
"Mau kemana sih, Nat?" tanya Ayra bingung sembari melirik ke arah Nathan yang sedang menyetir.
Nathan menoleh ke samping di mana gadis itu terduduk. Tatapan Nathan menajam hingga Ayra tak bisa mengartikan soal tatapannya. "Maksud lo apa gak jawab-jawab telepon gue?" tanya Nathan.
Ayra gelagapan saat Nathan melontarkan pertanyaan tersebut, "E–gue–akhir-akhir ini banyak tugas. Ya, maaf aja gak gue angkat, lagian lo kalo gue gak angkat telepon ke rumah aja," jawab Ayra.
"Ck! Mana akhir-akhir ini lo jarang banget ke basecamp. Lo kenapa sih, Ra?" tanya Nathan.
"Dongo ya, lo! Gue udah jelasin kalo gue tuh banyak tugas Minggu ini!" ketus Ayra, kemudian memutar bola matanya malas.
"Gimana?" tanya Nathan dengan raut wajah datar.
Ayra menoleh sembari mengernyitkan dahinya. "Gimana apanya?" tanya Ayra.
"Soal kehancuran Vanoztra," jawab Nathan.
Damn it! Pertanyaan yang Ayra hindari minggu-minggu ini malah ditanyakan oleh Nathan malam ini juga. Demi apapun Ayra bingung saat ini. Ia benar-benar belum melakukan apapun lagi soal strategi penghancuran Vanoztra.
Kalian tau sendiri, Ayra malah jatuh cinta sama Elgara. Rasa dendamnya kini sudah berganti dengan rasa cinta. Ayra pun bingung kenapa bisa jadi seperti ini.
"Soal Vanoztra–em ... gue udah jalankan beberapa misi. Sekarang gue tinggal cari kelemahan Elgara," dusta Ayra.
"Apa aja yang udah lo dapat?" tanya Nathan.
Ayra melebarkan matanya saat Nathan melontarkan pertanyaan tersebut. "Em ... stra-tegi penyerangan Vanoztra udah dapat. Sekarang yang terakhir tinggal cari tau soal kelemahan Elgara."
"Udah dapat dua itu–tinggal susun strategi– penghancurannya," jelas Ayra, kemudian tersenyum agar Nathan mempercayai perkataannya.
"Bagus! Sebentar lagi mereka hancur! Lo benar-benar hebat, Ra!" ucap Nathan sembari tersenyum puas.
"A-Aiya dong! Em ... adik Kak Micho dilawan! Haha ..." ujar Ayra di akhiri tawaan hampa.
"Kita ke basecamp sekarang buat kasih tau yang lainnya kalo lo hampir berhasil menghancurkan Vanoztra. Sekalian lo ceritain gimana bisa dapet strategi penyerangan Vanoztra," ucap Nathan sembari menyeringai.
Ayra menganggukkan kepalanya, kemudian ia membuka kiko nya yang baru saja ia beli di supermarket tadi. Pandangan Ayra beralih ke arah samping kaca mobil, ia memejamkan matanya sembari menghela napasnya panjang.
'Mampus! Mampus! Mampus! Pakai suruh ceritain segala lagi si dongo!'
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Sepulang dari basecamp Ayra tidak bisa diam. Hampir lima menit kakinya terus melangkah bolak-balik, tangannya memijat-mijat keningnya. Detik berikutnya ia menghentakkan kakinya beberapa kali, kemudian menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur.
"Sekarang–kita semua pengen lo kasih tau apa aja strategi penyerangan yang dilakukan oleh Vanoztra," ucap Nathan sembari menyeringai.
Deg!
"E–k-kalo itu–masih rahasia dong! Ya, kali gue langsung kasih tau lo semua. Pokoknya setelah gue dapat kelemahan Elgara, baru gue kasih tau semuanya dan kita susun rencana penghancurannya bareng-bareng," jelas Ayra.
"Aaa! Lama-lama gue gila!" Ayra berteriak sembari memukul-mukul tempat tidurnya.
Perlahan Ayra bangun dari baringnya, ia mencebikan bibirnya karena merasa kesal pada dirinya sendiri. Pandangan Ayra melirik pada liontin kalungnya, kemudian tangan Ayra perlahan menggenggam liontin tersebut.
"Gue harus gimana sekarang ...."
"Kalo gue bergerak lagi buat hancurin Vanoztra–rasanya gue gak bisa. Gue sayang sama Elgara ... gue gak mau lihat dia hancur ..." ucap Ayra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Elgara yang selama ini selalu ada–"
Ayra berhenti berkata setelah merasa ucapannya itu salah. Dengan cepat Ayra menggelengkan kepalanya, ia menghapus air matanya yang akan terjatuh.
"Bukan! Bukan Elgara, tapi Kak Micho yang selama ini selalu ada buat gue."
"Gue gak boleh kayak gini, gue harus ingat sama tujuan utama gue. Kak Micho pergi karena Elgara, Kak Micho pergi karena Vanoztra."
"Oke, gue harus kembali bergerak untuk balas dendam pada Elgara!" ucap Ayra dengan nada penuh semangat.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Ayra baru saja menghabiskan sarapannya di rumah. Setelah itu, Ayra pergi untuk mencuci piringnya dan juga gelas. Ia tak suka melihat piring kotor yang menumpuk, pastinya Ayra akan mencuci piring kotor tersebut meskipun satu.
"Baru kali ini gue lahap banget sarapan sendirian. Ternyata bener, gue kalo emosi bukannya gak nafsu makan, malah nafsu banget kayak orang kelaperan," ucap Ayra sembari berjalan keluar rumah.
Tiba di samping mobil, Ayra mengecek terlebih dahulu isi tasnya. Berharap tidak ada satu pun yang tertinggal terutama yupi dan kiko. Setelah dirasa isi tasnya lengkap, Ayra membuka pintu mobilnya.
"Ra," panggil Elgara yang masih terduduk di motornya.
Ayra menoleh ke belakang. Saat tau Elgara yang memanggilnya, Ayra memasang raut wajah datar, tak menjawab sapaan Elgara. "Gue pergi sendiri hari ini," ucap Ayra.
"Loh, kenapa? Ayo bareng aja sama gue," pinta Elgara.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dengan cepat ia masuk ke dalam mobil tak peduli dengan Elgara yang terus menatapnya heran. Cowok bermata elang itu turun dari motornya, ia berjalan mendekat ke arah mobil Ayra.
"Ra," panggil Elgara sembari mengetuk kaca mobilnya.
"Buka, Ra, lo kenapa?" tanya Elgara.
"Ayra!"
Pertanyaan demi pertanyaan dari Elgara, Ayra hiraukan. Sikap Ayra kembali seperti awal mereka bertemu. Kini Ayra mulai melajukan mobilnya untuk segera bergegas pergi ke sekolah.
"Arrghh! Aing salah apa lagi, sih?" ucap Elgara sembari mengacak rambutnya frustasi.
Sesampainya di sekolah Ayra berpapasan dengan anak Vanoztra. Mereka berempat melontarkan senyuman pada Ayra, tapi Ayra tak membalas senyuman tersebut, bahkan tak menjawab sapaan dari mereka.
"Pagi Ayra ...."
Ayra hanya menatap sekilas, kemudian ia kembali berjalan menuju kelasnya. Serentak mereka berempat menoleh ke belakang, pandangannya mengikuti langkah Ayra. Mereka berempat kebingungan dengan sikap Ayra yang kembali dingin padanya.
"Kenapa tuh si Ayra?" tanya Mario.
"Gak tau gue juga," sahut Anggara.
"PMS kali. Cewek gitu kalo udah datang bulan seisi bumi pasti nyebelin di matanya," ucap Brio.
"Kok tau? Wah, jangan-jangan selama ini lo Bria bukan Brio," ujar Anres, kemudian mencolek dada Brio.
Sontak Brio menghalangi dadanya menggunakan tangannya. "Goblok!"
"Gila! Salut banget gue sama Vanoztra! Lihat deh, mereka tuh ganteng-ganteng, terus hatinya pada baik-baik lagi ..." ucap Shafira sembari melihat postingan-postingan Vanoztra di Instragram.
Melihat sahabatnya sibuk soal Vanoztra, Ayra memilih diam tidak ikut membahas karena mulai hari ini, ia kembali membenci Vanoztra, tapi entah hari berikutnya.
"Anjir! Lagi-lagi Vanoztra sampai trending di sosial media. Lihat deh," ucap Nana sembari memperlihatkan ponselnya pada ketiga temannya.
"Udah gak salah lagi sih, hampir semua kegiatan positif mereka tuh selalu jadi obrolan publik," ujar Shafira.
"Gila sih, mereka tuh idaman bang–" Maudy menghentikan pembicaraannya setelah melihat Shafira mulai membuka mulutnya, ia tau sahabatnya itu akan berkata apa.
"KECUALI MARIO, YA!" ketus Maudy sembari menatap tajam ke arah Shafira.
"Ih, ge-er lo, siapa juga yang mau bilang Mario," ucap Shafira.
"Udah ada guru, gengs," ujar Ayra dengan suara malas.
"Balik-balik sana ke kursi, husss!" titah Nana. Shafira dan Maudy pun segera duduk di kursinya.
Bagaimana bisa Ayra kembali membenci Vanoztra, bahkan untuk menghindarnya saja susah, lantaran kini di jam istirahat, ketiga sahabatnya memilih bergabung dengan anak Vanoztra di kantin. Terpaksa, Ayra pun harus ikut.
"Girls, besok kita mau jalan-jalan ke kampungnya Abah Suro pemilik Warbah. Kalian mau ikut gak?" tanya Anggara.
"Ikut dong, gengs, please .... biar gue ada temen soalnya gue mau ikut Anggara. Masa gue cewek sendiri sih, ikut ya, ya, ya ..." ucap Shafira sembari menatap ketiga sahabatnya.
Sebelum menjawab ajakan Anggara dan Shafira, Ayra, Nana dan Maudy saling menatap secara bergantian. Setelah itu mereka bertiga menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Shafira.
"Yes! Aaaa ... thank you, gengsssss!" ucap Shafira sembari tersenyum senang.
"Tapi sebelumnya–emang gak masalah kita bertiga ikut?" tanya Maudy yang diangguki Ayra dan Nana lantaran pertanyaan Maudy tepat sekali.
"Ya jelas enggak masalah lah, Mod. Nanti di sana, kan kita bisa berduaan," jawab Mario tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya berkali-kali.
"Apaansih," gumam Maudy.
"Gak masalah. Malahan kita senang kalian ikut," ucap Anres.
"Yoi!" sahut Brio.
Elgara berdeham cukup kencang. "Gak masalah, tapi yang jadi masalahnya–cewek yang lagi makan yupi, hari ini kenapa?" tanya Elgara sembari menatap ke arah Ayra.
Serentak mereka memusatkan pandangannya ke arah Ayra, yang tengah asik memakan yupi bolicious. Sadar diperhatikan Ayra berhenti mengunyah yupi nya, ia menatap satu persatu ke arah mereka.
Ayra menggigit bibir bawahnya sembari mengerjapkan matanya beberapa kali. "Why are you looking at me?" tanya Ayra.
"Lo kenapa hari ini, Ra?" tanya Elgara.
"Baik-baik aja, kan?" tanya Anres yang di angguki Ayra.
"Tadi pagi di sapa dingin banget lo. Kayak yang marah sama kita, ya?" ucap Anggara sembari menoleh ke arah temannya.
"He-em!" sahut Mario dan Brio serentak.
"Paling juga PMS, ya, Ra?" tanya Shafira.
Ayra hanya terdiam tak menjawab pertanyaan mereka. Melihat Ayra hanya terdiam saja Elgara bangkit dari kursinya, kemudian berjalan ke arah Ayra. Sebuah kalung Elgara pakaikan pada leher Ayra, membuat gadis itu melirik ke arah liontin kalungnya.
"Lo boleh benci atau marah sama gue, tapi jangan pernah lepas kalung ini, Ra," ucap Elgara sembari berjongkok di samping Ayra.
'Loh, kalung ini kan, gue simpan di kelas tadi.'
"Lo kenapa, hm?" tanya Elgara yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ayra.
Elgara tersenyum sembari menatap Ayra, kemudian tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Ayra. "Maaf kalo gue punya salah sama lo," ucap Elgara.
"Huh! Panas banget! Ini gue makan es krim apa lava gunung berapi, sih?!" ucap Maudy setengah berteriak sembari memperhatikan es krimnya.
"Jasa terjun tanpa parasutnya, kakak ..." ucap Anggara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Kedua kali nya Ayra menginjakkan kaki di basecamp Vanoztra. Saat pulang sekolah tadi, Elgara mengajak Ayra untuk ikut bersamanya ke basecamp. Gadis itu menyetujuinya lantaran ia merasa bosan juga jika langsung pulang ke rumah.
"Yang lain pada kemana?" tanya Ayra sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan basecamp yang begitu luas.
"Di halaman belakang. Biasa mereka pada ngerokok, lo mau ke sana?" tanya Elgara.
"Enggak. Gue di sini aja," jawab Ayra sembari mendudukkan pantatnya di sofa.
"Gue mau samperin dulu mereka. Lo tunggu di sini," ucap Elgara yang di angguki Ayra.
Detik kemudian Elgara menggendong Oreo, lalu menyimpan kucing itu di pangkuan Ayra. Agar gadis itu tidak merasa sepi atau bosan. "Ditemenin Oreo, ya," ucap Elgara.
Sontak Ayra mengernyit menatap kucing jantan tersebut. "Oreo?" tanya Ayra sembari mengusap-usap kepala Oreo.
"Iya. Dia namanya Oreo," ucap Elgara.
"Kehabisan nama, lo? Sampai kucing dikasih nama oreo. Sekalian aja biskuat," ujar Ayra sembari menatap ke arah Elgara.
"Tadinya kalo betina mau gue namain sari gandum," jawab Elgara sembari melenggang pergi menuju belakang basecamp.
"Dongo," ucap Ayra pelan.
Hampir lima menit Elgara belum juga kembali. Ayra sibuk mengajak main Oreo bahkan gadis itu mengajaknya bicara–sampai-sampai mencurahkan hatinya pada kucing itu.
"Meow ...."
"Oreo laper? Mau makan?" tanya Ayra.
"Tunggu ya, gue samperin babu lo dulu." Gadis beriris mata coklat itu beranjak dari kursinya berniat untuk menghampiri Elgara yang berada di halaman belakang basecamp.
Langkahnya terhenti saat Ayra melihat sebuah rak yang dipenuhi oleh buku-buku novel, tapi matanya bukan terfokus pada buku novel, melainkan pada sebuah buku yang berjudul 'Vanoztra 1999' karena penasaran Ayra meraih buku tersebut.
Ayra membuka halaman pertama buku itu. Di sana terdapat cerita soal awal mula berdirinya Vanoztra. Hingga pada halaman berikutnya Ayra menemukan soal strategi penyerangan Vanoztra.
"Strategi?!" ucap Ayra.
Entah mengapa seketika otak Ayra mendadak lemot saat menemukan hal terpenting itu. Ketika akan mulai membaca, ia terperanjat kaget saat bukunya langsung ditutup dengan cepat oleh seseorang yang berada di belakangnya.
"Ngapain?"