Wa'Alaikum Salam Mei

Wa'Alaikum Salam Mei
Episode 12



LANJUT YUK KA


JANGAN LUPA UNTUK TERUS DUKUNG DENGAN LIKE, KOMEN DAN JADIKAN FAVORIT YA KA


TERIMAKASIH 😊


SELAMAT MEMBACA


....


“Zah, kita mau kemana? Dan ada apa?” tanya Natasya ditengah perjalanan mereka menuju suatu tempat


“Mau ajak mba ke pendopo, ada yang ingin di bicarakan mba” jawab Azizah yang berjalan disamping Natasya


“Tentang apa?” tanya Natasya kembali


“Nanti juga mba tau ko, sabar mba hehe” Azizah terus berjalan menuju pendopo yang paling ujung.


Natasya yang diajaknya ke pendopo ujung menyadari tempat ini biasanya digunakan oleh ustad Mahmud tapi ia tak ambil pusing karena itu tempat umum, mungkin memang Azizah ingin kesana saja.


Sesampainya di pendopo


“Zah... mau bilang apa?” Natasya duduk di pendopo bersama Azizah


“Bentar ya mba” jawab Azizah yang duduk di depan Natasya dan mengeluarkan ponselnya


Natasya hanya menjawab “hemmm”. Kemudian melihat Azizah seperti mengirim pesan pada seseorang


“Zah... apa ada yang ditunggu?” tanya Natasya lagi


“Hehe sebentar ya mba” jawab Azizah


“Zah... mba tanya apakah ada yang ditunggu lagi, katanya tadi ada yang ingin dibicarakan” Natasya merasa aneh dengan tingkah azizah yang seakan mengharapkan kehadiran seseorang.


“Ia mba memang ada yang ingin dibicarakan tapi bukan Azizah yang akan menyampaikan” jawab Azizah


“Lalu siapa?” tanya Natasya, kemudian terdengar ucapan salam dari seorang pria


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam, ini mba yang akan menyampaikan” jawab Azizah sigap dan berpindah posisi duduk disamping Natasya.


“Kenapa salam saya tidak dijawab Sya?” tanya ustad Mahmud


“Wa’alaikumsalam ustad, ada apa ustad kemari?” jawab Natasya yang kemudian sedikit memiringkan tubuhnya agar tidak berhadapan dengan ustad Mahmud.


“Tidak ada apa-apa, saya hanya ingin memberikan ini secara langsung dengan Natasya” ucap ustad Mahmud dengan menyodorkan kotak hadiah kepada Natasya


“Apa ini ustad?” tanya Natasya


“Bingkisan kecil dara saya untuk mu” jawab ustad Mahmud yang masih memandang Natasya


“Apa ini oleh-oleh dari Aceh ustad?” tanya Natasya kembali


“Ia... jangan dibuka disini” jawab ustad Mahmud yang melihat Natasya membolak balik  kotak yang berada didepannya itu


“Natasya Putri...” ucap ustad Mahmud dengan nada lirih yang tiba-tiba terhenti


“Ia ustad, bicara saja” Natasnya menjawab panggilan ustad Mahmud


“Tidak jadi nanti saja. Sebaiknya saya pergi duluan. Assalamu’alaikum” ucap ustad Mahmud dengan senyumnya dan berlalu pergi karena ia menyadari jika berlama-lama akan ada yang melihat mereka dan itu akan menimbulkan fitnah.


“Wa’alaikumsalam” jawab Azizah dan Natasya berbarengan


Ustad Mahmud pergi meninggalkan kedua gadis yang masih duduk di pendopo


“Cie mba” ucap Azizah menggoda dan menyenggol lengan Natasya


“Apa sih Zah” jawab Natasya yang memang tak mengerti yang masih membolak-balik kotak pemberian ustad Mahmud


“Hehe gak mba, Azizah merestuinya jika dengan mba upsss hehe” ucap Azizah dengan cengengesannya dan raut bahagia melihat Natasya dengan ustad Mahmud


“Hmmm udah jangan senyum-senyum gitu, nanti kesambet loh. Mending pulang yuk” ajak Natasya yang berdiri meninggalkan pendopo.


Ketika hendak keluar pendopo hujan menguyur begitu lebat, akhirnya mereka berdua bertahan disana dan Azizah pun berbagi cerita masa kecilnya kepada Natasya, mereka tertawa bersama sampai hujan mulai reda. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan asrama karena sudah maghrib, langkah mereka pun


diiringi dengan gerimis tipis yang setia di sore itu.


Sampai didepan rumah,


Natasya melihat ada mobil mewah terparkir, ia berpikir bahwa teman Ayahnya sudah datang. Natasya pun berbalik arah menuju pintu belakang karena tidak enak harus melewati tamu Ayahnya dengan kondisi ia yang basah karena hujan.


Krekkkk bragggg (suara pintu terbanting)


“Astagfirullah Natasya bikin umi kaget” ucap bu Halimah yang sedang mengambil kue di dapur


“Hehe maaf Mi” jawab Natasya


“Anak gadis tuh yang ayu dikit kenapa, pintu dibanting gitu, dan kenapa basah kuyup?” tanya bu Halimah


“hehe hujan Mi” jawab Natasya singkat dan berlalu ke kamarnya masih dengan pakaiannya yang basah dan sebuah kotak yang ia bawa


“Nanti ke depan ya Sya setelah maghriban” teriak bu Halimah. Natasya hanya menjawab dengan tangannya yang dibentuk ok.


Adrian yang sedang duduk diruang tamu tak sengaja melihat Natasya berlari menuju kamarnya, dan bertanya dalam hatinya “Itu si Banteng bukan ya, ngapain dia disini?”


“Mi...Umi...” panggil pak Yusuf kepada istrinya


“Kita mau ke masjid dulu, sepertinya hujan di luar juga sudah berhenti” lanjut pak Yusuf setelah melihat istirinya datang


“Oh ia Bi... yuk bu Lina kita sholat didalam saja” ajak bu halimah kepada bu Lina yang tak lain adalah ibu dari Adrian.


Pak yusuf, pak Herlambang dan Adrian pergi menuju masjid yang ada didalam pesantren.


Di depan masjid Adrian melihat plang bertuliskan Masjid Darur Rahmah dan ia baru menyadari bahwa pesantren ini adalah pesantren ayahnya Natasya.


“Artinya yang tadi itu benar-benar si Banteng” ujarnya dalam hati. Kemudian Adrian mengikuti kedua orang tua itu memasuki masjid dan sholat.


Selesai sholat mereka kembali ke rumah pak Yusuf, ketika Adrian berjalan bersama, para santri putri tak henti-hentinya memuji ketampanan Adrian. Seperti biasa ia hanya berlalu, dan para santri pun kembali kedalam majlis untuk mengaji setelah di tegur oleh ustadzah.