
Judul Novel: Jurnal Misteri
Genre: Horor
Author: Squad Penyihir/ Pimoy_fanny
...Jangan lupa mampir ke karya pimoy yang bergenre horor ya. Selain novel juga sudah ada Audiobooknya jadi bagi teman-teman yang sibuk. Nggak sempat ada waktu buat baca bisa dengerin ceritanya lewat audiobook. Dengan pimoy sebagai pengisi suaranya....
...----------------...
"Aduh, pusing banget kepala aku rasanya," keluh Jane sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa kamu, Jane?" tanya Sinta yang merasa bahwa ada yang tidak beres dengan temannya itu.
"Aku pusing mikirin banyak tugas begini. Makin mau semester akhir. Makin banyak aja tau nggak para dosen ini ngasih tugas," gerutu Jane sambil menata buku-buku kuliahnya di hadapan Sinta.
"Ya itu sih wajah aja, Jane. Aku pun juga sama. Banyak banget tugas yang belum aku selesaikan. Bagaimanapun itu adalah tugas kita sebagai mahasiswa," sahut Sinta.
"Tapi capek juga sin, kapan ada waktu neh? yuk kita healing! aku butuh healing biar nggak makin sinting," ujar Jane dengan dramatis.
Sontak hal itu membuat Sinta tertawa mendengar ucapan sahabatnya yang cukup lucu menurutnya.
"Kamu kenapa bisa sampai stres banget gini sih? apa gegara putus sama si Abang Jono? wkwkwkwkwk," tawa tak bisa ditahan sama Sinta saat mengingat mantan kekasih dunia virtual dari Jane.
Temannya itu begitu terpesona oleh seorang lelaki yang dikenalnya lewat sebuah aplikasi yang menampilkan suara saja. Dan setelah mengenalnya hampir setengah tahun. Mereka berdua memutuskan untuk bertemu di dunia nyata. Namun, apa yang terjadi? Jane seketika lari menghindar dari cowok itu yang ternyata jauh dari bayangan yang selama ini dia impikan.
Lelaki yang mengaku bernama Joni itu awalnya mengatakan bahwa dia adalah anak orang kaya dan seorang mahasiswa. Jane tentunya senang dong karena mereka sesama mahasiswa. Tetapi siapa sangka jika Joni adalah seorang pengangguran. Dari mana Jane tau? ya karena setelah mengetahui wajahnya yang asli. Jane segera menyelidiki siapa Joni sebenarnya. Sungguh Jane tidak menyangka bahwa dia telah ditipu.
Itulah kasus yang seringkali terjadi jika terlanjur bucin di dunia virtual. Tanpa tahu siapa lebih dulu orang yang dikenal itu. Beruntung Jane cepat sadar dan tidak sampai bucin yang terlalu berlebihan.
"Puas sudah menertawakan aku?" sungut jane dengan kesal karena Sinta masih saja tertawa terkekeh.
"Habisnya kamu ngeyel sih, Jane. Di dunia virtual orang bisa jadi siapa aja yang dia suka. Kamu jangan terjebak dengan bujuk rayu dan gombalisasi mereka. Yang ada justru kamu yang akan terperosok masuk ke dalam kesesatan," kata Sinta menasehati.
Memang dari awal Sinta sudah memperingatkan Jane. Tetapi dasar Jane aja yang bandel membuat dia tetap bertahan dengan Abang Jono eh Joni🤭
"Sudahlah, males aku bahas hal itu. Aku udah insyaf, nggak ada mau lagi kenalan sama orang di dunia begituan," sungut jane masih gondok mengingat pertemuan mereka.
"Ya baguslah kalau kamu mau mengerti. Lagian ya, cowok di dunia nyata masih banyak. Kenapa juga harus mengenal cowok di dunia aplikasi begitu," kata Sinta kembali.
"Iya, kamu bener, ya sudahlah, aku nyesek kalau inget itu. Lebih baik kita bahas, kita mau healing kemana?" tanya Jane sambil menatap ke arah Sinta.
"Kamu beneran mau pergi liburan?" tanya Sinta balik.
"Iya, suntuk banget aku, sin."
"Ya sudah, kamu cari aja deh tempat yang pengen kamu datengin. Aku nggak punya destinasi wisata yang di pengen. Kamu kalau ada tentuin aja deh. Aku ikut kamu mau liburan kemana," kata Sinta.
"Yeeeeee .... asyik! makasih banyak ya bestie!" seru Jane sambil memeluk erat tubuh Sinta.
...----------------...
Perjalanan pun di tempuh kedua cewek tangguh itu ke sebuah tempat wisata yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Lebih tepatnya rencana dari Jane. Sedangkan Sinta hanya mengikuti saja kemana maunya Jane. Dia mah ngikut bae mau kemana.
"Jauh juga lokasinya, Jane?" ucap Sinta karena sudah cukup lama mereka berkendara sejak tadi.
"Katanya tempatnya bagus lho, sin. Sudahlah kita coba liat saja dulu. Aku juga belum pernah tau kek mana. Semoga aja bagus seperti di gambar nya," kata Jane sambil nyengir.
"Kamu ini ya Jane, kebiasaan banget tau nggak. Belum tau dengan jelas tapi sudah begitu antusias," gerutu Sinta.
"Ya gimana, kan aku penasaran juga sin, katanya bagus. Ya sudahlah kita liat aja. Siapa tahu emang bener-bener bagus lokasi wisatanya," kata Jane.
"Iya, ntar kalau nggak bagus tinggal kabur aja gitu. Kelakuan kamu itu mirip banget dengan kejadian pas kamu kenal sama bang Jono deh," Sinta mulai menertawakan kelakuan Jane yang mulai kambuh lagi.
Atau memang si Jane ini tipe-tipe yang jiwa kepo nya tinggi banget. Jadinya penasaran Mulu. Entah baik atau enggak asal rasa penasaran dia bisa terpenuhi dengan baik.
Setelah hampir sejam mereka berkendara kini tibalah mereka di tempat yang katanya Jane di situlah tempat wisatanya.
Mereka memang mencari tempat healing ke sebuah Coban atau air terjun. Jane memang ingin mengajak Sinta untuk mandi di pemandian air terjun itu. Katanya dia juga pengen buang sial setelah berkenalan dengan lelaki yang nggak jelas di media sosial. Memang ada-ada saja kelakuan Jane itu.
Dia sendiri yang kepo kenalan sekarang malah nyalahin orang.
"Waduh, nggak ada sinyal di sini ya," kata Sinta sambil mencari-cari sinyal di layar ponselnya.
"Iyakah," Jane yang juga baru pertama kali ke sana juga tidak tau hal tersebut. Dia ikutan mengecek layar handphone nya.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Sinta. Tidak ada sinyal di sana.
"Kita berada di kawasan hutan mungkin ya. Yang bikin sinyal nggak nembus ke sini," kata Jane lagi.
"Ya, mungkin. Sudahlah ayo ke coban. Tapi kita nggak usah lama-lama di sini ya. Nggak ada sinyal soalnya," tutur Sinta kembali memperingatkan Jane.
"Iya, Sin. Aku cuma pengen mandi di bawah derasnya air coban. Mau buang sial," kata Jane sambil nyengir.
"Hadehhh, itu Mulu pembahasan kamu, Jane, ya sudah ayo turun," Sinta pun bersiap turun ke arah pemandian.
Akan tetapi anehnya di sana. Tidak banyak orang yang mereka temui di sana. Padahal tempat wisata dan tempatnya juga lumayan sejuk. Tetapi kenapa nggak ada orang yang datang ke sana ya?
"Sepi juga di sini, Jane, agak serem menurutku," Sinta cukup merinding melihat lokasi coban yang sepi itu. Apalagi mereka cuma berduaan.
"Jangan lama-lama deh, Jane. Lokasinya cukup serem menurutku, meski udara di sini seger juga sih. Tetapi kalau sesepi ini ya menyeramkan juga. Udah kita cewek berduaan di sini. Nggak ada sinyal pula. Bahaya sih ini, Jane," ucap Sinta malah ketakutan sekarang.
"Bentar lah, aku mau fokus mandi dulu. Kamu kalau nggak mau mandi. Duduk aja di batu besar di sana," tunjuk Jane pada sebuah batu besar berwarna hitam.
...----------------...
Jane asyik menikmati guyuran air terjun yang membasahi sekujur tubuhnya. Dia tambah senang dengan nuansa alam di sekitarnya.
Tetapi berbeda dengan Sinta yang sedari tadi merasa ada yang mengawasinya. Dia yang beneran duduk di batu besar yang ditunjuk oleh Jane justru merasakan merinding sekujur tubuhnya.
"Kenapa malah merinding banget gini ya tubuhku. Astaga, jangan berpikir berlebihan, sin. Ini masih terang dan nggak mungkin ada sesuatu kalau siang-siang gini kan," gumam Sinta kepada dirinya sendiri.
"Aduh... makin puyeng aja otakku kok makin aneh ya, bulu kudukku berasa berdiri semua," ucapnya sambil mengusap tengkuknya.
"Aku harus temui Jane dan ajak dia segera pergi dari sini. Makin nggak nyaman aja aku ada di sini," ucap Sinta dengan dirinya sendiri.
"Lho? Kemana si Jane tadi? bukannya dia ada di bawah air terjun sana ya?" Sinta panik karena tidak melihat Jane di tempat terakhir dia melihatnya tadi.
"Jane....."
"Jane....."
"Jane....."
"Jane! jangan bercanda! kamu ada di mana?" teriak Sinta sambil mencari di sekitar pemandian sana.
"Aduh, bagaimana ini? kalau sampai terjadi sesuatu dengan Jane? jangan berpikir negatif dulu, kamu musti cari Jane dulu," ucap Sinta kepada dirinya sendiri.
Hampir setengah jam Sinta berusaha mencari keberadaan Jane. Tetapi temannya itu tidak juga ketemu.
Akhirnya Sinta meminta bantuan kepada orang-orang yang ditemuinya di sana. Dia benar-benar sudah putus asa dan sampai menangis gegara tidak juga menemukan Jane, sahabatnya di coban tersebut.
Beberapa orang yang membantu mencari keberadaan Jane pun menyebar agar bisa segera menemukan jejak gadis yang tadi mandi di coban.
"Jane, kamu dimana? kenapa jadi begini sih, niat healing malah berujung tragedi begini," isak tangis tak bisa Sinta bendung karena dia sudah tidak bisa lagi berpikir dengan baik.
Perasaannya yang sedari tadi sudah tidak nyaman kini benar-benar terjadi. Sebuah kejadian yang membuat dia kehilangan jejak sang sahabat, yaitu Jane.
"Sinta!" sebuah suara yang dia kenal dan membuatnya cemas beberapa waktu itu tiba-tiba saja muncul di depannya.
Sinta yang tidak menyangka hal itu akan terjadi segera berteriak sambil tersenyum bahagia. Akhirnya teman baiknya itu bisa dia temukan dalam kondisi selamat.
"Jane!"
Sinta hendak berlari mendekat ke arah Jane yang tampak berjalan sambil tertatih-tatih. Dan hal itu membuat Sinta ingin segera datang memapahnya.
Duaaaaaaaarrrrr!!!!!
Namun tiba-tiba sebuah ledakan terdengar cukup memekakkan telinga. Sinta yang kaget segera berteriak karena dia merasa ngeri melihat kejadian yang baru saja terjadi. di depan matanya.
AAaaaaaaaarrrrkkkkhhhh!!!
"Jane!" teriak Sinta sambil berlinang air mata karena tubuh sahabatnya itu meledak tepat sekali di depan matanya. Dan sungguh hal yang mengerikan jika tubuh itu kini sudah hancur tak berbentuk.
Tiba-tiba pandangan mata Sinta seketika menggelap. Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan langkahnya. Dia terjatuh dan pingsan di tempat seketika itu juga.
"Sinta!"
"Sinta!"
"Sinta!"
"Astaghfirullah, bangun sin!"
Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil namanya. Namun, sulit sekali matanya untuk terbuka. Dia masih saja memejamkan matanya meski telinganya mendengar seseorang memanggil namanya berkali-kali.
...----------------...
"Sinta!"
"Sinta!"
"Sinta!"
"Astaghfirullah, bangun sin!"
Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil namanya. Namun, sulit sekali matanya untuk terbuka. Dia masih saja memejamkan matanya meski telinganya mendengar seseorang memanggil namanya berkali-kali.
"Astaghfirullah ini bagaimana pak, Bu?" tanya Jane yang panik karena sahabatnya yang dia temukan pingsan di samping batu besar hitam itu sampai sekarang belum juga sadarkan diri.
"Beberapa orang warga sedang menjemput tetua yang biasanya menangani kejadian seperti ini mbak, seng sabar yo, sambil mbak e panggil-panggil lagi itu temennya," ujar seorang bapak yang menolong mereka berdua saat di coban tadi.
Dia yang saat itu mengecek kondisi wisatawan di wisata coban kaget mendengar teriakan orang minta tolong. Karena setahunya tadi saat menjaga di pintu depan coban dia melihat sebuah mobil melintas masuk pintu utama tempat wisata coban.
"Sinta .... bangun, sin. Jangan bikin aku bingung gini, sin. Sinta.... hiks ..hiks...hiks," Jane pun mengusap kasar air mata yang tak bisa lagi dia bendung keluar dari kedua pelupuk matanya.
"Seng sabar cah ayu, temennya pasti nanti sadar kok, panggil terus namanya ya nak, sambil olesin minyak ini juga," ujar istri bapak yang menolong mereka.
Pasangan paruh baya itu membantu dua wisatawan dari luar kota tersebut.
"Eugghhhhhh...." sebuah lenguhan terdengar dari mulut Sinta.
"Alhamdulillah, akhirnya ..Sinta .. kamu bangun juga Sinta...hiks...hiks...hiks..." Jane langsung melompat mendekati sahabatnya yang tampak memegangi kepalanya.
Sepertinya dia merasa pusing gegara pingsan di dekat batu besar hitam.
"Alhamdulillah cah ayu, kamu akhirnya sadar juga," ujar Bu Cahyo.
Istri Pak Cahyo itu segera beranjak dari duduknya dan segera mengabari sang suami yang sedang menunggu kedatangan tetua yang masih dijemput warga.
"Jane....ishhh .. kenapa kepalaku pusing sekali," gumam Sinta lirih dan mencoba untuk menatap wajah sahabatnya itu.
"Sinta, kamu nggak apa-apa?" tanya Jane sambil mengecek tubuh sahabatnya itu dengan teliti. Mungkin saja ada luka fisik yang dialami sang sahabat selain keningnya yang tadi berdarah akibat berkenalan dengan batu-batu yang ada di sana.
"Kepalaku sakit, Jane," ujar Sinta sambil memegangi keningnya yang benar-benar sakit dan pusing.
"Minum dulu, Sin," ajak Jane sambil membantu Sinta untuk meminum teh manis hangat yang tadi dibuatkan Bu Cahyo.
"Jan ... kamu nggak apa-apa? kamu baik-baik saja?" tanya Sinta yang kaget melihat kondisi Jane yang justru dia lihat baik-baik saja.
Padahal jelas-jelas tadi dia melihat sang sahabat itu tubuhnya meledak dan menjadi serpihan mengerikan sampai-sampai membuat Sinta tidak kuat melihatnya. Itulah yang membuat dirinya tadi jatuh pingsan.
"Kamu ini bicara apa sih, sin. Justru kamu tadi yang aku temukan pingsan di samping batu besar yang kamu duduki tadi. Kamu kenapa sin, apa kamu kelelahan?" tanya balik Jane yang justru membuat Sinta seketika melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jane.
"Hah? aku? pingsan?" tanya Sinta lagi memastikan pernyataan temannya barusan.
"Iya, sin, kamu pingsan. Bahkan tadi aku sampai minta bantuan beberapa warga untuk membantumu di bawa ke sini. Meraka juga lagi manggil tetua di sini buat bantu kamu kalau-kalau kamu nggak bangun-bangun juga," ujar Jane panjang lebar.
"Hah?" Sinta hanya bisa terbengong mendengar cerita panjang lebar dari sahabatnya itu.
Karena apa yang dia alami ternyata kebalikan dari apa yang dia liat tadi.
'Apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku?'
...----------------...
Bersambung 🌼