
Tepat pukul 10 Ayra baru tiba di rumah. Kini ia sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Karena keseruan bersama ketiga temannya membuat mereka lupa waktu, bahkan hampir saja mereka dikunci di dalam mall.
"Bagus semua fotonya," ucap Ayra sembari melihat foto bersama sahabatnya saat di mall tadi.
Ketika Ayra berniat memposting foto tersebut di akun Instagram Fourangels. Sontak Ayra membelalakkan matanya melihat komentar-komentar pada postingan foto dirinya dipenuhi anak Vanoztra dan juga ketiga sahabatnya.
anggara_ajaaa: Alah siah boy @elgarargantara
bri_erlano: Yang ngaku-ngaku pacarnya minggir! Blm tau lo pawangnya siapa? Nih @elgarargantara
mrioreno: Sudahi emosimu kawan, waktunya melihat masa depanmu @elgarargantara
anresmarvino: Huakhemmmm! Haciwww! @elgarargantara
elgarargantara: Ayra (ayangnya Elgara)♡
_____ Lihat 112 balasan sebelumnya
na_angelie: Ada apa nich?
@elgarargantara @ayraclares
shafiraqiel: Gila, gila, gila! @elgarargantara
@ayraclares
maudy_melva: Apa nih? Jelasin
cefatttt!!! @elgarargantara
@ayraclares
ayraaclares: Boneka santet sedang
berada di perjalanan mohon
siapkan uang 57.000 rupiah
@elgarargantara
cewekmkeup: Ayra cantik banget, dia pakai make up dari kami loh. Yuk, order!
_____Lihat 2 balasan sebelumnya
ayraaclares: Enggak, bohong guys
@cewekmkeup
cutegirl114: Cewek cantik tuh tinggi, lah ini pendek kek pohon taoge!
_____Lihat 97 balasan sebelumnya
ayraaclares: Iya gue pendek, kek
umur lo! @cutegirl114
hate.ayra: Jelek
_____Lihat 15 balasan sebelumnya
ayraaclares: Napa iri? @hate.ayra
Ayra mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap. "Aarghhh! Bener-bener tuh cowok! Mereka jadi mikir yang enggak-enggak, sialan!" teriak Ayra kesal, kemudian memukul-mukul bantal.
Ayra menghela napas. "Awas aja lo Elgara! Gue sumpahin lo keselek terus makanannya tumpah!"
"Uhuk-uhukkk!"
Elgara menepuk-nepuk dadanya cukup kencang, tenggorokan nya pun terasa panas. Saat Elgara akan meraih gelas—tak sengaja lengannya menyenggol mangkuk yang berisi mie hingga terjatuh.
Prak!
"Anjir!" teriak Elgara, kemudian ia terdiam dengan pandangan pasrah menatap mangkuk yang pecah dan mie yang berserakan di lantai.
"Lo kalo gak ikhlas dimakan sama gue, ngomong!" ketus Elgara sembari meraih serpihan mangkuk yang pecah.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Blugh!
Ayra menutup pintu mobil. Sebelum melangkah pergi, ia menggandong tasnya sebelah. Saat membalikkan tubuhnya ...
"AYRAAAA!" Gadis itu sontak terkejut mendengar teriakan ketiga temannya yang begitu kencang.
"SETAN! KAGET, DONGO!" teriak Ayra sembari meringis memegang telinganya yang berdenging.
"Ada apa, sih? Biasa aja kali panggilnya. Kayak mau nagih utang aja lo pada," ucap Ayra sembari mencebikan bibirnya.
"Lo jangan bikin kita penasaran deh, jelasin sama kita, lo sama Elgara tuh ada hubungan apa?" tanya Nana.
"Iya ih, lo demen banget sih bikin kita penasaran," ucap Shafira sembari cemberut.
"Buruan kasih tau, Ra. Kalo lo emang pacaran sama Elgara, nah kita juga bakalan pacaran sama anak Vanoztra. Jadikan kalo kumpul tuh seru!" ujar Nana semangat.
"Ogah, lo aja sana sama Brio. Gue mah gak mau sama anak Vanoztra nyebelin semua, apalagi cowok si Shafira," ucap Maudy sembari melirik sekilas ke arah Shafira.
Merasa namanya disebut Shafira melirik tajam ke arah Maudy. "Apaansih, Mod, Anggara gak nyebelin tau! Cowok lo tuh, si Mario yang nyebelin!"
"Heh! Gue gak pernah anggap si Mario cowok gue, bodoh!" ketus Maudy.
"Tapi kan lo sama Mario—"
"SUPPP!" Nana mencomot bibir Shafira agar berhenti berdebat.
"Apa?! Gue sama Mario ap—"
"SUPPP!" Ayra ikut mencomot bibir Maudy agar berhenti berdebat juga.
"Gak usah debat!" ketus Nana sembari melepaskan comotan di bibir Shafira, disusul oleh Ayra.
Ayra menyeringai ketika tiga temannya lupa akan tujuan utamanya. Ia memperhatikan mereka sejenak, lalu diam-diam Ayra melangkahkan kakinya.
"Heh!" Nana berhasil menarik lengan Ayra.
Ayra menghela napasnya sembari cemberut, ia menatap secara bergantian pada mereka. Niat usil pun muncul di benaknya membuat Ayra tersenyum tipis.
"Oke-oke. Jadi, gue tuh—eh, itu Elgara!" ucap Ayra, sontak membuat ketiga temannya menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Ayra.
Tanpa berlama-lama, Ayra berlari dengan cepat meninggalkan mereka. Ayra berlari sembari tertawa. Membuat mereka penasaran adalah hal yang paling seru. Karena mereka akan terus bertanya sebelum penasaran itu menghilang. Walaupun terdengar hal yang sepele atau tidak penting.
"Ayra!" teriak mereka serentak, kemudian berlari mengejar Ayra.
Ayra berlari sembari terus melihat ke arah belakang. Tanpa disadari ia tersandung kaki Anres, hingga dirinya jatuh tersungkur tepat di hadapan Elgara dan di samping anggota inti Vanoztra.
Elgara menatap sejenak Ayra yang terjatuh tepat di depan sepatunya. Ia menunggu Ayra bangkit, tapi gadis itu tidak bangkit-bangkit, ia tetap tengkurap.
'Gak, enggak! Gue gak mau berdiri. Bukan sakitnya, tapi malunya!'
Anres beranjak dari kursi, ia berniat menghampiri Ayra sekaligus membantu gadis itu untuk bangkit. Baru saja ia akan melangkah, tapi langkahnya terhenti saat Elgara menarik perlahan tangan Ayra.
Saat Elgara berhasil membantu Ayra untuk terduduk, gadis itu masih memejamkan matanya sembari meringis. Hal itu membuat Elgara tertawa, kemudian Elgara menyentil pelan kening Ayra.
Elgara bangkit dari duduknya begitu pun dengan Ayra yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Masuk kelas, bro!" ucap Elgara pada keempat temannya.
"Lah, pembahasannya belum beres," ucap Anres.
"Nanti lanjut di basecamp pulang sekolah," jawab Elgara.
'Mereka mau bahas apaan? Kayaknya hal penting deh, gue harus tau! Ya, pulang sekolah gue harus ke basecamp Vanoztra.'
"Makanya jangan kayak bocah! Lari-larian segala!" ketus Elgara.
Ayra berdecak, ia melepaskan pelukannya. "Suka-suka gue!" ketus Ayra, kemudian gadis itu berlari cepat.
Elgara tersenyum sembari menggeleng pelan. Detik kemudian ia mencium seragamnya yang tercium wangi parfum Ayra.
"Lo jatuh, Ra?" tanya Maudy sembari menahan tawa.
Maudy, Nana dan Shafira baru tiba di kelas bersamaan dengan bel masuk. Tadi mereka sempat mengejar Ayra karena kewalahan mereka memilih berhenti dan berjalan santai saja.
"Udah tau jatuh masih nanya, dongo!" ketus Ayra sembari memutar bola matanya malas.
"Lah, kita gak tau lo jatuh. Tadi kita jalan santai aja karena capek ngejar lo," jelas Nana di akhiri tawaan
"Lihat lo lari cepet banget kayak the flash, anjir," ucap Shafira di akhiri tawaan.
"Tau ah! Kesel gue sama lo pada. Malu banget tau," jelas Ayra dengan raut wajah cemberut.
Melihat Ayra cemberut ketiga gadis itu tersenyum menggoda. "Aaaa, sayanggg!" teriak mereka serentak sembari memeluk Ayra.
"Lagian lo ngapain lari? Jadi kena azab, kan, udah bikin kita penasaran," ucap Shafira.
"Ck! Gue, kan, udah bilang gue sama Elgara tuh gak ada apa-apa. Dianya aja yang cuma baperin gue," jelas Ayra.
"Tapi tadi kata orang-orang lo peluk Elgara, ya? Acieeee ... ekhemm!" ucap Nana sembari menyenggol lengan Ayra, disusul Shafira yang mencolek lengannya dan juga Maudy yang mencolek dagunya.
"Suka-suka kalian, deh," ujar Ayra sembari memutar bola matanya malas.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Suara musik yang kencang memenuhi ruangan basecamp Vanoztra yang begitu megah. Hari ini mereka akan membahas soal pelaku yang memata-matai basecamp Vanoztra saat malam itu.
Bahkan, bukan malam itu saja sampai kini pun mereka masih memata-matai basecamp Vanoztra. Elgara sudah mengecek CCTV yang terpasang, tapi sayangnya waktu itu tidak terlihat karena orangnya berada di tempat yang gelap.
Dan kini Elgara mengecek kembali CCTV nya. Akhirnya, ia mendapatkan gambar yang jelas karena orang itu mulai memata-matai lebih dekat. Mereka sudah tau siapa pelakunya.
Sambil menunggu anak Vanoztra lainnya datang, kelima cowok ini bersantai-santai dulu.
"Jogetin aja lah bro!" ucap Anggara.
"Ternyata dirimu ... jelas mempermainkanku ..." Brio mencoba bernyanyi mengikuti musik yang tengah diputar.
Anggara naik melompat ke atas meja, ia mulai bersiap-siap untuk bernyanyi, satu tangannya diacungkan ke atas. "CUKUP TAU TAK PERLU MERAYU!"
"KU TAK MAU DENGAR ALASANMU!" timpal Mario sembari memutar-mutarkan kemeja seragamnya dan juga pinggulnya.
"CUKUP AKU YANG JADI KORBAN CINTAMU ..." timpal Elgara sembari memegang botol yang dijadikan sebagai mic.
Elgara melempar botol tersebut ke arah Anres yang langsung ditangkap oleh Anres. "PERGI JAUH DARI HIDUPKU!" timpal Anres.
"TAK INGIN KU INGAT-INGAT KAMU!" lanjut Anres.
"JANGAN HARAP KU KAN KEMBALI PADAMU!" teriak mereka serentak, kemudian Anres melempar botolnya ke atas dan ditangkap oleh dirinya kembali.
Satu persatu anak Vanoztra yang lainnya mulai berdatangan. "Anjir, seneng-seneng gak ngajak," ucap Zino saat berjalan masuk ke dalam basecamp.
Secara bergantian mereka bersalaman dengan cara saling menempelkan lengan. Hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak awal Vanoztra berdiri.
"Nunggu lo pada lama banget, anying!" ketus Brio sembari mengipasi dirinya pakai tangan.
"Macet woi! Makanya lama, terus si Zino pake kebelet berak segala lagi," jawab Denis.
"Ya udah yang penting udah kumpul semua, kita mulai bahas sekarang. Matiin musiknya, Gar," pinta Elgara.
Mobil Ayra terhenti tak jauh dari jarak basecamp Vanoztra. Dengan cepat ia keluar dari mobil dan melangkah ke arah basecamp Vanoztra.
Gadis itu berjalan sembari celingukan— takutnya ada yang menjaga di depan basecamp. Dirasa aman, Ayra terus melanjutkan langkahnya hingga tiba di samping pintu utama basecamp.
"Alaskar. Alaskar yang udah mata-matai basecamp Vanoztra," jelas Elgara.
Ayra mengernyit saat mendengar ucapan Elgara, ia pun segera mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Nathan.
A: Nat, lo suruh anggota Alaskar mata-matai basecamp Vanoztra?
A: Gue lagi nguping anak Vanoztra di basecampnya.
A: Siapa tau hari ini gue langsung dapet info yang bagus buat hancurin Vanoztra
"Lo semua lihat ke layar," pinta Elgara sembari menggeserkan proyektor agar posisinya pas dengan layar.
Semua anak Vanoztra langsung menatap fokus pada layar putih yang menampilkan rekaman CCTV. "Di belakang jaketnya berlogo segitiga dan di tengahnya tulisan Alaskar, kan? Gue gak salah lihat?" tanya Elgara.
"Iya El. Itu, kan, emang jaket resmi Alaskar," jawab Anres.
"Iya gue nanya dulu. Takutnya mata gue salah lihat."
"Sekarang kita mulai bahas strategi penyerangan. Kita harus bikin mereka kapok," jelas Elgara yang diangguki semuanya.
Ayra menyeringai setelah mendengar Elgara akan membahas soal strategi. Gadis itu pun semakin mendekatkan dirinya ke samping pintu. Ia mulai memasang telinganya baik-baik.
"Yang pertama kita harus—"
Tring!
Sialan!
Ayra membelalakkan matanya, ia mencoba mematikan telepon. Saking terkejutnya— mematikan telepon saja susah! Sudah dipastikan seluruh anak Vanoztra mendengar ponselnya.
"BANGSAT! MAU CARI MATI LO?!" teriak Elgara sembari berlari cepat keluar basecamp.
Baru saja Ayra melangkahkan kakinya untuk berlari—sial! Ia menginjak tali sepatunya sendiri. Mengakibatkan dirinya tersungkur sama seperti saat di sekolah tadi.
Saat Ayra mencoba bangkit—fuck! Tasnya dicekal erat oleh seseorang di belakangnya. Gadis itu memejamkan mata dengan jantung yang berdegup kencang.
Elgara mengernyitkan dahi saat melihat tas yang tak asing di matanya. "Ayra?" tanya Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Sudah tertangkap mau bagaimana lagi? Ah, Ayra benar-benar pasrah sekarang. Mau kabur juga gak mungkin. Karena dirinya diikat di kursi oleh Elgara. Ratusan anggota Vanoztra pun mengelilingi dirinya.
Nangis? Tidak, itu bukan deskripsi keadaan Ayra sekarang. Yang ada cewek ini duduk santai sembari menatap tajam satu persatu wajah anggora Vanoztra—terutama Elgara.
Untungnya wajah mereka rata-rata tampan membuat Ayra tak mual menatapnya. Ada sebagian anggota Vanoztra yang menatap Ayra dengan penuh nafsu. Ingin rasanya Ayra menghajar laki-laki itu.
"Apa lo lihat-lihat?! Gue smackdown baru tau rasa!" bentak Ayra pada laki-laki yang terus menatap ke bagian kakinya. Itu karena rok Ayra pendek.
"El, mau diapain nih, cewek? Sayang kalo gak diapa-apain," ucap Zino sembari menyeringai, menatap Ayra.