
Perhatian kami berdua sama-sama mengarah ke arah pintu, lalu mulut kami sama-sama ternganga. Dan kami serentak mengucapkan.
"Ibuk"
"Ya ampun, apa yang kalian berdua lakukan? Bukannya membersihkan WC malah main air, masa kecil kalian kurang bahagia ya?"
"Dia buk yang mulai" Kami saling tunjuk.
"Udah tahu sama-sama salah masih juga saling tuduh. Kalian mau jadi apa?" kami hanya bisa diam dan tidak berani menjawab. Lalu aku berniat untuk minta pulang agar bisa ganti baju.
"Buk, kami kan udah basah, boleh nggak Nadien ke rumah buat ganti baju. Nggak mungkin kan Nadien basah-basah di sini. Boleh ya buk"
"Enak aja kamu ya, nggak ada alasan. Ayo kalian berdua ikut Ibu"
Sial, mau kemana lagi kami di bawa.
"Kamu sih, kayak anak kecil"
"Kamu yang mulai"
"Kalian masih bertengkar? Mau Ibu skor?"
"Tidak Bu"
Dengan terpaksa kami berdua mengikuti Ibuk ini. Kebetulan Ibuk ini Guru kelas XII jadi aku tidak tahu siapa namanya. Langkah demi langkah kami lalui dengan lemah lunglai, lalu sampai lah kami di lapangan upacara. Jangan bilang kalau kami mau di suruh hormat bendera.
"Kalian kan basah, jadi kalian berjemur aja di sini sambil hormat di depan tiang bendera ini. OK"
"Tapi buk"
"Nggak ada kata tapi-tapi. Sekaligus kalian mengeringkan badan di bawah terik matahari. Dan ingat, kalian nggak boleh lari dari sini sampai bel pulang, mengerti"
"Mengerti Buk"
"Bagus"
Hah... apes apes, udah di suruh bersihin WC, kenak siram, basah, eh di suruh hormat bendera sambil berjemur. Udah sama nih dengan ikan asin. Kurang di kasih garam aja. Gar-gara Willi sih, telat kan aku bangunnya. Aku terpaksa melakukan ini semua, habis mau gimana lagi. Ditambah lagi kami di hukum hormat bendera saat jam istirahat. Tentu saja kami di olok dan di ejek, apalagi badan kami juga basah, nambah deh ejekan nya.
"Habis ngapain tuh, basah-basah berduaan. Hahahaha"
"Ih... Genit ya cewek nya, basah-basah di Sekolahan. Mau pamer daleman ya"
"Mimpi basah segitu nya bro" dan masih banyak lagi yang ejekan yang keluar dari mulut mereka. Aku hanya bisa nunduk karena malu. Kaki ku terasa pegal dan gatal, jadi aku menggoyang-goyangkan kakiku secara bergantian. Willi melihat aku gelisah, dia pun bersimpati dengan ku.
"Kaki kamu kenapa?"
"Nggak tahu nih, tiba-tiba aja gatal. Mungkin karena sepatu ku basah"
"Kamu lepas aja sepatu nya"
"HAH? Gila kamu? Nggak ah, aku nggak mau nyeker, ini aja aku udah malu banget, apalagi kalau aku nyeker"
"Ya udah nggak papa kok"
"Nggak mau"
"Kita buka barengan ya, aku juga kaki ku gatal"
"Dari pada panuan, mending malu. Lagian cuma sebentar kok"
"Serius Will"
Dia pun membuka sepatu dan kaus kaki nya, lalu kaus kaki itu di letakkan terpisah dengan sepatu di atas rumput yang tumbuh di sekeliling lapangan. Dengan ragu aku pun mengikuti apa yang barusan Ia lakukan. Berbagai ejekan bertambah banyak. Hampir semua orang mengejek kami berdua. Sungguh memalukan, tapi ku lihat sepertinya Willi biasa-biasa saja Ia sama sekali tidak menghiraukan ejekan dari mulut setiap orang yang lewat. Aku berusaha bersikap biasa seperti yang dilakukan William, tapi tetap saja tidak bisa.
Kruuuttt. Yah, perutku keroncongan.
"Kamu lapar Ndien?"
"Iya"
"Emmm, gimana ya, Kantin masih rame Ndien. Kamu masih bisa nunggu kan"
"Masih, nggak papa, pas udah sepi aja"
"hmm"
Kami menunggu Kantin sepi, setelah sepiĀ barulah kami memberanikan diri ke Kantin. Selagi nggak Guru yang lewat aku dan Willi cepat-cepat melangkah menuju Kantin. Lalu langsung memesan makanan dan minuman.
"Kamu cari apa Will?"
"Dompet, kayak nya dompet aku ketinggalan deh Ndien di rumah"
"Yaudah pakai uang ku aja"
"Serius?"
"Iya nggak papa biar aku aja yang bayar"
"Thanks"
Setelah membayar pesanan, kami mencari bangku yang kosong. Semua pegawai Kantin hanya bisa geleng-geleng kepala karena heran melihat kami yang basah kuyup dan juga nyeker. Tetapi karena udah terlanjur malu, kami tidak terganggu dengan tatapan aneh mereka. Kami kan mau makan dan kami bayar nggak ngutang jadi buat apa malu. Karena takut Guru piket ngeronda kami menghabiskan makanan dengan kecepatan penuh, sambil gantian memengawasi Guru piket. Setelah makanan habis aku dan Willi serentak mengeluarkan suara "geeeekkkk". Bukannya malu, kami malah saling tertawa. Lalu aku melihat Guru piket mau ngeronda, dengan cepat aku dan Willi kembali ke Lapangan dan melakukan instruksi yang di suruh. Untung nggak ketahuan. Ibuk itu hanya lewat, ku rasa dia masuk ke Kelas XII. Saat dia lewat kami menyapa nya dengan senyum merekah yang dibuat-buat "Buk..."
Kurang lebih 6 jam lama nya kami berjemur. Badan kami kusut dan sepatu kami belum juga kering. Hal ini karena sepatu kami jenis Sneaker, jadi lama keringnya. Aku dan William saling tatap. Awalnya kami sama-sama masih menyimpan rasa kesal, namun lama kelamaan kami berdua tertawa, mengingat betapa konyolnya kami hari ini. Aku sendiri nggak nyangka bakalan punya kenangan konyol seperti hari ini.
Bel pulang berbunyi. Akhirnya... aku dan William menjinjing sepatu dan berjalan menuju parkiran dengan nyeker tanpa alas kaki. Namun saat melewati ruang guru, Ibuk yang menghukum kami satu harian ini malah mencegat kami dan menyuruh kami untuk membuat catatan kelakuan buruk di buku yang sudah di sediakan oleh pihak Sekolah. Buku ini berfungsi untuk mencatat kelakuan buruk siswa selama di Sekolah. Nanti saat kenaikan Kelas catatan ini menjadi salah satu pertimbangan buat guru-guru untuk menilai kami apakah kami layak untuk naik atau tidak. Sebenarnya aku tidak mau menuliskan nya. Tapi mau gimana lagi ini konsekuensi kalau kami berulah. Setelah mencatat catatan kelakuan buruk, kami segera menuju Parkiran.
"Kamu mau ngapain?" Willi mengikat tali sepatu nya menjadi satu.
"Ngikat"
"Buat?"
"Di gantung di leher"
"Kamu serius? Emangnya kamu nggak malu apa?"
"Nggak, lagian mau gimana lagi, motor ku Ninja, mana ada tempat buat nyangkutin barang, Memangnya kamu mau megangin?"
"Ya nggak lah bauk"
"Ya udah makanya jangan banyak protes"
Dengan santainya dia menggantungkan sepatunya di leher. Lalu menyuruhku untuk naik ke atas motornya. Kemudian kami keluar dan pulang ke rumah.