WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
7



Bel masuk kelas pun berbunyi..


"Hah.." Willi menghela nafas.


"Bel udah bunyi tuh, masuk kelas yuk" ajak Willi.


"Hmmm... cepet banget. Yaudah yuk"


Kami pun beranjak menuju Kelas masing-masing.


"Will mau kemana?" Tanya ku pada Willi, karena dia mengikuti langkahku menuju Kelas padahal kan Kelas kami beda.


"Masuk ke Kelas" Jawabnya santai.


"Kelas kamu kan di seberang, ini kan menuju ke arah Kelas ku"


"Oh iya, ya ampun. Yaudah aku ke Kelas dulu ya. Bye, oh ya by the way thanks ya buat makan di kantin tadi"


"You're welcome"


"See you"


"See you"


Aku pun melanjutkan langkah menuju Kelas. Tiba-tiba ada yang menyenggol punggungku dari belakang yang membuatku hampir aja terjatuh. Ternyata Jessika yang dengan sengaja menyenggol pungguku tanpa ada rasa bersalah. Waktu mereka berjalan di depan ku Jesika mendempetkan badannya dengan menggandeng tangan Dava.


Da**sar tante.


Gumamku geram dalam hati.


Sebenarnya aku kesal dan mau marah, tapi buat apa marah percuma. Aku melanjutkan langkahku menuju Kelas. Sampai di Kelas aku tidak memperdulikan mereka berdua.


Pelajaran hari ini membosankan. Tidak ada satu mata pelajaran pun yang dapat ku pahami dengan baik. Tambah lagi Dava sudah bukan Dava yang dulu... dan bukan milikku lagi. Siapa yang mau peduli dengan nilai ku. Tak ada. Betapa malangnya nasibku...


"Huf" aku menghembuskan nafas tanda lelah sehabis pulang sekolah. Rasanya kakiku lemah melangkah menuju parkiran. Tiba-tiba saja, lagi-lagi... Willi menepuk bahuku yang membuatku hampir saja meninju wajahnya.


"Eeeiiittsss... sellowww, jangan main ninju dong"


"Kamu tuh makhluk sejenis apa sih? suka banget ngagetin orang"


"Ini nggak ngagetin. Kalo ngagetin itu kayak gini, kamu lagi jalan trus aku sembunyi-sembunyi di balik motor, nah pas kamu ambil helm aku langsung berdiri dan bilang... baaaaa. Itu baru namanya ngagetin neng"


"Sama aja kingkong"


"Kingkong perasaan badan nya gedek deh"


"Iyaa... sama kayak kamu"


"Ei... aku kan kurus mana mungkinlah sama"


Aku nggak mempedulikan Willi yang masih kebingungan dan nggak terima karena ku ejek Kingkong, secara badan Willi kan atletis mana mirip sama Kingkong. Dia masih asyik melontarkan kata bahwa ia bukan Kingkong, tapi tidak ku pedulikan, justru aku langsung menstarter motor dan melaju ke luar Sekolah. Menyadari aku akan meninggalkan parkiran dan meninggalkan Willi sendirian di parkiran, William langsung mengejar ku dengan motornya.


Aku tidak memperdulikan panggilannya. Aku tetap melaju menuju jalan raya. Dan ternyata dia mengikutiku. Hah sial.


Ketika sampai di gerbang rumah aku mematikan motor dan membuka gerbang, lalu masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh William dari belakang. Setelah sampai parkiran aku mematikan motor begitu juga dengan Willi.


"Ternyata kamu punya bakat jadi pembalap ya" Aku tidak tau apakah itu pujian atau sindiran.


"Kenapa?"


"Mmm, nggak ada sih aku tersanjung aja ngeliat kecepatan mu berkendara"


"Baru ngeliat cewek balap ya"


"Nggak juga sih. Cuman nggak cocok aja dengan kamu. Yaaaa... maksudku kamu kalau diliat-diliat tipikal cewek yang calm, yang humble, yang imut-imut gimana gitu. Nggak ada sisi liarnya"


"Terus masalahnya dengan kamu apa?"


"Nggak ada. By the way kok kamu jadi jutek gini sih? Perasaan pas di kantin baik-baik aja deh.. kok bisa tiba-tiba jadi jutek"


"Nggak ada. Lagi males aja, lagi bad mood"


"Ooo aku tau pasti karena ngeliat si Dava sama ceweknya kan. Kamu jadi jelous"


"Apaan sih. Sotoi banget jadi orang, ya nggak lah emang dia aja yang bisa bikin mood orang berubah"


"Nerka-nerka aja sih sebenernya siapa tau kamu memang jelous ngeliat mereka berduaan tadi pas di kantin"


"Aku sih udah biasa ngeliat mereka bermesraan. Jadi yaaa biasa aja sih buat ku"


"Masak?"


"Di dapur"


"Bukan itu maksudnya. Mmm ya udah trus kenapa kamu bad mood"


"Aku stres aja dengan pelajaran tadi, nggak ada yang bisa ku pahami. Terus dulu Dava yang bantu aku memahami pelajaran jadi nilai ku masih bisa di selamatkan, tapi sekarang dia udah jadi milik orang lain dan aku tidak punya teman yang bisa membantuku mengatasi masalah nilai ku. Itu yang buat aku jadi bad mood"


"Intinya kamu masih berketergantungan dengan Dava. Ya bisa di bilang kamu masih belum bisa ikhlasin Dava sama orang lain. Am i right?"


"Sok tau. Udah deh nggak usah di pikirin. By the way kamu ngapain ke sini"


"Ngikutin kamu! Yaaa siapa tau aku bisa mengisi kekosongan di hatimu. Kamu kan lagi kosong, aku juga lagi kosong, siapa tau kita bisa saling mengisi"


"Maksudnya"


"Emmmmm... aku haus, boleh nggak aku masuk ke rumah terus minum segelas aja buat ngilangin haus. Ntar setelah hausnya hilang aku baru kasih tau kamu maksudnya apa"


"Masuk lah"


Tanpa malu William membuka pintu dan mempersilahkan ku masuk ke rumah ku sendiri seolah dia yang punya rumah. Aku heran anak ini kenapa nggak punya rasa segan atau pun malu ya.