur sebentar. Hari ini betul-betul melelahkan, namun entah kenapa aku malah terkesan dengan apa yang sudah ku lalui hari ini. Moment yang seperti ini hanya sekali seumur hidup bisa ku nikmati. Dan moment ini juga tidak akan bisa ku lupakan.