
"Nah, gini kalem, kan adem," ucap Elgara membuyarkan lamunan Ayra.
Di meja tersebut hanya ada Elgara dan Ayra saja. Astaga, berapa lama Ayra melamun? Sampai ia tak sadar Tomi sudah tidak ada di sini.
"Tubuh lo gak akan adem. Orang di dalamnya setan semua!" ketus Ayra.
Beberapa jam setelah makan bersama. Kini Ayra berjalan bersama Elgara keluar rumah. Kalo bukan Regina yang menyuruh buat apa Ayra mengantar cowok menyebalkan ini ke depan rumah.
"Gue pulang dulu ya, Ra. Thanks, udah bikin darah rendah gue berubah jadi darah tinggi karena sikap lo," ucap Elgara.
"NYEBELIN BANGET SIH, LO, JADI COWOK!" bentak Ayra sembari menendang kaki Elgara.
"Ya udah. Besok-besok gue jadi cewek," ucap Elgara.
Kemudian Elgara menatap Ayra. Semakin lama tatapan itu semakin lekat. Membuat gadis itu menelan saliva nya sulit. Lantaran Ayra tau kemana arah mata laki-laki itu melihat.
Elgara berjalan satu langkah mendekati Ayra hingga jarak keduanya semakin menipis. Elgara membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menyamakan tingginya dengan Ayra. Saat Elgara semakin mendekatkan wajahnya, Ayra mulai memejamkan matanya dan—
Tidak terjadi apa-apa.
Elgara menahan tawanya sembari menatap Ayra yang masih memejamkan mata. Dirasa tak ada apa-apa, Ayra membuka matanya perlahan.
Sontak Ayra terkejut karena Elgara menatapnya sangat dekat. Hampir saja tubuhnya jatuh ke belakang jika Elgara tak menahan pinggangnya.
"Lo berharap apa dari gue tadi?" tanya Elgara membuat Ayra berdiri tegak kembali.
"Cium lo?"
"Mimpi, jomblo!" ketus Elgara sembari menekan jarinya pada kening Ayra dan di akhiri tawaan.
"Sumpah, gue pengen kutuk lo jadi debu! Lagian lo ngapain coba tatap gue kayak gitu, ya gue mikirnya lo mau—"
Elgara mengusap pipi Ayra membuat Ayra kembali mematung. "Gue cuma mau ambil bulu mata lo yang jatoh di pipi," ucap Elgara.
Demi apapun! Ayra malu! Rasanya ingin menghilang saja di dunia ini.
"Lo imut kalo merem. Pas melek amit," ucap Elgara, kemudian membalikkan tubuhnya.
Sebelum Elgara melangkahkan kaki, Ayra menendang pantat Elgara cukup kencang. "Buruan balik! Gue gak terima tamu kayak lo!" bentak Ayra sembari melotot.
Saat Elgara memundurkan motornya. Pandangan Elgara teralihkan pada plat motor di sampingnya. Ia mengernyit sejenak, kemudian segera melajukan motornya keluar gerbang rumah Ayra.
Elgara lupa bahwa tadi ia menyuruh seluruh anak Vanoztra untuk berkumpul di basecamp. Ia menyempatkan untuk datang ke basecamp agar mereka tidak kecewa padanya.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Semalam Ayra tidak bisa tidur. Entah kenapa ucapan dan sikap Elgara terus berputar bagaikan kaset di kepalanya. Sudah dipastikan mood Ayra hari ini akan buruk.
Semalam dirinya kurang tidur. Ditambah pagi-pagi sudah mendapat pesan di grup kelas soal ulangan matematika mendadak hari ini!
"Kali ini bodo amat deh, mau nilai gue berapa juga!" ketus Ayra.
Tatapan Ayra fokus ke depan melihat jalanan. Tepat saat lampu merah, Ayra melirik ke arah jamnya yang tinggal 15 menit lagi jam tujuh, tapi Ayra belum sampai di sekolah.
Tangan Ayra merogoh tas. Benda yang akan di ambilnya tidak ada di dalam tas membuat Ayra mengecek lebih teliti lagi.
"Anjrit! Handphone gue? Ah! Pakai ketinggalan segala sih," ucap Ayra kesal, kemudian melempar tas pada kursi di sebelahnya.
Tangannya kembali meraih tas dan merogoh kembali isi tas tersebut. "Kiko gue juga?! ****!"
"Gini nih, kalo badmood sama satu hal pasti semuanya ikut-ikutan bikin gue badmood!"
Ayra tak ada hentinya mengoceh sendiri. Untung saja kaca mobilnya tidak bisa dilihat dari luar. Coba kalo bisa pasti orang-orang akan mengira Ayra gila.
Setibanya di sekolah. Sudah ada seseorang yang membuat mood Ayra semakin memburuk. Tak mau menanggapi, Ayra melenggang pergi melewati Elgara dan keempat temannya yang mungkin akan menyapanya.
"Pagi, Ra," sapa Mario, walaupun ia tau Ayra tidak akan membalas sapaannya.
"Wangi parfum Ayra bikin gue pengen melon, anjir," ucap Brio.
"El, gue kira kemarin lo magang dulu di hotel sama cewek yang dirampok kemarin," ucap Anggara yang langsung dijitak oleh Elgara.
"Dongo! Ya enggak, lah. Kemarin tuh Mamanya Ayra tau," jelas Elgara.
Ucapan Elgara berhasil membuat keempat temannya menatap serius ke arahnya. "Biasa aja kali lihat guenya, lo pada kayak yang mau terkam gue," ucap Elgara.
"Lah, sumpah?" ucap Brio.
"Kayak yang belum nikah," lanjut Anres.
"Ngaco!" ketus Elgara.
"Yo," panggil Elgara. Mario yang dipanggil pun menoleh ke arah Elgara.
"Lo punya—"
"Punya nih." Mario menyerahkan ponselnya pada Elgara.
Entah darimana Mario tau ucapan yang akan dilontarkan oleh Elgara. Baru saja Elgara akan bertanya soal nomor Ayra, Mario sudah mengerti.
"Anjir lo—heran gue sama lo, Yo. Dapet nomor cewek-cewek SMA Bira dari mana sih?" tanya Brio.
"Lo hacker, ya? Ngeri," tanya Anggara.
"Ada pokoknya. Semua info tentang ciwi-ciwi SMA Bira mah Mario tau segalanya," ucap Mario sembari mengusap-usap dagunya.
"Nih, Yo, thanks," ujar Elgara sembari menyerahkan kembali ponsel Mario.
"Ck! Yang cantik diembat semua. Jadi lo pilih yang mana?" tanya Anres sembari mengangkat alisnya berkali-kali.
Elgara menyeringai, lalu berkata, "Sisanya bukan gue yang embat, mereka yang deketin gue."
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ayra berjalan masuk ke dalam kelas dengan raut wajah datar dan langkah yang lesu. Semua orang yang berada di kelas memasang mata ke arahnya. Begitu pun dengan ketiga sahabatnya.
"Wei, kenapa best friend gue?" tanya Nana yang langsung berjalan menghampiri Ayra sembari merangkulnya.
"Lo kenapa, Ra? Tuh, muka kusut gitu," tanya Maudy dengan pandangan mengikuti langkah Ayra.
Ayra menghela napasnya setelah duduk di kursi. Ia menatap ketiga temannya secara bergantian, kemudian Ayra menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan kedua sahabatnya.
"Enggak. Gue gak apa-apa kok. Cuma sedikit badmood aja. Karena pagi ini ngedadak banget ulangan matematika. Jadi gue kes–"
Brak!
Ketiga cewek ini tersentak. Karena kesekian kalinya Shafira menggebrak meja. Ayra mengusap keningnya bersamaan dengan Maudy.
"Kelakuan lo dakjal banget, Sha! Kaget monyet!" ketus Nana sembari menatap sebal ke arah Shafira.
"Oh ya? Perasaan dakjal gak gebrak meja deh," jawab Shafira dengan ekspresi polosnya.
"Serah lo deh, capek," jawab Nana.
"Tau tuh Pak Raldi. Ganteng-ganteng nyebelin banget tuh guru," ucap Maudy sembari cemberut.
"Yang ganteng emang nyebelin! Kayak si Elgara tuh, kemarin sore gue—"
Ayra mengatupkan mulutnya kembali setelah dirasa ia tak perlu menjelaskan dirinya dan Elgara kemarin. Pastinya kalo ketiga sahabatnya ini tau Ayra dengan Elgara, mereka akan menjodoh-jodohkan atau memaksa Ayra untuk jadian dengan Elgara.
Gak! Jangan sampai hal itu terjadi. kalo Ayra pacaran sama Elgara, kacau semua misinya!
"Gue—gue apa?" tanya Nana sembari mengernyit.
"Kemarin sore, lo ngapain emangnya?" tanya Maudy.
"E—gue kemarin—sore—gue—gue sama—"
Brak!
"SHAFIRAAA! ANAK SETAN!" bentak Nana dengan tatapan tajam.
"S-sorry gengs, refleks hehe," ucap Shafira sembari cengengesan.
Teman-teman di kelas, bahkan guru pun sudah terbiasa dengan sikap Shafira, tapi tetap saja mereka terkejut jika Shafira memukul meja. Ayra menghela napasnya sembari mengusap dada.
"By the way, Na. Ekspresi lo tadi pas marah kok kayak Brio, ya," ucap Ayra.
Baru saja Nana membuka mulutnya, ia membelalakan mata saat melihat Shafira akan menggebrak meja lagi. Serentak ketiga cewek itu menahan tangan Shafira.
"Stop! Jangan bikin gue serangan jantung!" bentak Nana.
"Sekali lagi lo gebrak meja, gue smackdown!" ketus Ayra.
"Gue gorok leher lo, Sha!" ketus Maudy.
Kali ini mereka berhasil mencegah Shafira menggebrak meja. Sepertinya jika mereka mengobrol harus selalu mengawasi tangan Shafira.
Mereka bertiga heran. Sampai berpikir waktu Shafira di dalam perut mungkin Mama nya sering memukul meja sehingga Shafira selalu refleks menggebrak meja.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Adit Sarfudin."
"Hadir Pak!"
"Anggar—"
"Anggara, nama panjang kamu apa?"
"Anggara aja, Pak."
"Oh gitu. Ya sudah Bapak ulangi."
"Anggara aja."
Anggara membelalakkan matanya ke arah guru yang sedang mengabsen dirinya. Serentak seisi kelas tertawa.
"Bukan gitu maksud saya Pak ... buset, dah. Nama saya tuh Anggara gak ada kepanjangannya," jelas Anggara.
"Masa sih, gak ada kepanjangannya? Bapak gak percaya. Cepat kepanjangan kamu apa?"
Anggara menggelengkan kepalanya pelan sembari mengusap dada. Kalo kalian mau tau Pak Dudo ini guru yang superrrrrr menguji kesabaran. Buktinya perihal kepanjangan aja dipermasalahkan.
"Saya gak punya nama kepanjangan, Pak," jawab Anggara masih sabar.
"Bapak gak percaya!"
"Ya Allah ..." ucap Anggara.
"Cepetan nama panjang kamu apa?" tanya Pak Dudo.
"Anggaraaaaaaaa. Puas lo?!" Tuhkan, Anggara yang sering ngebadut aja jadi emosi. Apa kabar kalo Brio yang emosional?
"Heh! Kamu gak sopan, Anggara! Berdiri di depan sampai pelajaran Bapak selesai!"
Anggara semakin banyak mengusap dadanya. Ia mengalihkan pandangan pada keempat temannya yang sedang tertawa begitu bahagia. Bahkan bukan mereka saja, satu kelas pun tertawa.
"Kamu hebat Anggara! Sudah membuat sadboy and sadgirl tertawa bahagia di atas kesialanmu," ucap Anggara sembari menepuk dada kirinya—merasa bangga, kemudian ia berjalan ke depan dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
Akhirnya jam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sebagian anak XII IPA B keluar kelas, sebagiannya lagi tetap berada di dalam kelas. Pasti di atas kepala anak XII IPA B dipenuhi asap. Ulangan matematika tadi membuat otak mereka dipaksa bekerja keras menjawab soal.
"Meledak nih kepala gue, aaa!" ucap Nana.
"Otak gue kapasitasnya gak sampai 1GB. Disuruh ngapalin semua rumus dalam 5 menit, gila!" ujar Maudy.
"Pusing banget sumpah. Lo gimana Ra, gue lihat lo lancar-lancar aja tadi ngerjainnya?" tanya Shafira.
"Lancar your eyes! Gue ngasal semua tadi makanya cepet," jawab Ayra.
Setibanya di kantin, Ayra sudah disuguhi pemandangan yang menyebalkan. Ayra mendelikkan matanya saat tak sengaja matanya bertemu dengan mata Elgara.
"Lo pada mau pesan apa? Biar Shafira yang pesan," tanya Maudy.
"Lah, ngapain gue? Lo aja," jawab Shafira.
"Gantian. Kemarin gue yang pesan," ucap Maudy.
"Ya udah iya! Mau pesan apa lo pada?" tanya Shafira.
"Baso enak deh kayaknya biar pusing gue hilang. Ya udah, gue baso aja sambalnya banyakin," ucap Nana sembari menyerahkan uang.
"Gue juga deh," ujar Maudy.
Tangan Shafira menengadah ke arah Maudy, "Uangnya?"
"Lo yang bayar. Hehe, kali-kali Sha. Kapan lagi traktir gue coba," jawab Maudy sembari tersenyum manis.
"Kali-kali darimana. Berkali-kali yang ada! Ra, lo mau makan apa?" tanya Shafira.
"Baso aja samain kayak Nana," jawab Ayra tanpa melihat ke arah Shafira.
Gadis itu menidurkan kepalanya di atas meja. Membuat sahabatnya bertanya lagi padanya, tapi Ayra menjawab yang sama. Bahwa ia baik-baik saja hanya moodnya yang sedang tidak baik.
"Gara-gara apa sih dia badmood? Kayaknya bukan karena ulangan aja deh," bisik Maudy.
"Gak tau gue juga. Udah deh biarin aja dulu. Gak usah diganggu," jawab Nana yang diangguki Maudy.
Ayra mengendus kecil setelah mencium wangi parfum yang tak asing. Ayra pun merasa ada seseorang yang tengah menatapnya begitu dekat. Perlahan, Ayra membuka matanya.
Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali saat di hadapannya pemilik mata elang tengah menatapnya begitu lekat.
'Dari dekat indah banget mata Elgara. Tatapan ini selalu bikin gue nyaman.'