
Alarm memaksaku bangun di pagi buta. Aku sengaja memasang alarm biar aku bisa bangun cepat sehingga aku bisa ke sekolah lebih awal dari biasanya. Masalahnya aku nggak mau Willi datang menjemput ku. Aku belum siap bertemu dengan nya lagi, juga masih kesal. Jadi cepat-cepat aku bergegas ke kamar mandi dan siap-siap ke sekolah. Setelah selesai aku turun ke bawah menuju tempat sepatu dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai aku tak menghiraukan panggilan Mama.
"Ndien sarapan dulu"
"Nadien buru-buru Ma"
Dengan kecepatan penuh aku memasang sepatuku entah benar entah tidak yang jelas sepatu ku terpasang dengan sempurna. Lalu aku menuju parkiran dan mengeluarkan motorku yang sudah hampir 3 bulan tak ku sentuh, karena selalu di bonceng sama Willi. Setelah aku menstarter motor aku langsung tancap gas. Dan dengan kecepatan penuh aku pun tiba di sekolah saat sekolah seperti kehilangan pengunjung.
"Sepi banget" aku melirik jam tangan ku, wajar saja ternyata masih pukul 06:45. Siapa juga yang mau datang ke sekolah jam segini. Lalu timbullah rasa penyesalan, sebab rasa takut muncul secara perlahan.
"Tahu gitu bagus aku jalan nyantai, kan nggak ketemu juga sama Willi. Hmmm" aku menarik nafas.
Tapi tidak lama kemudian penjaga sekolah datang membuka gerbang, juga beberapa siswa yang jalan kaki dan juga yang turun dari angkot. Rasa takut itu pun hilang. Kami masuk secara bersamaan ke dalam sekolah. Lalu aku pun memarkirkan motor, setelah itu aku langsung menuju kelas. Ku letakkan tas di atas meja, kemudian kurogoh sakuku dan kudapati handphone yang sengaja ku nonaktifkan supaya Willi tidak bisa menghubungi ku. Daripada bosan menunggu sekolah ini menjadi pasar, aku pun menghidupkan kembali ponsel ku lalu ku putar lagu, sambil buka sosmed. Aku buka Instagram sambil dengar musik. Baru buka ig aku langsung badmood, habis yang kulihat foto mesra Dava sama Jessika yang baru di update Jessika kemaren. Aku langsung kesal sendiri.
"Arrrgg... iihhh ngapain sih nih anak sok romantis sama si cupu yang munafik itu. Sok banget tau nggak, tahu gitu mending ku unfoll aja, daripada aku kena struk. Aaaaaaaa"
Saking kesal nya aku nggak sadar kalau dari tadi hpku ku pukul-pukul. Lalu aku menghela nafas, poni ku jatuh ke dahi turut mengikuti hembusan nafas yang kuhela. Bukannya masih belum ikhlas, cuman aku belum rela aja diputusin karena alasan yang nggak jelas. Terus pas banget di hari dimana aku kehilangan Oma, kesel banget kan. Sudah itu dia nggak pernah merasa bersalah dan nggak pernah minta maaf sedikitpun. Lalu malah asik bermesraan. Aaaaaaaa.
Alhasil aku pun ke kantin buat hilangin stres. Aku memesan semangkuk miso. Bukannya ku makan, tapi malah cuman kuaduk-aduk tanpa terasa miso ini pun sudah seperti tak berbentuk sama seperti nasibku saat ini. Saat aku larut dalam hayalan, tiba-tiba ada orang yang menepuk bahuku. Aku pun kaget olehnya dan langsung menoleh.
"Willi?" sumpah aku kaget luar biasa. Aku pun beranjak dari tempat duduk ku dan menjauh darinya.
"Kamu masih marah?"
"Menurut mu?"
"Aku kan udah minta maaf"
"Terus dengan minta maaf semua masalah bisa selesai? Kamu pikir kamu siapa yang bisa di maafin hanya dengan kata maaf?"
"Hah? Jadi kamu pikir aku memandang orang hanya karena uang? Ternyata kalian nggak ada bedanya ya. Sama-sama munafik, awalnya doang baik ujung-ujungnya nyakitin"
Aku tidak peduli lagi dengan nya, dan langsung meninggalkan dia sekalipun dia berusaha mengejar ku.
"Ndien wait, listen!" kali ini dia meraih tanganku dan membuat wajah kami hanya berjarak 5 cm.
"Listen ok! aku tahu yang kulakukan semalam itu salah, tapi kamu perlu tahu kenapa aku melakukan nya. Kurasa Mama kamu aja bisa ngerti. Kamu jangan pernah nganggep aku berani ngelakuin hal itu sama kamu berarti aku juga lakuin hal yang sama ke semua perempuan yang ku dekati. I sware that was my first kiss, it was only yours"
"And i don't care"
"Atleast you have to care about the reason, why do i kiss you"
"Well i know, it's all because of love, yang ending nya bakalan ke kasur kan"
"Hah.. hah.. Ndien please stop berpikir semua yang berhubungan dengan cinta itu berujung ke situ. Ya aku tahu pasti bakalan ke sana"
"Tuh kan benar"
"Iya ok, tapi aku tahu semua indah pada waktunya"
"Ternyata kamu nggak ada bedanya ya sama Dava, sama-sama pengecut"
Aku melanjutkan langkah kaki ku, tanpa menoleh ke belakang. Namun saat aku meninggalkan nya sendirian di sana dia berteriak padaku.
"Bahkan kamu nggak tahu alasan kenapa Dava meninggalkanmu"
Aku hanya bisa menjawab dalam hati 'ofcourse because i can't give him a first kiss, even just a kiss'. Dan aku tetap melanjutkan langkahku menuju kelas.