
Akhirnya aku pun sampai di Sekolah. Setelah memarkirkan motor aku langsung menuju Kelas. Di dalam Kelas aku melihat Dava dan Jesika berduaan di meja mereka sambil tertawa-tawa. Karena menyadari kehadiran ku, Jesika langsung menyenderkan kepalanya di bahu Dava untuk memamerkan kemesraan di depan ku. Aku tau itu sangat menyakitkan tapi apa boleh buat, aku harus berusaha kuat dan harus membiasakan diri untuk melupakan semua yang terjadi antara aku dan Dava. Aku yakin lambat laun semuanya akan baik-baik saja dan aku pasti akan menemukan seseorang yang bisa menggantikan posisi Dava di hatiku. Dan aku yakin pria itu pasti lebih baik di bandingkan Dava. Semoga saja.
3 jam pelajaran pertama telah berlalu.
Akhir nya.
Bisik ku dalam hati, karena sejujurnya aku bosan dengan pelajaran Matematika dan Biologi. Dari tadi apa yang di terangkan Guru Matematika dan Guru Biologi tidak ada yang masuk di dalam akal ku. Ya, aku memang lemah dalam bidang pelajaran. Aku hanya unggul dalam bidang seni tarik suara dan seni musik. Tapi Papa dan Mama memaksaku untuk menjadi seorang Dokter. Karena aku adalah anak satu-satunya jadi aku harus menuruti semua yang dikatakan orang tuaku. Untung nya ada Dava yang bisa menyelamatkan ku dari Kelas satu SMA sampai naik ke Kelas dua. Dulu dia sering mengajari ku di rumah, terkadang dia bisa merangkap peran menjadi pacar ataupun Guru Private. Hanya saja saat dia memainkan peran semuanya gratis, nggak di bayar. Dia juga membantuku memahami semampuku semua mata pelajaran yang di pelajari di Sekolah. Tapi semuanya terhenti ketika Siska membantu sahabatnya Jesika untuk merebut Dava dariku. Siska memiliki 5 orang sahabat yang lebih pantas di sebut sebagai 5 cabe-cabean. Bagaimana tidak? Mereka berlima hanya memikirkan kesenangan dan kemewahan bahkan mereka juga murahan, mau aja di tiduri dengan sembarangan laki-laki. Yang penting laki-laki nya ber-uang dan tampan. Entah mereka seorang lajang atau duda, atau pun punya istri, mereka tidak peduli. Yang mereka pikirkan hanyalah "Jangan sampai hamil" Does it. Itu adalah motto dari mereka berlima. Awalnya Dava tidak tertarik dengan Jesika. Tapi yang namanya laki-laki mana tahan kalau di kasih gituan secara gratis. Aku juga tidak tau dari mana mereka bisa dekat dan bagaimana cara Siska and the Geng bisa meluluhkan hati Dava. Yang jelas semua kemunafikan Dava terbongkar saat seminggu sebelum Oma pergi. Waktu itu Oma masih di rawat di rumah sakit karena penyakit jantung Oma kambuh. Karena sudah takdir dari Tuhan akhirnya Oma pun pergi dengan damai. Lalu saat seminggu aku masih berduka aku melihat Dava dan Jesika bermesraan di Kelas saat Kelas masih sepi. Hari itu juga aku jadi benci dengan Dava.
Dasar pria munafik.
Ucapku dalam batin. Sebenarnya aku tak kuasa menahan rasa sakit yang kurasa. Tapi aku hanya bisa pasrah dan berserah. Sejak saat itu aku merasa sendirian.
Setelah bel istirahat berbunyi aku langsung ke kantin. Saat hendak memesan makanan aku merasa ada seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang. Lalu aku menoleh ke arah belakang, dan mendapati William yang sedang berdiri di depanku.
"Willi"
"Hai... Dien. Ku pikir kamu lupa dengan namaku"
"Mana mungkin aku bisa lupa kita kan baru bertemu kemaren"
"Oh iya. Aku cuma berpikir siapa tau kamu ngidap penyakit amnesia"
"Hah?"
"Bercanda. Oh ya, kamu mau makan miso ini dimana?"
"Di sini lah"
Aku menyari-nyari meja kosong dan langsung menunjuk ke arah meja yang kosong itu.
"Kalau begitu antar makanan mu dulu, tapi jangan langsung di santap. Tunggu aku, aku juga akan memesan makanan yang sama dengan yang kamu pesan. Jadi kita makan sama-sama di sana"
Aku pun mengangguk dan melakukan apa yang baru saja dia instruksikan. Setelah sampai di meja makan aku langsung menaruh nampan berisi miso dan aqua di atas meja sambil menunggu Willi. Selang beberapa menit Willi pun datang menghampiriku dan membawa makanan nya lalu menaruhnya di atas meja. Kami pun mulai menyantap makanan kami masing-masing. Saat kami sedang menyantap makanan. Tiba-tiba saja Dava dan Jesika masuk ke kantin dan duduk di meja sebelah meja kami. Aku jadi risih dan hilang selera makan. Mengetahui sikap ku yang berubah Willi menatapku kemudian menatap Dava dan Jesika.
"Kamu kenal dengan mereka?" Tanya Willi padaku.
"Kenal mereka teman sekelasku"
"Lalu, kenapa wajahmu jadi murung? Apa dia gebetan mu?"
"Nama nya Dava, dan dia bukan gebetan ku melainkan mantanku yang kemarin ku ceritakan selingkuh dengan perempuan lain"
"Oh, jadi dia mantan kamu. Kok bisa sih"
"Ya bisa lah, namanya juga udah putus"
"Maaf"
"Ya udah ya. Nggak usah di bahas mending kita makan aja"
Kami pun menyantap makanan kami dan setelah selesai makan kami langsung menuju kelas kami masing-masing setelah mendengar bel tanda waktu istirahat telah berakhir.