
Kami tiba di taman dalam waktu kurang lebih 15 menit perjalanan. Sesuai janjinya, Willi membelikan ice cream untuk ku. Kemudian kami duduk di bangku favorite kami. Suasana Taman agak sepi, karena hari ini bukanlah hari libur ataupun weekend. Jadi wajar saja suasana nya sepi.Pengunjungnya pun hanya orang-orang yang berpasangan, dan mereka merupakan pasangan muda. Kecuali kami, kami bukan sepasang kekasih hanya saja calon. Bisa jadi 😁😁😁😁😂😂. Memanglah hidup ini bagaikan Kelokan Sembilan. Ada banyak lika liku kehidupan yang harus di hadapi. Termasuk kata hati, kadang optimis kadang juga bimbang. Seperti kapal yang sedang berlayar di tengah samudera yang luas. Hidup juga susah di tebak, kadang seapik apapun kita menyusun rencana di masa depan, pasti tidak semua yang sesuai dengan yang kita rencanakan. Ada saja nanti yang tidak sesuai. Begitulah kehidupan. Kuta sebagai manusia hanya bisa terus belajar untuk memahami arti kehidupan yang sesungguhnya hingga suatu hari kita kembali pada-Nya. Jika kita tidak bisa memahami kehidupan maka kita akan di telan bumi hidup-hidup. Tidak akan ada yang menolongmu untuk memahami kehidupan. Kamu sendiri yang harus memahaminya. Kalau tidak kamu sendiri yang akan celaka. Ini hanya saranku saja. Aku sendiri masih belajar untuk memahami hidup.
Aku menarik nafas, lalu ku buang dengan perlahan melalui mulutku. Aku memandang sekeliling Taman, suasananya sangat lah asri, indah dan damai. Rasanya aku ingin tidur di sini. Anginnya yang sepoi berhasil membuatku merasa ngantuk dan ingin tidur. Dari tadi William sibuk dengan handphone nya. Sampai-sampai ice cream yanga ada dalam mangkuk milik nya cair semua. Sebenarnya aku penasaran dia chattingan sama siapa. Tapi aku gengsi untuk bertanya. Jadi aku sedikit menggeserkan badan lalu mendongakkan kepala sedikit untuk mengintip dengan siapa dia chatinggan. Kepo dikit nggak papa kan. Tapi sayang dari tadi aku nggak bisa ngeliat layar handphone nya. Padahal aku udah berusaha buat mendongak lebih tinggi lagi. Saking kepo nya, tanganku nggak sengaja menyentuh ice cream milik Willi, alhasil ice cream itu tumpah dan jatuh ke tanah. William langsung melirik ku. Seketika itu juga wajah ku berubah menjadi cherry. Oh My God, sungguh memalukan. Lagian ngapain sih Ndien pakai acara kepo segala. Emangnya William itu pacar kamu. Kan bukan.
"Kamu kenapa Ndien? Kepo in aku ya?"
Duh.. mampus, ketahuan lagi.
"Enggg... nggak.. Ngapain juga aku kepoin kamu. Kayak nggak ada kerjaan aja"
"Jujur aja deh. Kamu kepo kan"
"Idih nggak ya"
"Serius?"
"Udah deh Wil, jangan Gr jadi orang"
"Aku nggak Gr. Memang dari tadi kamu kepo kok. Aku ngelirik-lirik kamu yang dari tadi pengen ngintipin handphone aku kan"
Kenapa dia bisa tahu ya? Apa jangan-jangan dia sengaja lagi.
"Enggak"
"Yaah.. masih ngeles. Aku sengaja tadi. Pengen tes, kamu bakalan perhatiin aku atau nggak. Makanya dari tadi aku sengaja diam aja trus sok sibuk dengan handphone. Padahal aku nggak lagi chattingan"
Tuh kan. Dasar makhluk astral. Nyebelin banget sih jadi orang. Aku cuma bisa diam sambil nahan kesal, malu, marah.
"Lho muka kamu kenapa? Kamu marah ya Ndien?"
"Enggak ngapain juga aku marah"
"Segitunya. Emang ya menghadapi cewek itu ribet. Cepet banget ngambek nya"
"Siapa juga yang ngambek"
"Trus ini apa? Ngombok"
"WILLIAM"
"hahahhahahaa.. Makanya udah dulu ngambek nya. Ntar di sambung lagi"
"Uuuuhhh"
"Hhehehe. Nadien Nadien.. eh jangan suka marah marah, ntar kamunya cepat tua"
Willi menyentuh ujung hidungku saat mengatakan tua.
"Apaan sih. Kamu makin lama makin genit ya"
"Emang aku genit dari dulu. Kamu baru tahu ya"
"Bangga pula tuh. Dasar genit"
"Biarin. Hehehe. Oh ya memangnya selama kamu pacaran sama ipin nya aku kamu nggak pernah ya di genitin?"
"Enggak, megang tanganku aja dia nggak berani"
"Masak sih? Dava secupu itu"
"Sok cupu. Dia tuh munafik, sama aku aja nggak berani, sama Jessika dia berani kok"
"Berani ngapain?"
"Yaa. Berani gituan"
"Yeee.. emang buktinya gitu kok. Dia kan mutusin aku karena aku nggak Hot."
"Kamu tahu dari mana?"
"Emang gitu William. Tunggu, kamu kan mantannya Jessika, berarti kamu juga dong. Gituan"
"Enak aja. Eh gini gini aku masih polos ya. Masih dalam kotak. Belum ada yang nyentuh"
"Serius?"
"Ya iyalah. Lagian kamu tahu dari mana kalau Jessika cewek yang murahan?"
"Tahu aja dari kabar-kabar angin"
"Trus kamu percaya gitu?"
"Percaya nggak percaya sih"
"Ndien... Ndien.. kamu boleh dengar gosip, tapi gosip nya harus kamu selidiki dulu. Aku kenal Jessika itu dari bayi, dari kita masih ingusan. Jessika itu anaknya baik kok. Hanya saja waktu kenal sama Karin dan Siska dia berubah jadi anak yang sedikit nakal. Tapi aku tahu mereka nggak gitu. Mereka masih perawan kok. Kalau minum-minum mungkin iya, mereka suka minum, mabuk, trus sering karaoke. Tapi Jessika nggak pernah ikutan kayak mereka. Hanya dia berubah agak sedikit genit"
"Segitu nya kamu bela dia"
"Kamu cemburu?"
"Ngapain? Toh nggak ada hubungan nya kan dengan aku. Mau dia genit, mau dia perempuan yang baik-baik, nggak ada untung ruginya kan buat ku"
"Tapi setidaknya kamu tahu kebenaran yang sesungguhnya Ndien"
Kali ini nada William agak merendah, seolah dia meminta ku untuk sedikit mengalah dan mau mendengarkan kenyataan tentang citra seseorang. Memang sih kalau ku lihat Jessika agak beda dengan yang lain. Hanya saja saat dia berdua dengan Dava genitnya langsung di munculkan. Entah sengaja atau tidak hanya dia yang tahu.
"Ya deh, aku baru tahu sekarang Jessika itu nggak kayak gitu orang nya. Maaf deh kalau selaam ini aku memandang dia rendah"
"Nah gitu dong. Kan enak, berarti sekarang kamu udah nggak berpikiran buruk lagi kan terhadap pria"
"Tergantung"
"Terserah deh"
"Ya William. Aku percaya kok Dava masih cupu"
Tapi kalau di pikir-pikir Dava memang masih kaku. Soalnya setiap aku ngeliat mereka berdua cuma Jessika yang nempel ke badan nya Dava. Dava sendiri biasa aja. Hanya sekali aku melihat nya memegang tangan Jessika dan membelai rambutnya saat di rumah sakit. Hah... aku jadi malah ingat kejadian itu lagi. Hatiku tiba-tiba aja perih.
"Ndien. Kok bengong"
"Mikirin Dava"
Upssss.... KECEPLOSAN
"Kamu belum bisa ya ngelupain dia?"
"Hah? Enggak kok. Aku cuma... cuma.. speechless aja"
"Sama aja Ndien"
"Hmmm... sorry ya Will. Tapi beneran kok sumpah aku udah nggak ada perasaan lagi sama dia. Lagian semuanya udah berlalu kok. Serius beneran"
"Kamu kenapa ketakutan gitu sih. Biasa aja lagi. Aku nggak papa kok kalau memang kamu masih mikirin dia. Aku nggak papa. Lagian aku nggak mau maksa seseorang untuk mencintai aku sementara dia mencintai orang lain. Apalagi saudaraku sendiri. Aku nggak mau maksa kamu"
Seperti ada rasa kecewa di balik suara nya yang lemah lembut. Aku jadi nggak enak sama nya. Aduh, lagian ngapain juga aku keceplosan ngomongnya. Kalau nggak kan Willi nggak bakalan kayak gini"
"Udah sore, pulang yuk Ndien"
Untuk pertama kalinya dia yang mengingatkan untuk pulang dengan wajah memelas penuh kekecewaan. Aku jadi merasa bersalah.