
LANJUT YUK KA
JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG DENGAN LIKE, KOMEN DAN JADIKAN FAVORIT YA KA
TERIMAKASIH 😊
SELAMAT MEMBACA
*****
Sandra yang mendengar itu marah karena memang benar ialah yang merekcanakan itu semua. Kemudian ia berkata pada Natasya
“Eh gadis ganjen, loe gak terima ka Adrian suka sama gue hah?. Gue tau loe pada iri sama gue, secara gue emang cantik dan gue peringatin loe Natasya JANGAN DEKETIN KA ADRIAN, SADAR DIRI LOE”. Sambil menunjuk Natasya dan mendekatkan mukanya seakan ingin memangsa Natasya
“Eh kalem... gak usah main tunjuk-tunjuk gitu, dan sok kecakepan” ucap Rara berdiri menangkis tangan Sandra, yang memang sedari tadi kesal ditambah sikap sombongnya Sandra dan perlakuan kepada Natasya yang membuat Rara geram.
“Yang harusnya sadar diri itu loe bala-bala, sok KECANTIKAN. Makanya bawa kaca tuh yang gede biar jelas muka loe tuh kaya apa” timpal Alika yang merasa kesal juga.
“Apa? Loe ngatain gue bala-bala? Eh anak Mamih gak usah ikut-ikutan” Sandra mendorong kepala Alika dengan telunjuknya
“Syuuutttt gak usah pake telunjuk loe ini, jika digunakan hanya untuk menyakiti orang. Loe masih mau telunjuk loh berada diposisinya atau mau gue kirim ke kuburan?” Natasya berdiri dari tempat duduknya dan memegang telunjuk Sandra kemudian meletakkannya dibibir Sandra
“Lepasin tangan gue” ucap Sandra meringis karena genggaman tangan Natasya
“Nah sudah gue lepasin” Natasya membuang tangan Sandra dengan wajah songongnya
“San mending kita ke lapangan Futsal saja yuk” ajak Ririn dan Pipit yang ketakutan melihat Natasya menatapnya tajam
“Awas loe” ucap Sandra berlalu pergi meninggalkan Natasya dengan wajah meringisnya
“Hemmm tenang Natasya Putri” Natasya menghembuskan nafasnya yang berat dan menepuk nepuk dadanya untuk menenangkan dirinya.
Rara dan Alika yang melihat Natasya seperti itu menenangkan Natasya yang hampir lepas kendali mematahkan tangan orang.
Banyak pasang mata memperhatikan pertengkaran Natasya dan Sandra tapi tidak ada yang berani melerainya karena mereka tau pasti urusannya dengan kesiswaan.
Tanpa mereka sadari sepasang mata melihatnya dengan geleng-geleng kepala sambil bergumam dalam hatinya
“Gila gak nyangka, si gadis pujaan para pria disekolah ini seberani itu” setelah melihat kejadian itu Adrian berlalu menuju lapangan futsal.
“Ngapin loe pada liatin kita kaya gitu? Nih mangkok kasih ke bu kantin” ucap Rara yang melihat teman kelasnya masih pada mematung.
Dua orang dari mereka pun mengambil mangkuk itu dan mengembalikan ke ibu kantin. Setengah
siswa di kelas itu berada di lapangan untuk menyaksikan pertandingan futsal yang sangat sengit ditambah Adrian yang sedang ikut bermain disana menambah teriakan para siswi semakin histeris.
Natasya, Rara dan Alika masih duduk didalam kelas, ketika mendengar teriakan GOALLLLL ..... HABISIN HABISIN HABISIN disertai tepukan dan pukulan tangan siswa lain membuat mereka penasaran dan ingin melihat. Natasya Rara dan Alika berjalan
menuju lapangan dan duduk diantara siswa lain yang menonton, nampak geng bala-bala berada di barisan paling depan.
Pertandingan telah usai dan dimenangkan oleh team Adrian dari IPS. Selang beberapa menit bel sekolahpun berbunyi. Para siswa mulai menuju parkiran dan beberapa siswa sudah mengumpul di ruang osis.
“Sya ikut kumpul gak?” tanya Rara yang masih duduk bersama kedua sahabatnya itu
“Ayo lah Sya kumpul aja” Alika menggoyang-goyangkan tubuh Natasya dan memasang wajah memelas membuat Natasya tidak tega
“Hmmmmm A...” ucapan Natasya terhenti karena ia medapat pesan masuk.
Natasya membuka pesannya ternyata dari pak Yusuf yang meminta Natasya pulang lebih cepat karena harus menggantikan Ibunya yang sedang berkunjung ke krabat untuk mengajar di pesantren, hal ini sudah biasa dilakukan Natasya jika harus menggantikan ustad, ustadzah mengajar di pesantrennya.
“Al, Ra gue minta maaf harus pulang duluan, soalnya harus gantiin Umi ngajar. Ini kumpulan gak wajib juga kan hehe” lanjut Natasya
“Yahhh masa loe gak ikut Sya” Alika memanyunkan mulutnya
“Jangan manyun gitu dong jelek tau, Alikaku sayang... nanti kasih tau ya pembahasannya apa aja ” ucap Natasya sambil mencubit pipi Alika
“Auuuu ia Sya... pasti kita kasih tau, kuy ambil tas dulu” balas Alika yang mengerti kondisi Natasya.
Mereka mengambil tas di kelasnya kemudian menuju ruang osis, ditengah jalan Rara dan Alika berpisah dengan Natasya yang mengambil arah ke parkiran.
“Take care Sya....” ucap Alika dan Rara melambai tangan ke Natasya
“Oke, Assalamu’alaikum” balas Natasya yang berbalik arah melihat kedua sahabatnya dan membalas lambaian tangan mereka
“Wa’alaikumsalam, Sya A.....” jawab Alika dan Rara berbarengan yang melihat Natasya hendak menabrak seseorang
Bruggghhh
Natasya terjatuh ketika menabrak seorang pria
“Upsss” Alika dan Rara langsung menghampiri Natasya
“Loe gak papa?” tanya seorang pria yang menyodorkan tangannya seraya membangunkan Natasya
“Hiyakkkkk Burung hantu, lepaskan tangan gue” Natasya meraih tangan itu dan syok ketika melihat ternyata tangan yang ia raih adalah tangan Adrian.
Adrian pun melepaskan tangannya
“Auuuuhhhhh dasar Burung hantu, tega banget loe” ucap Natasya yang terjatuh kembali
“Bukannya minta maaf malah menghina, sepertinya loe seneng ya nabrak gue” ucap Adrian yang berjongkok mendekati Natasya dengan senyumnya yang tak Natasya ketahui apa maksud dari senyumannya itu, kemudian Adrian berlalu pergi begitu saja tanpa membantu Natasya berdiri.
“BURUNG HANTU SIALAANNN, kan gue jadi dua kali jatuh” teriak Natasya.
Rara dan Alika pun membantu Natasya berdiri. Kemudian setelah itu Natasya pergi dari sekolah menuju pesantren, Rara dan Alika masih kumpul di ruangan osis. Pukul 15.30 wib Rara dan Alika pulang dari sekolah menuju rumah masing-masing.
Di tempat lain dengan waktu yang sama Natasya selesai mengajar tahfidz dan seperti biasa ia lanjut mengerjakan hal lain di rumahnya.