WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
4



Papa Mama sebenarnya kalian itu nikah karena jodoh atau karena di jodohin. Kenapa kehidupan pernikahan kalian sekacau ini.


Bisikku dalam hati sembari menangis, air mataku pun terus berjatuhan.


Tok... tok... tok...


"Non.... buka dulu Non, ini Bibi Ina" terdengar suara Bibi Ina dari balik pintu kamarku.


"Masuk aja Bi. Nggak di kunci" Aku langsung cepat-cepat menghapus air mataku.


Lalu Bi Ina masuk ke kamar dan menaruh nampan berisi susu di atas meja ku. Lalu Ia duduk di pinggir ranjang ku. Tangannya pun mulai mengelus-elus rambutku.


"Non yang sabar ya. Jangan terlalu dipikirin persoalan Papa sama Mama Non"


"Tapi mau sampai kapan Bi Mereka seperti ini terus?" Aku langsung menyenderkan kepalaku di paha Bibi Ina, dan Bibi Ina memperbaiki posisi duduk nya, dengan kaki berselonjor di atas kasur sedang badannya di senderkan di pinggir kasur, tangannya terus mengelus-elus rambutku. Bi Ina sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Selain Oma, Bi Ina lah yang selama ini mengurus dan merawat ku. Bi Ina sudah menjadi pembantu di keluargaku sejak Mama mengandungku. Dulu saat Mama baru-baru hamil Oma bilang Mama sama Papa mesra banget, tapi semuanya hilang sejak usia kandungan Mama menginjak 6 bulan. Saat itu Papa mulai sibuk di perusahaan di bandingkan menemani Mama di rumah. Awal nya mereka masih bisa mengontrol keadaan ini, dan tidak pernah bertengkar selama 2 tahun. Tapi akhirnya Mama mulai curiga. Suatu hari Mama mengikuti Papa di kantor, dan benar saja bukannya menemukan Papa yang sedang meeting, tapi malah menemukan Papa yang sedang bermesraan dengan sekretaris barunya. Di situlah awal mula mereka membuat perjanjian 'satu selingkuh maka yang lain pun bisa selingkuh'. Sekalipun Mama setuju dengan perjanjian itu tapi Mama tidak pernah benar-benar bisa menerima kenyataan dan melakukan perselingkuhan. Hanya saja sejak Papa ketahuan selingkuh Mama akhirnya memutuskan untuk menjadi Dosen lagi. Dia mulai menyibukkan diri dengan karir nya sebagai seorang Dosen dan mulai melupakan ku.


"Iya Bibi ngerti, kamu pasti capek dengan semua ini. Tapi ingat satu hal, mereka itu adalah orang tua kamu. Tidak semua orang tua bisa bijak, dan tidak semua orang tua selamanya tidak punya pikiran terhadap anaknya. Suatu hari mereka pasti akan memperhatikan kamu. Percaya deh sama Bibi, suatu hari keluarga kamu bakalan jadi hangat lagi"


"Ya deh Bi"


"Yang penting kamu harus banyak bersabar dan terus berdoa untuk mereka berdua. Mudah-mudahan suatu hari mereka akan berubah dan bersedia membenahi diri"


"Amin"


"Ya sudah, Bibi balik ke kamar dulu. Besok jangan lupa bangun pagi biar nggak telat ke sekolah"


"Hmmm, ya Bi"


"Ya sudah Bibi permisi dulu ya"


"Ya Bi... terima kasih atas waktu dan nasehat nya"


"Sama-sama, selamat malam Dien"


"Malam Bi"


Sebenar nya aku masih ingin di temani Bibi. Tapi ya sudahlah, besok kan masih ketemu juga. Malam ini aku masih belum bisa tenang, pikiran ku masih kacau. Andai aja Willi ada di sini mungkin kekacauan ini sedikit berkurang. Tapi sayangnya mana mungkin dia bisa berada di sini. Sebentar kenapa aku tiba-tiba memikirkan Willi padahal kan aku baru bertemu dengannya. Baru juga tadi siang. Mungkin karena dia ramah dan peduli dengan sesama. Aku membalik kan badan ke posisi yang berlawanan. Air mataku kembali menetes. Aku jadi ingat Oma lagi. Karena merasa tidak tenang aku pun bangkit dan berdiri. Ku ambil gitar dan ku dekatkan kursi belajar ke arah jendela. Aku membuka jendela agar udara masuk ke ruang kamar. Angin yang memasuki kamar sungguh membuatku tambah larut dalam kesedihan. Lalu aku memainkan lagu baru yang di ciptakan Andmesh Saharesh- Hanya Rindu


*Saat ku sendiri... Kulihat foto dan vidio, Bersamamu yang telah lama ku simpan


Hancur hati ini melihat gambar diri...


Yang tak bisa kuulang kembali


Ku ingin saat ini engkau ada di sini...


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan...


Hati ini hanya rindu...


Segala cara telah ku coba...


Agar aku bisa tanpa dirimu..


Namun semua berbeda...


Sulit ku menghapus kenangan bersamamu


Ku ingin saat ini engkau ada di sini...


Tertawa bersamaku sperti dulu lagi...


Walau hanya sebentar Tuhan Tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu*....


Kuingin saat ini engkau ada di sini...


Tertawa bersamaku sperti dulu lagi...


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkan lah..


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu...


Ku rindu senyum mu Oma....


Air mataku pun jatuh sederas-derasnya. Kupeluk erat gitar yang sedang ku pangku... Malam semakin larut, begitupun sedih dan pilu hati ini. Tak bisa ku benahi.


Setelah aku merasa sedikit nyaman. Aku menghapus air mata di pipi, lalu meletakkan kembali gitar ke tempat semula. Kemudian kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Kepalaku terasa sakit, mungkin karena aku kebanyakan nangis seharian ini. Lama kelamaan aku pun terlelap.