
Badanku gemetar, suhu badan ku terasa panas, lalu aku merasa kedinginan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata namun sayang nya tubuh ku serasa terkunci. Kuraih selimut yang ada di bawah kaki ku, ku peluk tubuhku yang menggil gemetaran. Sungguh aku paling benci jika terkena penyakit ini. Aku paling tidak suka kalau sudah meriang seperti ini. Dari balik pintu kamar terdengar suara ketukan dari Mama. Aku hendak berdiri dan membukakan pintu, namun sayang nya badan ku tak bisa bergerak sama sekali. Ingin ku sahut pertanyaan Mama, namun sayang bibir ku serasa terkunci dan sangat berat untuk berbicara. Suara ku pun serak, jadi percuma juga, Mama nggak akan bisa mendengarkanku. Mungkin karena Khawatir aku tak kunjung menyahuti Mama, Mama langsung membuka pintu. Untung nya pintu itu tak ku kunci.
Benar saja, saat melihat ku terkapar di atas tempat tidur dengan tubuh yang di baluti selimut tebal, dan badan yang gemetar, Mama langsung panik.
"Nadien, kamu kenapa sayang?" terdengar rasa cemas di balik suara nya.
"Nggak tahu Ma, tiba-tiba Nadien ngerasa meriang"
"Memang nya kamu habis ngapain tadi di Sekolah?"
Aku pun menceritakan pada Mama bahwasannya kami habis di hukum di Sekolah tadi seharian penuh.
"Jadi tadi Nadien sama William telat Ma. Terus kita berdua di suruh bersihin WC, tapi pas udah di WC bukannya membersikan WC kami malah main air. Kami saling siram-siraman, terus basah deh sekujur tubuh. Guru piket tambah marah pas ngeliat kami basah-basahan, terus kami di suruh berjemur sampai jam pulang Sekolah. Gitu singkat ceritanya Ma"
"Kalian di suruh berjemur sampai pulang Sekolah?"
"Nggak sepenuhnya berjemur sih Ma. Kita juga nyuri-nyuri waktu buat berteduh kalau kondisi lagi aman. Kalau nggak ada Guru yang lewat"
"Sama aja sayang. Harus nya kalian di bolehin pulang buat ganti baju sebentar. Habis itu kan masih bisa balik ke Sekolah lagi kan. Kamu kan anak yang jujur, nggak mungkin kamu bolos"
"Iya, aku juga udah minta pulang tadi nya. Tapi nggak di bolehin, malah di suruh berjemur"
"Kamu sih telat bangun"
"Mau gimana lagi Ma, udah terjadi"
"Tapi Mama nggak terima kalau anak Mama di suruh berjemur seharian. Lihat sekarang kamu jadi sakit kayak gini. Besok Mama bakalan datang ke Sekolah buat nuntut"
"Mama ngapain sih nuntut Sekolah? Lagian kan ini salah nya Nadien juga Ma"
"Tapi nggak bisa juga Sekolah menghukum murid sampai separah itu. Gimana nggak sakit coba? Kamu berjemur di bawah terik matahari selama hapir 6 jam"
"Terserah Mama deh, Nadien nggak mau ikut canpur"
"kamu tenang aja,Mama yang bakal urus semuanya. Sekarang kamu istirahat, tapi sebelum istirahat kamu makan dulu trus minum obat, ok? Biar Mama ambilin buburnya sama obat nya"
"Iya Ma"
"Kamu tunggu di sini ya"
"Mmm"
Mama keluar dari kamar dan segera turun ke bawah untuk mengambil obat di kotak P3K dan sekaligus membuat kan bubur untukku. Seumur hidup baru kali ini Mama memperhatikan ku saat aku sakit. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan yang patut di syuri, semoga saja Mama banar-banar berubah menjadi Mama yang selalu ku mimpikan. Aku hendak membuka mata, namun niat ku kuurung kan. Aku meraih hanphone yang dari tadi berderig.
"Hallo Will, ada apa?"
"Hai Ndien, suaara kamu kok agak serak. Kamu kenapa?"
"Tahu nih? Kayak nya sih aku lagi meriang?"
"Merindukan kasih sayang ya?" please deh bukan saat nya bercanda Kingkong.
"Aku serius"
“Oh iya deh sorry. Terus kamu udah cek ke Rumah Sakit?”
“Belum”
“Lho kenapa?”
“Sakit nya baru sekarang”
“Oh, terus kamu nggak ke Rumah Sakit?”
“Kayak nya sih nggak Will, soalnya aku malas ke Rumah Sakit”
“Kenapa malas? Ntar sakit nya tambah parah lho”
“Nggak kok, paling besok pagi udah sembuh. Aku cuma butuh waktu buat istirahat aja, ntar juga sembuh sendiri”
“Jangan bilang gitu, nanti kalau kamu nggak sembuh terus sakitnya tambah parah gimana?”
“Nggak bakalan kok Will, kamu tenang aja. Lagian Mama juga lagi ngambilin obat”
“Ya deh terserah kamu aja. Tapi nanti kalau sakitnya nambah kamu ke Rumah Sakit ya”
“Iya, pasti”
“Kalau itu sih nggak perlu. Mama bisa kok ngantarin aku sendiri”
“Ya deh. Ya udah sekarang kamu istirahat ya”
“OK”
“Ya udah good night”
“Good night”
“Bye”
“Bye”
Pintu terbuka tepat saat William memutuskan telpon. Mama masuk dari balik pintu dengan sebuah nampan di tangan nya. Di atas nampan ada semangkuk bubur dan air putih juga obat.
“Gimana keadaan kamu sekarang, udah baikan belum?” Mama meletakkan nampan di atas meja, tangan nya meraba-raba kening dan badanku unuk merasakan suhu tubuh ku.
“Belum baikan Ma, pusing nya nambah”
“Kamu makan dulu, habis itu baru minum obat ya”
Mama membantu aku memperbaiki posisi duduk ku agar aku bisa makan dengan nyaman. Lalu dengan pelan dan penu kasih sayang Mama menyuapi ku. Setelah bubur habis ku makan, Mama menyiapkan obat yang harus ku minum. Ini adalah hal yang paling ku benci, minum obat. Kalau bisa semua obat yang ada di dunia ini harus di musnahkan.
“Ayo minum obat nya, jangan di lemeh”
Mama memaksaku untuk menelan obat yang ada di mulutku. Namun sayang nya obat yang super pahit ini nggak bisa di ajak kompromi. Dari tadi aku berusaha menelan, tapi tetap aja nggak mau lolos dari tenggorokanku.
“Nggak bisa Ma”
“Paksa”
“Nggak bisa, ini udah di paksa tapi nggak mau. Obat nya lengket di lidah”
“Kamu harus paksa, kalau nggak obat nya bisa jatuh malah nggak jadi tertelan sama kamu”
“Iya ini udah di paksain tapi nggak bisa” karena nggak tahan dengan rasa pahit yang diberikan obat ini, aku pun terpaksa memuntahkan obat tadi. Alhasil Mama malah jadi marah.
“Kamu kok kayak anak kecil, minum obat aja susah”
“Lagian Mama ngasih obat nya yang tablet, syrup kek”
“Syrup? Kamu itu udah 17 tahun, mana mungkin masih minum syrup. Memangnya kamu anak kecil”
“Kan ada Ma yang untuk dewasa”
“Nggak ada, memang nya kamu sakit Mag?” nada suara Mama makin tinggi.
“Iya tapi kan Mama udah tahu kalau Nadien paling nggak bisa minum obat”
“Lalu?”
“Mama aja yang minum”
“Kamu lagi sakit masih juga bercanda. Ya sudah sekarang kita pakai cara lain biar obatnya bisa kamu minum”
“Gimana caranya Ma?”
“Mama bakalan masukin obat ini ke dalam pisang, terus pisangnya kamu makan”
“Kalau obatnya tergigit gimana Ma? Kan tambah pahit”
“Kan di dalam pisang, pahitnya nggak bakalan terasa”
“Tetep terasa Ma, Nadien nggak mau”
“Kamu mau sembuh atau nggak? Kalau kamu nggak mau minum obat, kita ke Rumah Sakit sekarang biar kamu di infus, terus di suntik dan masih banyak lagi”
Mama memang selalu pintar mencari ancaman yang membuatku tak dapat berkutik sedikitpun. Membayangkan jarum suntiknya saja aku sudah mau pingsan, jadi daripada harus ke Rumah Sakit lebih baik ku paksakan lidah ku untuk mendorong obat ini agar masuk dengan mudah ke dalam tenggorokanku. Dengan susah payah aku memaksakan diriku untuk menelan satu buah obat, dan akhirnya obat ini pun tertelan. Lalu senyum licik dari bibir Mama pun keluar.
“Gitu dong dari tadi. Masak nelan satu biji obat aja susah nya minta ampun, buat Mama gregetan tahu nggak”
“Emmmm... ya udah Nadien mau istirahat”
“OK, get well soonn. Bye... uuummahhh” Mama menempelkan sebuah kecupan di keningku sebelum meninggalkan aku sendirian di kamar.