When I'm Falling In Love

When I'm Falling In Love
MDL



Judul Novel: Mata Dimensi Lain


Karya: Squad Penyihir/ Pimoyᶠᵃⁿⁿʸ


...Sudah ada juga audiobook nya ya, jadi jangan lupa mampir bagi yang nggak sempet baca bisa dengerin audiobooknya dengan pimoy sebagai pengisi suara. ...


...****************...


...📖 Sebelum membaca,...


...Jangan lupa klik like, vote dan rate....


...Kasih komentar yang positif agar semangat menulis....


...(Cerita ini kupersembahkan untuk teman-teman ku KKN-PPM19~ nama, tempat, waktu kejadian disamarkan)...


...Happy Reading...


...----------------...


Hari itu, ada serombongan mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Jawa timur. Mereka sedang melakukan perjalanan menuju ke sebuah desa terpencil. Rombongan tersebut akan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), di sebuah desa terpencil bernama Desa Sumber Kantil. KKN mereka adalah KKN pilihan dari kampus. Yang mana selama mereka melakukan KKN, biaya hidup mereka akan ditanggung oleh pihak kampus. Sebagai gantinya, mereka akan melaksanakan setiap kegiatan di desa tersebut sesuai dengan tugas yang telah disusun oleh pihak kampus.


Rombongan mahasiswa itu terdiri dari 18 mahasiswa terbaik dengan nilai IPK yang tinggi dari berbagai jurusan yang ada di kampus. Mereka terdiri dari 6 mahasiswi dan 12 mahasiswa. Delapan belas orang ini adalah mahasiswa mahasiswi pilihan dari setiap program studi mereka. Ada yang menjabat sebagai Presiden Mahasiswa (Presma), Ada Ketua Senat Mahasiswa, dan beberapa diantaranya adalah ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan).


Sebelum melakukan perjalanan ke tempat KKN. Terlebih dahulu mereka dikumpulkan oleh pihak kampus untuk menentukan struktur organisasi kecil mereka nanti. Dan dalam rapat itu tersusun jabatan setiap anggota KKN. Abian yang saat itu berkedudukan sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) lah yang ditunjuk sebagai ketua kelompoknya.


Kini kedelapam belas mahasiswa tersebut sedang berada di sebuah bus mini yang mengantarkan mereka ke desa, tempat mereka akan KKN. Meski desa yang mereka tuju tersebut cukup terpencil. Namun mereka justru menikmati perjalanannya. Mereka menyanyi dengan ceria, bercanda dan penuh gelak tawa terjadi di dalam bus.


Butuh waktu sekitar empat jam untuk mereka sampai di lokasi yang mereka tuju. Memang lokasi mereka itu jauh dari kota. Kendaraan mereka harus melewati lereng pegunungan yang curam dan cukup berkelok-kelok perjalanannya. Inilah awal kehidupan anak-anak kota di sebuah desa yang cukup jauh dari kota tempat mereka tinggal. Akan tetapi ada tiga mahasiswa yang mengendarai sepeda motor mengikuti bus di depannya. Mereka membawa kendaraan tersebut bermaksud agar nantinya di desa mereka memiliki kendaraan untuk memudahkan kegiatan selama di sana.


Selama perjalana mereka melihat hamparan sawah, ladang tebu dan rumah-rumah warga desa yang jaraknya cukup jauh antara satu dengan yang lain. Belum lagi jalanan yang masih banyak batu-batu padas. Hal itu menjadi pemandangan baru bagi mereka.


"Aku sudah observasi tempatnya, aku juga sudah bertemu dengan pemilik rumahnya. Di sana fasilitasnya masih lumayanlah untuk kita," kata Abian, ketua kelompok tersebut menjelaskan tentang lokasi yang akan mereka tuju kepada anggotanya.


Sesampainya mereka di desa tersebut, mereka menuju ke salah satu rumah warga yang dimaksud oleh Abian tadi.


Pak Kasno, pria paruh baya dengan pakaian batik motif mega mendung itu sedang duduk di teras rumah yang cukup besar. Pria tersebut seperti sudah menunggu kedatangan rombongan mahasiswa kota yang akan KKN di desanya tersebut.


Kedatangan Abian dan kelompoknya disambut dengan ramah oleh pak Kasno, bukan hanya itu, teh panas dan pisang goreng pun sudah di siapkan untuk mereka. Dan sambutan Pak Kasno itu membuat hati para mahasiswa senang karena pemilik rumah cukup ramah akan kedatangan mereka.


Pak Kasno, beliau sungguh cakap dan berwibawa. Dia cepat menyesuaikan diri dengan Abian dan juga anggota kelompoknya. Pak Kasno ternyata adalah mantan Kepala Desa di desa tersebut. Sehingga Pak Kasno benar-benar informan yang tepat untuk para mahasiswa tersebut melakukan penelitian.


Pak Kasno juga memberikan penjelasan kepada Abian dan kelompoknya tentang kondisi desanya tersebut. Sebagai mantan kepala desa tentu saja Pak Kasno menguasai betul kondisi yang ada di desanya itu.


Abian dan kelompoknya mendengarkan dengan seksama penjelasan dari tuan rumah yang tempat tinggalnya akan mereka sewa selama satu setengah bulan tersebut. Karena bagaimanapun mereka adalah orang baru alias pendatang di Desa Sumber Kantil. Jadi mereka tidak mau bertindak yang menyalahi aturan di sana. Mereka sudah diwanti-wanti oleh pihak kampus untuk menjaga tata krama selama di sana.


"Bagaimanapun kalian berada di desa orang lain. Ada adat istiadat yang harus kalian jaga selama di sini. Kalian adalah tamu tetapi bukan berarti kalian bisa sewenang-wenang. Jaga nama baik almamater kalian. Kami menitipkan amanah ini kepada kalian semua,"pesan salah satu dosen yang ikut mengantarkan kedelapan belas mahasiswa itu ke desa Sumber Kantil.


"Siap pak,"sahut mahasiswa itu dengan kompak.


......................


Sore itu, tepat lima hari mereka tinggal di Desa Sumber Kantil. Fany dan Ayu tengah asyik berbincang di teras rumah membahas hasil kerja mereka, tiba-tiba keduanya di dekati oleh Fendy.


"Fan, Yu, semalam siapa yang di antara kalian lari ke kamar mandi pakai mukena warna putih?" tanya Fendy memotong pembicaraan kedua cewek tersebut.


"Aku enggak tu, semalam belum ada jam sepuluh aku dah tidur," jawab Fany enteng.


"Sama, aku juga dah tidur, emang kenapa Fen?" tanya Ayu penasaran.


Setelah mendengar jawaban Fany dan Ayu, wajah Fendy terlihat putih pucat, dia tampak syok.


"Serius?" tegas Fendy, seakan tidak percaya dengan ucapan kedua cewek dihadapannya.


Fany dan Ayu mengangguk mengiyakan.


"Aku sudah tanya ke anak-anak yang lain, mereka juga sama, mereka gak keluar kamar, trus yang semalem aku liat siapa dong?" jelas Fendy dengan suara bergetar.


"Memangnya ada apa sih, Fen?"tanya Fany penasaran.


"Iya, kok dari nada bicaramu sepertinya ada yang aneh?"Ayu ikut penasaran dibuatnya.


"Jadi begini Fan, Yu, aku semalam sakit perut dan membuatku bolak balik ke kamar mandi. Tapi saat aku hendak ke kamar mandi lagi. Aku melihat seseorang memakai mukena putih berlari dari arah kamar cewek menuju ke kamar mandi. Lah, itu membuatku tidak jadi ke kamar mandi. Aku menahan sakit perut ku sampai aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku terpaksa mendatangi kamar mandi karena cewek itu tak juga kunjung kembali. Tapi anehnya, setelah aku ketuk sekian lama ternyata kamar mandi itu kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana,"ujar Fendy.


"Apa? Beneran nggak ada siapa-siapa, Fen?"tanya Fany cukup terkejut.


"Iya beneran, aku sudah cek kemana-mana tidak menemukan siapa-siapa. Dan aku tadi seharian bertanya kepada teman-teman yang cewek. Pernyataan mereka sama juga dengan kalian, terus yang semalam siapa???"ujar Fendy sampai terus bertanya-tanya siapakah yang semalam memakai mukena berwarna putih.


"Jangan-jangan......"


"Hust!!"ujar Ayu menghentikan ucapan Fendy.


"Jangan mikir yang macem-macem!"tegur Ayu kepada Fendy karena takut akan menjadi ketakutan bagi teman-teman nya yang lain.


"Anggap saja itu hanya halusinasi saja,"ucap Ayu.


"Ya, sih, daripada nanti teman-teman panik,"sahut Fany. Fendy pun mengikuti saja pendapat dari kedua temannya tersebut.


Semoga saja itu hanya halusinasi ku saja.


...----------------...


Fendy, Ayu dan Fany sudah sepakat untuk tidak lagi membahas kejadian yang dialami oleh Fendy. Mereka tidak ingin ada kecemasan diantara teman mereka yang lain.


Pagi itu Abian membagi rekan-rekannya menjadi 2 kelompok. Kelompok A diketuai oleh Mifta. Kelompok A ditugaskan untuk membersihkan gudang dan alat-alat untuk membuat tiwul instan. Ya, tugas mereka di desa itu adalah memproduksi tiwul instan yang pernah diproduksi oleh tuan rumah, tempat mereka tinggal KKN. Pak Kasno pernah memproduksi tiwul instan itu tetapi sempat vakum. Dan kedatangan para mahasiswa itu di sana adalah membantu memproduksi kembali dan memasarkan tiwul instan itu ke kota.


Setelah apel pagi, kedua tim itu pun mulai melaksanakan tugas yang sudah mereka bagi. Tim A sudah lebih dulu pergi ke gudang untuk beres-beres bersama dengan Mas Aan, putra kedua dari Pak Kasno.


Sedangkan tim B berangkat ke ladang bersama dengan Pak Kasno. Mereka sudah dibekali dengan peralatan untuk memanen singkong. Selama ini mereka selalu hidup di kota yang penuh sesak dan padat polusi. Begitu mereka sampai di desa yang masih sangat sejuk itu membuat mereka selalu mengabadikan momen-momen yang mereka temukan di sana.



Jalanan di sana juga masih belum teraspal dengan baik. Rumah-rumah penduduk juga masih bangunan yang sederhana. Masih banyak area yang ditanami pohon-pohon.


"Wah, sejuknya ya tinggal di sini,"ujar Ayu yang ikut dalam kelompok B.


"Ya sih, cuma dingin dan jam segini matahari sepertinya belum begitu panas ya, nggak seperti di kota,"ujar Fany yang masih setia menggunakan jaketnya.


"Astaga, fan, kamu ini ikutan panen kenapa malah pakai jaket segala,"gerutu Fendy yang berjalan di depan kedua cewek itu.


"Heh! Dingin tau, aku ini agak alergi sama dingin, gampang masuk angin,"ujar Fany sambil menepuk punggung Fendy.


"Kalian berdua ini nggak ada akurnya ya, rame terus,"sahut Abian, ketua kelompok yang merasa terganggu dengan keributan anggotanya.


"Bukan begitu ketua, ini sepertinya ketua salah ajak anggota, dia masih ingin tidur ketua. Tidak niat untuk panen. Masak ikutan panen pakai jaket dan sedari tadi malah foto-foto saja kerjanya,"kata Fendy melaporkan kegiatan yang sedari tadi dilakukan oleh Fany.


"Haduh, nggak kaget sudah kalau itu kelakuan si Fany. Jangan-jangan kamu semalam yang nangis-nangis ya, fan?"tanya Abian kepada Fany.


"Lah, apa hubungannya dengan aku. Mana ada, aku sudah tidur semalam, tanya ayu neh,"kata Fany yang tidak terima dengan tuduhan si ketua.


"Halah, ngaku aja deh, semalam itu kedengeran suara cewek nangis-nangis begitu. Sampai si Koko juga dengar. Eh, ko, kamu juga dengar kan semalam ada suara cewek nangis, ya kan?"tanya Abian kepada Koko mencari dukungan.


"Eh, iya ketua benar. Semalam aku dan ketua giliran jaga tuh, jam setengah 2 malam kita kedengeran suara cewek nangis-nangis, ternyata itu kamu, ya, Fan,"ujar Koko kepada Fany.


"Ya ampun, mana ada? aku ini bukan cewek yang suka buang air mata deh,"ujar Fany kesal karena dituduh oleh kedua temannya.


"Lha kalau bukan kamu siapa lagi. Kamu kan yang paling manja diantara kita semua. Anak mama banget gitu, kan,"ledek Fendy.


"Anak mama, gundulmu!!!" teriak Fany sambil memukul kepala Fendy.


Gelak tawa pun terdengar melihat perilaku Fany yang sedang menghajar Fendy.


"Eh, sudah-sudah, Fan, sudah!"ujar Abian melepaskan pukulan Fany dari si Fendy yang sudah minta ampun sedari tadi karena amukan si Fany.


"Haduh!!! Gila kamu ya, Fan. Ngamuknya udah kayak singa betina aja dah. Aku dicakarin lho, masyaallah,"ujar Fendy yang melihat bekas luka cakaran dari si Fany.


"Biar tahu rasa deh, ngajak ribut Mulu sedari tadi dah,"sahut Si Fany yang masih kesal. Abian pun menenangkan keduanya.


"Sudah, sudah, jadi kayak anak kecil saja kalian ini deh, kita lagi ditempat orang, malu tuh kalau sampai pak Kusno mendengarnya,"ujar Abian menunjuk ke arah Pak kusno yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Lah, Pak Kusno sudah sampai saja disana. Cepat sekali jalannya,"ujar si ayu yang terheran-heran melihat pak Kusno sudah lebih dulu jalan di depan.


"Ya, kita sedari tadi bercanda mulu,"sahut Koko.


"Eh, tapi emang bener ya kalau semalam ada suara cewek nangis?"tanya si Ayu penasaran setelah mendengar ucapan Abian.


"Iya, ayu, beneran, Koko juga dengar tuh. Suara itu berasal dari kamar cewek. Aku tanya Sisil, Mita dan Devi, mereka bertiga kompak mengatakan tidak. Ya sudah, aku pikir pasti dari kamar kalian. Pastinya si anak cantik satu ini nih,"ujar Abian sambil mencolek lengan Fany yang sedang mode juteknya keluar.


"Hilih, nuduh orang kok sembarangan. Aku malah semalam sudah ngorok. Tanya itu si Ayu. Kalau nggak percaya juga tanya sama Merlin deh. Kita bertiga sudah berangkat tidur jam sepuluh malam. Udara sedingin itu juga di sini ya kan,"kata Fany menerangkan.


"Benar juga kata Fany, emang nggak ada yang nangis di kamar kita. Kalau ada pastinya kita yang satu kamar juga dengar dong,"bela Ayu membenarkan ucapan dari si Fany.


"Nah, tuh, aku nggak bohong kan, dan aku sebel deh sama ucapan kalian barusan. Aku bukan anak semanja itu juga tauk!"ujar Fany kesel dengan tuduhan teman-temannya.


"Ya maaf Fan kalau begitu, aku juga semalam kepikiran kamu sih yang nangis waktu itu,"ujar Abian.


"Lain kali nuduh orang pakai bukti dong,"sahut Fany dengan tatapan kesal ke arah ketua kelompoknya.


"Iya, iya, maaf ya,"ujar Abian meminta maaf kembali.


"Iya, aku juga minta maaf Fan,"ujar Fendy yang masih merasakan sakit akibat cakaran Fany tadi.


"Iya udah,"sahut Fany singkat.


"Terus kalau bukan di Fany, siapa dong yang semalam nangis dari arah kamar para cewek?"tanya Koko sekarang mulai membuat mereka berpikir-pikir siapakah suara cewek yang menangis secara misterius itu.


"Mungkinkah ada hantu di rumah itu?"celetuk Fendy yang mulai merasa ngeri.


"Fen.....udah deh, jangan mulai lagi,"sahut Ayu.


"Lha habisnya ini kejadian kedua yang terjadi yu,"perkataan Fendy ini sukses membuat Abian dan juga Koko menjadi terkejut.


"Kejadian kedua? maksudmu apa Fen? pernah terjadi apa memangnya sebelumnya?"tanya Abian penasaran setelah mendengar ucapan Fendy barusan.


Fendy, Fany dan Ayu pun saling pandang dibuatnya. Mereka masih menimbang apakah mereka harus menceritakan kejadian kemarin kepada Abian dan juga Koko.


"Kita akan bercerita sambil jalan saja, bagaimana?"ujar Fendy.


"Baiklah,"sahut Abian.


Mereka pun berjalan menyusul pak Kasno dan juga beberapa rekan mereka yang sudah lebih dulu ke ladang milik Pak Kasno. Abian dan Koko tidak menyangka jika sudah pernah ada kejadian yang terjadi sebelum kejadian yang menimpa mereka berdua malam kemarin.


"Sepertinya ada yang aneh,"sahut Abian.


"Ya, aku merasa juga ada yang aneh dengan rumah itu,"ujar Fendy.


----------------


👻 to be continued KKN Desa Sumber Kantil ~ 3