Wa'Alaikum Salam Mei

Wa'Alaikum Salam Mei
Episode 16



LANJUT YUK KA


JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG DENGAN LIKE, KOMEN DAN JADIKAN FAVORIT YA KA


TERIMAKASIH 😊


SELAMAT MEMBACA


*****


Malam hari sekitar pukul 21.00 Alika mengajak Rara dan Natasya untuk video call, disana mereka berbincang dan membahas kumpulan osis tadi yang membicarakan program ramadhan tahun ini. Hanya ada satu tambahan program yaitu buka bersama bareng alumni.


“Eh bentar ini acara berapa hari?” tanya Natasya


“Tiga hari Sya seperti biasa, dengan jadwal jam delapan mulai dan di jam sebelas selesai. Dua hari digunakan untuk tambahan materi keagamaan dan satu hari kita ke panti asuhan terdekat seperti biasanya” jawab Rara


“Oh ok ok, kan kalau gitu gue bisa ngatur jadwal program ramadhan yang di pesantren juga” balas Natasya dengan menulis  beberapa agenda ramadhannya, kemudian ia menyadari tambahan program ramadhan disekolahnya


“Al, Ra. Itu yang buka bersama alumni siapa yang mengusulkan?”


“Kakak ganteng kebangetan lah siapa lagi kalau bukan..... ka ADRIAN” jawab Alika kemudian menyebutkan nama Adrian kompak dengan Rara.


"Hemmm ya ya ya gantengan kebangetan bagi yang minus, itu dari angkatan berapa yang di undang?” Natasya bertanya lagi


“Ah loe banyak tanya Sya, kenapa gak nitip tadi aja sih pas kumpul” jawab Alika


“Mana gue taulah kupret, jadi berapa angkatan yang di undang?” Natasya menanyakan kembali pertanyaannya


“5 atau 3 tahun terakhir ah gua lupa, mending loe tanya ka Adrian aja Sya” ucap Alika


“Males banget gua nanya sama Burung hantu. Eh si Rara kemana ini tidur apa dia?” Natasya menanyakan keberadaan Rara yang tidak nampak di layar vcall


“Gua disini” jawab Rara dengan nada khas orang mengantuk


“Ya udah, karena udah pada setengah melayang, met bobo cayang cayangku assalamu’alaikum” ucap Natasya


“Wa’alaikumsalam” jawab Alika dan Rara kompak kemudian mematikan vcallnya


Setelah menutup vcall bersama kedua sahabatnya Natasya masih disibukkan dengan membuat jadwal ramadhan di pesantrennya.


Di rumah Adrian


Adrian sedang duduk diteras kamarnya sambil menikmati sejuknya angin malam dan membayangkan wajah Natasya yang siang tadi menabraknya


“Natasya Putri... benar-benar cantik dan natural” ucap Adrian yang senyum-senyum membayangkan Natasya ditengah kesendiriannya


“Ahhhhh pasti gue udah gila, kenapa memikirkan si gadis Banteng itu, apa istimewanya dia” gumamnya lagi


“Siapa yang istimewa Yan?” tanya bu Lina yang menghampiri Adrian di teras kamarnya


“Bunda sejak kapan berada di kamar Adrian?” Adrian balik bertanya, memastikan bahwa Ibunya tidak mendengar nama Natasya.


“Baru saja, lagian dari tadi Bunda panggil gak turun-turun kamu, ternyata sedang membayangkan seorang” sahut bu Lina dengan senyum yang menggoda putranya


“Apa Bunda mendengar nama seorang yang Adrian ucapkan?” tanya Adrian yang semakin gugup dan malu


“Emmm gak ko” jawab bu Lina dengan menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri


“Bun... jagan bohong” seru Adrian


“Emangnya siapa Yan yang menjadi istimewa dihatimu itu?” suara bu Lina setengah berbisik kemudian duduk disamping Adrian


“Gak ada Bun” Adrian menjawab singkat tanpa melihat ibunya


“Natasya kan yang kamu maksud itu” suara bu Lina masih setengah berbisik di telinga Adrian


Adrian membulatkan matanya karena terkejut mendengar nama Natasya dan melihat ke arah Ibunya yang sedang duduk disamping


“Kenapa? Tebakan Bunda benar ya?” ucap bu Lina yang memang hanya menebak tapi dia yakin yang sedang dipikirkan Adrian adalah Natasya karena ia mendengar Adrian menyebut si gadis Banteng yang membawa bu Lina pada moment makan malam di rumah pak Yusuf.


Adrian masih diam tak menjawab pertanyaan Ibunya dengan menatap langit malam


“Sudah makan yuk, Ayah menunggumu dari tadi” lanjut bu Lina yang mengajak putranya itu turun.


Adrian berjalan di belakang ibunya dan duduk di meja makan serta menyantap makan malamnya tanpa suara kecuali sendok dan garpu yang beradu.