
Brak!
"Mana Anres?!" tanya Elgara dengan penuh emosi.
"Wei, wei, wei, santai El," ucap Mario sembari merangkul pundak Elgara.
Elgara menghempaskan rangkulan Mario, ia mengedarkan pandangannya mencari Anres. Serentak anak Vanoztra yang berada di basecamp berdiri dari duduknya, mereka yakin malam ini Elgara dan Anres akan kembali bertengkar.
"Mau apa lo cari gue?" tanya Anres.
Laki-laki bermata elang itu segera berjalan menghampiri Anres dengan penuh emosi. Tangan Elgara menarik kerah kaos Anres, tanpa aba-aba laki-laki bermata elang itu melayangkan pukulan tepat di wajah Anres.
Anres yang belum siap menerima pukulan tersebut, ia tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari hidungnya, ia mencoba berdiri kembali sembari mengusap darahnya.
"MAU SAMPAI KAPAN LO TERUS GANGGU HUBUNGAN GUE SAMA AYRA?!" bentak Elgara.
"LO TEMAN SIALAN YANG GAK PUNYA OTAK!" ketus Elgara.
"UDAH TAU AYRA MILIK GUE! DIA PACAR GUE! TAPI LO BANGSAT–MALAH TERUS GANGGU HUBUNGAN GUE SAMA AYRA!" bentak Elgara.
Anres menyeringai sembari terkekeh. "Gue cuma peduli aja sama Ayra, gak ada maksud buat rebut dia dari lo," ucap Anres.
"Cuma peduli lo bilang? Lo pikir gue buta, bangsat?!" tanya Elgara membentak.
"Gue bisa bedain mana peduli, mana cinta!" lanjut Elgara.
Elgara kembali menarik kerah kaos Anres, jarinya menunjuk tepat di hadapan wajah Anres. "Sekali lagi gue peringatin lo, sialan! Mulai detik ini gak usah ganggu hubungan gue sama Ayra dan lo gak usah care sama Ayra!" bentak Elgara.
"Cewek masih banyak di luaran sana. Jadi gak usah berpikir untuk rebut Ayra dari–"
Brak!
Ucapan Elgara terhenti. Serentak semua anak Vanoztra mengalihkan pandangan ke arah pintu. Ia terkejut dengan kedatangan Brio yang penuh dengan darah dan juga luka. Laki-laki itu jalan dengan terhuyung-huyung, lantaran tidak kuat lagi, Brio terjatuh ke lantai.
Anggara dan Mario segera berlari menghampiri Brio. Mereka berdua merangkul Brio untuk memapahnya ke kursi. Tangan Elgara yang menarik kerah kaos Anres, ia turunkan.
"Lo kenapa, Bri?" tanya Elgara cemas.
"Astra–geng Astra yang udah keroyok g-gue," jawab Brio sembari meringis menahan perihnya luka.
Elgara menggeram sembari mengepalkan tangannya kuat. Mata laki-laki itu memerah dan menajam. "SIALAN!" teriak Elgara menggelegar.
"Kenapa gak terdeteksi ke komputer? Lo gak bawa handphone?" tanya Elgara pada Brio.
"Gue bawa handphone," jawab Brio.
"Tapi kok–"
"Berhasil terdeteksi El, tapi tadi gak kedengaran karena lo ribut sama Anres kayaknya," ucap Denis.
"Ini karena lo yang terus ngurusin soal cinta, El," ujar Mario.
"Iya bener. Hanya karena cewek lo sampai ribut sama Anres, padahal dulu kita gak pernah ribut satu sama lain, tapi sekarang di masa pimpinan lo, hubungan kekeluargaan kita jadi berantakan," jelas Anggara.
"Dan lihat, karena lo terus ribut sama Anres. Salah satu dari kita dikeroyok tanpa kita ketahui," ujar Nino.
"Kenapa lo semua nyalahin gue. Anres juga salah seharusnya dia juga disalahin dong. Dia yang memulai!" ucap Elgara.
"Sebagai ketua harusnya lo jangan ngelak kalo disalahin. Harusnya lo sadar kalo lo itu salah bukannya mengalihkan ke Anres, El," ujar Mario.
Elgara menghela napasnya. "Gue bukan ngelak, gue cuma cari kebenaran. Emang faktanya kan, si Anres yang mulai duluan," jelas Elgara.
"Lo kenapa jadi gini, bro. Karena Ayra lo jadi kurang cerdas dalam berpikir," ucap Anggara.
"Gak usah salahin Ayra," ujar Elgara.
"Nahkan, lo jadi bego karena cinta, anying!" ketus Anggara di akhiri kekehan.
"Pas awal aja dipimpin sama lo bagus. Ke sini-sini gak waras lo pimpin Vanoztra," ucap Nino.
Elgara terdiam sembari menahan emosinya yang terus memburu. "Oh, lo pengen ketua Vanoztra diganti? Oke, gak masalah. Nanti gue bicara sama Bang Nando," ucap Elgara, kemudian ia melenggang pergi keluar basecamp.
"Woi, El! Ini gimana masalah Astra?!" tanya Denis setengah berteriak, tapi Elgara terus melangkah tak menggubrisnya.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Dengan kecepatan tinggi Elgara melajukan motornya membelah jalanan pada malam hari. Raut wajah laki-laki bermata elang itu terlihat sangar dan penuh emosi juga. Mungkin jika ada yang mengusiknya detik itu juga Elgara akan menghabisi nyawanya.
Perkataan teman-temannya tadi terus berputar di kepala Elgara. Ada rasa sakit hati dan juga geram atas perkataan teman-temannya. Ditambah Anres yang hanya terdiam saja, padahal menurut Elgara, Anres juga salah karena ia yang selalu memancing emosi nya.
"ARRGHH!" Elgara berteriak sekencang-kencangnya dengan napas yang semakin memburu.
Beberapa menit kemudian pandangan Elgara menajam melihat pengendara motor yang berada di hadapannya. Pengendara motor dengan jaket bertuliskan 'Astra'. Tak mungkin membiarkan anggota Astra pergi begitu saja, Elgara semakin mempercepat laju motornya.
Kini Elgara berada di samping anggota Astra tersebut. Dengan cepat Elgara menendang motor anggota Astra itu hingga dia jatuh dari motor. Elgara turun dari motornya, ia berjalan ke arah anggota Astra itu, kemudian menarik kerah jaketnya hingga dia berdiri.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"APA MAKSUD GANGSTER LO KEROYOK ANGGOTA VANOZTRA?! LO SEMUA MAU CARI MATI, HAH?!" bentak Elgara.
"VANOZTRA ITU GAK PANTAS BERADA DI ATAS! BUKAN HANYA ASTRA YANG INGIN VANOZTRA HANCUR, TAPI YANG LAINNYA JUGA!" bentak anggota Astra tersebut.
BUGH!
Anggota Astra itu berhasil memberi perlawanan pada Elgara. Detik itu juga Elgara memukulnya kembali dan anggota Astra itu tak mau kalah juga. Mereka berdua saling melayangkan pukulan demi pukulan.
Hingga beberapa detik kemudian Elgara kewalahan melawan salah satu anggota Astra itu. Entah karena Elgara tidak bisa berkonsentrasi atau emang anggota Astra itu lebih kuat darinya.
"Ini karena lo yang terus ngurusin soal cinta, El," ujar Mario.
"Dan lihat, karena lo terus ribut sama Anres. Salah satu dari kita dikeroyok tanpa kita ketahui," ujar Nino.
"Nahkan, lo jadi bego karena cinta, anying!" ketus Anggara di akhiri kekehan.
"Pas awal aja dipimpin sama lo bagus. Ke sini-sini gak waras lo pimpin Vanoztra," ucap Nino.
Perkataan teman-temannya kembali berputar di kepala Elgara. Hal itu membuat konsentrasi Elgara terbuyarkan. Kini laki-laki bermata elang itu terdiam dengan tatapan kosong, ia membiarkan tubuhnya terus dipukuli oleh anggota Astra itu.
Gue gagal jadi pemimpin yang baik.
Gue terlalu memikirkan hal yang tidak seharusnya gue pikirkan dan gue terlalu mencemaskan hal yang mungkin saja itu tidak benar.
Hingga sering kali di saat teman-teman gue dikeroyok, gue gak tau.
BUGH!
Elgara kembali memberikan perlawanan pada anggota Astra itu. Elgara semakin membabi buta saat memukulinya. Anggota Astra itu kini terbaring di permukaan tanah. Elgara dengan sigap memukulinya berkali-kali tanpa ampun. Hingga darah bercucuran di hidung dan di bagian lainnya.
Trittt!
Serentak mereka mengalihkan pandangannya ke arah komputer. Nino beranjak dari kursinya untuk berjalan menghampiri komputer. Ia membelalakkan matanya, kemudian menoleh ke arah Anres.
"Res, Elgara–"
"Gak perlu. Kita gak perlu bantu dia. Gue yakin, dia bisa selesaikan sendiri," ucap Anres dengan tatapan ke arah depan.
"HEI! BERHENTI!"
Teriakan warga sekitar membuat Elgara berhenti memukulinya. Ia berdiri kembali dengan napas yang terengah-engah, sedangkan anggota Astra itu sudah terkapar lemah.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Setelah selesai mengerjakan tugas, kini Ayra tengah membereskan lemari bajunya yang cukup berantakan. Ayra meraih beberapa bajunya yang tidak terlipat rapi, kemudian Ayra melipatnya kembali.
"Astaga, gue lupa mulu mau bilang ke Elgara kalo jaketnya ada di rumah gue," ucap Ayra.
"Gue ke rumah Elgara aja deh sekarang. Mumpung masih jam tujuh." Gadis itu segera memasukkan jaket Elgara ke dalam tas.
Motor Elgara terhenti di depan gerbang rumahnya. Ia melepaskan helm, kemudian merapikan rambutnya. "Biasanya keributan gak pernah diketahui oleh warga, tapi tadi– sial! Warga jadi memandang buruk terhadap Vanoztra," ucap Elgara.
"Mam!" teriak Elgara di depan gerbang tersebut.
"Tolong buka gerbangnya, Elgara gak bawa kunci!"
Bukan Resta yang keluar dari rumah, melainkan Bagas. Elgara mengalihkan pandangannya ke depan, ia menghela napasnya pasrah. Elgara yakin papanya tidak akan melihat luka di wajahnya, lantaran sudah Elgara bersihkan. Meski ada beberapa luka lebam yang sulit hilang.
"Makasih, Pah," ucap Elgara setelah Bagas membuka pagarnya.
"Turun kamu," ujar Bagas dengan tatapan tajam.
Elgara turun dari motornya, ia berdiri di hadapan Bagas. "Ada ap–"
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Elgara yang terdapat luka. Elgara hanya bisa terdiam jika Bagas sudah menamparnya. Laki-laki bermata elang itu menatap Bagas, seolah meminta penjelasan apa maksud dari menamparnya.
"Dasar anak gak tau diri! Kamu itu bisanya cuma bikin Papa malu!" bentak Bagas.
Bagas memperlihatkan video di ponselnya pada Elgara. Video tersebut menunjukkan Elgara yang tengah memukuli anggota Astra. Napas Bagas semakin memburu, ia memasukkan ponselnya pada saku celana.
"BIAR APA KAMU KAYAK GITU? BIAR APA ELGARA?!"
"BIAR TERLIHAT JAGOAN DI MATA SEMUA ORANG DAN BIAR TERLIHAT HEBAT DI MATA SEMUA ORANG, IYA?!"
"DASAR BODOH! YANG KAMU LAKUKAN ITU MALAH BIKIN PAPA MALU. KARENA TEMAN PAPA SENDIRI YANG MELIHAT KAMU SEPERTI ITU, ELGARA!"
Bugh!
Bagas melayangkan pukulan pada putranya itu beberapa kali, lantaran merasa kesal dengan ulah Elgara. Baru saja tubuhnya rehat sejenak dari pukulan Anres dan anggota Astra, tapi kini tubuh Elgara kembali dipukuli.
Elgara hanya terdiam membiarkan Bagas memukuli tubuhnya. Ia tidak mungkin memberikan perlawanan pada papanya. Karena jika Elgara sudah memukuli seseorang, ia akan lupa dan tidak sadar bahwa yang dipukulinya adalah makhluk bernyawa.
"MAU JADI APA KAMU DI MASA DEPAN NANTI, ELGARA?! JIKA SIKAP KAMU SEKARANG SEPERTI INI!" bentak Bagas.
Lagi-lagi laki-laki bermata elang itu terdiam dengan tatapan kosong dan lagi-lagi pikirannya berputar soal perkataan yang membuatnya down.
"Ngurus kucing satu aja gak becus, lalu gimana kamu ngurus ratusan anggota Vanoztra yang rata-rata anak kurang pendidikan?"
Gue gak becus jadi pemimpin.
Gue sadar sekarang bahwa Vanoztra– diambang kehancuran.
"ELGARA, KAMU DENGAR PAPA TIDAK?!"
Bugh!
Elgara tersungkur ke permukaan tanah saat Bagas melayangkan pukulannya cukup kencang. Karena kesal tidak didengar ucapannya oleh Elgara, Bagas kembali melayangkan pukulannya, tapi–
"Om Bagas, stop!" teriak Ayra, kemudian Ayra mencoba menahan tangan Bagas yang akan memukul Elgara kembali, tapi tetap saja Bagas berhasil memukuli Elgara.
"Papa!" teriak Resta. Resta meninggalkan kantong plastiknya begitu saja, ia berjalan menghampiri Bagas.
"Udah Om, udah! Kasihan Elgara," ucap Ayra sembari memohon.
"Papa udah cukup!" teriak Resta sembari menarik tubuh Bagas.
Bagas berdiri dengan napas yang terengah-engah, sedangkan Elgara terbaring lemah dengan tatapan kosongnya. Ayra segera membantu Elgara untuk terduduk, lalu ia memeluk Elgara begitu erat.
"Apa-apaansih, Papa?! Ini udah kelewatan!" bentak Resta.
"Mama gak tau apa yang dia lakukan hari ini! Dia berantem di jalan sampai-sampai teman Papa lihat dia! Papa malu! Emang Mama gak malu apa?!"
"Karena dia senangnya berantem, ya udah Papa hajar dia aja. Dengan omongan gak akan masuk ke telinganya!" jelas Bagas.
"Papa salah! Bukan seperti itu caranya! Itu sama aja kamu siksa anak kamu sendiri! Elgara itu anak kamu, Pah!" jelas Resta.
"Mama udah ..." ucap Lesya sembari memeluk Resta.
Resta menoleh ke arah Lesya. "Iya sayang. Masuk, Pah!" titah Resta, kemudian Resta meraih kantong plastik belanjanya.
"Ayra tolong bawa Elgara masuk ya, sayang," ucap Resta.
"Iya Tante," jawab Ayra.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Elgara terduduk di tepi tempat tidurnya. Ia menatap ke arah Ayra yang terduduk di hadapannya sembari membersihkan luka-luka Elgara. Dengan terus menatap wajah Ayra, hati dan pikiran Elgara sedikit tenang.
"Udah selesai. Kayaknya luka ini bakal lama hilangnya, El," ucap Ayra.
"Tapi gak apa-apa deh, lagian kadar ganteng lo gak akan hilang," ujar Ayra, kemudian menutup kotak P3K nya.
Elgara tersenyum atas ucapan Ayra, kemudian ia menarik perlahan kursi yang diduduki Ayra, hingga gadis itu semakin mendekat ke hadapannya.
Mata Ayra terus terfokus pada manik mata Elgara. Laki-laki itu menghela napasnya, kemudian ia menempelkan keningnya di pundak Ayra. Elgara tengah menunjukkan kelemahannya kali ini.
"Emang salah ya, Ra, kalo cemburu?" tanya Elgara.