WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
42



Singkat cerita sekarang aku sedang menghadapi masalah baru yang sebenarnya sudah lama menjadi beban ku. Ya kami sedang belajar berdua di perpustakaan saat sekolah mulai menyepi. Dari tadi aku tidak ada mendengar apa yang dijelaskan Dava padaku, yang terngiang dipikiran ku hanyalah perkataan yang pernah diucapkan Dava waktu putus dan juga perkataan William. Sumpah mereka berdua benar-benar membuat ku tak terkendali. Karena merasa tak ku perhatikan Dava menegur ku dengan cara yang agak halus.


"Ndien, are you ok?"


"Hmmm ha?"


"Kamu melamun ya dari tadi?"


"Mm sorry"


"Kalau kamu nggak fokus gimana caranya aku bisa sukses membuat kamu naik kelas"


"Memang nya kamu yang bisa buat aku naik kelas?"


"Siapa lagi?"


"Wow, since when anyway"


"Sejak kamu masuk sekolah ini, kamu seharusnya berterima kasih. Berkat aku kamu bisa naik kelas"


"Oh ya? Thanks then. Tapi kayaknya sekarang kamu nggak perlu lagi melakukan hal itu, karena aku bakalan buktikan kalau aku mampu tanpa kamu"


"Ok, coba dan buktikan"


"FINE"


Aku benar-benar tersinggung dengan perkataan Dava. Memangnya usaha dia aja yang bisa buat aku jadi pintar terus bisa naik kelas. Sombong sekali, aku jadi kesal lalu memilih untuk pulang ke rumah daripada pusing di sini.


Hari ini adalah hari yang begitu berat ternyata. Udah lah bertengkar dengan Willi lalu bertengkar juga dengan Dava. Aku pun tidak tahu siapa sebenarnya yang egois.


Tiba di rumah Bi Ina menyapaku seperti biasa, namun hanya ku balas dengan senyuman kecil, lalu aku langsung masuk ke kamar. Kutaruh ransel ku di atas meja, lalu ku tarik bangku dan duduk di atasnya. Kemudian ku tempelkan kepalaku di atas meja sembari mengingat apa yang barusan terjadi padaku. Kurang lebih 5 menit lamanya aku melamun. Kemudian aku berbaring di atas kasur. Tidak sedikit pun rasa lapar yang kurasakan. Mama sama Bibi jadi khawatir karena aku tak kunjung keluar kamar mulai dari pulang sekolah hari Sabtu hingga pagi hari di hari Minggu. Mereka pun bergantian mengetuk pintu kamar ku entah seberapa lama?


"Ndien kamu lagi ngapain sayang, buka pintunya udah semalam kamu nggak di kamar" ada perasaan khawatir di balik suara Mama, tapi aku enggan untuk bangkit dan buka pintu. Kemudian Mama mengetuk lagi dan semakin lama ketukan nya semakin keras dan kasar. Aku jadi takut Mama nekat dan malah mendobrak pintuku, jadi aku terpaksa bangkit dan membuka pintu.


"Kamu kenapa?" aku bisa merasakan bahwa Mama tengah khawatir padaku.


"Nggak papa kok Ma, Nadien cuman lagi nggak enak badan aja kok"


"kamu serius? Ya udah kalau memang kamu nggak enak badan kamu tidur lagi, Bisa tolong ambilkan sarapan buat Nadien"


"Baik Nya"


Kami berdua masuk ke kamar, Mama menuntunku untuk berbaring di kasur sedangkan dia duduk di samping ku.


"Kamu punya masalah ya? Tumben banget kamu kayak gini"


"Nggak ada Ma"


"Jangan bohong, kan udah Mama bilang kalau kamu ada masalah kamu bisa sharing sama Mama, Mama siap buat dengar curhatan kamu"


"It's so complicated Mom"


"Hidup itu memang complicated, nggak ada yang hidupnya lurus-lurus saja"


"Iya tapi susah ngejelasin nya"


"Iya Ma"


"Mama ngerti apa yang kamu pikirkan saat ini, pasti kamu lagi kesal sama Willi yang lancang cium kamu seperti itu. Tapi kalau boleh Mama kasih saran, sebenarnya kamu nggak perlu ngambil tindakan kayak ini. Mengurung diri di dalam kamar, harusnya kamu itu nyari orang yang bisa di ajak curhat sayang"


"Nadien takut Ma"


"Kenapa kamu harus takut, justru bagus kalau kamu sering curhat sama orang dewasa, melalui pengalaman mereka kamu dapat pelajaran berharga untuk menghadapi masalah seperti ini"


"Mama mau kan dengerin Nadien curhat"


"Tentu dong sayang, kan Mama udah bilang Mama bakalan siap dengerin apapun yang akan kamu ceritakan"


"Ya deh, Ma sebenarnya Nadien bimbang, antara marah sama deg-degan. Satu sisi Nadien memang suka sih sama Willi tapi Mama harus janji nggak boleh kasih tahu dia"


"Iya iya Mama janji, lanjutin gih ceritanya"


"Jadi waktu itu Nadien di ajak Willi ke bukit lampu, namanya Bukit Nobita. Di sana Willi nembak Nadien Ma, untuk yang ke dua kalinya. Tapi karena Nadien belum siap akhirnya Nadien pura-pura nggak ada rasa terus Nadien tolak dia lagi. Trus pas kita udah nyampe di depan rumah tiba-tiba dia nyium Nadien, makanya Nadien kesal. Masak iya jadian aja belum tapi udah di cium, wajar aja kan Ma kalau Nadien berpikir nanti kalau udah jadian pasti bakalan di apa-apa ini sama Willi. Nadien nggak mau Ma, Nadien nggak mau masa depan Nadien hancur begitu saja. Makanya sekarang Nadien diemin dia"


"Oh... jadi gitu ceritanya. Mmm gimana ya? Masalahnya udah terlalu jauh banget arah dan tujuan nya ya kan, tapi Mama bisa ambil kesimpulan bahwa Willi itu anaknya baik dia nggak bakalan macam-macam sama kamu"


"Baik gimana Ma? Mama ngerti nggak sih maksud aku, kok malah belain dia sih!"


"Iya Mama ngerti maksud kamu, tapi masalahnya nggak semua ciuman itu berarti ke triple X. Maksud Mama gini, aduh gimana ya cara ngejelasin nya, Mama juga bingung. Ok gini, dulu waktu Mama seumuran kamu Mama juga pernah mengalami hal yang sama. Dan waktu itu Mama juga dilema yang begitu berat dan akhirnya malah membuat Mama menyesal sekarang. Maksud Mama menyesal itu bukan nya menyesal karena Mama membiarkan orang itu merusak ataupun menyentuh Mama tapi penyesalan Mama itu adalah Mama tidak bijak menyikapi sikap nya yang agak agresif dan terlalu berpikir bahwa dia punya Nia jahat yang akhirnya malah menghalangi Mama untuk mengerti apa itu cinta sejati. Sekarang Mama cuman bisa nyesal sendiri nggak bisa hidup bersama dia"


"Nadien nggak ngerti apa yang Mama ceritakan"


"Hidup itu kompleks sayang. Kita nggak bisa berpedoman pada satu prinsip saja. melainkan lebih dari satu. Ok untuk saat ini kamu pilih menjauh karena takut kamu bakalan di apa-apa in sama Willi. Tapi suatu hari ketika kamu sudah tahu dan sudah merasakan arti hidup yang sebenarnya Mama yakin kamu bakalan nyesal. Mama cuma nggak mau kamu nyesal seperti Mama nyesal nikah sama Papa kamu"


"Maksud Mama"


"Hmmm" Mama menarik nafas dalam-dalam lalu mulai bercerita kembali.


"Dulu waktu Mama masih duduk di bangku SMA Mama pernah jatuh cinta, kurang lebih sama kayak kamu. Malu-malu kucing, sok-sok jaim, padahal suka. Tapi karena kegigihan nya meyakinkan Mama untuk mau menerima dia akhirnya hati Mama pun luluh. Namun suatu ketika di saat hubungan kami hampir melampaui batas dan Mama hampir tidak terkendali Mama langsung sadar, bahwa hubungan itu nggak bisa di lanjutkan. Akhirnya Mama memutuskan untuk putus dan bertekad untuk tidak pacaran sampai Mama wisuda. Waktu Mama mutusin dia, dia paham maksud Mama dan dia memaklumi keputusan Mama. Setelah tamat SMA Mama nggak pernah ketemu dia sampai Mama masuk kuliah di Jakarta. Terus Mama ketemu sama Papa, sifat Papa yang sopan sama perempuan membuat Mama kagum dan yakin bahwa dia adalah pria yang bertanggung jawab. Lalu setelah wisuda Mama dapat kerjaan, kemudian kami nikah, setelah itu kamu lahir. Dua tahun lamanya kami benar-benar merasa tak ada masalah dalam keluarga seolah semuanya baik-baik saja. Tapi ternyata setelah Mama tahu sifat Papa yang sebenarnya Mama jadi kecewa dan nyesal. Kemudian Mama berusaha tegar menghadapi semua masalah yang Mama hadapi sendirian, tapi tetap Mama nggak bisa terima. Tidak lama kemudian Mama jadi teringat teman SMA Mama dulu. Mama teringat masa-masa kami pacaran lalu Mama bandingkan dengan masa-masa Mama pacaran dan nikah sama Papa. Ternyata Mama salah menilai orang, seandainya dulu Mama bisa dewasa dalam menghadapi hal seperti ini mungkin kami masih pacaran dan mungkin kami bisa membentuk sebuah keluarga yang harmonis"


Mama cerita panjang lebar sambil sesekali menangis, dan juga sesekali menghapus air matanya.


"Nadien masih nggak ngerti maksud dari 'seandainya Mama bisa dewasa dalam menghadapi masalah seperti ini'"


"Ndien, cinta itu bukan cuman soal triple X. Bahkan kamu tahu nggak hampir semua yang nikah belum tentu perawan. Hanya sebagian besar, ya paling-paling buat orang yang punya komitmen tinggi tentang kesucian dan kemurnian sebelum menikah. Dan itupun jarang banget. Maksud Mama kamu nggak perlu batasin diri kamu buat di sentuh. Memang semuanya ada batasnya hanya saja, jangan terlalu membatasi diri. Ingat yang perlu kamu lakukan adalah membuat diri kamu terhormat di mata laki-laki. Contoh, jangan mentang-mentang Mama bilang kamu nggak perlu membatasi diri terus kalau ada laki-laki yang pengen gituan kamu langsung kasih. Bukan itu maksud Mama. Maksud Mama itu, sama seperti yang dilakukan William kemarin itu biasa Ndien. Semua orang butuh sentuhan, dan setiap sentuhan ada maksud dan tujuan. Ada yang jahat dan ada yang baik. Mungkin kamu belum mengerti saat ini but one day you'll be understand what i mean. Ndien mulai dari hari ini kamu harus bijak memilih dengan siapa kamu ingin menghabiskan sisa hidupmu. Jangan sampai hanya karena kamu mau menjaga masa depan mu dan juga karirmu kamu malah kehilangan cinta yang sejati. Karena masa depan itu bukan cuma sampai kamu berhasil jadi Dokter atau someone, tapi berhasil menemukan cinta sejati yang mana kamu dan kekasihmu berhasil membentuk suatu keluarga yang harmonis. Apa gunanya kamu nikah setelah S-2 terus suami kamu S-3 lalu kalian sama-sama punya jabatan tapi nggak pernah harmonis. Mending kalian sama-sama nggak sekolah hidup seadanya tapi saling mencintai dan hampir nggak pernah bertengkar. Karena dimana pun kita berada kita ingin kembali ke rumah yang damai"


"Nadien ngerti sekarang Ma"


Saat kami sedang asyik mengobrol berdua, tiba-tiba Bi Ina masuk ke kamar sambil ngos-ngosan. Aku rasa karena dia berlari naik ke tangga.


"Bibi kenapa?" tanya ku dan Mama serentak.


"Anu Nya... hah... hah... itu Nya.. di bawah.. hah.. hah.. di bawah Nya" jawab Bi Ina sambil mengatur nafas


"Di bawah kenapa?"


"Dibawah Tuan sama Den Willi bertengkar"


"Apa?" serentak kami pun kaget dan segera menyusul ke bawah menyaksikan perkelahian antara calon menantu dan Papa.