
Seharian ini aku sangat lelah dan dipenuhi rasa resah dan gelisah. Sebab Dava memperhatikan ku selama satu hari penuh. Entah kenapa tiba-tiba dia bertingkah aneh seperti itu?.
Aku mengetuk pintu saat tiba di rumah. Hampir sepuluh kali aku mengetuk pintu namun nihil, tak ada jawaban.
Bibi kemana ya?
Ku ketuk lagi namun sama saja tak ada jawaban. Lalu aku kaget karena handphone ku tiba-tiba saja berdering. Bi Ina! Dengan cepat aku langsung menjawab telpon dari Bi Ina.
"Halo Bi, Bibi lagi di mana? Dari tadi Nadien mengetuk pintu tapi nggak ada yang bukakan"
"Maaf Non. Ini Bibi lagi di rumah sakit. Siska nggak sadarkan diri lagi, udah hampir 2 hari Non, jadi Bibi ke Rumah Sakit buat jagain Siska"
"Oh begitu Bi. Terus kunci rumah dimana?"
"Aduh, Bibi bawak Non. Non bisa nggak jemput ke Rumah Sakit?"
"Yadeh Bi, kirim aja alamatnya, nanti Nadien datang ke sana buat jemput"
"Baik Non"
Bibi pun mengirimkan alamat Rumah Sakit tempat Siska di rawat. Setelah mendapatkan alamat, aku langsung memanggil taksi yang lewat di depan rumahku. Lalu aku pun menuju ke alamat yang sudah di kirim oleh Bi Ina. Kira-kira 15 menit perjalanan aku pun sampai di rumah sakit tersebut. Lalu aku mencari ruangan tempat Siska di rawat inap. Setelah dapat informasi dari Reseptionist aku langsung menuju ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian aku sampai di ruangan tempat Siska di rawat. Di sana terlihat ada 5 orang siswa yang dirawat, tidak lain adalah Siska and the Geng yang tabrakan 2 hari yang lalu. Dan ada beberapa keluarga dari masing-masing mereka yang di rawat. Dan... ada Dava yang lagi megang tangan Jessika sambil mengelus-elus rambutnya dengan mesra.
Huh... Kalau aku tahu bakalan lihat pemandangan yang kurang menyenangkan ini, lebih baik aku nggak usah datang dan nunggu Bi Ina aja di rumah. Nggak perlu datang ke sini. Hanya buat sakit hati. Arrgggghh... Huf... Tarik napas buang napas, tarik napas buang napas. Just rileks... Kan cuman sebentar doang. Daripada lama-lama berdiri di depan pintu lebih baik ku cepat kan langkah untuk menghampiri Bi Ina.
"Bi... gimana keadaan Siska?"
"Belum ada perkembangan Non. Mudah-mudahan hari ini siuman"
"Amin. Oh ya Bi, mana kunci rumah?"
Bi Ina merogohkan saku nya dan mengeluarkan kunci lalu di berikan nya padaku. Aku pun pamitan sama Bi Ina, lalu aku keluar dari ruang inap. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. William. Aku segera mengangkat telpon darinya.
"Hallo Wil"
"Hai.. kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi di rumah sakit"
"Lho ngapain? Kamu sakit ya"
"Nggak, aku cuma ngambil kunci rumah sama Bi Ina, Kebetulan Bi Ina lagi di Rumah Sakit jagain Siska"
"Oh gitu. Trus kamu pulang nya sama siapa?"
"Sama supir taxi"
"Supir nya duda atau lajang"
"Duda"
"Yaaa... jangan dong, gimana kalau kamu pulangnya sama aku aja"
"Nggak usah, nggak papa. Aku bisa kok pulang sendiri. Ntar malah ngerepotin kamu lagi"
"Sejak kapan kamu ngerepotin aku? Justru aku senang bisa ketemu sama kamu"
"Terserah deh"
"Nah gitu dong. Ok share lock ya, aku lagi otw"
"Iya-iya"
"Bye"
"Bye"
Aku mengirim lokasi Rumah Sakit lewat Whatsapp nya Willi. Lalu melanjutkan langkah kaki menuju lift. Sampai di lantai satu, aku keluar dari lift lalu keluar dari Rumah Sakit. Nggak lama kemudian William berhenti di depan ku.
"Cepat amat?"
"Apa sih yang nggak buat kamu. Aku takut aja nanti kalau aku telat satu detik aja ntar kamu malah di bawa supir taxi yang duda itu lagi"
"Hah? Astaga... yaudah deh yuk pulang"
"Ok. Nih helm nya"
Aku meraih helm dari tangan Willi kemudian naik ke atas jok motor Willi. Lalu Willi pun melajukan motornya dengan perlahan menuju gerbang rumah sakit. Saat sudah berada di luar gerbang, Willi menambah kecepatan motornya saat melaju di jalan raya. Aku hanya bisa menikmati perjalanan pulang bersama Willi saat ini. Aku menarik nafas untuk sejenak menenangkan pikiran ku yang selalu terbayang kejadian tadi saat Dava mengelus lembut rambut Jessika. Entah kenapa aku merasa seperti di guncang. Huf.... tarik nafas, buang nafas, tarik nafas buang nafas. Kenapa ya aku masih belum bisa melihat mereka berdua bermesraan. Padahal kan aku udah nggak ada perasaan apapun sama Dava. Atau mungkin ini namanya susah move on dari cinta pertama. Memang sih, kuakui Dava adalah orang pertama yang bisa membuatku jatuh cinta, dan mengajari ku apa itu cinta. Tapi dia juga orang pertama yang membuatku tidak percaya akan cinta. Yang membuatku terus berpikir bahwa pria hanya menginginkan nafsu sesaat dan mengatas nama kan cinta agar hasratnya dapat terlepaskan. Berbagai cara bahkan beragam rayuan setan di keluarkan hanya untuk mendapatkan kepuasan 11 menit. Setelah itu mereka akan meninggalkan mu tanpa sehelai pakaian pun. Bahkan mereka akan melupakan mu dan tak kan kembali lagi. Segala resiko yang muncul hanya kamu yang menanggungnya. Begitulah yang terlintas di pikiran ku saat ini.
Willi terus melajukan motornya, kali ini kecepatan motor Willi tidak terlalu cepat. Hanya saja kami berjalan bukan menuju rumah melainkan ke suatu tempat yang entah kemana. Ini adalah kebiasaan William yang selalu saja seenaknya membawaku ke tempat yang tidak ku ketahui, tanpa meminta izin padaku lebih dulu. Tapi aku tidak menghentikannya ataupun bertanya padanya kemana arah kami berjalan. Mungkin kali ini aku membutuhkan nya, walau hanya sekedar untuk curhat. Kurasa dia bisa membuatku sedikit tenang.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan nya. Willi mencari parkiran, setelah itu memarkirkan motor dengan baik. kemudian aku turun dan memberikan helm pada nya.
"Will, kita ngapain ke Taman?"
"Pengen flashback aja"
"Flashback?"
"Iya. Oh ya kamu haus nggak? Mau aku beli ini ice cream?"
"Boleh"
"Yuk"
Kami berjalan menuju loket dan membeli 2 tiket. Lalu masuk ke dalam taman, dan berhenti di Stand ice cream. Aku memesan ice cream rasa cokelat kesukaan ku. Sedangkan Willi lebih suka rasa vanila. Setelah selesai memesan ice cream, kami kembali berjalan mencari tempat untuk duduk.
"Kita duduk dimana nih Ndien?"
"Nggak tahu, terserah kamu aja"
"Gimana kalau di sana aja, tempat waktu pertama kali kita duduk berdua"
"Kamu nih aneh. Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini sih?"
"Emmm.. nggak ada. Aku cuma pengen flashback aja. Pengen ingat-ingat waktu kamu lagi nangis sesenggukan sampai sujud di lantai. Terus terisak-isak... teriak teriak sendiri.. terus.."
"Udah..."
"Kenapa? Kamu malu ya?"
"Ih, apa an sih, nggak."
"Kamu malu... Ya dia malu"
"Udah deh Wil."
"Iya deh udah. Yuk."
"Ndien?" Aku menatap Willi yang sedang memulai pembicaraan.
"Apa?"
"Kamu memang nggak suka ya sama cowok?"
"Maksudnya?"
"Ya.. aneh aja sih, soalnya selama beberapa minggu aku kenal kamu, kamu tuh beda tahu nggak sama anak cewek yang lain"
"Beda gimana?"
"Yaa. Beda aja. Biasanya ya setiap aku deketin cewek pasti mereka baperan, trus hampir setiap saat ngechat duluan bahkan mereka nggak ragu buat nelpon aku duluan. Apalagi kalau aku ngerespon chat atau telpon mereka pasti mereka bahagia banget. Tapi kamu, justru aku yang susah ngehubungi kamu, di telpon seratus kali, telpon yang ke 101 baru di jawab. Kalau di chat jawaban nya cuma ya, nggak, udah, belum, singkat semua. Dan nggak pernah nanya balik"
"Terus kamu mau pamer ke aku kalau kamu itu populer, hampir sama kayak Justin Bieber yang punya banyak penggemar, gitu?"
"Yaa.. bukan gitu maksudnya"
"Terus apa?"
"Aku heran aja ngeliat kamu. Kamu tuh nggak pernah peka. Atau jangan-jangan kamu nggak suka sama cowok"
"Maksud kamu aku lesbi?"
"Nggak ada maksud bilang kayak gitu sih, cuman aku pernah baca artikel kalau ada cewek yang nggak gampang di rayu dia punya tanda atau gejala ke arah itu"
"Makasih William atas deskripsi singkat tentang ku. Tapi aku bisa jamin 100% kalau aku nggak lesbi"
"Tapi aku nggak percaya"
"Terus kamu mau apa?"
"Bukti"
"Aku pernah pacaran sama Dava. Ku rasa itu udah cukup buat bukti"
"Maksud ku bukti fisik yang bisa di lihat"
"Apa?"
"Gimana kalau kamu tutup mata"
"Kamu mau ngapain? Eh jangan bilang kalau kamu mau modus biar bisa cium bibir ku kan"
"Enggak.. maksudnya ia. Emm.. ok, gini aja, aku nggak bakalan nyium, cuma buat adrenalin kamu naik aja"
"Gila kamu, nggak mau. Udah deh aku pulang aja"
William gila, bukannya membuatku tenang malah membuatku jantungan. Aku langsung beranjak dari tempat ku, dan rasanya ingin berlalri dari sini. Tapi Willi malah mengambil tanganku.
"Ndien, tunggu dulu"
Aku nggak peduli dan mengehempas kan tangan nya dari tanganku. Aku berusaha untuk berjalan dan lari dari sini. Aku sungguh tersinggung dengan sikap Willi.
"Ndien.. sory.. ok.. ok.. aku minta maaf"
Aku menghentikan langkahku tapi enggan untuk menghadap ke belakang dan melihat wajahnya.
"Aku minta maaf, aku tahu aku salah. Kita bisa kan duduk lagi dan membicarakan hal yang lain. Aku tahu kok kamu normal, hanya saja perempuan seperti kamu sulit didapatkan. Dan itu yang aku cari"
Itu yang aku cari? Apa maksudnya?
Aku menarik nafas sebentar lalu menghadap ke belakang dan kembali ke tempatku tadi.
"Oh ya, gimana hubungan kamu sama Mama kamu?"
"Baik"
"Hmm.. bagus deh kalau gitu"
Lalu kami diam kemudian bicara lagi. Pembicaraan kami seperti sedang tanya jawab alias wawancara. Lalu kemudian Willi menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diri. Aku sendiri bingung kenapa dia seprti ini. Sementara mentari sudah memaksa kami untuk pulang. Saat aku meminta pulang Willi malah diam dan menundukkan kepala seolah ada sesuatu yang membuat dirinya tidak tenang. Tiba-tiba...
"Ndien?"
"Apa?"
"Aku... Aku..."
"Iya kenapa? Kamu kenapa?"
"Aduh, tapi jangan marah ya?"
"Tergantung.. "
"Hmm.. kamu tahu nggak sebenarnya aku udah lama penasaran sama kamu. Awalnya waktu kita masih Pastoral, kemudian saat MOS. Sebenarnya kita satu gugus, hanya saja Dava duluan ngambil kamu. Dia yang lebih dulu dekatin kamu"
"Masak sih?"
"Dava itu saudara kembar ku?"
"Hah? Gilak? Mana mungkin, wajah kalian aja nggak mirip"
"Terserah deh mau percaya apa nggak. Yang jelas dia kakak ku"
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah. Namanya juga kembar, pas di kandungan berdua terus lahirnya juga berdua. Cuman Dava duluan yang lahir"
"Nama kalian nggak mirip. Kamu aja Willi nah dia Dava! Dimana letak kembarnya?"
"Memangnya harus ya kalau kembar itu nama orang sama, kayak Lulu Lala, Kaka Kiki, Sasa Susu. Harus"
"Enggak juga sih, nggak tahu. Tapi biasanya gitu"
"Udah deh, bukan itu inti dari pembicaraan ini. Jadi sebenarnya Jessika itu udah lama banget kenal dengan kami, dia dari kecil barengan terus sama kami. Kebetulan Mama aku dokter, begitu juga dengan Papa Mama nya Jessika. Jadi kami udah kayak kerabat, bahkan salah satu dari kami di jodohin sama Jessika"
"Tapi aku nggak pernah lihat kalian berdua akrab"
"Emang nggak. Masalahnya dulu waktu Jessika masih polos dan lugu, kita berdua emang suka samanya. Hanya saja karena Dava orang nya kaku, Jessika lebih memilih aku dibanding kan Dava. Dari situ Dava mulai nggak suka dengan ku. Dan ngancam aku buat nggak ngasih tahu ke siapa-siapa kalau kami saudara kembar. Lalu semuanya berubah saat kita berdua masuk SMA. Aku nggak nyangka dia juga ngelirik kamu. Saat Dava tahu aku suka sama kamu Dava langsung ngancam, dan secepat kilat Dava berubah menjadi cowok yang jenlte, tiba-tiba aja udah nembak kamu"
"Aku masih nggak percaya"
"Terserah deh. Ndien, kamu mau nggak jadi pacara aku?"
Deg...