WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
1



Hari ini begitu cerah, tak secerah hari hari biasa. Entah itu karena memang langit yang terlihat cerah atau karena hatiku yang sedang berbunga. Ya, kurasa karena hatiku sedang bermekaran. Harus kuakui aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tapi sejak ia hadir dalam hidupku, aku pun berubah menjadi sosok yang lebih ceria, dan penuh semangat. Aku patut bersyukur karena Tuhan mempertemukanku dengan nya tanpa dia aku bukan siapa-siapa di dunia ini yang bisa bahagia. Dan senyumannya adalah obat dari segala kesedihan yang kurasakan.


Sore ini kami membuat janji untuk bertemu di taman tempat biasa kami berbagi canda dan tawa. Taman yang juga merupakan awal pertemuan kami yang sangat berkesan.


 


\*


 


1 tahun yang lalu


"aaarrrrrrrgggghhh" suaraku semakin keras aku pun bersujud di bawah tanah. Air mataku pun mulai menetes. "Oma... hek....hek... " aku pun mulai menangisi Oma. "Oma aku kangen sama oma. Kenapa Oma cepet pergi. Aku masih pengen peluk Oma, cium Oma, nyanyi bareng Oma. Oma aku kangen" aku pun tak kuasa menahan rasa sakit yang sangat dalam. Ku keluarkan segala keluh kesah yang ku rasakan.


Aku menangis kurang lebih satu jam, setelah emosiku mulai stabil, aku pun mencari tempat untuk duduk. Setelah dapat tempat aku pun duduk dan menghapus air mata di pipiku. Dan menarik napas serta berusaha untuk menerima semua kenyataan pahit yang ada di depan mata. Ku tarik napas dalam-dalam dan ku hembuskan melalui hidung. Aku memperhatikan sekeliling Taman, tampak indah dan damai. Tapi keindahannya tak mampu menghiburku bahkan takkan bisa mengusik rasa sakit yang kurasakan.


Ditengah-tengah kesedihanku aku tak menyadari bahwa ada yang memperhatikan ku sedari tadi. Tanpa sengaja mataku bertemu dengan matanya. Tubuh nya berisi, tingginya sekitar 178 cm, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Jika tebakan ku benar ku rasa dia peranakan indonesia dan luar negeri. Dia menatapku begitu dalam seakan simpati dengan ku. Aku pun terus menatapnya. Di balik tatapannya aku melihat ada rasa yang sama dengan apa yang aku rasakan seolah dia tahu apa yang aku rasakan. Tapi aku tidak memperdulikannya. Karena saat ini tidak ada satu hal pun yang ku peduli kan. Bahkan ingin rasanya aku enyah dari hidup ini. Ingin rasanya aku menyusuli Oma.


Kenangan demi kenangan muncul dalam pikiran ku. Saat Oma mengelus lembut rambutku, saat Oma membacakan dongeng sebelum tidur waktu aku masih kecil. Saat Oma menggendong ku, saat Oma menghapus air mataku, saat Oma membuatkan kue yang manis di hari ulang tahunku. Tapi semuanya tinggal kenangan. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. "Oh, Lord why You take her from me? tidakkah Kau merasa kasihan melihat gadis yang malang ini. Yang hidupnya hanyalah sebantang kara dan dia tidak punya siapa-siapa"


Aku selalu saja menyalahkan Tuhan atas kematian Oma. Bagiku semua ini sangat menyakitkan. Sadis malah, kenapa hal ini terjadi padaku. Dimana lagi aku harus berlindung? Dan kepada siapakah aku akan mengadu nasib ku? Ya Tuhan bisakah aku bertemu dengan Oma walau cuma satu jam saja.