
...Selamat datang di novel karya...
...πππ’ππ ππππ¦πβππ/PIMOYαΆ α΅βΏβΏΚΈ πΌ...
...semoga kalian suka ya βΊοΈ....
...Like, Vote, Koment, & klik β₯οΈ nya, favoritin novel ini. Agar aku semangat menulisnya βοΈ...
...π»ππππ¦ π ππππππ...
.....................
"Apaaaa??? paman Arsyad sakit? kok kamu nggak bilang sih sha?" tanya Mila yang mendengar cerita tentang apa yang menimpa kakak dari papanya tersebut.
"Gimana mau bilang kalau kejadiannya saja mendadak. Lagian bukannya kamu sendiri yang bilang kalau di rumahmu ada pertemuan keluarga ya? Terus bagaimana hasilnya? Cocok nggak dengan cowok yang mau dijodohin sama kamu itu?" tanya Alesha penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang sepupu lucknatnya.
Namun, Mila justru menghela napasnya dengan kasar.
"Aku belum selesai bertanya ya sha? Kamu main ganti topik segala. Terus kondisi paman Arsyad bagaimana? Sakit apa sebenarnya?" tanya Mila masih tidak mau membahas topik seputar dirinya.
"Ayah terkena omicron xbb, jadi sekarang harus menjalani isolasi mandiri. Ibu juga berada di sana jadinya ikutan isolasi mandiri. Tetapi kabar ayah sudah lebih baik sejak kedatangan ibu di sana," kata Alesha.
"Berarti penyakit itu masih ada aja ya. Aku pikir udah beneran hilang," kata Mila.
"Ya belumlah, emang semudah itu menghilang. Namanya juga udah tercemar mil. Tentunya nggak semudah itu juga menghilang. Hanya saja sekarang variannya sudah semakin cepat datang tetapi cepat sembuhnya juga. Aku sebenarnya pengen nyusul ke sana tetapi karena di sana isolasi mandiri semuanya. Jadinya aku hanya bisa menantikan mereka berdua di sini," kata Alesha dengan sedih.
Mila menepuk bahu sepupunya dan memberikan semangat kepada saudaranya tersebut.
"Kita doakan yang terbaik buat mereka, sha. Kamu jangan putus asa," kata Mila menguatkan sang sepupu.
Alesha menganggukkan kepalanya.
"Huuuuhhh.... aku malas menceritakan hal ini. Aku balik kerja lagi saja lah. Banyak kerjaan yang belum aku selesaikan," ujar Mila hendak kabur dari ruangan Alesha.
Namun gadis berhijab itu menahan Mila agar tidak bisa pergi seenaknya sebelum menceritakan kisah perjodohannya.
πΌπΌπΌ
Sementara itu di sebuah kamar hotel mewah. Tampak dua orang, pria dan wanita sedang asyik bergelung di atas sofa. Tampak sang wanita mendominasi sang pria. Dia memberikan yang terbaik yang dia miliki agar sang pria terlena dan bersedia memenuhi apa yang dia inginkan selama ini. Akan tetapi, si wanita tidak sadar jika sang pria sebenarnya tahu apa yang akan si wanita itu lakukan kepadanya.
Bruk!
"Aduh!"
Plak!
"Ahhh....!!"
"Cuihhhh.... dasar wanita tidak tahu diri. Jauhi aku! Jangan dekati aku lagi. Aku nggak Sudi bersama denganmu yang sudah disentuh banyak pria lain. Jangan samakan dirimu dengan Alesha. Selamanya kamu dan Alesha ibarat langit dan bumi. Tidak akan pernah sama. Dan tidak akan pernah bisa disamakan. Aku mencintai Alesha sepenuh hatiku. Dan aku hanya ingin menjadikan Alesha sebagai satu-satunya istriku. Tetapi kamu hanyalah pengganti di saat Alesha tidak bisa melakukan apa yang ku mau. Paham!!!!!" sentak Brian yang masih bisa mengendalikan dirinya setelah beberapa gelas minuman dia tenggak.
Braaaakkkkk!
Brian menutup pintu kamar hotel itu dengan keras. Dia meninggalkan Monica yang menangis tanpa suara di sofa sambil memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan keras dari Brian.
Malam itu Monica ingin menjebak Brian yang mabuk untuk kembali dapat mamadu kasih dengan dirinya. Dipikirnya bahwa Brian sedang dalam pengaruh alkohol dan dia bisa memanfaatkan itu. Akan tetapi, ternyata Brian masih bisa mengendalikan dirinya dan sadar akan apa yang Monica lakukan padanya.
"Brian, kamu sungguh tega mengatakan hal itu. Padahal setiap kali kita bercinta, kamu menyebutkan namaku bukan nama Alesha. Kamu jahat Brian!!" ujar Monica dengan tangisan kesakitannya.
...----------------...
Bersambung πΌ