
Bel masuk berbunyi.. semua murid masuk ke Kelas dan duduk di kursi nya masing-masing. Guru Sejarah masuk ke Kelas kami. Lalu suana Kelas menjadi hening dan serius. Hal ini di karenakan Guru Sejarah kami terkenal killer. Jadi kalau belajar sama Buk Meri Guru Sejarah kami semua menjadi tegang dan raut wajah kami di penuhi rasa ketakutan. Hal yang paling di takuti para murid adalah ujian mendadak. Ya... Ibu ini suka sekali memberikan tes dadakan di awal pelajaran atau pun 15 menit sebelum pelajaran berakhir. Kalau udah ujian mendadak kami semua langsung keringat dingin. Seketika itu juga kelas kebanjiran 😂😂😂😂. Begitulah keistimewaan Guru kami yang satu ini. Dia bisa membuat bencana lokal hanya dalam waktu 15 menit. Kemudian hal lain yang kami takuti adalah tiba-tiba di berikan pertanyaan yang paling susah, kalau dia tahu kita nggak memperhatikan saat dia menjelaskan. Kalau misalkan pertanyaan nya sesuai dengan yang sedang di terangkan atau sedang kami pelajari sih it's ok, masih bisa di jawab. Tapi ini malah jauh dari pelajaran yang sedang kami pelajari. Misalnya kami sedang belajar tentang Zaman Pra Aksara, nanti di tengah-tengah penjelasan kalau Buk Meri melihat ada yang tidak mendengar atau pun memperhatikan beliau, Ibu itu langsung memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan Perang Dunia Ke-2. Jauh banget kan kajiannya. Gimana nggak kikuk coba. Untungnya mataku bisa di ajak kompromi sekalipun sebenarnya aku nggak tahu apa yang di jelasin. Jujur semua pelajaran yang di pelajari di sekolah sangat membosankan dan membuatku pusing tujuh keliling. Hanya ada satu pelajaran yang ku suka yaitu Kesenian. Baik itu Seni Tari, Seni Musik ataupun Seni Tarik Suara. Apalagi Seni Tarik Suara, aku sangat bersemangat. Hanya saja aku tidak berani tampil sendirian di depan Kelas kalau ada ujian praktek. Dan untungnya selama ini kami selalu di masukkan dalam beberapa kelompok untuk ujian praktek, jadi aku nggak malu-malu amat. Karena kami kan nyanyi bareng jadi mereka yang mendengarkan kami bernyanyi nggak akan tahu suaraku yang mana. Hemm.. begitulah kira-kira.. untuk mewujudkan mimpi memang harus melalui banyak hal dan harus berjuang se habis-habisnya.
Tanpa terasa 3 jam pertama telah usai. Tibalah waktunya bagi kami untuk beristirahat. Sumatera bagian tengah ku sudah berbunyi dari tadi. Dengan langkah cepat aku menuruni 4 tangga dan menyeberangi lapangan yang cukup luas menuju Kantin. Sampai di Kantin aku cepat-cepat memesan miso kesukaan ku. Lalu aku mencari tempat yang kosong dan segera melahap makananku.
Tiba-tiba saja Willi berbisik di telingaku dari belakang.
"Pelan-pelan dong makannya, masih panas tuh"
"Biarin"
Aku tidak menoleh ke arah nya dan tak memperdulikan omongannya. Yang ku pedulikan hanyalah perutku yang sedang keroncongan. Lalu William duduk di bangku sebelah ku sambil menatap dan memperhatikan ku makan. Tapi aku tak memperdulikan nya sama sekali. Sampai aku kenyang dan mengeluarkan sendawa. G**eeeekkk.. upsss.. keceplosan lagi. Sontak William pun tertawa mendengarnya. Tapi anehnya aku tidak malu lagi, dan malahan ikut tertawa kecil sambil senyum-senyum sendiri.
"Kamu lapar?"
"Iya nih... soalnya tadi kan pas sarapan buru-buru dan porsinya juga sedikit. Jadi nggak cukup buat ganjal perut sampai siang"
"Siapa suruh telat bangun"
"Itu semua gara-gara kamu. Kamu yang buat aku nggak bisa tidur semalaman"
Uppssss... aduh keceplosan lagi....
"Hah? Aku? Jangan-jangan kamu mikirin aku yaaa semalam"
"Udah deh ngaku aja, nggak usah malu"
"Enggak..."
"Ya udah deh. Oh ya Ndien aku lupa terus, aku mau minta nomor telpon mu kalau bisa sekaligus nomor Wattsapp, biar bisa chatingan"
"Kalau aku nggak mau ngasih gimana?"
"Nggak papa, bel udah bunyi tuh, masuk gih ke Kelas atau mau aku anterin lagi ke Kelas"
"Nggak usah nggak papa, aku bisa sendiri kok. Nanti malah nambah gosip"
"Ok deh kalo gitu.. aku duluan ya"
Aku dan Willi masuk ke Kelas masing-masing. Selama proses belajar mengajar berlangsung aku terus memikirkan permintaan Willi tadi.
Kalau aku kasih dia nomor handphone ku, ntar dia malah tambah sering hubungin aku. Trus kalau kami sering chattingan yang ada aku malah baperan tuh bisa-bisa jatuh cinta sama Willi. Wah jangan sampai hal itu terjadi.
Aku harus berpegang teguh pada pendirianku. Jangan sampai jatuh cinta padanya. Aduh bisa ambyar aku kalau sempat jatuh cinta lagi. Habis nafas ku... Bisa-bisa aku bakalan galau terus. Cowok kan gitu, awal-awal nya baik terus lemah lembut, sampai akhirnya cewek itu luluh. Nah giliran udah luluh, eh dianya malah pergi... Yang jelas aku harus kuat, jangan sampai terayu oleh rayuan gombal nya Willi.