WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
11



Misa pun selesai. Kami saling berjabat tangan untuk mengucapkan selamat hari minggu pada jemaat yang lainnya. Lalu stelah selesai salam-salaman aku dan Bibi keluar menuju parkiran, begitu juga dengan William. Sampai di parkiran William menahan tangan ku.


"Habis ngantar Bibi ke rumah kamu kemana?"


"Tidur"


"Astaga... kamu kayaknya Putri Tidur di dunia nyata deh"


"Kalau iya emang kenapa?"


"Nggak bosen?"


"Hmmm... sayangnya tidur adalah salah satu kegiatan favorite ku, jadi mana mungki aku bosan"


"Kalau begitu aku akan membuat kegiatan favorite baru buat mu"


"Apa"


"Selalu bersamaku"


"Hah? Idih... nggak mungkin"


"Mungkin aja kita liat aja nanti"


"Ok. Siapa takut, ya udah kami balik dulu. Bye Willi si tukang ngayal"


"Aku nggak ngayal tapi ngeramal"


"Ya ya ya ramal aja terus. Tapi kalau nggak terbukti jangan terjun ke laut ya.. soalnya nggak akan ada yang mau narik kamu ke luar"


"Sayangnya aku bisa berenang, aku yakin ramalan ini akan terbukti benar"


"What ever. Bye Wil"


Aneh-aneh aja, aku nggak habis pikir bisa ketemu cowok yang pd nya tingkat Dewa. Tapi entah kenapa aku seperti terhibur dan kembali menemukan semangat baru, seolah baru bangkit dari tidur. Entah kenapa pikiranku jadi melayang, perjanjian yang di buat William di Gereja tadi terngiang-ngiang di kepalaku.


Jangan sampai aku jatuh cinta. Karena jatuh cinta itu sakit.


Akhirnya kami tiba di depan gerbang. Lagi-lagi aku di kaget kan oleh William yang sedang duduk di atas jok motornya di depan gerbang rumahku.


Perasaan aku dulu deh yang jalan, tapi kenapa dia duluan yang sampai depan gerbang?


Aku jadi tambah kesal, kenapa sih di dunia ini hanya ada satu manusia yang berwujud seperti William. Yang hidupnya kayak Jaylangkung, datang tak ddi undang pulang tak di antar. Tiba-tiba aja nongol, padahal kehadirannya sungguh tak diharapkan. Lalu aku turun, ku buka helm dan kusamperin dia.


"Kamu kenapa bisa ada di sini sih? kapan nyampenya?"


"Dari tadi, aku kan pembalap, jadi lebih cepat sampai daripada kamu. Nanti kalau kamu nyampe duluan ntar kamu nuduh ngikutin kamu lagi"


"Sama aja, nggak ada beda nya kamu tetap aja ngikutin aku. Kamu mau ngapain?"


"Ngajak kamu ke suatu tempat yang nggak akan bisa kamu lupakan"


"Hello sekalipun aku kuper, tapi aku udah hafal tempat-tempat wisata di kota ini. Aku sering traveling sendirian. Jangan kan kota Padang, wilayah seluruh Sumbar aku udah jelajahi semuanya"


"Wah, telat dong aku ngasih taunya, aku pikir kamu nggak hobi jalan-jalan"


"Hobilah"


"Tapi katanya hobinya cuma tidur"


"Aku nggak bilang cuman, tapi salah satunya. Kuping kamu budek ya"


"Terserah deh. Ok, kalau emang kamu udah tau semua, tapi kan kesan nya beda. Waktu kamu pergi sendiri dan waktu kamu pergi bareng aku"


"Apa bedanya"


"Beda lah. Ya udah daripada kamu banyak berceloteh lebih baik kita jalan langsung yuk...."


Aku nggak bisa nolak karena aku juga lagi bosan sebenarnya. Sebelum pergi bersama William aku memarkirkan motor dan pamit sama Bi Ina. Lalu kami pun pergi entah kemana dia akan membawaku...


30 menit kemudian tibalah kami di tempat tujuan Willi.


"Ini tempat yang kamu bilang nggak bakalan bisa aku lupain?"


"Awalnya sih iya, karena aku pikir kamu belum pernah ke sini"


"Ini kan Pantai Air Manis! Apanya yang nggak bisa aku lupain, aku sering ke sini bahkan sebenarnya aku juga bosan. Yang di lihat cuman pantai yang luas trus patung Malin Kundang yang ada di ujung sana. Apanya yang spesial"


"Well, kalo emang tempat nya nggak memberikan kesan sama kamu, setidaknya moment bersamaku memberimu kesan pertama yang tidak bisa di lupakan, seenggak nya dalam satu malam"


"kita ke Pulau itu yuk, Pulau Pisang. Kamu bisa berenang kan?"


"Ya ampun Will, kamu gila ya... ok sekarang karena pasang surut kita bisa aja jalan menyeberangi pulau itu, tapi nanti kalo udah sore pasang bakalan naik"


"Justru itu aku nanya kamu bisa berenang kan?"


"Bisa sih, cuman lagi malas aja basah basah"


"Ya udah yuk"


Hah.... ngerepotin banget ya. Kami menyeberangi laut yang airnya hanya sebatas mata tumit kaki kami. Sekalipun luas pantai ini termasuk memiliki air yang cukup dangkal, namun kita juga harus memperhatikan pasang. Jika pasang sedang surut kita bisa saja menyebrangi pulau tanpa harus menggunakan boat ataupun perahu. Namun saat pasang naik kita harus menggunakan perahu atau naik boat agar lebih cepat sampai.


Setelah berhasil menyeberang kami mencari tempat untuk duduk dan bersantai sambil mencari-cari topik pembicaraan.


"Anyway... kamu udah berapa lama pacaran sama Dava?"


"Kira-kira 1 1/2 tahun"


"Lama juga ya"


"Aku kenal dava saat pastoral Sekolah pas baru masuk kelas satu. Orangnya menarik, trus pintar. Kira-kira 3 bulan pdkt, Dava nembak aku terus kita jadian selama hampir satu setengah tahun"


"Pasti ada banyak kenangan antara kamu dan Dava"


"Iya... tapi udahlah aku juga udah ikhlas melihat Dava bahagia bersama orang lain"


"Terus kamu nggak mau cari yang lain?"


"Siapa?"


"Siapa aja yang penting cowok"


"Belum dapet sih..."


"Weiiss kesempatan dong. Aku jadi tambah yakin kalau ramalan ku benar. Karena aku satu-satunya cowok yang lagi dekatin kamu kan"


"Iya sih, tapi kan belum tentu aku bakalan jatuh cinta sama kamu, soalnya aku susah jatuh cinta"


"No problem, gampang kok buat kamu jatuh cinta"


"Selamat mencoba kalo emang gampang"


Kami berdua akhirnya larut dalam pembicaraan. Sesekali Willi nanya bagaimana hubunganku dengan orang tuaku, terus dia nanya hobiku, bakat dan minatku, dan masih banyak lagi yang kami bicarakan. Terkadang kami juga tertawa oleh guyonan yang di buat William. Tanpa sadar aku merasa terhibur dan tak ingin moment ini berlalu begitu saja. Aku juga merasa ada yang yang berbeda anatara aku dan William. Nggak sama seperti saat bersama Dava, kami berdua terlalu kaku dan hanya sibuk dengan belajar. Tapi waktu bersama Willi aku bebas ngapain aja, dan bebas mau ngomong apa.


Saking asyik nya kami jadi lupa waktu. Tapi moment ini juga yang membuatku deg-degan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30. Waktunya bagi matahari untuk beristirahat, alias terbenam.


"Kamu liat deh sunset nya, indah banget ya kan"


Willi menunjukkan betapa indahnya sunset hari ini.


"Hmmm... iya, aku belum pernah melihat sunset seindah ini"


Kami berdua menikmati indahnya sunset yang ada di depan mata.


"Ndien, kamu tahu nggak apa yang lebih indah dari sunset ini"


"Apa?"


Tiba-tiba saja Willi mendekatkan wajahnya ke wajahku... semakin lama semakin dekat. Jantungku jadi berdegub kencang, rasanya ingin copot. Tapi berhenti tepat 5 inch dari mataku.. Dia menatap ku sangat dalam dan penuh makna membuat sejenak nafasku terhenti... Apa yang akan dia lakukan.


"Kamu"


Lalu dia berbalik dan kembali ke posisi semula. Oh My God, apa yang baru Willi lakukan. Wajahku memerah dan aku tegang. Seperti baru kena sentrum.


"hri"


"Hah?"


"Kok bengong?"


"mmmm... Nggak ada kok. Will kayaknya udah mau malam pulang yuk!"


"Baiklah"


Huf... lebih baik ambil jalan tengah agar tidak terjadi hal yang aneh-aneh daripada aku nyesal selamanya.Sebenarnya Willi bukan cowok yang suka mempermainkan wanita, hanya saja aku was-was dan jaga hati jangan sampai aku kebawa perasaan trus malah jatuh cinta lagi sama Willi.