WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
44



Terkadang aku sesekali berpikir untuk reinkarnasi. Aku pengen lahir dari sebuah keluarga sederhana yang nggak punya apa-apa, tapi hidupnya bahagia, aman dan tentram. Tetapi dari kisah hidupku, setidaknya aku berpikir bahwa kekayaan tidak selamanya membawa kebahagiaan. Padahal miliaran orang di luar sana ingin sekali kaya. Punya kehidupan yang mewah, berkendara di dalam mobil mewah, makan makanan mewah, pakai baju mewah dan semuanya serba mewah. Tanpa mereka sadari kalau semua itu hanyalah pencitraan belaka. Mana ada yang bisa merasakan kebahagiaan bagi mereka yang punya kehidupan yang serba mewah. Kisah ku telah membuktikan nya, aku saja ingin hidup sederhana tidak punya apa-apa asal bisa bahagia.


Dulu sewaktu aku masih SD aku sering sekali ngayal bisa liburan ke taman bermain bersama Papa sama Mama. Di gendong sama Papa, di peluk, di sayang dan jadi prioritas nya Papa. Tapi semua itu hanyalah hayalan. Sampai sekarang nggak pernah jadi nyata. Ya setidaknya alm. Oma pernah bilang 'Ndien Oma cuman punya satu pesan penting buat kamu, yaitu apa pun yang terjadi selama hidup kamu, kamu nggak boleh salahkan Tuhan atas semua kekecewaan yang kamu alami. Karena Tuhan tidak pernah menghukum umat Nya. Dia hanya mengajarkan kepada kita untuk berjuang menjadi layak di hadapan Nya dan tegar dalam menghadapi ujian yang Dia beri. Kamu harus ingat, tiada suatu peristiwa pun tanpa hikmah, ingat itu. Semua yang terjadi di dunia ini hanya untuk membuat kita semakin kuat bahkan bisa melampaui batas. Amin'.


Aku jadi kangen Oma, seandainya Oma masih ada mungkin kesedihan yang saat ini kurasa bisa sedikit berkurang. Aku masih pengen mendengarkan nasihat yang Oma beri, aku masih pengen mendapatkan pelukan dari Oma. I miss you Oma. tanpa terasa air mata ku mulai jatuh dan menetes. Kupeluk erat boneka hadiah ulang tahun ku yang ke-5 dari Oma. Suasana sepi saat aku menumpahkan kesedihan dan kepedihan yang kurasa, di sini, di kamar ini, sepi, sunyi mencekam penat di dada yang tak terobati.


Saat aku larut dalam kesedihan tiba-tiba William menelpon ku. Waktu aku membaca nomor telepon nya, aku jadi ingin bukan di telpon saja tapi aku ingin dia ada di sini untuk menghalau kesedihan yang ku rasa. Perlahan aku menenangkan diri dan mulai menekan tombol terima panggilan.


"Halo Ndien"


"Ha.. halo Will" aku berusaha menyembunyikan kesedihanku dan berusaha untuk bersikap biasa, tapi tetap saja tidak bisa.


"Suara kamu kenapa? Kamu lagi nangis ya"


"Enggak kok" sekalipun aku tidak menangis tapi air mata ku tetap jatuh di pipi.


"Bohong, kamu lagi nangis kan! ayo dong kasih tahu kenapa kamu nangis! atau jangan-jangan kamu masih kepikiran soal yang tadi ya?"


Aku hanya bisa diam dan berusaha untuk menahan air mata.


"Ndien, udah jangan nangis, semua orang punya masalah. Tapi aku tahu kamu bisa melaluinya"


"Tapi sampai kapan Will? Sampai kapan masalah ini berakhir? Aku nggak masalah kok kalau memang satu-satunya jalan buat selesai dari masalah ini hanyalah cerai, aku nggak papa kalau Mama sama Papa cerai" aku tak kuasa menahan nangis, dan akhirnya ku tumpahkan segalanya.


"Kamu nggak boleh bilang begitu, aku yakin pasti ada pelangi sehabis hujan"


"Ini bukan masalah pelangi muncul sehabis hujan, tapi masalah Papa sama Mama yang terus bertengkar"


"Itu istilah Nadien"


"Iya aku tahu, tapi nggak ada gunanya slogan itu buat kami. Karena memang keluarga ini nggak pernah dapat berkat dari Tuhan. Dan aku yakin kami aku sama Mama hanya bisa dapat berkat kalau Papa nggak ada hubungan lagi dengan kami"


"Ndien walau bagaimanapun dia tetap Papa kamu. Kamu harus banyak berdoa dan bersabar pasti Tuhan akan jawab"


"Kalau gitu aku berdoa terus supaya Mama sama Papa cerai"


"Kalau memang itu yang terbaik aku rasa Tuhan akan kabulkan"


"Amin"


"Ya sudah nggak usah nangis ntar make up kamu luntur lagi"


"Make up?"


"Iya make up, memang nya kamu nggak pernah pakai make up ya?"


"Sejak kapan aku pakai make up"


"Oh nggak pernah ya, aku lupa hehe sorry"


Willi Willi kamu tuh bisa aja ya membuat perasaanku yang gundah berubah jadi suka. Aku bersyukur ternyata Tuhan tidak pernah membiarkan aku sendirian, ini buktinya. Di saat aku baru kehilangan Oma Tuhan mempertemukan aku dengannya, dia yang mengubah hariku menjadi berwarna dan penuh suka cita.


"Hei Ndien kok diem"


"Nggak ada cuman pengen diem aja"


"Oh... dari pada diem mending kita nyanyi"


"Nyanyi lagu apa?"


"Apa aja yang penting nggak sunyi"


"Suka suka"


"Lagu apa tu?"


"Aku nggak tahu judulnya cuman tahu liriknya doang"


"Liriknya gimana emang?"


"Suka suka nyanyi di pinggir jalan, suka suka joget di pinggir jalan, berjoget walau bukan dangdut asli yang penting kita bisa happy"


"Ooohh.. hahaha itu kan lagu jadul, lagu tahun 90 an"


"Tapi kamu nggak mau sepi, ya udah joget sana di pinggir jalan"


"Gila banget aku joget sendiri di pinggir jalan"


"Eh nggak ya"


"Hahahaha" tanpa terasa aku jadi lupa dengan sedih yang kurasa.


"Kamu punya selera humor yang lumayan juga ya Ndien, kirain kamu nggak pernah mau bikin lelucon"


"Mau kok, timing nya aja yang belum tepat"


"Owh iya deh"


"Iya, hmm"


"Oh ya Ndien gimana kabar les privat sama Dava, lancar?"


"Apa nya yang lancar, aku udah berhenti belajar sama dia kemaren"


"kenapa?"


"Habis dianya songong, masak iya dia bilang berkat dia aku bisa naik kelas dan satu-satunya manusia yang bisa membuat aku berubah jadi anak pintar itu cuman dia. Aku jadi tersinggung dengan perkataan Dava, ya udah aku berhenti belajar sama dia"


"Segitunya Dava merendahkan mu. Sebagai saudara aku minta maaf atas kehilafan kembaranku"


"Iya iya nggak papa"


"Tapi tenang aja aku bisa kok bantu kamu belajar"


"Aku nggak salah dengar kan?"


"Ya nggak lah"


"Memang nya kamu ngerti pelajaran dari jurusan IPA?"


"Gini-gini aku selalu menang olimpiade, bahkan piala ku lebih banyak dibandingkan piala Dava"


"Owh, aku masih belum percaya"


"Pengen bukti?"


"Menarik juga sih"


"Great job, so kita mulai belajar dimana?"


"Terserah"


"Di taman biasa aja gimana?"


"Setiap hari?"


"Bagus juga kalau setiap hari"


"Aku nanya bukan nawar"


"Owh sorry, it's all up to you"


"Tapi ingat no kissing"


"Hahahaha... iya iya mudah-mudahan, tapi kalau soal itu aku nggak bisa jamin"


"Ya udah nggak jadi"


"Ya deh iya, iya"


"Hmmm"


"Ya sudah sampai jumpa besok sekarang kamu tidur gih, ntar kamu telat bangun lagi"


"Iya iya, ya udah ya telponnya aku putus"


"Ok, see you Ndien good night"


"Good night"


Thanks God for create a great boy for my life.