Vanoztra

Vanoztra
17. Necklace



"Wait! Mata lo—bengkak gitu anjir, lo habis nangis? Kenapa?" tanya Nana sembari menatap wajah Ayra.


Ayra yang tengah meniup-niup nasi goreng nya terhenti seketika, ia menghela napasnya panjang. Sebelum menjawab Ayra terdiam sejenak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Nana.


Melihat raut wajah Ayra menjadi murung, Nana memegang tangan Ayra sembari tersenyum. "Gak usah cerita kalo lo gak mau cerita. Gue cuma nanya aja takutnya lo kenapa-kenapa," ucap Nana.


"Iya gue habis nangis Na, karena—gue maraton drakor semalam."


"Gila Na! Itu drakor sad banget anjir. Gue jadi trauma nonton drakor yang sad ending. Kepikiran sampai sekarang," jelas Ayra, kemudian kembali menyantap sarapannya.


"Nah itu, alasan gue gak suka sama hal yang sad ending!" ucap Nana.


"Oh iya, Ra. Kemarin sorry ya, gue maksa banget buat lo cerita tentang hubungan lo sama Elgara. Kemarin gue, Shafira sama Maudy cuma ngerasa gak dihargai sebagai sahabat. Karena orang lain lebih tau duluan," jelas Nana.


"Gak usah minta maaf. Bukannya gue gak mau cerita sama kalian, cuma—gue rasa Elgara nembak gue tuh hanya main-main. Jadi gue gak anggap gue sama Elgara tuh jadian," jawab Ayra yang diangguki oleh Nana sembari tersenyum.


"Iya gue paham. Terus sekarang hubungan lo?" tanya Nana.


Ayra terdiam kembali. Soal ucapan Elgara kemarin malam kembali teringat di benaknya.  Seketika hatinya terasa sakit, dadanya pun terasa sesak. Saat akan menjawab pertanyaan Nana lidahnya begitu kelu, seolah Ayra tak ingin berkata bahwa hubungannya putus.


"Hubungan gue—hem ... hubungan gue sama Elgara—"


"Putus, Na," jawab Ayra.


"Oh ... ya udah sih, gak pantas juga kalo dilanjutin karena hanya satu pihak yang mencintai," ucap Nana, kemudian menyeruput susu cokelatnya.


"Hem, iya bener," sahut Ayra sembari tersenyum kecut.


Setelah selesai menghabiskan sarapan nya, Ayra menepuk-nepuk perutnya yang sudah begah. Tak sengaja pandangannya bertemu dengan mata Elgara. Laki-laki yang sedang duduk tak jauh dari jaraknya menatap Ayra dengan tatapan dingin, kemudian ia mengalihkan pandangannya.


'Sebelumnya Elgara gak pernah natap gue kayak gitu.'


"Maudy sama Shafira kemana, sih? Jam segini belum nongol-nongol juga," ucap Nana sembari celingukan ke arah pintu kantin.


"Kesiangan kali. Tadi gue lihat jam 2 malam mereka berdua masih ngoceh di grup," sahut Ayra.


"Iya deh kayaknya. Ya udah Ra, kita masuk kelas yuk, bentar lagi bel," ajak Nana sembari beranjak dari kursinya.


"Hem, gue masih mau di sin—"


"Elgara! Gue bawa salad nih, buat lo. Dimakan ya, masih fresh," ucap Mega sembari duduk di samping Elgara.


Kalian ingat, cewek yang pernah memberi tisu pada Elgara saat olahraga dan juga menyeka keringat Elgara? Cewek itu—Mega.


"Lo masih mau di sini?" tanya Nana.


Ayra mengalihkan pandangannya menatap Nana. "Enggak deh, ke kelas aja, yuk!" Ayra beranjak dari kursinya, kemudian berjalan bersama Nana menuju kelas.


Pandangan Elgara terus mengikuti langkah Ayra hingga punggung gadis itu tak terlihat lagi di matanya. Elgara menghela napas, kemudian mengusap kasar wajahnya.


'Lo harus lupain dia secepatnya, El.'


Tadinya Ayra akan tetap diam di kantin sebelum Elgara pergi, tapi saat Mega menghampiri Elgara, kemudian duduk di samping Elgara. Hati Ayra kembali sakit sehingga ia memilih pergi dari kantin.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Jam pelajaran sudah dimulai dari 15 menit yang lalu, tapi Maudy masih berada di luar gerbang. Keringat bercucuran dari pelipisnya, dengan napas terengah-engah ia terus memperhatikan ke arah pos satpam.


"Aduh ... Pak Usep ... pergi dong jangan terus diam di pos," gumam Maudy.


"Mod!"


Maudy terperanjat kaget saat seseorang menepuk kencang pundaknya, ia menoleh ke belakang. "Shafira! Lo bikin gue kaget, kampret!" ketus Maudy.


"Gue kira gue doang yang kesiangan. Ya udah, ayo masuk," ucap Shafira, kemudian menarik lengan Maudy untuk mengikuti langkahnya, tapi Maudy tetap terdiam.


"Ayo masuk mumpung gerbangnya dibuka," ujar Shafira.


"Lihat, bego! Di pos ada Pak Usep. Mau lo dijemur di lapang sama Pak Usep? Gue sih ogah," jelas Maudy.


"Ck! Pake diam di pos segala, padahal ngopi aja di kantin enak. Dongo banget ya, pak Usep," ucap Shafira sembari berkacak pinggang.


"Nah! Gue tau Mod! Kita harus apa—kita harus lari cepet banget biar pak Usep gak lihat kita," ujar Shafira sembari tersenyum.


"Gak mau ah, kaki gue sakit udah lari-larian di jalan. Masa sekarang harus lari juga. Mana sampai ke kelas tuh jauh banget," sahut Maudy dengan raut wajah cemberut.


"Lebay lo, jablay! Ya udah naik ke punggung gue! Ini tuh kesempatan kita biar bisa masuk," ucap Shafira, kemudian ia berjongkok.


Maudy pun naik ke punggung Shafira, ia melingkarkan tangannya pada leher Shafira. "Gue sentil otak lo, kalo gue jatuh," ucap Maudy.


"Tenang aja. Siap ya, gue lari cepet nih, lo pegangan yang kuat."


"Siap? Satu ... dua ... tiga!"


"Shaaafiiii go!" teriak Maudy sembari mengacungkan satu tangannya.


"Setan lo, Mod!" ketus Shafira.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Motor milik anak Vanoztra terparkir rapi di samping Warbah. Hari ini Elgara akan membahas soal gangster Caymin. Tadinya ia ingin semua anggotanya kumpul di basecamp, tapi mood Elgara tengah buruk—jadinya Elgara hanya mengumpulkan orang-orang terpenting saja.


"Seperti yang gue bilang kemarin malam. Hari ini kita mulai mencari siapa ketua gangster Caymin. Sebagian gue tugaskan untuk mencari info tentang Caymin di sosmed dan sebagainya lagi mencari tau Caymin di sekitar sini. Siapa tau kalian bertemu dengan anggotanya atau kalian menemukan basecampnya," jelas Elgara.


"Bisa juga kalian tanya sama temen-temen yang lainnya. Siapa tau ada yang tau soal Caymin," ucap Anres ikut menjelaskan.


"Kalian siap buat menjalankan tugas pertama hari ini?" tanya Elgara.


"Siap El!" jawab mereka serentak.


"Iya El, tenang aja gue bisa kok atur semuanya," jawab Anres.


"Gue bakal bantu si Anres juga kok, yang penting lo tenangin dulu aja tuh hati," ucap Mario yang dibenarkan Anggara dan juga Brio.


"Oke thanks. Gue pulang dulu."


Elgara membelah jalanan di kota Bandung pada sore hari dengan kecepatan tinggi. Jaket yang ia kenakan pun terbuka lebar bersama dengan kemeja seragamnya.


Seolah ia tengah melampiaskan semua rasa sakit pada hatinya karena Ayra, yang hingga kini masih membekas. Laki-laki bermata elang ini membelokkan motornya ke arah yang bukan jalan rumahnya.


Di sisi lain, gadis berambut panjang dengan warna sedikit kecoklatan tengah menaiki tangga menuju rooftop sekolah. Hari ini Ayra pulang sedikit terlambat karena membaca beberapa buku di perpustakaan untuk mengerjakan tugas.


Sebelum pulang Ayra memutuskan untuk pergi ke rooftop melihat langit yang berwarna jingga, Ayra menyukai senja.


"Ini cara gue buat tenangin diri, selain melihat pepohonan, lihat langit juga. Dengan begitu hati dan pikiran gue akan tenang," ucap Ayra, kemudian menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman.


Hembusan angin di sore hari dengan bebas memainkan rambut Ayra, seketika Ayra memejamkan matanya sembari tersenyum menikmati hembusan angin itu. Kemudian ia membuka matanya kembali, menatap langit senja.


"Gue harus benar-benar menikmati senja ini, sebelum ia pergi dan akhirnya—gue menyesal."


"Jangan sampai gue memperlakukan senja  sama seperti memperlakukan dia. Mengabaikannya di saat ada, lalu mengharapkannya setelah pergi," ucap Ayra, kemudian menundukkan kepalanya.


Ayra menghela napas panjang, ia mendongak kembali menatap langit sembari tertawa kecil, "Se-bercanda inikah cinta? Kenapa harus setelah dia pergi, datangnya?"


"LO MAU NYIKSA GUE, YA?!" teriak Ayra dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Air mata Ayra tak jadi menetes setelah dirinya mendengar suara orang menangis. Ayra menoleh ke arah samping, di mana ada Alia yang tengah berdiri di atas kursi. Sontak mata Ayra melebar.


"ALIA!" teriak Ayra sembari berlari ke arah Alia, kemudian memeluk gadis itu.


"LO NGAPAIN?! TURUN!" teriak Ayra sembari menarik tubuh Alia agar turun dari kursi.


Setelah berhasil membuat Alia turun dari kursi, Ayra memegang kedua pundak Alia. "LO GILA, HAH?! KALO TUBUH LO OLENG SEDIKIT BISA JATUH KEBAWAH!" bentak Ayra lantaran kaget dan cemas.


"A-aku ... emang niatnya mau—jatuhin diri ke bawah," ucap Alia sembari menundukkan kepalanya.


"LO—ASTAGA ... LO MAU BUNUH DIRI?!" tanya Ayra.


"I-iya, a-aku mau bunuh diri. Ng ... karena buat apa aku hidup, aku gak berguna, Ayra. Aku beban sekolah dan aku beban keluarga juga–mungkin beban negara juga," jelas Alia sembari menunduk dan memainkan jarinya.


"BEBAN WARGA, RT, RW, KECAMATAN, KELURAHAN, KOTA, PRESIDEN, MPR, DPR, MA, GITU MAKSUD LO?" tanya Ayra tanpa bernapas.


Alia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tadi—waktu istirahat aku dengar orang yang ngomongin aku ...."


"Si Alia udah kesurupan lagi."


"Gue yakin ada yang guna-guna dia. Soalnya banyak yang gak suka sama dia, kan? Jadi bisa aja ada yang guna-guna."


"Siapa yang mau guna-guna, si Alia? Orang dia nya aja gak berguna."


"SINTING TUH ORANG! SIAPA YANG NGOMONG GITU? GUE SMACKDOWN SAMPAI MATI!" ketus Ayra sembari bersedekap dada.


"Cowok, tapi aku gak berani ngasih tau namanya," sahut Alia.


Ayra mengusap pundak Alia perlahan, lalu ia tersenyum. "Lo jangan bunuh diri ya, itu dosa. Belum tentu setelah bunuh diri hidup lo tenang. Tutup telinga aja kalo ada yang ngatain, lo balas mereka dengan perubahan," ucap Ayra.


"Hem, coba lo bayangin kalo lo bunuh diri. Gimana kalo di sana malaikat bilang Alia ngapain sih bunuh diri, padahal jodoh kamu itu Manurios."


"Lo bakal nyesel dunia akhirat!" lanjut Ayra.


Alia menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari berpikir atas ucapan Ayra. "Iya juga ya, nanti gak jadi dong jodoh sama Manurios."


"Nah, itu tau! Sekarang mending kita pulang, udah sore banget. Nanti lo kemasukkan setan lagi-- mana setannya sok kenal, sok dekat pegang tangan gue.


"Pulang bareng gue, yuk? Gue anterin sampai rumah," ajak Ayra, kemudian menarik lengan Alia untuk mengikuti langkahnya.


"Makasih ya, Ayra. Kamu baik banget. Nanti kapan-kapan aku traktir kamu makan," ucap Alia yang diangguki semangat oleh Ayra.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Rasa penasarannya pada cewek yang menghampiri Elgara kemarin membuat jurus stalker Ayra berkobar. Semalam, hampir 3 jam Ayra mencari tau tentang cewek tersebut, tapi hasilnya sia-sia, ia tak menemukan sosial medianya.


Tadinya Ayra akan bertanya pada ketiga sahabatnya, tapi itu akan memunculkan banyak pertanyaan dari sahabatnya. Ayra mengurungkan niatnya, ia akan mencari tau sendiri.


Tepat pukul 06.30 Ayra tiba di sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan menyusuri koridor dengan tas yang disampirkan di sebelah bahu. Tak jauh di hadapannya ada Elgara yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya.


Bibir Ayra mengembang begitu saja saat Elgara semakin dekat berjalan ke arahnya, tapi ternyata cowok bermata elang itu terus berjalan hingga melewatinya tanpa menyapa Ayra, bahkan meliriknya saja tidak.


'Dingin banget.'


Senyuman di bibir Ayra pun perlahan menghilang. Hatinya kembali sakit, bahkan air matanya hampir menetes. Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh, kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju kelas.


"Pagi, Ra," sapa Anres yang sepertinya baru keluar dari kelas Ayra.


Ayra menghentikan langkahnya, ia tersenyum terlebih dahulu. "Hai Res, pagi," sahut Ayra, kemudian Ayra masuk kedalam kelas setelah Anres pergi.


'Kotak kado? Punya siapa?'


Saat tiba di mejanya, Ayra disuguhkan sebuah kotak kado yang terhias cantik oleh pita. Penasaran, Ayra menarik secarik surat yang berada di atas kotak terhimpit oleh pita.


For Ayra.


Mungkin hati kita gak bisa bersatu, tapi kalung ini akan membuat kita bersatu.


"Necklace? Buat gue?" tanya Ayra sendiri, kemudian ia membuka kadonya.


Benar saja kotak kado tersebut berisi sebuah kalung, dengan liontin astronot dan sebuah magnet kecil di pinggirnya. Sudah dipastikan kalung itu couple. Ayra masih bertanya-tanya siapa yang memberinya?