
Aku memanggil Bibi dan mempersilahkan William duduk di sofa ruang tamu. Lalu Bibi keluar dan kebingungan melihat ada siswa laki-laki yang pulang bersamaku. Mata Bibi jadi sipit dan menoleh ke arahku seakan memberi kode untuk bertanya..
Pacar baru ya Non.
Aku hanya bisa menghela nafas dan membalas dengan senyuman. Tanpa basa basi Willi langsung menyalam Bi Ina dan memperkenalkan diri.
"Halo Bi... nama saya William, panggil aja Willi. Saya temen sekolahnya Nadine cuman kita beda Kelas"
"Oh.. gitu saya Bi Ina, asisten rumah tangga di sini. Kamu teman atau ada yang spesial lebih dari temen gitu"
Belum sempat Willi menjawab aku langsung menjawab dengan cepat.
"Temen kok Bi itupun baru kenal kemarin"
"Mmmm... Tapi kayak nya bisa jadi lebih"
Tuh kan. Apa ku bilang pasti dia bakalan ngaku-ngaku sebagai pacarku ataupun calon pacarku.
"Oh gitu iya deh, Bibi ngerti"
"Oh ya Bi. Willi haus tolong kasihkan minum ya Bi, sama siapin makan siang Nadien lapar"
"Baik Non"
"Will.. kalau butuh apa-apa minta ke Bi Ina aja ya, aku mau naik ke atas ganti baju"
"Ok"
Setelah ganti baju aku langsung turun dan menuju ruang makan. Tanpa di ajak untuk makan bareng kami, Willi langsung aja nyelonong ngikutin aku dari belakang dan mengambil piring lalu menyendokkan makanan di piring nya.
"Sini tuan biar Bibi yang sendok kan"
"Nggak perlu Bi, bisa sendiri kok" Dia juga menyendokkan makanan ke piring ku dan juga piring Bi Ina.
Pikirku dalam hati. Baru kali ini ada orang yang bertingkah seperti ini, seolah kami sudah sangat akrab. Dava aja dulu sering datang ke rumah nggak pernah nyelonong makan kayak gini. Bahkan kami susah sekali mengajak Dava untuk makan bersama. Kalaupun dia ikut, nggak pernah nyendok makanan sendiri, selalu di sendok kan sama Bi Ina. Itupun kalau makan bak Princes di Kerajaan. Lebih anggun di bandingkan caraku makan. Lah ini, baru juga kenal kemaren udah kayak gini, apalagi kalau satu abad, bisa-bisa bajuku juga bakalan dia pakai tanpa sungkan.
Bibi dan aku manyun-manyun melihat cara William makan, sumpah banyak banget. Baru kali ini masakan yang di masak Bibi langsung habis. Biasanya pasti bersisa. Melihat kami yang melongo menatap Willi makan, ia pun sedikit mengurangi kecepatan makannya.
"Ehmm.. sori, lapar soalnya, dan lagian makanannya enak"
"Nggak papa kok Nak Willi, Bibi juga senang akhirnya masakan Bibi habis juga. Biasa nya selalu bersisa, cuman ya hati-hati makannya jangan kecepetan ntar keselak lho"
"Hmm... iya Bi.. oh ya Bi, emang Nadien nggak suka makan ya"
"Bukan nya nggak suka cuman lambung ku bukan lambung karet, nggak kayak situ" Sahutku kesal.
"Iya Nak Willi. Selera makan Nadien lumayan kok, hanya saja dia selalu menjaga pola makannya"
"Oh gitu biar nggak gendut ya Bi" Willi menyindir ku sambil menyipitkan matanya pada Bibi. Aku pun jadi tambah kesal.
"Oh ya, habis ini kamu bisa pulang"
"Lho Dien, kan Willi masih makan"
Bibi protes karena aku mengusir Willi padahal kami masih menyantap makanan. Habis dianya aja nyebelin, udah di kasih hati malah minta jantung.
"Tau tu Bi"
Ih, malah nyari perlindungan.
"Ya udah, habis makan ini kamu udah langsung boleh pulang, nggak usah berlama-lama di rumahku, dan lagian aku capek dan mau istirahat"
Karena kesal aku menyudahi makananku dan kembali ke kamar. Ku banting pintu lalu ku rebahkan badanku di atas kasur. Lalu aku berusaha untuk menutup mata, hingga akhirnya aku pun tertidur.