
Tinggal beberapa centi lagi tangan Elgara berhasil menarik masker Ayra, tapi dengan cepat gadis itu menepis tangan Elgara.
"DON'T TRY TO DO THAT!" bentak Ayra dengan tatapan tajam.
"I want to know who you are–queen Alaskar," ucap Elgara masih dengan tatapan intensnya.
"Lo gak perlu tau siapa gue dan lo gak usah cari tau soal gue." Setelah berkata seperti itu Ayra segera melenggang pergi menjauh dari hadapan Elgara, ia tidak mau Elgara terus melontarkan pertanyaan yang membuat dirinya cemas.
Ayra tiba di belakang basecamp, ia menurunkan masker buff nya. Sedari tadi gadis itu menahan air mata saat dirinya berdiri di depan Elgara. Kini air mata itu mengalir begitu saja membasahi pipinya.
Ayra menyandarkan tubuhnya pada belakang tembok, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lagi dan lagi Ayra terisak-isak menangis sembari memeluk lututnya.
"Gue gak bisa bayangin kalo Elgara tau siapa gue sebenarnya. Ditambah Nathan tau apa yang gue lakuin belakangan ini. Aaaa! Kenapa semuanya jadi rumit gini, sih?!"
"Keadaan menjadi rumit setelah rasa dendam ini tergantikan oleh rasa cinta. Ternyata benar–"
Gadis itu mendongak menatap langit malam. "Cinta mampu mengalahkan segalanya termasuk rasa dendam," ucap Ayra.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Ayraaaa!"
Ayra tersentak saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh seseorang. Langkah Ayra dan langkah ketiga sahabatnya terhenti begitu saja. Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali setelah tau siapa orang yang memeluknya, ia pun sempat menoleh ke arah ketiga sahabatnya.
"Alia," ucap Ayra.
Alia melepaskan pelukannya, ia menggenggam kedua tangan Ayra sembari tersenyum menatap Ayra. "Aku punya sesuatu buat kamu," ucap Alia.
"Astaga ... lo itu baru sembuh dari sakit. Bisa-bisanya ngasih gue sesuatu," ujar Ayra.
"Nih." Alia memberikan sebuah tas yang berisi beberapa makanan pada Ayra.
"Kamu bagi-bagi aja ya, buat Maudy, Nana, Shafira," ucap Alia yang diangguki Ayra.
"Ouuu ... thank you, Aliaaaa," sahut Nana, Maudy dan Shafira serentak, kemudian mereka meraih tas tersebut di tangan Ayra.
"Ih, apaansih! Itu punya gueeee," oceh Ayra tak terima tasnya diambil oleh sahabatnya.
"Bagi-bagi, babe. Gak boleh serakah nanti perut lo buncit kepala lo menciut," ucap Nana.
Ayra mencebikan bibirnya, kemudian ia kembali melihat ke arah Alia. "Makasih ya," ucap Ayra yang diangguki Alia.
"Lo beneran udah sembuh? Wajahnya masih pucat gitu," tanya Ayra.
"Udah kok, cuma masih lemas aja," jawab Alia.
Maudy terus memperhatikan Alia, ia menatap Alia begitu intens. "Lo berani ngomong banyak cuma ke Ayra doang. Kenapa ke yang lain gak berani ngomong banyak?" tanya Maudy.
"Karena Ayra selalu nyuruh aku untuk berani bicara. Jadi sedikit-sedikit aku belajar dari Ayra dan aku praktekin itu ke Ayra aja," jelas Alia, kemudian menundukkan kepalanya.
Detik berikutnya senyuman tercetak di bibir Alia, ia mendongakkan kepalanya menatap orang yang ada di hadapannya. "Tapi sekarang aku memutuskan untuk berubah."
"Yang awalnya aku takut untuk berbicara, sekarang aku akan berani berbicara. Yang awalnya aku selalu menatap lantai, sekarang aku akan menatap ke depan dan menatap orang-orang sekitar."
"Semua orang bisa berubah jika ada dukungan dan kemauan dari diri sendiri," ucap Alia.
Gadis itu kembali menggenggam kedua tangan Ayra sembari tersenyum. Detik itu juga Ayra ikut tersenyum, ia merasa bangga pada Alia yang mau berubah.
"Makasih ya, Ayra. Karena kamu, aku banyak belajar dan bisa berubah menjadi seperti orang-orang pada umumnya," ucap Alia.
"Sama-sama. Gue ikut senang lo berubah," sahut Ayra.
"Kalo gitu aku masuk kelas duluan ya, bye."
Setelah Alia melangkahkan kakinya menuju kelas, mereka berempat masih berdiri di tempat dengan pandangan mengikuti langkah Alia. Pandangan Ayra menoleh saat Nana merangkul pundaknya.
"Lo jadi guru buat anak-anak introvert aja, Ra," ucap Nana.
"Iya tuh, lo pinter banget ubah anak introvert. Gak nyangka gue Alia bisa jadi kayak gitu," ujar Maudy.
"Itu emang udah kemauan Alia sendiri makanya dia bisa kayak gitu. Beda lagi kalo gak ada kemauan mau gue kasih saran setebal buku novel, gak akan bisa," jelas Ayra.
"Makanan gue mana?" tanya Ayra.
Maudy dan Nana serentak menunjuk Shafira menggunakan dagunya karena dari tadi tasnya dipegang oleh Shafira. Ayra membelalakkan matanya saat Shafira memakan dua roti sekaligus. Dengan cepat Ayra merebut tasnya dari Shafira
"Buat gue ma–"
"Aaaa ... kok disisain satu, sihhhh? Nyebelin banget deh lo bertiga!" ucap Ayra, kemudian mencebikan bibirnya.
"B-bukan gue, Ra. Nana tuh sama Maudy," sahut Shafira.
"Heh, gue cuma satu juga," ucap Maudy.
"Main nuduh aja lo," ucap Nana.
Shafira terkekeh sembari memeluk Ayra dari samping. "Sorry babe, gue laper belom sarapan. Mohon dimaklum ya," ujar Shafira.
"Oh iya Ra, lo sama Elgara gima–"
"Sstttt!" Serentak Nana dan Maudy melotot ke arah Shafira, mereka berdua meminta Shafira untuk tidak melontarkan pertanyaan itu.
Raut wajah Ayra seketika berubah setelah nama Elgara terdengar di telinganya. "Gak tau gue juga hubungan gue sama Elgara gimana. Dia juga gak chat gue sama sekali," jelas Ayra.
"Udah-udah. Sekarang kita ke kelas, yuk! Kepala gue lagi-lagi kumat–pusing nih," ajak Nana yang diangguki ketiga sahabatnya, mereka pun segera berjalan menuju kelas.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Di tengah jam pelajaran. Suasana di kelas 12 IPA D begitu hening. Lantaran mereka semua tengah mengerjakan soal matematika dengan fokus, tapi berbeda dengan keadaan para murid yang duduk di belakang.
Begitu beraneka ragam yang mereka lakukan. Dimulai dari Elgara yang tengah fokus mengerjakan soal, Mario yang menunggu untuk mencontek jawaban Elgara, Anres yang menidurkan kepalanya di atas meja, Brio yang tengah menggambar dan Anggara yang sedang asik memotong-motong penghapus menggunakan penggaris.
"Duh, anjir! Pake kecoret segala," ucap Brio.
Brio mengedarkan pandangannya ke sekitar meja untuk mencari sebuah penghapus. "Penghapus gue mana, sih? Perasaan tadi di sini," ucap Brio.
"Gar, lo lihat peng–" Ucapan Brio terhenti saat matanya menemukan penghapus miliknya di tangan Anggara, tapi sayangnya penghapus itu dalam keadaan yang mengenaskan.
Sontak Brio menoyor kepala Anggara, membuat laki-laki itu mendongak dengan raut wajah kesal. "Apa sih, Nyet?!" ketus Anggara.
"Penghapus aing bangsat! Kebiasaan lo mah, Gar. Udah berapa penghapus yang lo mutilasi, anying!" ketus Brio, dengan kesal ia merebut menghapusnya yang sisa setengah lagi.
Lima soal matematika selesai Elgara kerjakan. Laki-laki itu menyenderkan tubuhnya ke belakang kursi, untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
"Pak! Izin ke toilet," ucap Elgara.
Setelah pak Raldi menganggukkan kepalanya, Elgara beranjak dari kursi sembari memasukkan pulpennya ke dalam saku seragam. Jika Elgara menyimpan pulpennya di atas meja, sudah dipastikan setelah Elgara kembali ke kelas pulpen itu tidak ada.
"El, gue lihat ya," ucap Mario sembari menarik buku Elgara untuk bersiap menconteknya.
"Satu huruf lima ribu," sahut Elgara sembari berjalan menuju pintu kelas.
"Berapa pun gue bayar, daripada otak gue meledak," ucap Mario.
Elgara berjalan menyusuri koridor kelas dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Setiap Elgara melewati kaca jendela kelas, para siswi memperhatikan Elgara sembari memberikan senyuman.
Laki-laki bermata elang itu menghentikan langkahnya. Elgara menoleh ke arah siswi yang tengah menatapnya dibalik kaca jendela. Detik berikutnya Elgara menyeringai, kemudian ia memulai aksinya yang sudah lama tidak ia lakukan.
Dengan mengedipkan sebelah matanya dan memberikan senyuman, mampu membuat orang yang menjadi mangsanya mengalami kejang-kejang, bahkan teriakan histeris.
"Satu aja deh, gue masih punya Ayra," ucap Elgara, kemudian ia melangkahkan kakinya kembali.
"Buku apaansih ini berat banget. Aduh ... mana perpustakaan masih jauh lagi," gumam Ayra sembari meringis karena keberatan.
"Hai queen, don't you miss me?" tanya Elgara sembari merangkul pundak Ayra.
Ayra mendelikkan matanya. Ia berusaha menjauh dari Elgara agar laki-laki itu berhenti merangkulnya. Dengan cepat Elgara berdiri di hadapan Ayra membuat langkah Ayra terhenti.
"Awas," pinta Ayra.
"Ra, maafin gue, Ra. Ngobrol sebentar yuk, gue mau jelasin," ucap Elgara.
Ayra tak menggubris ucapan Elgara, ia memilih berjalan kembali ke samping Elgara. Tak menyerah begitu saja Elgara kembali berdiri di hadapan Ayra.
"Ra, gue mohon, Ra," ucap Elgara.
"Minggir, El. Gue berat bawa bukunya," ujar Ayra sembari menahan emosi.
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya. Kali ini ia berjalan begitu cepat agar Elgara tak menghalangi jalannya lagi, tapi laki-laki bermata elang itu mencoba mencari cara agar Ayra menghentikan langkahnya.
Elgara mengambil salah satu buku yang sedang Ayra bawa, tapi ternyata hal itu tidak membuat langkah Ayra terhenti. "Simpan ke perpus," ucap Ayra sembari terus berjalan.
Setibanya di perpustakaan Ayra segera membereskan buku-bukunya. Di belakang Ayra, Elgara berdiri sembari terus memperhatikan Ayra. Bukan hanya memperhatikan, Elgara pun terus berpikir untuk membujuk Ayra agar mau mendengar penjelasannya.
Ayra membalikkan tubuhnya, ia cukup tersentak saat tau Elgara berdiri di belakangnya. Elgara berjalan ke depan beberapa langkah sembari terus menatap Ayra, sedangkan Ayra ia terus melangkah mundur.
Damn it!
Ayra memejamkan matanya saat punggungnya menempel dengan rak buku, tapi laki-laki yang berada di hadapannya terus mendekat. Tangan Elgara terulur untuk menyimpan satu buku pada rak yang berada di samping atas kepala Ayra.
'Gue rindu wangi ini.'
"El, minggir gue–" Ucapan Ayra terhenti saat tangan Elgara mengusap rambutnya, kemudian ia menarik perlahan kepala Ayra ke dadanya.
"Gue–gue gak bisa jauh dari lo. Jantung gue berhenti kalo jauh-jauh dari lo, Ra," ucap Elgara.
"Terus–ini apa yang berdetak? Otak lo?" tanya Ayra.
Jawaban Ayra membuat Elgara mengerjapkan matanya beberapa kali. Untuk kali ini Elgara ingin memilih menyerah saja. Ucapan manis Elgara yang selalu berhasil membuat para wanita histeris, seolah tidak ada harganya di hadapan Ayra.
"Terserah lo mau jawab apa. Intinya–jauh dari lo adalah kelemahan gue," ucap Elgara.
'Mencari kelemahan Elgara adalah salah satu misi gue untuk menghancurkan Vanoztra. Dan ternyata kelemahan Elgara adalah–jauh dari gue.'
Ayra menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak! Gue gak bisa lanjutin itu!" ucap Ayra.
"Gak bisa lanjutin apa?" tanya Elgara sembari melepaskan pelukannya.
"Lanjutin–lanjutin hubungan gue sama lo. Mm, bukan gitu, bukan gitu. Maksud gue–gue lagi pengen sendiri dulu sekarang," jawab Ayra.
Tak mau berlama-lama lagi di hadapan laki-laki itu, Ayra melenggang pergi dengan cepat. Ayra memukul mulutnya beberapa kali lantaran geram pada mulutnya sendiri. Yang seolah ingin membocorkan rahasianya.
"Gue gak bisa, gue gak bisa putusin Ayra. Ini semua pasti karena Anres," ucap Elgara.
"SIALAN LO ANRES!!!" teriak Elgara.
"Elgara berisik! Ngapain kamu teriak-teriak di perpustakaan?!" tanya penjaga perpustakaan yang baru saja datang.
"Maaf Bu, maaf," ucap Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Senyuman terbit di bibir Anres saat melihat Ayra berjalan ke arahnya. Bukan, Ayra bukan mau menghampiri Anres, ia menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang mengobrol dengan anak Vanoztra.
"Hai, Ra," sapa Anres.
"Hai," jawab Ayra sembari tersenyum.
"Lama banget, Ra," ucap Maudy sembari menatap Ayra.
Ayra menganggukkan kepalanya. "Tadi gue ke toilet dulu makanya lama," jawab Ayra.
"Ra, makanannya lagi dipesan Nana," ucap Shafira yang diangguki Ayra.
Sesekali Ayra melirik ke arah Anres yang ada di hadapannya. Laki-laki itu terus memperhatikan Ayra, membuat Ayra merasa malu karena terus ditatap. Anres merogoh saku seragamnya untuk mengambil sesuatu.
"Nih, Ra, yupi strawberry kiss," ucap Anres sembari menengadahkan telapak tangannya yang terdapat dua yupi.
"Thanks, Res," ujar Ayra sembari tersenyum bahagia.
Saat Ayra akan meraih yupi tersebut tiba-tiba seseorang meraih terlebih dahulu yupinya. Ayra menoleh menatap orang tersebut yang tak lain Elgara. Elgara menatap yupi tersebut, kemudian menatap Anres berganti menatap Ayra.
Ayra bangkit dari duduknya, ia melontarkan tatapan tak suka pada Elgara sebelum dirinya melenggang pergi. Nana yang baru saja tiba dengan membawa makanan ia terheran-heran dengan Ayra yang langsung pergi.
"Ra!" panggil Maudy.
"Lah, ini makanannya gimana?" ucap Shafira.
Nana menatap tajam pada Elgara yang berada di samping nya, kemudian ia memukul lengan laki-laki itu. "IH! GARA-GARA LO TAU GAK?! AYRA JADI PERGI!" bentak Nana.
"Gak. Gue gak tau!" ketus Elgara, kemudian melenggang pergi keluar kantin.