
Malam ini aku duduk termenung sambil menatap langit lewat jendela kamarku. Sambil memetik gitar aku menyanyikan beberapa lagu yang menggambarkan suasana hatiku. Satu sisi aku kangen Oma, di sisi lain sosok Willi yang menemaniku selama masa sulit ini membuatku tiada henti memikirkannya. Rasa nya ada sebuah getaran yang kurasakan setiap kali aku dekat padanya. Entah kenapa aku menyanyikan lagu ini.
*awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan... segala nya berubah dan rasa rindu itu pun datang, sejak kau hadir di setiap malam di tidur ku, aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku...
sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta dan mulai terbiasa sendiri tanpa asmara.. dan hadir mu membawa cinta sembuhkan lukaku kau berbeda dari yang ku kira...
aku jatuh cinta kepada dirinya, sungguh sungguh cinta oooo apa adanya...
tak pernah ku ragu.. namun selalu menunggu... sungguh aku jatuh cinta kepadanya*...
Lalu aku berhenti sampai di syair itu.. Entah kenapa aku jadi dilema dan ingin mendengar suaranya. Lalu ku ambil secarik kertas yang di berikan willi tadi. Ku pandangi kertas itu dan ku raih handphone ku yang tergelatak di atas meja. Kemudian aku berpikir telpon nggak ya? kalau ku telpon nanti Willi malah berpikir aku mulai suka padanya. Tapi jika tidak ku telpon hatiku Gegana. Gelisah galau merana. What should i do?. Ini dia salah satu ciri jatuh cinta yang paling ku benci, yaitu gelisah karena selalu memikirkan orang yang lagi ngasih perhatian sama kita. I hate this... but i enjoy that feeling. Aku menarik nafas dan mengeluarkan nya dengan perlahan. Lalu aku berbaring di tempat tidur sambil memandang kertas itu dan handphone ku. Lama ku tatap dua benda ini. Entah apa yang terjadi aku malah mengetik kan nomor itu di handphone ku.. dan menekan tombol panggil. Dan ternyata panggilan ku masuk di nomor handphone nya Willi. Mendadak ku matikan dan seketika itu juga aku menjadi gugup. Selang 5 menit Willi menelpon ku balik... tapi tidak ku angkat. Mungkin ada sekitar 5 kali willi menelpon ku, tapi tidak ku angkat. Dan telpon yang ke 6, aku memberanikan diri untuk menjawab telpon nya.
"Hall...lo"
Jawab ku penuh ketakutan dan keraguan.
"Hai.. Ndien"
Hah? Kok dia bisa tahu kalau ini aku?
"Ini bukan Nadien.. kayak kamu salah orang deh"
Aku sengaja menutup mulutku agar suaraku tidak bisa dikenalinya.
"Aku yakin ini Nadien"
"Kenapa?"
"Karena cuman dia satu-satunya orang yang tahu nomor ku"
"Tapi nadien nggak minta"
"Iya dia nggak minta nomor ku, tapi aku yang kasih"
"Hmmm..."
"Kamu lagi ngapain?"
"Nggak ada, tadi aku habis main gitar"
"Kamu bisa main gitar?"
"Nggak mahir-mahir amat. Aku masih amatir kok"
"Yang penting bisa kunci dasar kan"
"Bisa. Kenapa?"
"Nyanyi bisa nggak?"
"Kayaknya sih nggak"
"Masak sih, tapi Bibi pernah cerita lho kalau kamu itu jago nyanyi"
"Oh ya kapan Bibi cerita kayak gitu?"
"Kapan ya.. kayaknya aku lupa, yang jelas katanya kamu bisa nyanyi"
"Nggak juga"
"Gimana kalau aku tes kamu. Bentar ya aku ambil gitar dulu, nah ni udah dapat gitarnya. Kamu suka lagu apa?"
"Apa ya.... aku suka lagu nya Once Dealova"
"Ok.. bentar ya, aku cari nada dulu"
Willi mencocok kan nada suaranya pada gitar. sesekali ia juga menyuruhku untuk menyesuaikan nada. Hanya saja aku tidak mau, karena aku malu. Aku juga belum pernah bernyanyi di depan orang lain kecuali Bibi.
"Ok.. udah pas nih. Kamu nyanyi ya"
"Nggak ah"
"Ayolah"
"Nggak mau"
"Ok.. gini aja gimana kalau kita duet"
"Terserah"
Bagian William
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati telah letih
Bagian Ku
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati Oh??..
Bayangmu seakan-akan ????
Reff : Kami berdua
*Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu oh???..
Kau seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi
(Back to Reff)
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu Oh ???.
Kau seperti udara yang kuhela
Kau selalu ada, selalu ada, dan selalu ada
Yang selalu ada dan selalu ada* ???..
"Suara kamu bagus juga"
Willi memuji suaraku, aku jadi malu.
"Oh.. ya.. biasa aja kok"
"Kapan-kapan kita duet yuk di sekolah"
"Enggak ah, malu"
"Nggak papa ntar lama-lama malunya hilang."
"Hmm.."
Aku melirik jam di dinding. Tak terasa waktu sudah larut malam. Aku pun teringat bahwa tadi pagi aku telat bangun. Dan ku putuskan untuk segera tidur agar besok aku tidak telat.
"Wil.. udah jam 10 malam. Udah dulu ya, aku mau istirahat. Besok kita sambung lagi, nggak papa kan"
"Oh, iya nggak papa. Nanti kamu malah telat lagi bangunnya"
"Iya, justru itu aku mau istirahat biar besok nggak telat bangun"
"Ok.. good night. Have a nice dream"
"Good night. Have a nivlce dream too"
"Bye..."
"Bye..."
Aku menutup telpon dan meletakkan telpon di atas meja. Lalu ku baringkan badanku di atas kasur dan mulai terlelap.