WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
35



Aku membuka mata, kepalaku masih terasa sedikit pusing. Jarum infus masih melekat di tangan ku. Aku melihat William yang tertidur pulas di samping ranjangku. Entah sudah berapa lama aku tertidur di sini. William manis juga ya kalau lagi tidur. Aku menikmati pemandangan yang langka ini. Entah kenapa alam sadar menuntun tangan ku untuk menyentuh nya. Dengan perlahan tapi pasti aku menyentuh kepalanya dan membelai rambutnya. Mungkin karena gerakan tangan ku mulai cepat, Wiiliam jadi terjaga dari tidur nya. Dengan cepat aku langsung mengangkat tangan ku. Jantungku berdebar begitu kencang, nafas ku terasa sesak. Semoga saja William tidak sadar dengan apa yang baru saja kulakukan padanya. Karena kalau tidak pasti dia akan GR dan mampuslah aku, dia pasti akan meminta ku lagi untuk jadi pacarnya. Aku kan belum siap.


“Ndien kamu udah bangun? Syukurlah aku seneng banget akhirnya kamu bangun juga”


“Sudah berapa lama rupanya aku tertidur”


“2 hari”


“Lama juga ya, eh itu Dava ya?” William menoleh ke arah pintu, namun saat aku menunjuk ke arah pintu Dava langsung menyembunyikan kepalanya di balik pintu.


“Kok hilang sih, perasaan tadi aku ngeliat dia deh”


“Kamu masih mikirin dia ya?”


“Bukannya gitu Will, tapi tadi aku memang lihat dia lagi ngintip di situ”


“Hah” William menarik nafas dengan berat.


“Kamu kenapa?”


“Nggak papa”


“Kamu marah ya?”


“Nggak kok. Lagian yang kamu lihat itu memang Ipin nya aku”


“Hah? Ngapain dia di sini?”


“Mau ngajarin kamu”


“Ngajarin gimana? Aku kan lagi sakit”


“Panjang ceritanya Ndien”


“Memang nya ada apa sih? Aku jadi penasaran tahu nggak”


“Hmmmm... jadi gini waktu kamu belum siuman, Mama kamu pergi ke sekolah buat protes soal kita dihukum hormat bendera seharian. Karena hukuman itu kamu jadi sakit”


“Terus apa hubungan nya sama Dava?”


“Kamu nggak sabaran banget, aku kan belum siap cerita kamu malah motong”


“Iya deh maaf, lanjutin ceritanya”


“Jadi setelah protes ke Kepala Sekolah, Pak Kepsek langsung manggil Guru piket yang waktu itu hukum kita berdua. Setelah negosiasi akhirnya Mama kamu memaafkan Ibuk itu. Nah waktu mau balik ke Rumah Sakit Mama kamu ketemu sama Wali Kelas kalian, terus mereka berbincang-bincang. Wali Kelas kamu khawatir sama nilai kamu yang makin anjlok, kalau kamu nggak bisa naikin nilai ntar kamu bakalan tinggal kelas. Jadi winning solution nya Tante Dona meminta Dava buat ngajarin kamu lagi”


“What? Aku nggak salah denger kan?”


“Kalau kuping kamu nggak budeg, ya kamu nggak salah denger”


“Terus Dava mau?”


“Ya mau lah, tapi dengan tawaran yang spesial”


“Maksud kamu Mama aku nyogok dia?”


“Ya iyalah, kalau nggak mana mungkin dia mau. Nggak ada yang gratis di dunia ini neng”


“Tapi bukan nya kalian anak orang kaya ya. Masak sih Dava mau di sogok”


“Memang nya anak orang kaya nggak butuh duit? Lagian sogokannya bukan berupa uang, melainkan sebuah janji yang sangat berharga”


“Apa?”


“Mama kamu janji sama Dava bakalan masukin Dava ke Universitas ternama di Australia. Kamu kan tahu Dava mati-matian belajar buat bisa kuliah di sana. Dan denger-denger sih Mama kamu alumni University of Perth, ya nggak”


“Iya sih. Tapi bukannya Orang tua kalian kaya. Mudah aja kan masuk ke sana. Apalagi Dava pintar, kenapa harus di sogok?”


“Mana ku tahu. Tanya aja langsung sama orangnya. Bentar ya aku panggilin”


“Eh Will nggak usah” percuma aja teriak nggak di dengerin.


William keluar lalu masuk bersama Dava. Haruskah aku melihat wajah yang aku benci selama ini? Bukannya sembuh malah nambah sakit.


“Gimana kabar kamu?” untuk pertama kalinya Dava menanyakan kabar ku sejak kami putus.


“Kamu ngapain duduk di kasur?”


“Kamu nggak lihat bangku nya kan lagi dipakai sama Dava”


“Kan nggak mesti duduk di sini Kingkong. Kamu kan bisa berdiri”


“Capek Ndien”


“Nggak perlu pamer juga lagi Will. Gua tahu kok kalian udah jadian, biasa aja sih sama Gua. Jadi nggak perlu lah Lu pamerin”


“Biarin”


“Tunggu, yang bilang kita udah jadian ke kamu siapa?” aku bertanya pada Dava, abis aku kaget dengarnya.


“William”


What? Aku melirik tajam ke arah Willi, sedangkan dia nggak peduli dengan tatapanku, dan malahan dia membalas dengan senyum nakal. Aku hanya bisa menarik nafas. Dasar Kingkong tukang gosip.


“By the way, kamu ngapain ke sini Va?”


“Mau ngajarin kamu”


“Oh, pasti karena Mama aku nyogok kamu kan?”


“Maksudnya?”


"Udah deh nggak usah pura-pura nggak ngerti, William udah cerita semuanya”


“Memangnya William cerita apa sama kamu?” Dava melirik tajam ke arah william, sedangkan dia hanya senyam senyum sambil memalingkan muka dari tatapan Dava.


“Katanya kamu di sogok sama Mama makanya kamu mau ngajarin aku”


“Sogok pakai apa?” kali ini tatapan nya makin tajam.


“Mama bakalan ngasih beasiswa sekolah di Universitas Perth di Australi”


“William ngomong gitu?”


“Iya, ya kan Will?” aku melirik William, dia hanya senyam senyum sambil menahan tawa. Sedangkan Dava menarik nafas dalam-dalam.


“Lho bohongin Nadien ya Will?”


“Nggak ada maksud bohongin dia sih” tawa Willi keluar sedikit-sedikit.


“Tunggu ada apa sih? Kok aku nggak ngerti?”


“Siapa yang di sogok? Mana ada Mama kamu nyogok, lagian tanpa Mama kamu ngasih beasiswa pun aku bisa masuk ke University Of Perth. Kamu di akali aja sama William”


“WILLIAM” aku mencubit pinggang nya.


“Aduh sakit tau, hahhahaa”


Gelak tawa William lepas setelah berhasil membohongiku. Aku jadi malu sama Dava, segitu rendah nya aku memandang nya. Tapi kan bukan salah ku juga, William si tukang gosip yang buat aku berpikiran seperti itu, bukan dari dasar pemikiran ku sendiri.


“Terus kalau bukan karena di sogok karena apa kamu mau ngajarin aku lagi?”


“Aku kasihan aja ngeliat kamu"


Aku pikir dia sudah berubah menjadi sosok yang sedikit hangat. Tapi ternyata nggak, dia masih dingin dan angkuh seperti biasanya. Entah karena kesel atau kecewa aku jadi merunduk dan diam mendengar apa yang barusan dia katakan. Lalu aku membalas balik dengan ketus pada Dava.


“Aku kan masih sakit, masak sih langsung belajar”


“Terus kapan kamu bisa belajar? Jangan lama-lama nyari waktu nya aku sibuk”


Ni anak nggak bisa ya membuat orang senang.


“Mana aku tahu? Pas aku sudah sembuh lah, memang nya kamu nggak kasihan ngeliat aku yang masih di infus harus megang pena buat belajar!”


“What ever. Yang jelas kamu harus ikuti semua aturan dan cara mainku, kalau nggak silahkan cari guru private yang baru. Ya sudah kalian lanjut aja pacarannya, aku ada urusan lain yang lebih penting daripada ini”


What? Dia pergi gitu aja, songong banget tahu nggak. Pergi aja sana i don’t need you anyway. Aku menarik nafas dan mengarahkan wajah dengan kusam ke arah William. William hanya bisa senyum sambil mengangkat bahu. Kadang aku berfikir, kenapa dua makhluk astral ini adalah saudara kembar. Yang satu adem, hangat, penuh kedamaian dan sangat-sangat ramah. Sedangkan yang satunya lagi angkuh, kaku, pendendam, pokoknya nggak ada nilai plus nya deh. Aku jadi nyesal pernah kenal dia dan pernah jadi pacarnya, tahu gitu mending aku pacaran sama William aja dari dulu. Lebih asik dan lebih seru, di bandingkan sama Dava belajar muluk. Waktu pacaran belajar pas putus juga belajar. Kapan main nya? Huh.... Mama sih, mentang-mentang Dava pernah jadi guru private ku, eh malah di manfaatin. Padahal kan Mama udah tahu kalau kita tuh masih musuhan. Waktu lagi jatuh cinta aja pelajaran yang di ajari belum tentu masuk ke otak, apalagi saat musuhan. Apa yang akan aku pahami nanti? Yang ada aku kebakaran terus. Hah, kalau Dilan bilang ke Milea “rindu itu berat kamu nggak akan kuat” aku cuma bisa bilang ke kalian semua “belajar itu berat kamu harus kuat” kalau nggak kalian nggak bakalan bisa di akui di dunia ini. Atleast kalau kalian bisa jadi orang super kaya like Bill Gate.