
LANJUT YUK KA
JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG DENGAN LIKE, KOMEN DAN JADIKAN FAVORIT YA KA
TERIMAKASIH 😊
SELAMAT MEMBACA
*****
Hari kemenangan tinggal menghitung jam, Natasya sibuk membantu ibunya membuat berbagai kue lebaran. Rumahnya pun selalu ramai karena banyak santri yang berkunjung serta sanak saudara.
Takbir menggema, kemeriahan tercipta disetiap sudut bumi. Gelak tawa pun ikut meramaikan hari kemenangan. Suka cita tergambar disetiap raut wajah.
........
Pagi itu Natasya telah bersiap dengan mengenakan dres panjang berwarna purple dibalut dengan hijabnya yang senada. Natasya keluar kamarnya menghampiri kedua orang tuanya untuk bersimpuh memohon maaf kemudian dilanjutkan dengan berjalan bersama menuju masjid untuk melaksanakan sholat sunah.
Dari malam sampai siang tak hentinya para sanak saudara dan santri berkunjung ke rumah Natasya. itu menjadi hal wajar karena ayahnya memang pemilik pesantren.
Kali ini Natasya tak banyak membantu ibunya di rumah karena hanya menerima tamu dan berbincang-bincang, lain dengan kemarin-kemarin yang disIbukkan membuat berbagai kue dan makanan.
Natasya memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan menikmati hangatnya hembusan angin siang yang mulai berganti senja di pendopo.
Matanya menatap lurus kearah danau yang ada didepannya. Natasya memperhatikan daun dan air yang bergerak perlahan diterpa angin. Kicauan burung pun menemaninya di pendopo itu.
“Mbaaaaaa” getak Iqbal dari belakang Natasya
“Astagfirullah” ucap Natasya yang kaget
“Hahaha kaget ya” Iqbal tertawa melihat kakanya terkejut
“Untung gue gak punya jantung” balas Natasya
“Iya selain gak punya jantung mba juga gak punya hati hahaha” ucap Iqbal yang duduk disamping Natasya
“Kurang ajar loe, maksud gue penyakit, ngapain loe kesini?” tanya Natasya
“Hahaha, mba gak mau minta maaf sama Iqbal? Mba banyak dosa loh sama Iqbal” balas Iqbal
“Idih, sok paling bener loe sekarang, loe yang banyak dosa sama gue” ucap Natasya
“Iqbal sih gak nakal kaya mba ya" balas Iqbal
"Mba...” lanjut Iqbal memanggil Natasya dengan nada lembut
“Apa?” balas Natasya yang melirik adiknya
“Mba tatap Iqbal” Iqbal yang memegang kepala Natasya dengan kedua tangannya dan menatap dalam Natasya
“Hahaha ternyata benar” Iqbal tertawa melepaskan kakaknya
“Apanya yang benar?” tanya Natasya
“Hahaha kepo deh. Mba aku minta maaf ya ini benar-benar dari lubuuukkkkk hati aku terdalammmmmm” balas Iqbal
“Ihhhh lebay loe” Natasya menaikkan alisnya satu dan memasang mimik jijik melihat adiknya yang sepeti itu
“Yehhh Iqbal serius mba, mba gak mau maafin Iqbal?, mba... ketika ada seseorang meminta maaf lebih baik kita memaafkan sebagaimana dijelaskan dalam kita.....b” ucap Iqbal yang terhenti
“Stop stop stop. Loe mau ceramah atau minta maaf?. Gue udah maafin loe” balas Natasya menghentikan perkataan Iqbal
“Hahaha terimakasih mba” ucap Iqbal memeluk Natasya dari sampingnya
“Ihhhh loe ini kenapa?” Natasya melepaskan tangan Iqbal yang memeluknya
“Mba nih sama adeknya sendiri gak mau dipeluk” ucap Iqbal
“Loe gak malu, udah gede meluk-meluk gue? Kalau waktu loe kecil gue gak masalah” balas Natasya
“Ngapain Iqbal malu? mba toh mbanya Iqbal” ucap Iqbal
“Gue yang lebih malu” balas Natasya
“Hahahaha mba takut dikira Iqbal cowonya mba ya? Terus gak ada yang deketin mba, tenang mba ka Adrian tau kok kalau kita adek kakak” Iqbal tertawa
“Kenapa loe bawa-bawa si burung hantu!” ucap Natasya yang heran melihat adiknya tertawa puas
“Upsss gak apa mba” Iqbal menutup mulutnya
Natasya memalingkan wajahnya dari Iqbal dan kembali menatap kedepan
“Mba ka Adrian tuh baik ya, Iqbal dibantuin terus waktu kemarin ujian itu. Ka Adrian tuh udah ganteng, tinggi, kaya, baik, pinter, 10 12 lah sama Iqbal hehe” Iqbal mendeskrisikan Adrian
“Loe ini kenapa, obatnya abis ya?” tanya Natasya melihat Iqbal
“Iqbal lagi kangen sama ka Adrian. Mba gak rindu apa sama ka Adrian?” jawab Iqbal
“Katanya lebaran mau kesini udah sore gini ka Adrian gak dateng, Mba apa ka Adrian masih di Amrik, atau terjadi sesuatu ya disana?” lanjut Iqbal
“Mana gue tau” balas Natasya bangkit dari duduknya
“Mba mau kemana?” tanya Iqbal yang melihat Natasya berjalan keluar pendopo
“Balik” jawab Natasya singkat dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Iqbal yang masih duduk di pendopo.