
Selang lima belas menit akhirnya kita berdua sampai di sebuah restoran sederhana namun memiliki suasana yang indah, damai, dan sejuk. Ya sesuai lah dengan apa yang Willi sampaikan tadi waktu masih di gerbang sekolah.
“Kamu mau pesan apa?”
“Bakso aja deh”
“Ok”
Lalu Willi memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan.
“Mbak bakso nya 2 teh es nya juga dua, teh nggak manis ya Mbak”
“Baik”
“Kamu nggak suka gula ya”
“Bukannya nggak suka sih”
“Lalu?”
“Kayakanya aku nggak perlu gula saat ini?”
“Why?”
“Karna senyum kamu lebih manis dibandingkan gula, semut pun ingin mencicipi mu”
“Don’t even think about nude”
“Kok kamu malah mikirin ke sana sih”
“Kamu kan bilang semut aja pengen nyicip”
“Iya tapi kan bukan ke sana maksud aku, memang nya kamu nggak pernah ya dengarin rayuan atau di gombalin sama cowok?”
“Aku nggak perlu di gombalin”
“Ya sudah aku minta maaf”
Tadinya aku berpikir suasana makan siang ini akan dipenuhi dengan nuansa romantis. Namun ternyata tidak, ini semua karena sikap ku yang terlalu kaku. William meneguk air yang dituang nya ke dalam gelas. Terlihat aura emosi yang sedang Ia tahan. Aku jadi merasa bersalah.
“You don’t need to be sorry, it should be me. I’m so sory, i don’t meant to hurt you. Aku cuma kaget aja dengan rayuan yang kamu berikan, mungkin karena aku belum pernah di rayu”
Dan lagi senyum manis bak mentari yang bersinar di ufuk timur itu berhasil membuat pipi ku berubah menjadi buah delima. Tanpa sadar bibirku pun turut mengikuti senyuman yang menawan ini. Untung pesanan kami telah datang jadi jantungku kembali berdetak dengan normal. Dan berhubung perut ku juga sudah keroncongan aku pun segera mengaduk semangkuk bakso yang sudah tersedia di depan mata. Dengan tidak sabar aku mencicipi bakso yang super hot ini.
“Hembus dulu bakso nya, baru di makan”
“Lama”
“Memang nya kamu nggak kepanasan”
“Hemm, udah biasa kali”
“Maksudnya”
“Aku sudah biasa kepanasan”
“Hah”
Huh susah ya ngomong sama orang yang kekurangan kepekaan terhadap perasaan cewek.
“Lupakan”
Aku masih menikmati makanan ku sementara William masih terpaku keheranan. Tapi tak lama kemudian Ia pun mencicipi makanan nya. Hingga akhirnya aku mengeluarkan sendawa yang hampir saja di dengarkan oleh pelanggan yang ada di sini.
“Nadien Nadien untung kamu cantik”
“Hehehe”
“Sudah kenyang?”
“Hmm, thanks anyway”
“Yuk”
“Yuk”
Kami pun pamit dengan memberikan uang alias membayar dua mangkuk bakso dan dua gelas teh kepada pemilik rumah makan bakso ini. Lalu kami menuju parkiran untuk meneruskan perjalanan ke rumah masing-masing. Suasana di atas motor terasa hening. Aku hanya bisa berkata semoga kenangan ini bisa abadi di dalam memori ingatan ku. William melewati simpang ke arah rumah ku, sejenak aku pun mulai panik.
“Will, rumah aku udah kelewatan”
“Iya aku tahu”
“Terus kenapa kamu nggak balik?”
“Aku males nganterin kamu pulang”
“Hah? Will serius dong, kamu mau bawa aku kemana?”
“Ada deh, ntar juga kamu bakalan tahu”
Ampun Tuhan kemana lagi ini?
“Will serius dong aku ngantuk nih, capek, penat, lelah. Antarin aku pulang”
“Ntar, nanti kalau udah sampai pasti capek kamu hilang”
"Will please balik, aku mau pulang"
"Percaya deh nanti kalau kita udah nyampe kamu pasti bakalan suka dan aku yakin semua penat di dada pasti bakalan hilang. Trust me ok!"
"Seriously?" nggak ada jawaban.
Sumpah ya, ni anak rasanya suka deh buat aku jantungan. Awas aja ntar kalau dia bawa aku ke tempat yang aneh-aneh. Badannya bakalan melayang di angkasa.
Akhirnya kami sampai di sebuah bukit yang nggak terlalu tinggi. Kira-kira hari sudah pukul 7 malam. Lumayan gelap lah ya, jadi cukup membuat ku deg-degan. Wajar saja kan, kalau nanti William khilaf gimana? Kan aku juga yang rugi. Mudah-mudahan aja dianya nggak bakalan Khilaf.
"Will kamu kok bawa aku ke tempat sepi gini sih? Kamu mau aneh-aneh ya sama aku?"
"Astaga ya nggak lah, lagian aku kan bukan cowok bejat"
"Terus mau ngapain?"
"Bukan disini tempatnya, tuh di atas. Kita naik ke sana baru aku tunjukin pemandangan yang luar biasa yang mirip banget dengan film Doraemon"
"Masak sih kota Padang punya bukit lampu"
"Tapi katanya seorang traveler, masak bukit lampu kota Padang aja nggak tahu"
"Hmmm... terus kapan kita naik?"
Kami pun berjalan menuju bukit yang di maksud William tersebut. Sebenarnya aku takut, tapi kalau di pikir-pikir nggak mungkin lah William bakalan macam-macam. Jadi aku berusaha rilex dan mulai mengikuti langkah kakinya dari belakang. kurang lebih 10 menit lamanya kami mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi ini, akhirnya kami pun sampai di atas bukit.
"Mana nggak ada apa-apa pun"
"Turn around"
Aku pun memutar badan, and you know what it's soo beautiful..
"Woooowwww"
"See what's i say"
"It's perfect. Ini beneran masih di Padang kan"
"Ya masih lah.. memang kamu pikir dimana?"
"Beneran kayak di film Doraemon, aku aja kayak nggak percaya aja gitu, masak sih Padang punya tempat kayak gini"
"Hmmm.. makanya jalan-jalan itu nggak ke Taplau dan sekitarnya aja di kunjungi. Sekali-kali jalan-jalan ke bukit biar tahu pemandangan yang indah lainnya selain pantai"
"iya-iya, mentang-mentang"
"hehehe"
Hening. Willi benar, setelah berada di sini rasa penat di hatiku mulai hilang. Rasa kesal yang dari tadi menghantui ku kini berubah menjadi kedamaian dan ketenangan. Saking tenggelam di dalam keheningan ku, aku nggak sadar kalau Willi sedang memotret ku dari tadi. Flash yang mengenai wajahku membuat ku tersadar dan aku langsung menoleh ke arah nya.
"Apaan sih Will, udah malam tahu"
"Kenapa emang? Bagus kok hasilnya"
"Iya, tapi kalau ada penampakan gimana?"
"Ya elah mana ada penampakan. Yang ada mah kuntilanak nya takut sama kamu"
"Kenapa?"
"Karena... dia takut kalah cantik sama kamu"
"Apaan sih dasar tugom"
"Apaan tuh tugom"
"Tukang gombal"
"Yeh, emang benar kok. Tapi ya sudah nggak papa kalau kamu nggak percaya"
"Hem, ya deh... makasih karena sudah bilang aku cantik"
"Kamu bangga di bilang lebih cantik dari kuntilanak"
"WILLIAM...."
"Aduh-aduh sakit, maaf maaf, hahahaha"
"Aaarrrggg, dasar kingkong"
"Biarin... hahaha"
Dasar sumpah ya baru aja lagi adem malah dibuat kesal. Willi suka banget buat aku kesal dan bahagia di saat yang sama. Seperti saat ini, baru aja dia buat aku sebal karena guyonan nya sekarang malah membuat ku deg-degan. Dia mengambil tangan ku lalu mengucapkan kalimat yang begitu singkat tapi cukup membuat ku tak bisa menarik nafas.
"Will you be mine?"
Oh no... again.
"Aku tahu kamu belum bisa jawab. But it's Ok, aku bakalan tunggu sampai kapanpun itu. I just wanna say thank you for all of your time you spend with me. Kamu tahu nggak selama aku bersama kamu aku merasa bagaikan pelangi yang muncul sehabis hujan. It's soo wonderful"
"Tapi kan pelangi cuma sebentar"
"Itu artinya aku harus bisa jadi bintang biar terus bisa bersamamu"
"Tapi kan bintang kelihatan nya cuman malam doang"
"Di siang hari dia nggak terlihat karena sinar matahari lebih terang dibandingkan bintang. Tapi walaupun nggak keliatan tetap ada kan"
"Wow.. aku jadi speechless dengar nya. But, you know what i'm so nervous everytime i'm near you. Aku juga nggak tahu kenapa, hanya saja aku belum bisa pastikan aku bisa atau nggak jadi pacarmu. Sekali lagi sorry ya"
"It's Ok. I'll be waiting for you"
"Hemmm.."
Aku rasa aku sudah terlalu banyak membuat Willi kecewa. Dan juga sudah terlalu banyak menyimpan kebohongan padanya. Dan sudah terlalu lama menggantungkan perasaannya. Aku tahu tak seharusnya aku membuat nya seperti ini. Aku menyiksa dia dan juga diriku sendiri atas kegagalan ku bersama Dava. Sekalipun mereka kembar tapi bukan berarti mereka memiliki tabiat yang sama. Bahkan hari ini aku masih bisa berpura-pura nggak punya perasaan apapun dengan dia padahal jantungku berdebar-debar tak menentu. Untungnya Willi tidak menahan ku berlama-lama di sini. Dia mengajak ku pulang dan kami menuju rumah dalam kesunyian.
Willi mengantarku di halaman rumah, aku turun dari motor dan memberi helm ku padanya.
" Kamu nggak singgah?"
"Udah malem, ntar Mama ku khawatir lagi. Kapan-kapan aja ya"
"Oh ya nggak papa, thanks anyway"
"Oh ya Ndien, aku boleh minta sesuatu nggak?"
"Apa?"
"Close your eyes"
"For what?"
"For..."
Dia turun dari motor nya dan mulai mendekati ku...
"For..."
Wajahnya di dekatkan nya padaku, lalu bibir yang selama ini membuat terpesona menyentuh bibirku. Oh.... no... aku pengen pingsan. Aku dapat ciuman pertama di depan rumah. Dan satu-satunya harapan ku adalah jangan sampai Mama atau Bibi ngeliat adegan 18+ ini... tapi bukan 18+ beneran, jangan salah kaprah, cuma kecup doang kok. Lagian cuma 3 detik, tapi cukup membuat ku hampir struk.
"What's that?"
"First kiss, thank you"
Kemudian dia kembali ke motor lalu pergi begitu saja, meninggal kan ku dengan segudang perasaan kesal.
"See you Ndien bye..."
Yang kuingat senyuman terakhirnya seperti senyuman seorang seniman mendapatkan Nobel yang dia impikan.... Dasaaarrr KINGKONG.....