WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
22



Sedang nyenyak-nyenyak nya tidur, eh, si kakak tukang salon malah bangunin aku buat ke ruang cuci rambut. Aku pun terkejut dan bangun lalu mengikuti instruksi dari si kakak tukang salon. Setelah itu kakak itu membasahi rambutku dan memijat-mijat rambutku. Lalu rambut ku di bilas hingga bersih. Setelah bersih si kakak menginstruksikan untuk duduk kembali ke bangku tadi. Kemudian dia mengeringkan rambut ku. Lalu mencatok rambutku. Setelah itu rambut ku di rapikan. Di potong sebahu. Aku melihat wajah ku dengan model rambut yang baru. Aku jadi terlihat lebih fresh dan lebih ceria. Setelah selesai bagian kuku dan rambut. Si kakak lanjut ke bagian wajah. Ada banyak peralatan wajah dan kream yang di taruh ke muka ku. Aku hanya bisa pasrah ketika wajahku di orak-arik. Mau gimana lagi. ini semua permintaan Mama. Ya.. setidaknya Mama sudah menunjukkan kepedulian nya, bahwa dia punya seorang anak gadis yang harus di permak, agar menjadi gadis yang anggun. Kurang lebih 15 menit lamanya kakak itu mempermak wajahku akhirnya make over selesai juga. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 18:30 WIB. Jam setengah tuju malam. Aku melirik Mama yang sudah mengganti baju dan mengenakan gaun.


"Mama mau kemana?" tanyaku keheranan.


"Mau diner bareng kamu. Kamu ganti baju yaa.. pakai gaun yang tadi"


"Hah?"


Apalagi ini? Aduh.. Mama aneh-aneh aja deh. Tadi janji nya ke Mall beli pakaian, terus nyampe Mall malah nyari gaun, udah dapat gaun malah nyuruh ke salon udah nyalon malah di suruh ganti pakaian. Lagian ngapain sih diner bareng harus pakai gaun segala.


"Ma kenapa harus pakai gaun sih"


"Udah tenang aja. Ayo cepat pakai gaunnya, nanti kita telat lagi"


"Emang kita diner sama siapa sih Ma?"


"Dinner bareng teman Mama"


"Terus kenapa aku harus ikut"


"Soal nya mereka datang bareng keluarga. Kan nggak mungkin Mama dateng sendiri"


"Ohh.. jadi ini cuman buat pencitraan. Biar kita di bilang keluarga yang harmonis gitu?"


Mama berhenti membenarkan resleting gaun ku. Lalu dia diam sejenak setelah itu melihat ku dengan tatapan penuh arti, ada kemarahan yang tersirat di balik tatapannya.


"Kamu mau kan ikut Mama kali ini aja"


"Mau gimana lagi aku udah di dandanin kayak gini. Yaa nggak mungkin kan aku pulang kayak ini tanpa alasan"


"Thank you"


Tetapi aku nggak ikhlas ngelakuin nya.


Setelah siap berpakaian dan bersepatu aku dan Mama berjalan menuju kasir. Lalu Mama membayar semua tagihan di meja kasir. Kemudian kita pergi keluar Mall dan menuju tempat dinner. Sampai di Restoran Mama bertegur sapa dengan teman-teman dosen nya yang lain. Dia juga memperkenalkan aku pada teman-temannya.


"Ini Nadien.. anak semata wayang aku. Sekarang dia udah kelas 2 SMA"


"Oh ya.. anak kamu manis juga. Mirip banget sama kamu" sahut Tante Carla, temennya Mama.


"Kamu sekolah di mana?" lanjut Om Dino suami Tante Carla.


"Don Bosco Om" jawab ku seadanya.


"Lho sama dong anak tante di situ juga sekolahnya. Mana ya dia..." Tante Carla mencari-cari anaknya.


"Nah... tu dia.. Will..." anak yang di tunjuk tante Carla pun menghampiri kami.


"Ada apa Ma" sahutnya saat bergabung dengan kami.


William ?.


"Nadien" belum sempat aku menyapa, eh dia malah nyapa aku duluan. Sontak Papa Mama nya Willi kaget ternyata kami saling kenal. Begitu pula dengan Mama.


"Jadi kalian sudah saling kenal" sahut Mama nya Willi.. pada kami berdua.


"Iya tante" jawabku malu-malu.


"Ini bukannya temen kamu yang baru itu kan"


Mama juga ikutan bertanya, sebab ia juga pernah melihat Willi walaupun dari kejauhan. Dan baru ini bisa bertatap muka.


"Iya Ma.."


"Wah bagus dong kalau gitu... berarti kita bisa jadi besan ni Mbak.. Dona"


"Kalau soal itu bukan saya yang ngasih keputusan tapi anak saya Mas"


"Saya rasa mereka nggak keberatan. Ya kan Will"


"Kalau Willi sih, tergantung Nadien nya"


Apa apa an nih, kenapa malah jadi perjodohan sih?. Aduh aku harus bagaimana. Bisa-bisa pingsan aku lama-lama di sini. Melihat aku yang udah pucat pasi Mama langsung mengalihkan pembicaraan.


"Gimana kalau kita cari tempat trus mulai makan malamnya"


"Oh... ya ya ampun.... kami jadi lupa mempersilahkan kalian masuk dan duduk di tempat yang sudah di sediakan. Mari mbak, Ndien" Tante Carla mempersilahkan kami masuk ke dalam restoran dan duduk di meja yang sudah di sediakan. Menu makan malam pun tersedia dengan segera di atas meja makan kami. Kami ber-6 menyantap hidangan yang tersedia sambil bercakap-cakap. Aku saling lirik dengan William. Aku jadi salting setiap melihat caranya melihatku. Di tambah lagi dengan dandanan ku yang seperti ini. membuat ku tambah risih. Sejujurnya aku nggak pd dandan seperti ini. Tapi demi Mama aku rela melakukan ini. aku juga sedikit legah bisa ketemu Willi di sini, habis seharian penuh aku nggk ketemu Willi. Entah kenapa ada rasa yang hilang aku jadi... sedikit galau. Tapi saat melihat William, aku langsung bersemangat. Hanya saja aku risih dengan tatapannya. Kurasa dia terpesona melihatku dengan dandanan seperti ini.


Kurang lebih satu jam acara makan malam dengan keluarga nya Willi pun berakhir. Aku sama Mama pamitan dengan keluarganya Willi. Lalu kita berdua keluar dari restoran dan berjalan menuju parkiran. Sampai di parkiran Mama menghidupkan mobilnya lalu menancap gas menuju jalan raya. Di dalam mobil Mama senyum-senyum terus. Seperti nya dia bahagia.


"Iya., tapi kenapa baru sekarang Ma. apa karena dinner tadi?"


"Enggak sayang. Mama sering kok dinner sama mereka hanya saja tanpa anaknya. Mama juga kaget ternyata temen kamu itu anak temennya Mama"


"Terus kenapa baru hari ini Mama bersikap ramah kayak gini. Biasanya aku selalu nangis setiap aku pengen dapat perhatian dari Mama"


Mama masih nggak bisa jawab. Dia hanya bisa diam. Aku tahu Mama nggak akan mungkin jawab pertanyaan ku.


Suasana di mobil menjadi hening sampai kami tiba di rumah. Waktu mobil berhenti Mama meminta ku untuk tidur dengan nya. Lalu ku iyakan tapi setelah jam 10 malam baru aku turun ke kamar Mama.


Aku langsung masuk ke rumah. Bi Ina sudah menunggu kami dari tadi. Dia terkejut saat melihatku masuk dengan gaun lengkap dengan make up.


"Non habis dari mana? Bibi sampai linglung ngeliat nya"


"Habis dinner bareng Mama Bi"


"Oh.. gitu.. Non cantik sekali pakai gaun itu"


"Makasih Bi" lalu tak lama kemudian Mama pun masuk ke rumah.


"Malam Nyonya. Nyonya juga kelihatan cantik. Saya senang melihat Nyonya dan Non Nadien sedekat ini"


"Makasih Bi. Oh ya bagaimana kabar Siska?"


"Siska sudah membaik Non. Mungkin 2 hari lagi boleh pulang"


"Syukurlah"


"Ma aku naik dulu ya"


"Ok.."


Aku cepat-cepat naik ke atas dan segera membuka pintu kamar. Lalu dengan cepat aku embuka gaun ini. Hah... Willi selalu saja mengganggu. Sebenarnya dari tadi handphone ku berdering terus. Dia menelpon ku sejak kami dalam perjalanan pulang. Akhirnya gaun ini terlepas dari badanku. Aku pun segera mengambil kaos biasa untuk malam, dan segera mengenakannya. Setelah selesai berpakaian aku langsung mengambil handphone ku di atas meja.


"Halo Wil"


"Kok nggak diangkat sih dari tadi"


"Aku lagi ganti baju tadi"


"Segitu lama nya ya ganti baju"


"Ya ampun tadi kan aku lagi di mobil, lagian ada Mama nggak mungkin aku ngangkat telpon. Ntar di dengar Mama lagi"


"Biarin aja Mama kamu dengar. Biar dia makin ngerestuin hubungan kita"


"Emang nya kita punya hubungan?"


"Punya lah... oh ya.. belum sih masih ada 20 hari lagi. Kan janjinya 1 bulan"


"Masih juga di ingat-ingat. Nggak bakalan aku suka sama kamu"


"Lihat aja nanti.. pasti kamu bakalan suka"


"Ih pd banget"


"Oh ya tadi kamu cantik banget. Sering-sering aja dandan kayak tadi"


"Nggak ah" tiba-tiba Mama mengetok pintu kamarku.


"Ndien..."


"Iya Ma. Bentar, Will udah dulu ya, Mamaku mau masuk kamar"


"Ya deh.. selamat malam"


"Malam juga, bye" aku mengakhiri panggilan dan segera membuka pintu.


"Mama tidur di kamar kamu ya.."


"Lho kenapa nggak di kamar Mama aja. Kasur ku kan sempit Ma cuma muat satu orang"


"Nggak papa"


"Ya udah"


Aku mempersilahkan Mama masuk dan tidur di atas ranjangku. Mama memeluk ku dan membelai rambutku. Ya Tuhan rasanya sudah berpuluh-puluh tahun aku tidak merasakan belaian tangan Mama. Aku jadi ngantuk karena belaian Mama. Lama-kelamaan aku pun tertidur.