
Kini anak Vanoztra sudah berada di basecamp. Mereka semua segera membersihkan dan mengobati luka-luka nya. Luka mereka tidak cukup parah hanya luka lebam dan juga goresan akibat belati.
Menyambut kemenangan Vanoztra yang kesekian kalinya mengalahkan Alaskar. Ratusan anak Vanoztra berkumpul di basecamp. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan dengan beberapa makanan dan minuman di meja.
Serta layar putih yang menampilkan sebuah film. Film favorit seluruh anak Vanoztra yaitu Tom and Jerry. Bukan hanya mereka saja yang menyukai film tersebut, begitu pun dengan Oreo si kucing ras hitam putih ini.
"Nah, Oreo! Lo kalo ada tikus–kejar kayak si Tom. Bukannya lo lari terus jadinya tikus yang kejar lo, kebalik!" ketus Mario.
"Malu-maluin ras kucing aja, lo!"
"MEOOWW!"
"Anying!" teriak Mario sembari memegang matanya yang ditabok sekaligus dicakar oleh Oreo.
Kucing satu ini seolah mengerti setiap apa yang manusia katakan. Jadi, jika ada yang mengejeknya atau mengatainya, tak segan-segan Oreo akan memberikan tato instan.
"Galak lo, ah, gak asik," ucap Mario sembari mengusap-usap matanya.
"Diem-diem mulu lo, Bri. Busiat, hah?" tanya Elgara. (BAB di celana)
Pertanyaan Elgara mampu membuat semuanya serentak tertawa terbahak-bahak, sedangkan Brio ia melirik tajam ke arah Elgara, kemudian ia kembali fokus menonton film.
"Pundungan anjir, ih. Gak like," ucap Anggara. (Gampang marah)
"BACOD, NYET!" ketus Brio sembari mengacungkan jari tengahnya ke arah Anggara.
"Gue serius, Bri. Gue minta maaf udah buruk sangka sama lo. Gue akui gue salah, gue gak pikir panjang dulu malah langsung menyimpulkan kalo itu benar," jelas Elgara.
"Yoi bro, kita juga minta maaf udah buruk sangka sama lo," ucap Anres mewakili semuanya.
"Di maafin gak, Bri? Lo kalo ngambek kayak cewek, anjir," ujar Mario sembari merangkul pundak Brio yang berada di sampingnya.
"Iya, gue udah maafin lo semua. Lagian ini cuma akal-akalan si setan aja bukan salah Elgara atau lo semua. Santai aja, lah, sama gue, mah," jelas Brio, kemudian ia tersenyum.
Tring!
"Halo, ada apa, Tan?"
"El, kamu lagi sibuk gak? Bisa ke rumah sekarang? Soalnya hari ini."
"Siap, Tan, bisa. Kalo gitu Elgara siap-siap ke sana."
"Makasih ya, El, hati-hati di jalan gak usah kebut-kebutan."
Setelah itu Elgara segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, kemudian meraih jaketnya yang ia sampirkan pada kursi. "Gue pulang duluan, ya," pamit Elgara.
"Rusuh amat. Mau kemana lo?" tanya Brio.
"Ke rumah Ayra. Ada urusan penting," jawab Elgara, kemudian ia berjalan pergi ke luar basecamp sembari menenteng helm nya.
"Gercep banget. Udah ke rumahnya aja lo, El," ucap Mario.
"Emangnya lo–sampai sekarang bertepuk sebelah tangan mulu," ujar Anggara yang langsung mendapatkan jitakan dari Mario.
"Kayak gini juga karena ada alasannya, bagong!" ketus Mario.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ayra memarkirkan motornya di halaman rumah. Detik berikutnya, ia masih terduduk di atas motor, kemudian ia melepaskan helmnya. Raut wajah Ayra terlihat kesal, gadis itu mencebikan bibirnya.
"Jaket gue–" Ayra melirik ke arah tubuhnya yang kini hanya mengenakan kaos crop berwarna hitam tanpa balutan jaket resmi Alaskar.
"Duh, gue tinggal di basecamp. Bodo amat, deh," lanjut Ayra, kemudian ia turun dari motornya.
Sambil berjalan ke arah rumah, Ayra berdeham beberapa kali– tenggorokannya terasa kering akibat banyak mengoceh saat di basecamp tadi. Ayra benar-benar lelah, selain itu, ia juga disuruh Nathan mengobati anak Alaskar yang terluka.
Langkah Ayra terhenti di ruang tamu setelah ia melihat dua koper dan juga tas di dekat sofa. "Mam ... kok ini koper ada di sini?" tanya Ayra setengah berteriak.
Regina dan Tomi keluar dari kamar bersamaan. Mereka berjalan ke arah Ayra, pakaian mereka terlihat begitu rapi. Dan tidak seperti biasanya Regina memakai make up yang lengkap.
"Papa sama Mama mau kemana?" tanya Ayra.
Regina menatap ke arah Tomi sejenak, lalu ia melangkah mendekati Ayra, kemudian Regina menyelipkan rambut putrinya ke belakang telinga.
"Sayang, Mama sama Papa harus pergi ke London," ucap Regina.
"Iya Ra, ada pekerjaan yang harus dikerjakan di sana," jelas Tomi.
Ayra tersentak mendengar penjelasan orang tuanya. Dari kecil hingga kini, Ayra paling tidak bisa berjauhan dengan orang tuanya. Ia pun benci dengan namanya sendirian atau kesepian.
"Mama sama Papa mau biarin Ayra sendirian di sini?" tanya Ayra.
"Kamu kan udah besar jadi gak apa-apakan kita tinggalin. Cuma sebentar kok beberapa bulan aja," jelas Tomi.
"Please, Mam, Pah ... jangan pergi. Ayra gak mau sendirian," ucap Ayra dengan mata yang berkaca-kaca.
Regina memeluk Ayra sembari mengusap rambut Ayra. "Maafin Mama sama Papa sayang. Mama sama Papa bener-bener harus pergi. Karena ini penting, Nak."
"Soal uang kamu tenang aja. Papa pasti selalu kirim uang untuk kamu," ucap Tomi.
"Ayra gak butuh uang, Ayra butuh kalian di sini. Ayra paling benci kesepian Mam, Pah ...." Detik itu pun air mata Ayra mengalir membasahi pipinya.
"Gak bisa Ra, Mama sama Papa harus pergi. Ini juga demi ekonomi keluarga kita," ucap Regina.
"Please ... jangan pergi. Kalo gitu Ayra ikut–" Ucapan Ayra terhenti saat seseorang mengetuk pintu.
"Masuk, El," pinta Tomi yang di angguki Elgara.
Cowok bermata elang itu berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian ia berdiri di samping Ayra. Kehadirannya tak digubris oleh Ayra, lantaran gadis itu tengah memohon sembari menangis.
"Papa sama Mama tega banget sih sama Ayra, gak mikirin Ayra di sini nanti gimana, hah? Dari kecil Ayra tuh gak suka yang namanya sendirian, Mama sama Papa tuh ngerti gak sih?!"
Seketika Ayra membungkam mulut. Ayra benar-benar terkejut, karena baru kali ini ia dibentak oleh Tomi. Air mata Ayra semakin deras mengalir saat itu pun Elgara langsung memeluk Ayra.
"Ayo Mah, kita pergi," ajak Tomi sembari berjalan keluar rumah.
"Maaf ya, sayang. Mama sama Papa harus pergi sekarang. Kalo ada apa-apa kamu telepon Mama atau Papa ya, jangan lupa makan."
"El, Tante titip Ayra sama kamu ya, tolong jagain Ayra," ucap Regina sebelum berjalan keluar rumah.
"Siap, Tan," sahut Elgara.
Setelah Regina keluar dari rumah. Ayra semakin terisak-isak di dalam pelukan Elgara. Sesekali Elgara mengusap lembut kepalanya dan punggungnya.
Ayra mendongak menatap wajah Elgara dengan air mata yang memenuhi pelupuk matanya. "El ... gue gak mau sendirian ..." ucap Ayra.
"Enggak. Lo gak sendirian, ada gue di sini, Ra," ucap Elgara sembari mengeratkan pelukannya dan saat itu pun Ayra menyembunyikan wajahnya pada dada Elgara.
Tangan Elgara kembali mengusap lembut kepala Ayra dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di dalam pelukannya. "I'm here. Gue bakalan temenin lo, sekaligus jagain lo, Ra."
Ekspresi Ayra yang selalu ceria di setiap harinya dan ekspresi Ayra yang selalu jutek pada Elgara. Kini terlihat beda, Elgara melihat raut wajah gadis itu seperti anak kecil yang tengah merengek ingin mainan. Sungguh menggemaskan!
Kini Elgara mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Ayra dan menemani Ayra. Kepergian Tomi dan Regina ke London sebenarnya Elgara sudah mengetahuinya sejak awal.
"Eh, El, Tante mau bicara sama kamu, masih ada waktu enggak? Kalo gak bisa sekarang nanti pulang sekolah kamu ke sini," ucap Regina.
"Jadi gini El, Om sama Tante mau pergi ke London karena ada yang harus dikerjakan di sana. Jadi, Om mau titip Ayra ke kamu takutnya Ayra kenapa-kenapa," jelas Tomi.
"Gimana? Kamu bisa?" tanya Regina.
Saat itu Elgara menyetujuinya. Lagi pula ia hanya ditugaskan untuk menjaga dan menemani Ayra saja. Dan hal ini pun bagus–bisa membuat Elgara lebih dekat lagi bersama Ayra, pikir Elgara.
Kedua tangan Ayra yang melingkar pada tubuh Elgara terlepas. Sudah dipastikan gadis itu tertidur. Perlahan Elgara melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Ayra.
"Gemes banget!" ucap Elgara, kemudian ia meremas wajah Ayra karena kelewat gemas.
Setelah itu Elgara menggendong Ayra dan membawanya ke kamar. Berhasil menidurkan dan menyelimuti Ayra, Elgara memijat-mijat lengannya. Tak disangka Ayra begitu berat, padahal badannya terlihat kecil.
Melihat raut wajah Ayra yang tengah tertidur pulas, membuat Elgara merasakan ketenangan. Hingga Elgara enggan keluar kamar, ia memilih lesehan di samping tempat tidur dengan pandangan yang terus menatap wajah Ayra.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Perlahan Ayra membuka kedua matanya. Ia melirik ke arah jamnya yang menunjukkan pukul lima pagi. Gadis itu pun terduduk dari baringnya. Sebelum beranjak dari tempat tidur, ia menggeliatkan tubuhnya sejenak.
Pandangan Ayra beralih ke samping tempat tidur, di mana ada Elgara yang masih memejamkan mata dengan posisi bersandar pada ranjang. Ayra teringat kembali kejadian semalam– Regina dan Tomi pergi ke London. Seketika raut wajah Ayra kembali sendu.
Kini Ayra berjongkok di samping Elgara, tangannya terulur mengusap rambut laki-laki itu. Usapan Ayra membuat cowok bermata elang ini terbangun dari tidurnya. Keduanya saling menatap, kemudian senyuman manis tercetak di bibir mereka masing-masing.
"Indah banget pemandangan gue di pagi hari," ucap Elgara membuat pipi Ayra merah merona.
"Lo sarapan di sini, ya," ujar Ayra yang diangguki semangat oleh Elgara.
Setelah itu Ayra berjalan keluar kamar disusul oleh Elgara di belakangnya. Sembari menunggu Ayra menyiapkan sarapan, Elgara memakan beberapa yupi bolicious pemberian Ayra.
"Untung aja semua foto gue sama Kak Micho udah gue simpan di lemari," gumam Ayra.
Detik berikutnya. "Nasi gorengnya udah jadi ..." ucap Ayra sembari meletakkan dua piring nasi goreng pada meja.
"Wah, mantap nih," ujar Elgara, kemudian ia meraih sendok–siap untuk menyantap nasi goreng buatan Ayra.
"Gimana?" tanya Ayra sembari menatap Elgara yang tengah mengunyah nasi gorengnya.
"Mmm ... gila, enak banget, Ra!" puji Elgara sembari mengacungkan dua jempolnya.
Ayra tersenyum atas pujian Elgara. "Ya udah, habisin, ya."
Kini dua porsi nasi goreng tersebut sudah habis dalam waktu beberapa menit saja. Ayra meraih segelas air sebelum minum, ia mengernyit heran memperhatikan air tersebut.
"Gue suka aneh ,deh. Kenapa air bisa basah?" tanya Ayra.
"Ya kalo gak basah bukan air namanya," jawab Elgara.
"Kenapa dikasih nama air?" tanya Ayra.
Seketika Elgara terdiam menatap Ayra. "Ribet bener lo mikirin yang kayak gitu. Minum ya tinggal minum," ucap Elgara, kemudian meneguk segelas air hingga habis.
"Ra, lo tau gak perbedaan lo sama yupi?" tanya Elgara sembari membuka bungkus yupi.
"Kalo yupi manis-asam, kalo gue manis-manis," jawab Ayra di akhiri senyuman.
Elgara menggelengkan kepalanya. "Salah. Kalo yupi kenyalnya bikin happy, kalo lo–tololnya bikin happy!"
"Bangsat!" ketus Ayra sembari melotot tajam.
Elgara tertawa sembari mengacak gemas rambut Ayra. "Gue pulang ya, lo ke sekolah sendiri? Atau mau bareng sama gue?" tanya Elgara.
"Sendiri aja," jawab Ayra yang langsung di angguki Elgara.
Mereka berdua berjalan bersama menuju pintu, kemudian Ayra segera membukakan pintu untuk Elgara. Sebelum melangkah keluar, Elgara tersenyum menatap Ayra. Kecantikan gadis itu tak hilang sama sekali meskipun Ayra belum mandi.
"Gini ya, rasanya," ucap Elgara.
"Rasanya apa?" tanya Ayra.
"Morning with you. Berasa udah berumah tangga sama lo, Ra, hari ini," ujar Elgara, kemudian tertawa kecil.
Pipi Ayra memerah saat ia menyadari semuanya. Baru pertama kali Ayra menatap Elgara yang sedang tertidur dalam jarak yang dekat dan juga memberikan usapan lembut. Bahkan ia sampai menyiapkan sarapan untuk Elgara.
"Udah, udah, pulang sana! Buruan, ah! Gue mau mandi!" teriak Ayra sembari mendorong tubuh Elgara agar segera keluar dari rumah.