Vanoztra

Vanoztra
27. Berbagi



Elgara membungkam mulutnya setelah gadis di hadapannya membentak. Kini Elgara hanya menatap Ayra intens, menunggu penjelasan dari gadis itu. Ayra terdiam sejenak memikirkan perkataan yang akan ia lontarkan pada Elgara.


"Semalam gue lupa buat kasih tau lo karena handphone gue mati, El. Waktu gue ambil ikat rambut gue yang jatuh, gue ketemu anak kecil lagi nangis–dia kepisah sama orang tuanya."


"Gue gak bisa ngebiarin anak kecil itu. Untungnya dia tau alamat rumahnya, terus gue anterin dia pulang dan gue lupa kalo gue lagi sama lo," dusta Ayra, kemudian mengulum bibirnya berharap laki-laki itu percaya.


"Ingat-ingat waktu gue–lagi gosok gigi," lanjut Ayra, kemudian menundukkan kepalanya.


Tak ada jawaban atau sahutan apapun dari Elgara, membuat Ayra mendongak perlahan untuk menatap Elgara. Ternyata laki-laki itu masih menatapnya dengan intens. Sontak Ayra menelan ludahnya susah.


"El ..." panggil Ayra pelan.


"J-jangan tatap gue kayak gitu–gue takut ...." Gadis itu langsung menghantam tubuh Elgara dan melingkarkan tangannya ke tubuh laki-laki bermata elang itu.


"HAHAHA!"


Kurang ajar! Laki-laki itu berhasil mengerjai Ayra. Suara tawaan Elgara terdengar begitu renyah di telinga Ayra. Saat gadis itu melepaskan pelukannya, Elgara langsung menarik tubuh Ayra untuk kembali memeluknya.


"Lo lucu banget, sih, Ra," ucap Elgara sembari terkekeh kecil.


Ayra mendongak menatap Elgara sembari mencebikan bibirnya. "Maaf udah bikin lo khawatir dan maaf gue ngehindar dari lo. Itu karena–gue takut lo marah."


Tangan Elgara terulur mengusap puncak kepala Ayra. "Gue gak marah, sama sekali gak marah. Ya, tadinya gue mau pura-pura marah sama lo sih, tapi gue gak kuat lihat lo lucu banget, Ra," jelas Elgara, lagi-lagi tertawa.


Wajah Ayra semakin ditekuk–kesal. Detik itu juga Ayra memukul dada Elgara cukup kencang, kemudian ia melenggang pergi– meninggalkan laki-laki itu tanpa pamit.


"Ra!" panggil Elgara.


Ayra tak menjawab, ia hanya mengacungkan dua jari tengahnya tanpa menoleh. Dari belakang, Elgara terus berjalan mengikuti Ayra sembari melontarkan kata-kata yang berhasil membuat Ayra kesal.


"Yang jalan sendiri jomblo!" teriak Elgara meledek Ayra.


"El, nanti malam–e-eh ...." Ucapan Anres terhenti setelah Ayra menggandeng lengannya.


Yang tadinya Anres akan berjalan menghampiri Elgara, kini ia membalikkan tubuhnya. Karena Ayra menggandeng lengan Anres sekaligus menyeretnya untuk mengikuti langkahnya.


"Lah, ditinggal," gumam Elgara.


Senyuman manis terbit di bibir Anres. Sorot matanya menatap fokus pada Ayra yang tengah melahap roti nya dan sesekali minum susu kotak. Dalam hitungan detik roti itu habis dilahap Ayra.


"Mau nambah lagi, Ra?" tanya Anres.


Ayra menggelengkan kepalanya sembari menyeruput susu kotaknya. Dering ponsel Ayra mengalihkan pandangan keduanya. Dengan cepat Ayra meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja.


Gadis itu menghela napas, kemudian mematikan teleponnya. Nathan–yang sudah menghubungi dirinya, Ayra tau apa yang akan Nathan tanyakan lewat telepon tersebut, apalagi kalo bukan soal menghancurkan Vanoztra.


"Kenapa gak dijawab?" tanya Anres.


"Bukan apa-apa, kok, gak penting," jawab Ayra di akhiri senyuman.


Anres menganggukkan kepalanya. "Lo berantem tadi sama Elgara?" tanya Anres.


"Iya, gue kesal sama dia. Nyebelin banget sumpah! Kok lo betah sih, temenan sama dia?"


"Ya, gue akui emang dia tuh nyebelin, tapi dia gak pernah lupa sama yang namanya teman," jelas Anres.


"Tadi Elgara khawatir banget soal lo, Ra. Gak biasanya raut wajah dia kusut. Setau gue, sebesar apapun masalah Elgara, dia akan ceria terus, tapi soal lo–beda," ucap Anres membuat hati Ayra tersentuh mendengarnya.


"Dilihat-lihat, Elgara kali ini benar-benar tulus sama lo," ujar Anres sembari tersenyum.


Rasa marah dan kesal pada Elgara lenyap seketika setelah mendengar perkataan Anres. Gadis itu beranjak dari kursinya. Sebelumnya, ia menatap jam tangannya terlebih dahulu.


"Em, Res. Makasih ya, udah temenin gue makan. Kalo gitu gue mau samperin Elgara dulu. Gak apa-apa, kan, gue tinggal?" pamit Ayra.


"Gak apa-apa, Ra," sahut Anres sembari tersenyum.


Setelah Ayra pergi dari kantin, Anres menundukkan kepalanya, ia tersenyum getir sembari menggelengkan kepala.


"Lagi-lagi gue bodoh," gumam Anres.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Hembusan angin sore menerpa wajah Ayra. Gadis itu menumpukan dagunya pada bahu Elgara sembari melingkarkan tangannya pada tubuh laki-laki itu. Ayra benar-benar menikmati hembusan anginnya yang cukup menyejukkan kulit wajahnya.


Sesekali ia melirik wajah Elgara dari samping. Laki-laki itu terlihat sangar jika sedang fokus, tapi detik kemudian kesangaran pada wajahnya lenyap setelah senyuman manis terbit di wajahnya.


"Jangan salahin gue kalo tabrakan," ucap Elgara.


"Ih! Ya udah iya, gak akan lihatin lo!" ketus Ayra sembari memukul pelan pundak Elgara.


"El, seberapa bencinya lo sama Alia? Sampai-sampai tadi lo mau tampar dia."


"Banget, 100%"


"Kok gitu? Padahal dia tuh baik, deh. Gue gak habis pikir kenapa orang-orang benci sama dia. Heran, dia diam aja dibenci, apalagi kalo banyak geraknya."


"Dia yang udah bikin gue malu di awal masuk SMA."


"Why?" tanya Ayra sembari mengernyit.


"Dia jatuh di lapangan waktu mau upacara. Terus nabrak gue dan sialnya–dia cium gue," jawab Elgara.


"Wow! Biasanya ya, kalo di novel-novel, kayak gitu tuh pasti lo nya jadi cinta sama Alia–"


"Terus judul bukunya pasti gini, 'MPLS (Masa pengenalan langsung sayang)' haha ..." jelas Ayra di akhiri tawaan tak lupa sembari memukul-mukul pundak Elgara.


Elgara berdecak sebal, ia melirik sekilas pada Ayra lewat kaca spionnya. "Ketawa lo!" ketus Elgara.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Bersamaan dengan tenggelamnya matahari, Vanoztra bersiap-siap untuk melakukan kegiatannya pada hari ini. Ratusan motor dan beberapa mobil yang dikendarai oleh pemuda tersebut mulai memenuhi jalanan. Menit kemudian, mereka memencar perkelompok ke beberapa lokasi sesuai dengan arahan Elgara.


Elgara menghentikan mobilnya di sebuah lapangan yang cukup luas, disusul beberapa temannya di belakang. Elgara, meraih sebuah handy talky yang sudah terhubung dengan wakil ketua utama. Dan sudah terhubung juga dengan beberapa ketua inti yang berada di lokasi berbeda.


"Anres, bisa dengar gue?" tanya Elgara lewat handy talky.


"Ya, bisa, El," jawab Anres.


"Oke, parkir semua motor di sini. Kita sambil jalan aja bagiinnya biar gak susah," titah Elgara.


"Oke siap!"


"Ingat. Bagikan terlebih dahulu ke orang-orang yang benar membutuhkan. Sisanya bisa bagikan ke siapa pun, paham?" jelas Elgara.


"Siap, paham!" jawab mereka serentak.


"Kita mulai dari sekarang," ucap Elgara.


Mereka semua mulai menjalankan kegiatannya untuk membagikan nasi kotak tersebut. Kegiatan ini bukan sekali atau dua kali Vanoztra lakukan. Dalam setahun Vanoztra berbagi seperti ini bisa dihitung sampai 5 kali.


Setiap berkumpul di basecamp mereka akan menyisihkan uang untuk kegiatan seperti ini. Elgara tidak memaksa mereka atau mewajibkannya untuk mengumpulkan uang. Ini hanya kesadaran dari diri mereka sendiri.


"Permisi, Pak. Ini ada sedikit makanan buat Bapak," ucap Elgara sembari menyerahkan satu nasi kotak.


"Alhamdulillah, hatur nuhun," sahut Bapak tersebut sembari tersenyum bahagia. (Terima kasih)


"Bapak jualan kerupuk?" tanya Anggara.


"Bukan Gar, bapaknya jualan lontong! Udah tau itu kerupuk masih nanya lo," sahut Mario.


"Yailah ... gue cuma nanya doang. Ribet lo, siapa tau bapaknya kredit kerupuk bukan jualan," jawab Anggara.


"Satu bungkusnya berapa, Pak?" tanya Anres.


"Lima ribu," jawab Bapak tersebut.


Elgara merasa tak tega melihat raut wajah Bapak itu yang terlihat sudah lelah, tapi kerupuknya belum habis terjual. "Kalo semuanya jadi berapa, Pak?" tanya Elgara.


"50 ribu aja gak apa-apa," jawab Bapak tersebut.


"20 ribu aja, ya, Pak. Saya beli semua," tawar Elgara.


"Ya udah gak apa-apa. Yang penting hari ini keluarga Bapak bisa makan," jawab Bapak tersebut.


Ucapan Bapak itu mampu membuat mata Elgara berkaca-kaca bukan hanya dirinya, tapi teman-temannya juga. "Ya udah nih, Pak, uangnya."


Bapak tersebut terdiam sejenak menatap ke arah uang yang diterimanya, lalu Bapak itu mendongak menatap Elgara. "Ini kelebihan uangnya, Nak. Kerupuknya kan, 20 ribu, ini uangnya 500 ribu," ucap Bapak.


Elgara tersenyum menatap Bapak itu. "Gak apa-apa. Semua uangnya buat Bapak aja. Tadi saya cuma bercanda, Pak," jelas Elgara.


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih ya, Nak," ucap Bapak tersebut dengan senyuman yang terus terbit di bibirnya, bahkan air matanya sudah memenuhi pelupuk mata.


Setelah itu mereka melanjutkan lagi untuk membagikan makanannya. Waktu terus berputar hingga tak terasa nasi kotaknya tinggal beberapa lagi. Elgara dan teman-temannya menghampiri kumpulan Bapak-bapak yang tengah mengobrol.


"Sampurasun!" ucap Brio. (Sapaan dalam bahasa Sunda)


"Rampes!" jawab Bapak-bapak tersebut serentak.


"Eh, Vanoztra. Sini atuh duduk, ngobrol-ngobrol," ucap salah satu Bapak-bapak tersebut. Mereka sudah cukup akrab dengan Vanoztra.


"Kapan-kapan deh, Pak," ucap Elgara sembari tersenyum.


"Pak, ini ada sedikit makanan dari kami buat bapak-bapak semuanya," ucap Anres sembari membagikan satu persatu nasi kotaknya.


"Alhamdulillah ...."


"Lumayan Pak, buat temen ngobrol. Ngobrol kok gak ngopi," ucap Mario.


"Tepuk tangan kok sebelah!" sahut Brio meledek Mario.


"Lo mah, anjir! Bawa-bawa gue sama Maudy mulu. Gak suka aing mah!" ketus Mario sembari menatap Brio tajam.


"Ini teh acara ulang tahunnya Vanoztra?" tanya salah satu Bapak tersebut.


"Acara syukuran si bos. Habis disunat, Pak," sahut Anggara.


"****** lo!" ketus Elgara sembari menatap Anggara tajam.


Serentak bapak-bapak tersebut tertawa. "Ah, kalian mah, aya-aya wae." (Ada-ada aja)


"Makasih atuh ya, makanannya. Semoga Vanoztra jaya terus."


"Aamiin ...."


Mereka berlanjut membagikan nasi kotaknya pada ibu-ibu yang tengah rumpi. Ibu-ibu tersebut senang mendapatkan nasi kotak– lebih tepatnya senang melihat ketampanan anak Vanoztra.


Sering kali jika membagikan apapun pada ibu-ibu, pasti ibu-ibu tersebut akan meminta foto bersama anak Vanoztra. Vanoztra di mata ibu-ibu sudah bagaikan artis.


"Pengen foto dulu atuh, ah, sama Pak Bos nya," ucap salah satu ibu-ibu tersebut, Elgara pun mengangguk sembari terkekeh, lalu mendekat ke arah ibunya.


"Aduh gusti, ya allah ... kalian ganteng banget! Aduh ...." Serentak anak Vanoztra tertawa.


"Kita pamit ya, Bu," pamit Elgara yang diangguki semua ibu-ibu tersebut.


Seringnya berbagi sampai-sampai Vanoztra akrab dengan sebagian masyarakat di sekitar Bandung. Tanpa memperkenalkan diri pun, warga sudah tau, siapa mereka. Dan tau kebaikan apa yang selalu Vanoztra berikan.


Berbagi atau sedekah, akan membuat pahala terus mengalir, meskipun diri kita sudah berada di alam kubur.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Malam ini Ayra mempraktekkan resep makanan yang baru ia lihat di sosial media. Makanan yang dibuat Ayra yaitu rainbow crepe cake dengan krim susu dan yupi strawberry kiss di atasnya. Membuat penampilan makanan itu begitu imut.


Cekrek!


Mata Ayra berbinar-binar menatap hasil jepretan foto cake buatannya. Ia merasa puas dengan keberhasilannya membuat cake tersebut.


"Gak sia-sia tangan gue sampai kesemutan juga. Gue upload ah, ke Instagram. Biar Tante Resta tau kalo calon mantunya jago buat makanan," ucap Ayra di akhiri senyuman.


"Emm ... enak banget, gila!" ucap Ayra sembari mengunyah cake itu dengan mata yang memejam.


"Gue sisain deh, buat Mam–" Ucapan Ayra terhenti setelah tersadar akan perkataannya. Raut wajah cerianya berganti menjadi murung.


Pandangan Ayra melirik ke sekitar ruangan, kemudian ia menghela napasnya panjang. "Lagi-lagi selera makan gue hilang setiap sadar di sini sendiri," ucap Ayra sembari memotong-motong cakenya tak beraturan.


Ayra beranjak dari kursinya, ia membuka kulkas. "Yah–gue baru ingat stok kiko gue habis."


Dinginnya malam hari tak Ayra rasakan sama sekali, ia baru saja selesai membeli kiko sembari melihat langit malam. Setelah keluar rumah, Ayra menjadi sedikit lebih tenang. Wajahnya pun kembali ceria dan senyuman terbit di bibirnya.


"Loh, Nathan, tumben lo–"


"E-eh ... mau kemana?" tanya Ayra terkejut setelah Nathan menarik lengannya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.