
Well pagi ini adalah pagi yang cerah, aku siap menjalani hariku dengan damai dan penuh semangat. Aku turun ke ruang makan untuk sarapan dengan senyuman sangat cerah. Kutemukan Mama dan Bibi yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi Ma"
"Hai sayang, selamat pagi"
"Gimana luka Mama yang kemarin udah sembuh belum?"
"Udahlah, kamu nggak perlu khawatir Mama udah biasa kok, jadi tenang aja ya"
"Seriously Mom?"
"Iya, sekarang kamu sarapan biar nggak telat, ok. Oh ya, calon mantu Mama datang kan jemput kamu?"
"Siapa calon mantu? Willi? Ma, kami belum jadian, so jangan berlebihan."
"Mama bercanda sayang"
"Ok. Kalau gitu Nadien berangkat dulu ya Ma"
"Ok, sayang muach, muach. Hati-hati di jalan"
"Yes Mommy"
Aku langsung bergegas ke ruang sepatu dan mengambil sneakers kesayanganku and then i go. Ketika hendak membuka pintu, aku terkejut melihat William berdiri di depan pintu.
"Hai"
"Kenapa sih kamu suka kali buat orang terkejut"
"Nggak ada maksud buat ngejutin sih sebenarnya"
"Terserah, kamu mau ngapain?"
"Menurut kamu?"
"Oh mau ngojek?"
"Ganteng ganteng kek gini di bilang tokang ojek"
"Iya terus mau ngapain?"
"Ngelamar"
"Jadi tukang kebun?"
"Hhahaha. Nggak ah, yok ke sekolah bareng"
"Padahal aku mau bawak motor sendiri ke sekolah"
"Selagi masih ada aku, kamu nggak perlu naik motor sendirian"
"What ever!"
Aku dan William seperti biasa berangkat sekolah bareng.
Selang 15 menit menempuh jalanan, kami tiba di sekolah. Like always aku menyaksikan drama korea lagi di dalam kelas. Tapi kali ini semua pemandangan itu sudah biasa, tidak ada pengaruhnya untukku. Aku mencari kesibukan dengan membuka buku catatan sembari menunggu bel masuk berbunyi.
Singkat cerita aku dan William sedang duduk di taman, hendak belajar. Aku sih masih nggak yakin kalau Willi bisa ngajarin aku sampai pintar. Masih di ragukan juga sih, secara kan William nggak pernah pegang buku. Mari kita buktikan.
"So, tuan putri Nadine, apa yang bisa saya bantu?"
"Seriously?"
"Hehehe, bercanda. Jadi mau mulai dari mana dulu nih? Matematika, Biologi atau Fisika?"
"Kurasa Kimia dulu"
"Kayaknya nggak ada pilihan Kimia deh, tapi well.. ok, let's do it"
Sebelum membuka buku dan memulai pembelajaran, William menatap wajahku yang hampir membuat ku tersipu malu. Berdua dengan nya cukup membuat ku deg-degan. Kuharap posisi jantungku tidak bergeser. I hope.
"Kenapa sih?"
"Nggak ada, aku tuh lagi nikmatin pemandangan manis yang nggak mungkin ku biarin berlalu begitu aja. Kamu tuh makin lama makin imut"
Ku harap aku masih di bumi belum terbang ke angkasa... Seriously again and again, dia buat aku hampir nggak bisa nafas tau nggak. So sweat banget sih.. tapi nggak tepat gitu waktunya.
"Udah deh.. kamu tuh kenapa sih tiap bentar ngegombal muluk. Kapan serius nya, kalau kayak gini terus yang ada sia sia aku belajar sama kamu. Mending sama Dava yang lebih fokus dan lebih serius ngajar. Nggak kayak kamu, kebanyakan modus"
"Hahaha, aku tuh nggak modus, tapi ya lah.. well kita lanjut lagi yah"
"Iya iya princes Nadien"
"Hmm"
Kami kembali ke topik pembahasan Kimia tentang larutan penyangga. Aku benar-benar terkejut, ternyata Willi pintar juga. Gila ya... udah ganteng, humble, baik, romantis, pintar main musik, pintar nyanyi, orang nya lucu, asik, dan pintar juga. Ini diluar dugaan aku. Karena kan secara Willi itu anak Iis, masa iya dia bisa menguasai pelajaran Mia. Kan impossible, aku yang dari kelas satu belajar di kelas MIA aja nggak ngerti apa-apa. Tapi dia bisa, dan ini salah satu hal yang baru aku ketahui dari Willi. It's Soo wonderful.. Tanpa sadar malah balik ke aku yang terpesona melihat wajahnya yang tampan. Tanpa kusadari aku termenung menyaksikan ciptaan Tuhan yang langka ini.
"Hei Ndien?"
"Hum? Hah?"
"Kamu ngelamun ya?"
"Nggak, aku cuman nggak ada... ok lanjut lanjut"
"Oh, jadi kamu terpesona ya?"
Dasar tuper (Tukang baper).
"Nggak ah, yok lanjut lagi belajarnya"
Dia benar-benar membuatku salting, demi apa coba.
"Ok... susah ya berhadapan dengan cewek lugu"
"Hah?"
"Nggak papa"
"Oh. By the way kenapa kamu bisa mengerti pelajaran Kimia? Kan kamu anak Iis"
"Tuh kan banyak hal tentang aku yang belum kamu ketahui"
"Lebay banget sih"
"Hehehe, canda kok... Mmm kenapa ya? Aku tuh sebenernya awalnya mau masuk MIPA. Cuman karena malas di sama-sama in sama Dava akhirnya aku pindah ke Iis. Malas aja di jadikan perbandingan. Dan lagian orang tua aku kan cuman punya dua anak. Jadi kalau dua-duanya sama-sama jadi ilmuan, terus siapa dong yang bakalan ngurusin negara?"
"Emang kamu bakalan jadi Presiden?"
"Nggak mesti jadi Presiden juga kali Ndien... Kan bukan hanya Presiden doang yang ngurus negara. Ada banyak instansi dan juga organisasi lain kan. Ketahuan ilmu pengetahuan sosial kamu tipis setipis bibir kamu"
"Ejek aja terus"
"Bercanda kok... kamu tuh suka banget ya ngambek. Dikit-dikit ngambek"
"Nggak juga sih. Kok kita malah ngebahas tentang hal hal yang nggak penting ya"
"Nggak tau. Kan kamu yang mulai pembahasan ini"
"Aku lagi yang salah. Ya deh, yang selalu BENAR"
"Hahaha, cemberut mulu mbak..." dasar usil, tangan Willi mencubit pipiku.
"Sakit William"
"Oooo... maaf maaf"
Terus dia ketawa, seolah dia baru saja menang lotre. William selalu begitu, dia selalu buat aku tersenyum setiap saat. Hampir nggak pernah sedih selama berada di sampingnya. Kadang aku merasa aku nggak adil ke Willi. Dia udah ngelakuin hal yang sebesar ini, tapi aku bahkan belum ada jawab pertanyaan nya. Tiba-tiba aku jadi kepikiran dengan semua rayuan nya untuk meminta ku menjadi kekasihnya. Seketika aku merasa ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Entah itu apa?? Yang pasti cukup buat aku deg degan dan hampir nggak fokus dengan pembelajaran. Dari tadi aku cuman manggut manggut nggak jelas mendengar semua penjelasan yang dijelaskan William. Entah aku ngerti atau nggak, yang penting aku mengangguk juga.
Apa aku harus jawab iya. Mana tau mungkin aja setelah jawab 'Ya' William bakalan tambah bahagia lagi. Mana tau dengan jawaban ku, aku bisa membalas semua kebaikan William padaku. Jawab nggak ya....??
"Hei" lagi-lagi William membangunkan ku dari lamunan ku.
"Kamu ngelamunin apa sih? kayaknya dari tadi kamu nggak pernah fokus ke pembahasan. Serius mau belajar kan?"
"Sory sory... aku cuman lagi nggak fokus aja sih"
"Kenapa?"
"Nggak papa!"
"Ya udah. Sekarang udah mau jam 5, gimana kalau kita pulang aja"
"Kayaknya boleh juga tuh"
"Ya udah yuk"
Sebaiknya lebih bagus kalau kami cabut dari taman ini. Daripada jantungku pindah posisi, berganti ke lambung. Akhirnya kami pun pulang dengan damai.