
Pagi ini aku sudah siap untuk berangkat sekolah. Mama sudah dari tadi menungguku turun untuk sarapan.
"Pagi sayang... sarapan yuk"
"Iya Ma... Bi Ina kemana Ma?"
"Bi Ina ke Rumah Sakit, barusan dia dapat telpon kalau Siska masuk Rumah Sakit"
"Paling alasan Siska aja Ma, biar Bi Ina ngasih uang yang banyak buat dia"
"Kamu nggak boleh ngomong gitu, itu kan urusannya Siska mau dia bohong atau nggak yang jelas mau bagaimana pun Siska tetap tanggung jawabnya Bi Ina"
"Hmmm..."
"Habis sarapan Mama antar kamu ya ke sekolah. Sekaligus Mama mau nanya perkembangan belajar kamu di sekolah bagaimana sama walik kelasmu"
"Mmm.. iya deh"
Aduh, gimana nih, Willi udah nunggu lagi di depan rumah.
Mama memanaskan mobil, sementara aku menutup pintu dan membuka gerbang. Willi langsung memberikan senyuman yang manis saat melihat ku keluar gerbang.
"Yuk.." ajak nya.
"Emmm.. sorry ya, tadi pagi Mama bilang kalau dia mau ngantarin aku ke sekolah. nggak papa kan?"
"Oh.. ya deh nggak papa"
Mama keluar dengan membawa mobil, aku menggeser untuk memberikan jalan untuk Mama. Mama memanggilku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil. Aku pun menurut.
"Itu temen kamu yang kemaren ya?"
"Iya Ma.."
"Oooo... tapi dia nggak kecewa kan kalau kamu Mama anter"
"Nggak kok Ma"
"Syukurlah. Oh ya namanya siapa?"
"William"
"Ok... calon mantu nih cerinya?"
"Ih Mama apaan sih, ya nggak lah.. kita cuman temenan kok"
"Hehehe.. just kidding honey. Lagian banyak kok yang nikah sama sahabat sendiri. Justru itu baru namanya cinta sejati. Cintanya nggak bakalan hilang sampai maut memisahkan"
"Tapi Nadien nggak punya perasaan apa-apa sama Willi"
"Mama tumben banyak nanya tentang aku"
"Kamu kan anak Mama. Jadi ya wajar dong Mama pengen tau apa yang terjadi dengan kamu"
"Kenapa baru sekarang?"
Mama nggak bisa jawab. Dia cuma bisa diam, sampai kami tiba di depan gerbang. Aku langsung membuka pintu mobil dan hendak turun dari mobil.
"Ndien nanti pulang ikut Mama ke mal ya"
"Jam berapa ma?"
"Pas pulang sekolah, ntar Mama jemput kamu"
"Hmm"
Aku berlalu dan berlari kecil menuju Kelas. Sampai di Kelas aku melihat Dava duduk sendirian dan wajahnya terlihat kurang semangat. Rani ketua kelompok Biologi ku menghampiri ku untuk menanyakan apakah aku sudah siap menyalin hasil penelitian kami di Lab yang kemarin.
"Gimana Ndien? Udah kamu salin kan?"
"Udah, nih tugasnya"
Aku menyerah kan secarik kertas pada Rani.
"Oh ya nanti siang pulang Sekolah ikut nggak ke Rumah Sakit?"
"Ngapain?"
"Memangnya kamu nggak dapat kabar?"
"Kabar apa?"
"Semalam Siska, Tasya, Jessika, Bela, dan Karin tabarakan mobil pas pulang dari Club"
"Kok bisa?"
"Kata nya sih karena pengaruh alkohol"
"Oh.. emmm kayaknya aku nggak bisa deh jenguk mereka, soalnya aku ada janji sama mama. Lain kali aja"
"Iya deh.. nggak papa"
Rani kembali ke mejanya karena bel masuk sudah berbunyi. Hari ini jam pertama Biologi, kami di suruh langsung ke Lab dan duduk di kelompoknya masing-masing. Aku duduk di samping Riko, lalu tiba-tiba saja Dava duduk di samping ku. Karena aku merasa tidak nyaman aku langsung duduk di sebelah Rani yang duduk menghadap kami. Jadi aku duduk berhadapan dengan Dava.
Biar aja yang penting aku nggak duduk di dekatnya.
Hari ini Dava bertingkah aneh dia selalu memperhatikan ku dan selalu menatap ku. Aku jadi risih dan nggak nyaman. Andai aku bisa meminta pada Buk Yuli untuk pindah kelompok mungkin aku sudah pindah dari tadi.