When I'm Falling In Love

When I'm Falling In Love
SUS



Judul: Syifa untuk Sava


karya: Squad Penyihir / Pimoyᶠᵃⁿⁿʸ


...Jangan lupa mampir ke novel pimoy yang berjudul "Syifa untuk Sava" ya. Selain novel, juga sudah ada Audiobook nya jadi bagi teman-teman yang sibuk dan nggak bisa baca, langsung cusss kepoin audiobook nya. Dengan pimoy sendiri sebagai pengisi suara. ...


...****************...


"Davin, mama mau bicara," ujar nyonya anggoro membuka pembicaraan.


"Ada apa ma?" tanya Davin yang penasaran. Mamanya itu menarik napas panjang sebelum berkata.


"Apakah kamu mau mama kenalkan ke anak salah satu temen mama, nak?" tanya nyonya besar Anggoro berhati-hati.


Davin seketika menghela napas panjangnya. Sudah terlalu banyak dia memberikan jawaban. Mamanya ini seolah tidak pernah jera.


"Ma, aku sudah sering katakan. Aku tidak akan pernah menikah lagi. Cukup dengan mamanya Sava saja. Dan aku tidak mau lagi berurusan dengan pernikahan. Sudah malam ma, aku harus istirahat. Besok ada rapat penting di kantor. Selamat malam," Davin segera memutuskan percakapan diantara keduanya.


Sebelum nantinya akan semakin berkembang menjadi panjang. Davin tidak mau kalau dia bisa membuat sang mama terluka hatinya. Davin mengerti niat sang mama agar dirinya tidak hidup sendirian terus. Tetapi Davin sudah tidak berniat untuk berumah tangga kembali.


Dia sudah mati rasa dengan yang namanya pernikahan. Dia hanya ingin melihat putranya menjadi pengusaha yang sukses dan memiliki keluarga yang bahagia. Hanya itu saja keinginannya. Sedangkan untuk dirinya sendiri. Dia sudah bahagia meski harus seorang diri.


Sava merebahkan tubuhnya di kasur king size nya. Setelah mengguyur tubuhnya dibawah shower yang hangat dan segar. Membuat laki-laki itu tampak lebih segar dari sebelumnya.


Sava memasukkan nomor toko bunga yang diberikan oleh Syifa kepadanya. Ya di kartu nama itu hanya tertera nomor telepon toko bunga. Tidak ada nomor handphone dari Syifa yang dia miliki. Kalau bertemu kembali, Sava akan meminta langsung kepada gadis manis itu. Dia akan berusaha untuk bisa mendapatkan nomornya.


"Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda tiap kali aku melihatmu, Syifa. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? astaga.... bisa ya seorang Sava jatuh cinta duluan. Padahal biasanya aku yang dikejar-kejar para gadis. Sedangkan dengan gadis ini, kenapa aku selalu tak bisa melupakan bayang-bayangnya ya," Sava tidak habis pikir dengan apa yang dia alami baru kali ini terjadi.


"Dia istimewa memang. Tidak seperti gadis pada umumnya. Tuhan, ijinkan aku memohon kali ini saja. Ijinkan aku bisa bersamanya seumur hidupku. Aku tidak pernah memohon selama ini. Jadi kabulkan ya," ucap Sava dengan tersenyum.


Kemudian dia beranjak memeluk guling di sampingnya sambil melihat foto Syifa di wallpaper handphonenya. Dia memandangi wajah gadis itu hingga tertidur lelap karena begitu lelah dengan kejadian yang menimpanya.


🌼🌼🌼


Desi tak henti menangis di pelukan suaminya. Dia tidak habis pikir kenapa bisa lelaki itu berani-beraninya membohongi keluarganya.


"Sudahlah mi, jangan menangis terus. Ingat penyakit kamu. Jangan terus-terusan larut dalam kesedihan. Ingat putri kita? dia juga sedang sedih dan terluka hatinya. Mami coba lebih tenang. Cristal juga sedang membutuhkan mami. Dia butuh seseorang yang bisa menguatkannya mi," ujar gio membujuk sang istri.


Desi seketika menegakkan tubuhnya saat teringat dengan sang putri. Suaminya benar, masih ada Cristal yang harus dia kuatkan hatinya dan juga mentalnya agar tidak down mendengar kejadian yang miris ini. Cristal yang sudah dua kali gagal dalam percintaan tentunya akan semakin terluka hatinya.


"Aku akan temui Cristal dulu, Pi," Desi segera beranjak meninggalkan suaminya untuk menemui sang putri tercinta.


...----------------...


Pagi itu dikediaman keluarga Elxander Winata.


Suasana sarapan pagi mereka cukup hening. Elxander dan Vania sudah mendengar kejadian yang menimpa anak dari sahabat mereka. Setelah sarapan mereka berdua akan berkunjung ke rumah Gio dan Desi. Sebagai teman baik tentunya mereka tidak akan tinggal diam mendengar apa yang sudah terjadi dengan putri tunggal mereka.


"Daddy, Mommy, aku berangkat," pamit Vano yang sudah ditunggu oleh asisten Jimi di depan.


Elxander dan Vania menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati ya nak," ucap Vania saat putranya itu mencium punggung tangannya.


"Duluan dek," pamit Vano kepada sang adik.


"Iya bang," sahut Syifa setelah mencium punggung tangan kakaknya dengan takzim.


Setelah kepergian Vano kini suasana kembali hening. Syifa yang sudah selesai makan pun akan bersiap berangkat ke kampus.


"Kamu nggak usah ke toko dulu kalau masih trauma dengan kejadian kemarin," ucap sang Daddy saat putri bungsunya itu berpamitan kepadanya.


"Tidak apa-apa Daddy, aku sudah nggak kenapa-kenapa kok. Lagian juga ada beberapa pesanan pelanggan yang hari ini mau diambil," ujar Syifa sambil tersenyum.


"Lagian mulai hari ini akan ada dua orang yang membantuku di toko. Jadi Daddy dan mommy jangan khawatir. Aku tidak akan sendirian," sambung Syifa kembali.


"Baiklah nak, kalau begitu hati-hati ya berkendaranya. Apakah nanti kamu akan menyusul kami ke rumah Cristal?" tanya Vania.


"Aku akan ke sana setelah dari toko dulu mom. Aku akan menyusul mommy dan Daddy nanti," ucap Syifa sambil mencium punggung tangan Daddy dan mommy.


Setelah keluar dari ruang utama. Syifa bergegas menuju ke parkiran mobil yang berjajar di garasi kediaman Winata. Syifa meskipun dia anak dari orang kaya raya namun dia bukanlah anak yang sombong. Kalau saja dia mau dia bisa mengendarai mobil keluaran terbaru. Tetapi dia lebih nyaman jika menggunakan mobil yang dia suka saja.


"Hati-hati di jalan non," ucap pak satpam yang membukakan pintu untuk nona muda Winata.


Syifa mengendarai mobilnya sendirian menuju kampus yang sudah dua tahun ini menjadi tempat dia menimba ilmu.


Lain lagi ceritanya di kediaman Anggoro.


Setelah sarapan, Savarawansyah Anggoro berpamitan kepada papa dan juga neneknya. Hari ini adalah hari pertama dia mengunjungi kampusnya. Dia sudah tidak sabar ingin pergi ke kampus karena ada seseorang yang membuat dia sudah rindu berat untuk bertemu.


Semalaman dia memimpikan gadis manis berhijab yang sudah mencuri hatinya. Dan betapa berbunga-bunga hatinya saat mengetahui dari sepupunya kalau gadis itu adalah teman satu kampusnya.


Ini adalah takdir yang tepat bukan. Pertemuan yang tanpa disengaja. Lalu kini mereka juga ternyata menjadi teman satu kampus tanpa direncana. Sepertinya ada takdir yang melingkari keduanya. Apakah nantinya takdir ini bisa membawa keduanya menjadi lebih dekat lagi. Sava sangat berharap hal itu terjadi. Itu adalah doa yang paling kuat dia panjatkan setiap malamnya.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat senyuman mu wahai bidadari hatiku," ucap Sava sambil mengaca di spion mobilnya sebelum dia melajukan mobil sport itu meninggalkan kediaman Anggoro yang megah.


Tak butuh waktu lama untuk Sava sampai di kampus barunya. Mobil sport yang melaju membelah jalanan kota hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja.


Kedatangan mobil sport Sava tentu saja menjadi bahan pembicaraan para mahasiswa di sana. Karena belum pernah mereka lihat mobil mewah itu parkir di halaman kampus.


"Sepertinya anak baru?"


"Iya, astagaaaaa ganteng banget!"


"Bener, kayak aktor Korea banget deh. Dia tipe aku banget deh."


"Mau dong kalau jadi ceweknya. Meski jadi cadangan juga nggak apa-apa."


"Astaga nggak laku banget sampai pengen jadi cadangan segala."


"Emang lu udah ngerasa cantik banget apa! sok-sokan ngatain gue nggak laku segala!"


"Kok lu nyolot sih? suka-suka mulut gue dong mau ngomong apaan!"


Dan pertengkaran akibat kedatangan mahasiswa baru pun tak terelakkan. Sava yang mengetahui hal itu pura-pura nggak ngelihat aja. Dia malah sibuk celingak-celinguk mencari sosok yang sudah membuat dia semalaman mimpi indah.


Plak


Sebuah tepukan di bahu sang pemuda membuatnya seketika menoleh. Dan betapa kecewanya dia saat tahu siapa yang melakukan hal itu.


"Ealah ternyata kamu, si kutu kupreeet."


Kenzo hanya berdecih melihat reaksi sepupunya.


"Ngapain berdiri Mulu di sini? mau tebar pesona?" tanya Kenzo yang melihat sepupunya malah diam di parkiran celingukan nggak jelas.


"Buat apa tebar pesona. Aku cari bidadari ku. Dia sudah datang belum sih?" tanya Sava.


"Siapa? oh... maksud kamu Syifa?" Kenzo mencoba mencari mobil yang biasa dikendarai Syifa.


"Sepertinya belum datang. Eh... tuh dia mobilnya. Panjang umur juga dia diomongin langsung muncul," ujar Kenzo menunjuk mobil berwarna hitam memasuki halaman kampus.


Sava melihat mobil itu dan dan segera berjalan menghampirinya.


"Kenapa aku deg-degan gini ya," gumam lirih Sava saat melihat pintu pengemudinya terbuka.


...****************...


Bersambung 🌼