
"Ra!"
"Ayra!"
Di pagi hari Ayra sudah berlari dengan cepat dari parkiran, lalu melewati koridor-koridor kelas. Semua pandangan memusat ke arah Ayra, bahkan orang yang ada di hadapan Ayra, ia tabrak begitu saja. Ayra tidak mau berhenti berlari.
"Ra tunggu, Ra!" panggil Elgara setengah berteriak sembari terus mengejar Ayra.
Rasanya Ayra sudah tidak kuat untuk berlari lagi, apalagi kini Ayra dihadapkan dengan tangga. Gadis itu mengatur napasnya yang terengah-engah, ia memilih untuk tidak berlari lagi.
Ayra terdiam sejenak sembari berpikir. "Lah, ngapain juga gue lari? Yang ngejar gue Elgara bukan setan," ucap Ayra.
Gadis itu membalikkan tubuhnya. Sontak matanya terbelalak saat melihat Elgara yang sedang berlari ke arahnya, bukan karena takut, tapi sepertinya laki-laki itu tidak bisa menghentikan larinya.
"AWASSS!" teriak Elgara.
"Aaaa!"
Bruk!
"Aw ... punggung gue ..." ucap Ayra sembari meringis karena punggungnya membentur tangga.
Elgara segera berdiri, ia terkejut melihat Ayra terjatuh. Dengan cepat Elgara menarik kedua tangan Ayra agar gadis itu berdiri. Elgara menatap cemas pada Ayra.
"Lo gak apa-apa?" tanya Elgara.
Gadis itu mengusap-usap punggungnya sembari menatap Elgara tajam. "Aaaa! Nyebelin banget sih, lo!" bentak Ayra.
"Sakit punggung gue ... pantat gue ..." ucap Ayra.
"Lagian lo ngapain kejar gue, sih?!" bentak Ayra sembari menendang kaki Elgara cukup kencang.
"Ya, lo sendiri ngapain lari?" tanya Elgara.
Ayra terdiam tak menjawab pertanyaan laki-laki tersebut. Ia hanya mencebikan bibirnya lantaran merasa kesal–sangat kesal atas sikap Elgara pagi ini.
Nana yang baru saja tiba di sekolah, ia langsung menghampiri Ayra. Saat tau ada Elgara di sana raut wajah Nana berubah menjadi sangar. Ia melangkah penuh emosi.
"HEH?! LO NGAPAIN DEKET-DEKET AYRA?!" bentak Nana sembari menatap tajam.
"Gak ada urusannya sama lo," ucap Elgara datar.
"Ya ada lah! Ayra sahabat gue, gue gak terima lo nyakitin dia lagi! Lo kalo udah gak cinta sama Ayra, putusin Ayra sekarang juga jangan terus deketin dia!" bentak Nana.
"Lo bisa diem? Jangan pancing emosi gue! Gue gak mau sampai ribut sama lo lagi kayak waktu itu," ucap Elgara, kemudian ia menarik tangan Ayra untuk mengikuti langkahnya.
Ayra menoleh ke arah Nana. "Na! Duluan aja masuk kelasnya," ujar Ayra setengah berteriak.
Tiba di taman Elgara menghentikan langkahnya bersamaan dengan Ayra. Gadis itu langsung menghempaskan tangannya yang digenggam oleh Elgara, kemudian ia terduduk di salah satu kursi.
Elgara berjongkok di hadapan Ayra. Ia terus menatap bola mata Ayra, sedangkan yang ditatap memilih memandang objek lain. "Mau sampai kapan kita berantem?" tanya Elgara.
"Terserah. Gue gak ngerasa tuh kita berantem, lo aja yang beranggapan kita berantem. Jadi ya udah segimana lo aja mau sampai kapan juga," jawab Ayra.
Elgara menghela napasnya sembari menggenggam kedua tangan Ayra. "Gue minta maaf, Ra," ucap Elgara.
"Enak ya, lo cuma bilang maaf," ujar Ayra sembari terkekeh kecil.
"Iya, gue tau gue salah. Gue salah atas apa yang gue lakuin ke lo kemarin-kemarin. Dan gue pengen lo maafin atas kesalahan gue, Ra," jelas Elgara.
"Lo pikir, dengan maaf aja bisa hilangin rasa sakit di hati gue? Gak bisa, El," ucap Ayra.
"Terus gue harus gimana biar lo maafin gue?" tanya Elgara.
"Coba gue pengen tau, gue harus apa biar–"
"Kalo Ayra gak mau, gak usah dipaksa." Ucapan Anres memotong pembicaraan Elgara. Serentak mereka berdua melirik ke arah Anres.
Raut wajah Elgara berubah drastis setelah kedatangan Anres, ia menatap tajam ke arah laki-laki tersebut. "Diam lo bangsat!" bentak Elgara, kemudian berdiri menghadap Anres.
"Gue gak akan diam kalo lo nyakitin Ayra," ucap Anres.
Elgara menyeringai, kemudian ia kembali memasang raut wajah datar. "Dari banyaknya cewek yang gue permainkan–kenapa baru Ayra, lo gak terima?" tanya Elgara.
"Hah? Kenapa?!" tanya Elgara.
"Karena lo suka sama Ayra?" tanya Elgara.
"GUE NANYA TUH DIJAWAB!"
Bugh!
Satu pukulan Elgara berhasil mendarat di mata Anres. Mengakibatkan luka lebam tercetak di ujung mata Anres. Napas Anres semakin memburu, ia tak terima atas perlakuan Elgara. Tangannya mengepal erat, tanpa berlama-lama Anres melayangkan pukulan pada Elgara.
Bugh!
Pukulan Anres berhasil mengenai pipi Elgara, kemudian ia menarik kerah seragam Elgara cukup kencang. "KALO IYA KENAPA?!" bentak Anres.
Elgara tertawa kecil. "Makanya lo gak usah berlagak dingin sama cewek. Gak ada yang mau, kan? Cuma Ayra yang care sama lo, makanya lo suka sama dia," jelas Elgara.
"KURANG AJAR!"
Bugh!
"LO YANG KURANG AJAR, BANGSAT!"
Bugh!
Mereka berdua kembali saling melayangkan pukulan demi pukulan, sedangkan cewek yang menjadi rebutan mereka hanya memperhatikan mereka. Sembari bersedekap dada–layaknya seorang juri.
Beberapa detik kemudian mereka menghentikan pukulannya, mereka kembali menatap tajam dengan napas yang terengah-engah. Detik berikutnya mereka serentak beralih menatap Ayra.
"Kenapa berhenti?" tanya Ayra.
"Ayo lanjutin. Seru loh," ucap Ayra.
"Mm ... kayaknya tambah seru deh kalo kalian berantemnya pakai ini, wait ...."
Gadis itu merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan dua gunting, lalu memberikannya pada Elgara dan juga Anres. Setelah diberi gunting oleh Ayra, Elgara dan Anres menatap guntingnya masing-masing.
"Lanjutin ya. Selamat tusuk menusuk!" Ayra melenggang pergi dari taman meninggalkan kedua cowok tersebut yang masih mematung.
"Anying!" ketus Elgara sembari melemparkan guntingnya ke arah Anres.
"Sakit, monyet!" ketus Anres yang tak mau kalah melemparkan guntingnya juga pada Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Yang lain kalo cowoknya berantem pasti dipisahin sambil teriak-teriak. Lah lo, ditonton terus disuruh pake gunting berantemnya. Gak habis pikir gue, Ra," ujar Shafira.
"Tapi emang harus gitu sih, kalo pisahin orang yang berantem, menurut gue. Karena mereka pasti malu kalo digituin dan gak terusin lagi," jelas Nana.
Ayra menyeruput jus alpukat nya terlebih dahulu sebelum mengobrol dengan ketiga sahabatnya. "Habisnya gue bingung pisahinnya gimana. Kalo gue diem di tengah-tengah mereka–nanti gue kebogem."
"Kalo misal gue narik tubuh Anres atau Elgara entar mereka iri dan pasti berantem lagi."
"Ya udah gue pisahinnya gitu aja," ucap Ayra.
Mereka bertiga bertepuk tangan sembari tersenyum kagum pada salah satu sahabatnya itu. "Lo pantas dijuluki Queen anti menye-menye," ujar Nana di akhiri tawaan serentak.
"Eh, gengs! Lo tau gak yang lagi viral–" Ucapan Ayra terhenti karena Elgara menarik lengannya untuk berdiri.
"Ikut gue," pinta Elgara.
Mau tidak mau Ayra harus mengikuti langkah Elgara, lantaran laki-laki itu terus menariknya untuk berjalan. Seisi kantin memusatkan mata ke arah Ayra dan juga Elgara.
"Lepasin!" pinta Ayra sembari menghempas tangannya.
"Mau apa lagi sih, El? Mau minta maaf lagi, hah?" tanya Ayra.
"Gue udah bilang sama lo, kata maaf gak bisa sembuhin sakit di hati gue. Sekarang gue tanya maksud lo apa mempermainkan gue kayak gitu?"
Ayra mulai menangis, ia tak kuat menahan air matanya yang dari tadi ia tahan mati-matian. Lagi-lagi air mata itu terjatuh di hadapan Elgara. "Lo kalo udah gak ada rasa–" Ayra menekan dada Elgara menggunakan jari nya.
"Gak usah dipaksain, El ... udah. Kalo udah gak ada rasa, ya udah!" ucap Ayra.
"Jangan terpaksa karena orang tua gue ngasih kepercayaan sama lo buat jaga gue. Lo kalo mau pergi dari gue, ya udah pergi aja, gue bisa sendiri, gue udah terbiasa sekarang."
Laki-laki itu hanya terdiam. Elgara tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menatap dua mata Ayra yang terus mengeluarkan air mata. Ia bisa merasakan bahwa Ayra benar-benar terluka karenanya, lantaran gadis itu menangis sampai terisak-isak.
Elgara menarik tubuh Ayra ke dalam pelukannya. Bukan menjadi tenang Elgara memeluknya, tapi Ayra semakin benci dan kesal.
"Ngapain peluk gue kalo lo mau pergi! Jangan ngasih harapan buat gue lagi ...."
"Gue capek, sakit ke gue nya, El!" jelas Ayra sembari terisak-isak menangis.
"Gue gak mau pergi dari lo, Ra. Siapa yang udah bilang kalo gue pengen pergi dari lo?" tanya Elgara.
Ayra melepaskan pelukannya. "Gak ada. Gue sendiri yang menyimpulkan itu, karena apa– hubungan kita baik-baik aja, tapi tiba-tiba lo kayak gitu. Seolah pengen gue kecewa sama lo dan berakhir pergi dari lo," jelas Ayra.
Elgara menundukkan kepalanya. "Gue pikir jauh dari lo fine-fine aja. Makanya gue coba lakuin hal itu. Gue egois, Ra, gue salah," ucap Elgara.
"Ternyata–gue gak bisa baik-baik aja tanpa lo," lanjut Elgara.
"Gue juga," sahut Ayra membuat Elgara mendongakkan kepalanya.
Elgara memeluk Ayra kembali, ia mengusap kepala Ayra beberapa kali. "Lo mau maafin gue?" tanya Elgara.
"Mm–"
"Ya udah–gue maafin lo. Jangan kecewain gue lagi," jawab Ayra yang diangguki Elgara.
Senyuman tercetak di bibir mereka berdua, tapi tak lama senyuman mereka berdua luntur begitu saja. Raut wajah Elgara dan juga Ayra berubah menjadi datar kembali, mereka saling berkata di dalam hatinya.
'Tapi tetap aja keraguan dan kewaspadaan gue gak akan pernah hilang. Sampai gue menemukan kebenaran tentang siapa lo sebenarnya.' batin Elgara.
'Sesayang apapun gue sama lo, tetap aja rasa dendam atas kematian Kak Micho selalu ada.'
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
"Mau makan apa, Ra?" tanya Elgara.
"Minum aja deh, pengen es campur," jawab Ayra.
Elgara menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari Abah Suro. "Bah! Es campur nya dua, ya," ucap Elgara setengah berteriak.
"Siap!"
"Kenapa gak sekalian makan, hm?" tanya Elgara.
"Gak laper. Makanan di rumah masih banyak sayang kalo gak dimakan," jawab Ayra.
Laki-laki bermata elang itu tersenyum sembari mengacak gemas rambut Ayra, kemudian Elgara menarik kepala Ayra secara perlahan agar gadis itu bersandar di bahunya.
"El," panggil Ayra.
"Hm?"
"Katanya bakal ada pasar malam. Nanti kita ke sana, yuk?" ajak Ayra.
"Ayo," jawab Elgara.
Satu persatu anak Vanoztra berdatangan ke Warbah. Hari ini mereka tak lupa mengajak anggota baru Vanoztra untuk bergabung bersama mereka, sekaligus memperkenalkan basecamp kedua.
"Anjir, udah akur nih," ucap Mario sembari bersalaman dengan Elgara.
"Yoi, gue bakal bikin lo semua iri dengan kebucinan gue dan Ayra lagi," jelas Elgara di akhiri senyuman lebar.
"Laknat bener lo, babi! Lihat aja kalo gue udah punya cewek!" ketus Brio.
"Jadi kita ke sini mau lihat orang bucin apa mau kenalin basecamp ke Rozy?" tanya Anres dengan raut wajah kesal.
"Santai nyet, santai. Daritadi lo gak kalem kenapa sih, Res?" tanya Anggara.
Mario merangkul pundak Anres. "Udahlah, Res. Kalo kalah buat dapetin Ayra, gue bisa bantu cari yang lain. Daripada wajah lo bonyok mulu nanti lo gak laku, anjir," jelas Mario.
Anres menepis tangan Mario yang merangkul pundaknya. "Diem lo!" ketus Anres.
"Jadi Zy, lo bisa sebut warung ini Warbah– basecamp kedua kita. Pemilik warung ini namanya Abah Suro. Kita kumpul di sini cuma buat have fun aja," jelas Elgara yang diangguki Rozy.
"Kalo cewek di samping lo?" tanya Rozy.
"Dia pacar gue, namanya Ayra. Dia bukan bagian dari Vanoztra, tapi–"
"Dia bagian dari hidup gue," jawab Elgara sembari merangkul pundak Ayra.
"Beuhhh!"
Sontak Ayra menatap Elgara dengan tatapan terkejut, sedangkan yang lainnya mereka tertawa, kemudian bersorak. Menyoraki perkataan Elgara yang terdengar menggelikan.
Rozy tertawa kecil atas ucapan Elgara, kemudian ia menatap Ayra begitu intens. "Lo– adiknya Micholas Askara, kan?" tanya Rozy.