Vanoztra

Vanoztra
48. Asing kembali



Hari ini hari terakhir pelaksanaan ujian di SMA Bintang Negara. Mereka semua merasa senang telah melewati masa ujian yang cukup membuatnya pusing, tapi dibalik rasa senang itu ada rasa sedih juga. Karena sebentar lagi mereka akan berpisah untuk mengejar cita-citanya masing-masing.


"Ayraaaa," panggil ketiga sahabatnya serentak.


"Pagi ini dingin banget ya, gue lupa lagi gak bawa jaket," ucap Ayra.


"Iya ih, kalo dingin tuh bawaannya suka ngantuk," sahut Shafira sembari menyenderkan kepalanya di pundak Maudy.


"Lo pada udah sarapan belum? Kalo belum makan nasi goreng, yuk!" ajak Nana.


"Ayo! Kebetulan gue mau tagih utang ke Mario," ucap Maudy.


Setibanya keempat gadis itu di kantin. Shafira langsung berlari ke arah Anggara dan dia langsung duduk di samping Anggara. Begitu pun dengan Nana yang langsung melingkarkan tangannya pada leher Brio dari belakang.


"Luka kamu udah gak apa-apa, Bri?" tanya Nana sembari mengabsen setiap wajah Brio yang masih terdapat luka lebam.


"Tenang aja aku kuat, apalagi kalo ada kamu," jawab Brio yang berhasil membuat Nana tersenyum.


"Apaansih ..." gumam Nana sembari tersenyum malu.


Tepat di belakang Mario, Maudy menjambak rambut laki-laki itu cukup kencang. Membuat Mario menoleh ke arah Maudy. "Anying! Sakit Mod, apaansih? Gak sopan, gue aduin ayah," ucap Mario dengan tatapan kesal.


"Mana uang gue?" tanya Maudy.


"Baru juga pinjam pas malam, Mod. Nanti aja bayarnya," jawab Mario.


"Ck! Males deh, ya udah lo bayar paket gue malam ini," ucap Maudy, kemudian terduduk di samping Mario.


Dari tadi hanya Ayra yang berdiri memperhatikan ketiga temannya. Pandangan Ayra beralih menatap seseorang yang tengah menatapnya sebal. Pandangan mereka saling bertemu dengan cepat keduanya mengalihkan pandangan.


"Gengs, gue duduk di sana ya," ucap Ayra.


"Eh, astaga gue lupa. Sorry-sorry, Ra," sahut Nana, kemudian ia beranjak dari kursinya.


Sebelum menemani Ayra di sana, ia berpamitan dulu dengan Brio. Setelah itu Nana dan kedua sahabatnya segera duduk bersama Ayra. Pandangan Elgara terus menatap ke arah Ayra, sebenci apapun hatinya pada Ayra, tapi tetap saja pikiran Elgara selalu soal Ayra.


'Lo bener-bener bikin gue lemah, Ra.'


Ayra menatap Elgara secara diam-diam. Di dalam hatinya Ayra mengucapkan sebuah kalimat, "Pada akhirnya kita menjadi orang yang asing kembali."


'Hah ... gini nih, kalo hati gak di semen– gampang rapuh.'


"El, berantem lagi sama Ayra?" tanya Anggara yang diangguki Elgara.


"Anjir, kenapa lagi, bro? Demen banget berantem," ucap Mario.


"Gue putus sama Ayra," sahut Elgara dengan raut wajah datar.


"Terus apa gunanya lo baikan sama Ayra kemarin? Bukannya langsung putusin aja," ucap Anres.


"Lo tau sendiri Res, mereka berdua tuh berantem-berantem–baikan lagi. Gitu aja terus anying! Sampai dugong punya jari," ujar Brio.


Elgara menghela napasnya, kemudian ia melemparkan permen ke arah Brio dengan tatapan tajam. "Serius gue kali ini, gue gak akan sama Ayra lagi," ucap Elgara.


"Buat lo, Res, jangan deketin Ayra. Kali ini bukan karena gue cemburu, tapi lo emang harus jauhi Ayra."


"Dan bukan buat Anres aja, tapi buat lo semua–jauhi Ayra. Dia cewek yang berbahaya," jelas Elgara, kemudian Elgara beranjak dari kursinya.


"Cabut ke kelas," ajak Elgara.


"Cewek bahaya? Ayra bukan manusia?" tanya Anggara dengan raut wajah bingung.


"Udahlah, nanti juga Elgara jelasin. Ayo!" ajak Anres.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Pandangan Ayra terus menatap layar ponselnya, gadis itu berjalan menyusuri koridor kelas. Sebelum pulang ke rumah, Ayra memutuskan untuk pergi ke taman menemui ketiga sahabatnya.


"Ternyata Elgara masih menyembunyikan soal kebenaran gue."


"Oke, gue sendiri yang akan perlihatkan siapa gue sebenarnya di depan seluruh anggota Vanoztra."


"Gue harus bicara soal ini ke Nat–"


Ayra tersentak saat seseorang merangkul pundaknya. Gadis itu mendongak menatap orang tersebut yang tak lain Anres. Anres memberikan senyuman pada Ayra, membuat gadis itu tersenyum padanya.


Perlahan Ayra melepaskan rangkulan Anres, kemudian ia kembali menatap Anres. "Sorry, iya gue mau pulang, tapi gue mau ke taman dulu," ucap Ayra tersenyum tipis.


"Oh ... gue temenin deh, ayo!" ajak Anres sembari menarik tangan Ayra.


"Enggak-enggak," ucap Ayra sembari menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Anres.


"Gue bisa sendiri kok, makasih," ujar Ayra.


"Sekalian aja bareng soalnya gue–"


"ANRES!" teriak Elgara di belakang Anres.


Serentak mereka berdua menoleh ke arah Elgara. Dengan cepat Ayra memalingkan wajahnya. Laki-laki bermata elang itu berjalan mendekat, Elgara menepuk pundak Anres.


Sekilas Elgara melirik ke arah Ayra, kemudian ia melirik ke arah Anres dengan tatapan tajam. "Gue bilang apa tadi di kantin?" tanya Elgara.


Anres hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Tak mungkin untuk terus berdiri di hadapan Elgara, dengan cepat Ayra melenggang pergi meninggalkan dua pria itu.


Tatapan Anres terus mengikuti langkah Ayra, tapi tak lama hal itu terbuyarkan saat Elgara mengusap wajahnya. "Buruan ke Warbah," pinta Elgara sembari melangkahkan kakinya.


...***...


"Aaaa ... tiga hari lagi kelulusan, gengs! Gue mau tampil cantik nanti," ucap Shafira heboh.


"Hah ... antara sedih sama senang sih kelulusan nanti," ujar Nana sembari tersenyum.


"Lo mau kuliah bareng Brio, Na?" tanya Maudy.


Nana menggelengkan kepalanya. "Enggak deh, biar kita bisa fokus sama kuliahnya. Kalo bareng nanti yang ada gue malah pacaran mulu," jawab Nana.


"Bener banget! Tapi gue bareng sama Anggara sih, gue gak bisa lepas dari dia. Satu hari tanpa dia, sekarat gue," sahut Shafira yang langsung ditoyor oleh kedua sahabatnya.


"Geblek lo, Sha. Bucinnya kebangetan," ucap Maudy.


Nana mengalihkan pandangannya ke arah Ayra yang dari tadi hanya terdiam saja. Setelah putusnya dengan Elgara, raut wajah Ayra tidak pernah ceria lagi. Ayra kehilangan dua orang yang menjadi alasannya bahagia di dunia ini, bahkan untuk tersenyum pun rasanya malas bagi Ayra.


"Ra ..." panggil Nana sembari memegang tangan Ayra.


"Gue kangen Ayra yang ceria, deh," ucap Nana dengan tatapan sendu.


"Iya Ra, udah dong gak usah pikirin Elgara. Dia udah nyakitin lo berkali-kali, lo gak pantas pikirin cowok kayak gitu," jelas Maudy.


"Mana sih, diri lo yang dulu? Diri lo yang selalu ceria, diri lo yang selalu receh tiap ngobrol. Kita bertiga kangen itu, Ra," ucap Shafira sembari mencebikan bibirnya.


Gadis bermata coklat itu menghela napasnya, kemudian ia tersenyum, tapi senyuman itu terlihat dipaksakan. "Iya ini gue, ini diri gue yang asli. Keceriaan dan senyuman gue udah lama hilang setelah kematian Kak Micho."


"Dan yang kemarin itu hanya topeng yang gue pakai buat bohongi kalian semua," jelas Ayra dengan mata yang berkaca-kaca.


Sontak Nana memeluk Ayra begitu pun dengan Shafira dan Maudy. Mereka merasa sedih melihat Ayra seperti ini, padahal biasanya Ayra selalu memecahkan keheningan suasana, tapi kali ini dia hanya terdiam tidak ikut mengobrol.


Dua laki-laki yang selalu membuat Ayra bahagia begitu efektif di kehidupannya. Dan kini mereka pergi dari kehidupan Ayra, membuat dunia Ayra berubah drastis dalam sekejap. Bagi orang lain dunia itu berwarna, tapi bagi Ayra kini dunia itu hanyalah abu-abu.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


"Seperti biasa kita yang akan terlebih dahulu untuk memancing Vanoztra," ucap Nathan.


Seluruh anak Alaskar termasuk Ayra memusatkan mata ke arah Nathan, yang tengah menjelaskan soal persiapan untuk menghancurkan Vanoztra.


Malam ini Ayra memutuskan untuk melanjutkan rencananya menghancurkan Vanoztra. Ayra tidak peduli lagi soal Elgara dan yang lainnya, meskipun ia tau jika rencananya berhasil Ayra tidak sanggup melihat kehancuran Elgara.


Tapi Ayra lakukan ini demi Micholas, ia ingin balas dendam pada orang yang telah membuat Micholas pergi meninggalkannya. Dengan berat hati Ayra harus segera menjalankan rencana ini.


"Lo udah siapin, Ay? Strategi apa aja yang bakalan kita lakuin," tanya Nathan.


Ayra menganggukkan kepalanya, kemudian ia beranjak dari kursi untuk berdiri di depan dan menjelaskan strateginya. "Selama gue dekat dengan Elgara, gue hanya mendapatkan soal kelemahan dia. Soal strategi, gue gagal mendapatkannya," jelas Ayra.


"Kali ini gue udah susun strategi apa aja yang akan kita lakukan saat pertarungan dengan Vanoztra nanti. Salah satunya kali ini gue akan ikut berdiri di hadapan Vanoztra untuk melemahkan ketua Vanoztra itu."


"Dan sepertinya ini akan menjadi terakhir kalinya gue ikut bareng kalian. Karena setelah itu gue gak bisa bareng-bareng sama kalian lagi," ucap Ayra dengan tatapan sendu.


Ayra menghela napasnya pasrah, lalu berkata, "Oke, gue akan mulai bahas strategi penyerangannya."