
Ke esokan harinya aku bangun dan mendapati Mama sudah tidak ada di samping ku. Dalam pikiranku mungkin Mama sedang menyiapkan makanan di dapur. Lalu aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil handuk lalu beranjak ke kamar mandi. Selang 15 menit aku sudah siap berpakaian dan siap untuk berangkat sekolah. Aku langsung turun lalu menuju ruang makan. Benar saja Mama sedang menyiapkan makanan bersama Bi Ina.
"Pagi Ma" kali ini aku yang menyapa Mama duluan sambil langsung mengambil sandwich yang sudah Mama sediakan dan langsung menyantap sandwich itu.
"Kayak nya kamu lagi happy banget hari ini"
"Iya Ma.. hehe"
"Oh ya Ndien kamu bisa kan berangkat ke sekolah sendiri. Mama kayaknya harus ke kampus pagi-pagi banget, karena Mama ada kelas pagi soalnya. Nggak papa kan?"
"Hmm.. nggak papa kok Ma. Nadine udah biasa pergi sendiri"
"Ya udah kalau gitu cepet habisin makanannya trus kamu pasang sepatu, udah itu siap-siap berangkat ntar kamu telat lagi"
"Sipp Mom.."
"Eh kawan kamu itu nggak jemput kamu?"
"Entah.. nggak tau juga sih, kayaknya sih nggak..."
"Oh.. terus kamu bawa motor sendiri?"
"Iya kayak nya Ma.. oh ya aku pergi dulu ya.. bye Mom"
Aku keluar menuju tempat sepatu dan memakai sepatu. Lalu aku membuka pintu luar dan berjalan menuju parkiran. Ku panaskan motor sebentar lalu ku lajukan motor menuju gerbang. Saat aku membuka gerbang, aku kaget melihat kehadiran Willi di sana. Kebiasaan banget deh, ngagetin orang aja kerjanya. William itu kayak Jaylangkung ya, datang nggak di undang pulang nggak antar. Bisanya cuma buat orang jantungan.
"Will sumpah sekali lagi kamu ngagetin aku, aku bersumpah seumur hidup nggak bakalan mau ngomong lagi sama kamu"
"Widih... jangan gitu dong ngomongnya. Ya deh.. Aku minta maaf"
"Kamu ngapain ke sini?"
"Jemput kamu lah. Mau ngapain lagi?"
"Tapi aku bisa kok berangkat sendiri"
"Duh Ndien... kemarin kamu nggak ada lho dekat aku. Yaaa aku kangen aja sama kamu"
Hah William kangen. Kenapa aku jadi deg-degan gini yaa...
"Hei... Nadien... Ndien"
"Huh? Iya kenapa?"
"Kamu tuh yang kenapa? Malah bengong"
"Engg..gak nggak kok, aku nggak bengong. Terus gimana?"
"Gimana apanya Ndien?"
"Jadi nggak berangkat ke sekolah bareng?"
Kok aku malah nyolot sih.
"Ya jadilah.. udah gih sana masukin motor kamu ke parkiran"
Aku mengembalikan motor ke parkiran lalu keluar dan menutup kembali gerbang rumah. Lalu Willi memberikan helm nya yang sering ku pakai saat berboncengan dengan nya. Sebenarnya tadi pagi aku berharap Willi menjemputku. Dan ternyata keinginan itu terwujud. Setidaknya William nggak tahu kalau aku mulai memikirkannya. Dari pada nanti aku kalah taruhan.. Lebih baik perasaan ini ku rahasia kan sampai dia lupa dengan isi taruhan itu, dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku geli-geli sendiri melihat diriku menghayal akan menjadi kekasih Willi. Sekali lagi aku bersyukur karena Tuhan mengizinkan ku untuk mengenalnya dan menjadi teman hidup nya. Dia jauh berbeda dengan Dava. Orang nya baik, ramah, dan sangat maco. Nggak sama kayak Dava, awal-awal nya aja keliatan cupu dan berlagak kutu buku. Padahal pikiran nya kotor dan lebih suka sama cewek murahan daripada cewek yang simple-simple aja tapi berkelas. Nggak mudah di rayu atau di ajak tidur. Hah... Aku seperti menang lotre ya.. Hilang kerikil dapat mutiara.
Sesampainya di sekolah aku langsung memberikan helm pada Willi. Lalu seperti biasa dia memperbaiki rambutku yang acak-acakan karena helm. Aku mulai membiasakan diri dengan sikap nya yang satu ini. Dan bahkan mungkin aku berharap agar ia mau melakukan ini setiap hari, setiap detik dan setiap kesempatan.
"Yuk?" Willi menggenggam tangan ku dan kami berjalan menuju Kelas ku. Sepertinya aku tidak lagi malu ataupun gugup saat berjalan bergandengan dengan Willi di sekolah. Sekalipun semua orang masih mencibir dan menggosipkanku.. Mulai hari ini aku akan cuek dengan omongan orang dan menjadi Nadien yang baru.. Nadien yang mau bergaul dan Nadien yang ceria. Semuanya berkat William. Willi yang membuat hidup seorang Nadien menjadi lebih berarti. Dan Willi yang telah mewarnai kisah putih ab-abu Nadien. Tapi jangan bilang ke dia ya.. Ntar Nadien kalah taruhan lagi...
"Udah sampai.. kamu masuk gih ke Kelas. Oh ya nanti pas jam istirahat kita ada latihan band di ruang musik. Kamu langsung aja ya ke sana, aku tunggu lho"
"Ok... siap"
"Bye... sampai jumpa di ruang musik"
"Hmm... da... da... da...."
Aku hanya bisa memandangi punggung Willi yang telah berlalu. Setelah bayangan nya mulai hilang aku masuk ke dalam kelas. Hampir aja aku menabrak Dava.
"Kamu nggak punya mata yaa" ujar Dava dengan judes.
"sory Va, tadi aku nggak ngeliat."
"Kenapa? Oh.. aku tahu kamu lagi sibuk ngeliatin pacar baru kamu itu kan?"
"Kalau iya emang kenapa?"
"Nggak kenapa-napa sih.. cuman aneh aja, masak sih cewek secupu kamu bisa pacaran sama cowok sekeren itu, pasti kamu kasih sesuatu yang bisa memikat hati pria ya kan"
"Heh.. jaga mulut kamu ya.. mungkin aku nggak sekeren Jessika, tapi bukan berarti aku melakukan hal yang di luar nalar hanya untuk mendapatkan laki-laki. Bahkan aku juga nggak akan ngasih harga diri ku hanya untuk laki-laki murahan dan munafik kayak kamu"
Aku langsung masuk kelas dan meletakkan tas ku di atas meja. Nggak peduli Dava mau ngapain setelah ini. Siapa dia seenaknya nuduh orang kayak gitu. Memangnya dia nggak sadar kalau dia itu cuma cowok cupu yang munafik. Aku melirik Dava yang terdiam terpaku di depan pintu, saat dia menoleh ke arah ku, aku langsung mengambil buku dan berpura-pura membaca buku itu. Dava masih terus menatap ku.. dan kembali ke tempat duduknya saat bel masuk berbunyi. Aku menyiapkan buku pelajaran yang akan di pelajari di jam pertama. Kemudian guru kesenian kami masuk. Aku tambah senang karena hanya ini satu-satunya pelajaran yang ku gemari. Seandainya aku bisa... Mungkin pelajaran lain yang tidak berhubungan dengan kesenian aku hapus. Biar semua siswa nyanyi aja terus... main gitar, menari, berdrama, dan masih banyak seni lain yang di lakukan siswa. Selama ini sekolah selalu menuntut siswa untuk terus belajar, hingga akhirnya bakat-bakat yang dimiliki siswa pun jadi terpendam dan siswa kehilangan cara untuk mengekspos bakatnya ke luar. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk diam dan pura-pura menjadi kutu buku. Padahal buku itu hanya membuat kita tambah pusing. Coba deh kamu ikut nari atau nyanyi, sekalipun nggak bisa pasti kamu jadi rileks. Apalagi kalau suaramu cempreng, tapi pada saat kamu nyanyi bersama temanmu suara yang cempreng itu akan menghasilkan gelak tawa. Dan seketika itu juga semua beban di pikiranmu akan hilang. Cuman yaaa jangan dipaksakan untuk tampil di atas panggung. Tapi kalau punya mental baja yaaa nggak papa, manggung aja kalau nggak di lemparin sampah nanti.
Aku sombong juga ya ternyata. Sedikit angkuh padahal aku juga memilih untuk memendam bakat ku. Mana berani ku keluarkan. Bisa mati kutu aku kalau di suruh nyanyi di depan orang sekalipun suaraku bagus. Tapi aku nggak akan sanggup berdiri sendirian sambil memegang mikerofon, lalu mengeluarkan kata demi kata, sayair demi syair. Aaahh, kalau sempat hal itu terjadi siapin aja ambulans....
"Pagi anak-anak..." sapa Pak Hakim Guru Kesenian ku.
"Nadine?"
"Mmm.. iya Pak?" aku terkejut saat beliau memanggil namaku..
"Apa yang kamu perhatikan dari tadi"
"Bapak"
Ya ampunnn... Waduh keceplosan... Sontak semua siswa bersorak... "Uuuuuhhhh..."
Aduh malunya lagi... Mau dimana ku letakkan wajahku ini.
"Kamu mau saya hukum?"
"Tidak Pak"
"Kalau begitu, sekarang kamu maju ke depan, ini ada gitar, daripada kamu melamun melihat saya lebih bagus kamu menghibur teman-teman kamu semua"
"Tapi Pak"
"Nggak ada kata tapi-tapi.. ayo maju"
"Maju Ndien... Nadine Nadine... Nadine... uhhh"
Mampus baru juga tadi aku bilang aku memilih memendam bakat, eh malah di suruh keluarin bakat. Di sorakin teman-teman lagi.
huh... dengan langkah lunglai aku melangkah ke depan kelas.. dan aku benar-benar terpaksa melakukan ini. Aku meraih gitar dari tangan Pak Hakim. Lalu mengambil kursi guru agar aku bisa nyaman bernyanyi. Lalu kupetikkan suara gitar secara perlahan. Aku sendiri bingung mau nyanyi apa.
Akhirnya aku menyanyikan lagu My Heart ciptaan Acha dan Irwansyah.
*Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia 'ku denganmu
Pernahkah kau menguntai
Hari paling indah?
Kuukir nama kita berdua
Di sini surga kita
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar?
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang
If you love somebody could we be this strong
I will fight to win our love will conquer all
Wouldn't reach my love
Even just one night
Our love will stay in my heart
My heart
Pernahkah kau menguntai
Hari paling indah?
Kuukir nama kita berdua
Di sini surga kita
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar?
Sebisa mungkin tak akan pernah
Sayangku akan hilang*
My heart...
Waktu aku selesai bernyanyi semua orang terpana mendengarnya. Aku pun melirik Dava, begitupula dengan nya. Dia tampak terpesona dan rada tidak percaya kalau aku bisa nyanyi.. bagaiman tidak, selama ini aku tidak pernah mengeluarkan suara emasku di depan orang banyak.. Setelah selesai bernyanyi akupun mengembalikan kursi guru ketempat semula serta menyerahkan gitar ke tangan Pak Hakim. Lalu aku di persilahkan untuk duduk di bangku ku.