
“Besok kamu tetap bawa buku Mat ini sekalipun nggak ada Mapel Mat”
“Yes Teacher”
“Anyway I’m not a teacher”
“Whatever”
Saat kami sedang berdiri di depan Perpus tiba-tiba saja Jessika datang menghampiri kami berdua.
“Hi sayang”
“Kamu masih di sini?"
“Ya, akukan nungguin kamu”
“Tapi bukannya tadi kamu bilang mau pulang bareng temen-temen kamu ya?”
“Nggak jadi”
“Oh..”
And again, they make me on a badmood. Seperti yang kalian ketahui bahwasannya Jessika suka sekali pamer kemesraan ataupun sengaja bermanjaan dengan Dava. Dan hal itu adalah hal yang sangat menyakitkan.
“By the way thanks ya Va buat hari ini, kamu udah mau ngajarin aku”
Aku pamitan sama Dava sebelum sekolah ini kebakaran. Namun aku malah dapat sindiran pedas dari Nyonya Dava.
“Oh iya nggak papa, cuman kalau bisa jangan ngambil kesempatan, terus jangan lupa buat cepat pintar. So Dava nggak perlu lama-lama buang waktu buat ngajarin kamu terus”
Sumpah ya segitu amat jadi manusia, nggak punya rasa iba sedikitpun. Angkuhnya luar biasa.
“Just be rilex, paling juga besok aku udah nggak butuh Dava lagi. Well see you guys”
“Kamu nggak seharusnya ngomong kayak gitu sama Nadien”
“Why not? Lagian aku berhak larang siapapun buat deketin kamu, apalagi dia”
“Ya tapi aku cuma pengen bantu dia, dan lagian dia juga nggak pernah berniat buat deketin aku”
“Guys.. enough. Kalian ngapain sih bertengkar hanya karena hal sepele. Santai aja lagi, yang jelas aku cuman nurutin apa yang dikatakan Mama. So don’t be worry”
Kurasa aku nggak perlu menyaksikan ataupun mendengar perdebatan mereka, jadi aku melangkah dengan pasti menuju gerbang dengan segudang rasa jengkel di dalam hatiku. Sepertinya bertemu dengan dua makhluk tadi membuatku stress selalu.
“Hei”
Saking kesalnya aku tidak memperhatikan sekelilingku, termasuk si pangeran yang masih tergantung.
“Ndien”
“Apa?”
“Kamu kenapa kesambet ya?”
“Iya, kenapa?”
“Kesambet apa?”
“KOLOR IJO”
“Hahahaha masak sih? Let me guess, are you jealous?”
“i don’t have any time to jocking with you”
“Ok... ok... don’t be mad just be rilex”
Sumpah ya baru aja ketemu dua manusia yang paling menyebalkan sekarang malah ketemu sama cowok yang paling nggak tahu waktu. Kapan bercanda, kapan serius, tahu nya apa yang dia lakukan itu menurut dia bisa membuat orang lain bahagia. Padahal belum tentu.
“Kamu belum pulang?”
Aku mencoba berbaik hati pada William, karena bagaimanapun juga kan bukan dia yang buat aku bad mood.
“Aku nunggu kamu pulang”
“Masih aja setia nungguin”
“Always”
Begitu singkat namun cukup membuat ku merona.
“Well thanks then. Yuk pulang kalau memang kamu nungguin aku”
“Kamu laper nggak?”
“Lumayan”
“Bagus deh kalau gitu. Kamu mau nggak makan bareng aku”
“Iya deh”
Kali ini Ia benar-benar membuat ku merona dan bukan hanya merona tapi seketika jantung ku berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya. Padahal Ia hanya tersenyum, tapi seolah senyuman itu telah bercampur dengan ramuan asmara yang membuatku tak dapat menyembunyikan rasa ini.
“Yuk”
William meraih tanganku dan menuntunku ke Parkiran. Lalu seketika itu juga kami berlalu dari sekolah dan segera menuju tempat makan yang menurut William paling enak tempat nya. Entah benar atau nggak yang jelas kita lihat aja nanti, berhubung aku lagi badmood jadi ku ikuti saja kemanapun Willi membawa ku pergi.