
William sudah menungguku di luar gerbang. Mau tak mau aku harus pulang dengan nya. Willi memberikan helm nya padaku dan aku langsung mengenakan helm itu. Lalu aku naik ke atas motor Willi. Setelah merasa nyaman aku pun mengatakan
"sudah Will"
Lalu Willi menggas motor nya secara perlahan menuju jalan raya. Anehnya dia malah menyimpang arah, bukannya menuju jalan ke rumah malah menuju arah jalan ke Taplau... di sepanjang jalan ini di penuhi dengan pondok-pondok kecil yang didirikan di sekitaran pantai untuk berjualan.
"Wil kita ngapain ke sini?"
"Refreshing aja sambil minum kelapa"
"Tapi aku mau pulang, aku lelah soalnya seharian belajar terus"
"Tenang aja, habis ini kamu bakalan jadi rileks kok"
Huf.. awas aja kalau ntar kamu buat aku baper lagi....
Akhirnya Willi mematikan mesin motornya dan menarik tanganku menuju salah satu pondok yang menjejalkan beraneka ragam makanan dan minuman.
"Buk, pesan kelapa dinginnya 2, jagung bakar nya satu. Kamu mau jagung juga Ndien?"
"Mmm... boleh deh"
"Jagung bakar nya dua ya buk"
Setelah memesan makanan dan minuman kami mencari tempat yang kosong, yang pastinya tidak kena terik matahari. Aku menarik napas sebentar lalu ku hembuskan lewat hidung secara perlahan. Sepertinya tempat favorite kami sama. Sama sama suka pantai, habis dari kemaren Willi membawaku ke pantai terus. Benar saja aku jadi tambah rileks dan seolah semua beban jadi hilang...
Tak lama kemudian pesanan kami pun tiba. Aku langsung mencicipi air kelapa yang sudah kami pesan. Rasanya manis, segar dan sangat-sangat nikmat. Air nya yang segar dan manis mampu memberikan sensasi dingin yang menyejuk kan jiwa. Sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Sejak Oma meninggal. Padahal dulu sewaktu Oma masih hidup, kami sering ke tempat ini. Terkadang hanya untuk menikmati kelapa muda dan bersantai-santai sambil menikmati suara ombak yang bisa menyejukkan pikiran kami yang penat akan kelakuan Mama dan Papa. Terkadang kami juga bermain pasir dan bermain air. Aku jadi kangen Oma. Seketika raut wajahku berubah menjadi lesu lalu aku menghentikan kegiatan ku mencicipi kelapa ini. Willi yang melihat ku berubah menjadi sedih langsung simpati dengan ku. Lalu dia menepuk bahuku. Aku pun menoleh dengan tatapan murung.
"Kenapa?"
Tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
"Emmm... nggak papa kok, aku cuman kangen aja sama Oma. Jadi ke ingat Oma. Soalnya dulu kami sering ke tempat ini"
"Oh.. nggak papa Ndien. Itu hal yang lumrah, biasa kok, memang awal-awal susah untuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang kita cintai, tapi lambat laun semua nya akan pulih dan kembali seperti semula. Kamu akan menemukan kebahagiaan yang jauh lebih bahagia di bandingkan yang kamu rasakan dulu"
"Tapi.... aku masih belum bisa terima Will... aku masih... merasa kehilangan... dan entah kenapa terkadang aku selalu menyalahkan Tuhan, kenapa Dia tega mengambil Oma dariku"
"Kamu nggak boleh kayak gitu, kita semua pada akhirnya akan kembali pada-Nya"
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Lalu Willi mendekatkan bangku nya padaku, dan membiarkan kepalaku bersender di bahunya. Rasa nya nyaman sekali. Ku biarkan tangan nya yang hangat membelai lembut rambutku. Dan aku terbuai oleh sikap nya yang manis. Seolah kami bagaikan sepasang kekasih yang sedang saling menguatkan satu sama lain. Ku rasa aku mulai jatuh. Ku harap bukan cinta. Mungkin perasaan ini timbul hanya karena rasa nyaman dan aman. Bukan karena perasaan ingin memilki ataupun dimiliki.
Kira-kira 30 menit aku bersandar di bahunya Willi, sampai aku ketiduran. Aku terbangun karena mendengar ada anak yang memainkan gitar sambil bernyanyi. Benar saja saat ku buka mata aku melihat seorang remaja laki-laki memainkan gitar nya sambil menyanyikan lagu untuk kami.
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang ku rasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku
Diam-diam aku memandangi wajahnya
Tuhan ku sayang sekali wanita ini
Tuhan ku sayang sekali wanita ini
Sampai habis nyawaku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku
Dududududu dududududu dududu
Sampai habis nyawaku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku
Katakan yes, I do
Jadi teman hidupku
Katakan yes, I do
Hiduplah denganku
Jadi teman hidupku
"Seperti nya pacar abang sudah bangun tuh"
Aku langsung mengangkat kepalaku dari bahunya Willi. Aku jadi malu karena di kira pacar nya Willi.
"Pacar abang lumayan juga, cantik, putih langsing tinggi lagi. Kalian cocok, pasangan yang serasi"
"Kita nggak pacaran kok"
Sergahku.
"Belum sekarang, on the way, alias masih dalam perjalanan menuju pacaran"
"Oh, jadi kalian masih pdkt ya Bang?"
Belum sempat aku membantah tiba-tiba Willi menutup mulutku dengan tangannya.
"Begitu lah kira-kira dek. Oh ya suara kamu lumayan juga. Kamu belajar dimana?"
"Belajar sendiri bang. Saya hanya anak jalanan"
"Wah hebat juga kamu. Abang pikir kamu belajar di studio atau dimana gitu. Teknik vokal kamu bagus"
"Terima kasih bang"
"Hmmm.. eh oh ya, ini untuk kamu. Semangat terus ya"
Willi mengeluarkan selembar kertas uang merah dari dompetnya.
Gi**laaa... seratus ribu di kasih gitu aja sama pengamen. Ni anak mau pamer atau emang baik.
"Makasih bang... makasih banyak. Semoga abang sama kakak ini langgeng sampai pelaminan"
"Hah?"
Aku terkejut mendengar apa yang barusan di bilang adek ini. Tapi Willi malah senyum-senyum aja. Lalu adik itu pun pergi ke tempat lain untuk melanjutkan pekerjaannya. Aku tau bagi Willi uang seratus ribu itu nggak ada artinya. Tapi buat adik tadi sangatlah berarti. Sekalipun aku sempat meremehkan pemberian William tadi pada adek pengamen itu. Ternyata Willi peduli juga dengan orang lain, bahkan pada orang yang tidak dia kenal.
Tanpa terasa hari hampir senja. Willi mengajakku pulang, karena ia tidak ingin Bibi menghawatirkan ku. Kami pun pulang setelah menyantap air kelapa dan jagung bakar yang kami pesan. Setelah itu Willi membayar tagihan kepada yang punya warung. Kemudian kami menuju parkiran dan memakai helm masing-masing. Setelah memakai helm aku naik di jok motor Willi sambil menunggu mesin nya dinyalakan. Lalu perlahan Willi melajukan motornya ke arah jalan raya menuju rumah ku. Setibanya di rumah, aku memberikan helm milik Willi padanya.
"Nih helmnya. By the way thanks for today"
"You're welcome. Eh, oh ya mana nomor kamu?"
"Hah? Emmm... aku jarang makek Handphone"
"Alesan. Ya udah kalau kamu nggak mau ngasih, aku aja yang kasih nomor aku ke kamu. Nanti kalau kamu berubah pikiran telpon aku yaa.."
Willi mencatat nomor handphone nya lalu ia berikan padaku. Aku meraih kertas itu dengan ragu.
"Ya udah.. aku pamit dulu."
"Iya.. bye..."
"Bye"