
Kejadian yang dilihat oleh Nathan tadi sore membuat hatinya terus menggerutu kesal. Nathan sudah yakin bahwa sepupunya itu mempunyai hubungan dengan musuhnya. Kini di basecamp Nathan terduduk sembari memikirkan soal Ayra.
"Arrghh!" teriak Nathan, kemudian memijat pelipisnya.
Pandangan Nathan beralih ke arah teman-temannya. "Lo semua juga lihat, kan? Cara Ayra tatap Elgara tuh, beda," ucap Nathan.
Serentak mereka menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Nathan. "Kalo emang Ayra dekat sama Elgara karena misi, gak akan mungkin dia sebucin itu," ucap Satria.
"Tapi bisa jadi kalo Ayra sengaja bucin banget sama Elgara, biar Elgara gak curiga sama dia. Ayra orangnya cerdik, dia gak bisa ditebak, Nat," sahut Gerald.
"Tapi ini tuh beda Ger, tatapan Ayra tuh beda. Gue yakin tuh anak selama ini ga jalankan misinya. Dia malah pacaran sama Elgara," ucap Nathan.
Dering ponsel menghentikan aktivitas Ayra yang tengah mengepel rumah. Gadis itu menyenderkan alat pel nya pada meja, kemudian Ayra meraih ponselnya.
"Halo, Mam," ucap Ayra sembari mendudukkan tubuhnya di kursi.
Gimana tadi ujiannya, sayang? Maaf ya, Mama sama Papa gak kasih kamu semangat.
"Lancar, Mam."
Kamu lagi apa? Gak lagi belajar, kan?
"Ayra lagi pel rumah. Kenapa emangnya?"
Mama mau bicara sama kamu, tapi Mama mohon kamu dengar sampai selesai ucapan Mama, ya. Jangan kamu matikan telponnya.
"Oke."
Kelulusan nanti kamu ....
Elgara menghentikan motornya di depan gerbang rumah Ayra. Elgara pikir gerbang tersebut dikunci ternyata tidak. Dengan cepat ia membuka gerbangnya, kemudian memarkirkan motornya di depan rumah Ayra.
Setelah turun dari motor Elgara meraih kantong plastik yang berisi makanan untuk Ayra. Baru saja Elgara berjalan beberapa langkah, langkahnya sudah terhenti saat dehaman seseorang di belakangnya.
"Ekhemm!"
Elgara menoleh ke belakang, seperti biasa raut wajahnya berubah seketika. Setelah melihat keberadaan Nathan. "Apa lo?" tanya Elgara.
"Mau ngapain lagi lo dateng ke sini?" tanya Nathan dengan tatapan tajam.
"Ngapain lo nanya? Suka-suka gue lah, mau ngapain juga. Emang lo ada hak apa larang gue dateng ke rumah Ayra?" sahut Elgara.
"Ya ada, lah. Gue punya hak larang lo datang ke sini. Sekarang gue tanya lo siapanya Ayra?" tanya Nathan.
Elgara tak menjawab pertanyaan Nathan. Ia berpikir jika terus menjawab perkataan Nathan tidak akan ada habisnya mereka berdua berdebat. Elgara memilih melenggang pergi menuju pintu rumah Ayra.
Nathan tak membiarkan Elgara begitu saja. Ia menarik belakang jaket Elgara, kemudian ia bersiap melayangkan pukulan. Elgara yang sudah tau rencana Nathan dari lirikan sisi matanya, ia langsung sigap memukul Nathan sebelum Nathan memukulnya.
Bugh!
"Akh! Sialan!" ketus Nathan sembari memegang matanya yang terkena pukulan Elgara.
Elgara mengibaskan jaketnya dengan napas yang memburu sembari menatap Nathan. "Gak usah pancing emosi gue," ucap Elgara.
Laki-laki itu tertawa meremehkan, kemudian raut wajahnya berubah menjadi datar. Tangan Nathan terulur menarik kerah jaket Elgara, kemudian ia melayangkan pukulan, tetapi Elgara berhasil menghindar.
Dan kini Elgara yang beralih menarik kerah kaos Nathan, kemudian laki-laki bermata elang itu membenturkan tubuh Nathan pada tembok. Tak berlama-lama Elgara langsung memukuli Nathan. Nathan tak hanya diam, ia pun membalas pukulan Elgara, tapi Nathan lebih banyak mendapatkan pukulan dibandingkan memukul Elgara.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Ayra yang tengah terisak menangis. Terhenti begitu saja saat mendengar pukulan demi pukulan di depan rumahnya. Bahkan pukulan itu terdengar oleh Regina lewat telepon.
Ayra kamu lagi di mana? Kok ada suara yang berantem?
"Ayra lagi di rumah, Mam."
"Kayaknya–itu Nathan deh, Mam."
"Ya udah, maaf Ayra matiin dulu ya teleponnya."
Gadis itu segera beranjak dari kursinya, ia sudah menebak bahwa Nathan ribut dengan Elgara. Saking terburu-buru nya berlari menuju pintu rumah tak sengaja Ayra menginjak Ciko.
"Aaaa! Anak gue!" teriak Ayra terkejut.
"Aduh ... Ciko ... pakai keinjak segala lagi," ucap Ayra sembari meraih Ciko, ia mengusap anak ayam itu.
Beruntung Ciko tidak mati terinjak oleh Ayra. Tak punya waktu banyak, Ayra menyimpan Ciko di atas sofa, ia kembali melangkahkan kakinya keluar rumah.
BUGH!
Elgara terlihat membabi buta memukuli Nathan, meskipun lawannya itu sudah lemas. Sejak kedatangan Nathan, Elgara mati-matian menahan emosinya, tapi laki-laki itu malah memancing emosinya.
"GUE UDAH BILANG, JANGAN PANCING EMOSI GUE!" bentak Elgara.
"KETIKA EMOSI GUE MELUAP, GUA GAK AKAN PEDULI KALO LO ITU MAKHLUK BERNYAWA!"
BUGH!
"ELGARA STOP!" teriak Ayra, kemudian gadis itu menyelip ke tengah-tengah untuk menjauhkan Elgara dari Nathan dengan cara memeluk tubuh Elgara.
Napas Elgara terengah-engah, matanya memerah tajam menatap Nathan, sedangkan laki-laki yang sudah banyak mendapatkan pukulan dari Elgara, hanya tertawa meremehkan Elgara. Nathan mengusap setiap darah yang mengalir di bagian wajahnya.
"Hold your emotions," ucap Ayra sembari menatap Elgara lekat.
Nathan memperhatikan mereka berdua dengan tatapan kesal. Matanya terfokus pada kalung Ayra dan Elgara yang saling menempel. Saking kesalnya melihat itu, Nathan menggeram hingga terdengar gemeletuk giginya.
Elgara mengeratkan pelukannya, ia menumpukkan dagu nya di puncak kepala Ayra. "Dia yang udah pancing emosi gue, Ra," ucap Elgara.
"Nathan siapanya lo, sih?" tanya Elgara.
Ayra melepaskan pelukannya, ia menatap Elgara begitu lekat, kemudian Ayra mengalihkan pandangannya. Ayra tidak tau harus menjawab apa atas pertanyaan Elgara tadi.
"Hm? Nathan siapa lo?" tanya Elgara kembali.
"Dia, dia–"
Ucapan Ayra terhenti saat Nathan menarik lengannya cukup kencang untuk mengikuti langkahnya. "Apaansih, Nat? Lepasin!" pinta Ayra sembari berusaha melepas cekalan Nathan.
"Ikut gue!" bentak Nathan sembari terus menyeret Ayra.
Nathan meminta Ayra untuk naik ke motor. Gadis bermata coklat itu pun mau tak mau harus menuruti perintah Nathan. Elgara berjalan menghampiri Nathan dengan raut wajah sangar.
"Lo mau bawa Ayra kemana, sialan?!" tanya Elgara.
"Bukan urusan lo!" jawab Nathan ketus.
Ayra menoleh ke arah Elgara. "Lo pulang aja, El. Nanti gue telepon," ucap Ayra.
"Lo–dongo! Buruan!" ketus Ayra sembari menepuk pundak Nathan.
Setelah motor Nathan melaju pergi dari rumah Ayra. Elgara masih berdiam diri di tempat dengan pandangan yang mengikuti laju motor Nathan. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras hingga terdengar gemeletuk giginya.
"Gue tau, Ra. Nathan bukan orang lain di hidup lo," ucap Elgara.
...🏴☠️🏴☠️🏴☠️...
Kini di basecamp Alaskar Ayra terduduk di kursi dengan santai, padahal seluruh anak Alaskar menatap Ayra intens. Apalagi Nathan, ia menatap Ayra penuh kecurigaan dan kekesalan. Nathan menumpukkan kedua tangannya di atas meja dengan pandangan menatap gadis itu.
"Jelasin yang sebenarnya, lo ada hubungan apa sama Elgara?" tanya Nathan.
Ayra menghela napasnya. "Gak ada apa-apa. Gue lagi menjalankan misi untuk menghancurkan Vanoztra dengan cara mendekati Elgara, you understand?"
Brak!
Nathan menggebrak meja cukup kencang, membuat Ayra sedikit terkejut. Detik berikutnya masih menatap Ayra dengan intens, kini Nathan bersedekap dada.
"Gue bisa bedain dari cara lo tatap dia. Kalo benar hanya misi, lo gak akan setulus itu tatap Elgara. Terbukti kalo lo cinta, kan, sama Elgara? Lo beneran pacaran, kan, sama dia?!" tanya Nathan sembari membentak.
Ayra memutar bola matanya malas sembari menghela napasnya panjang. "Mata lo kelilipan bumbu ciki! Sejak kapan gue tatap Elgara tulus," ucap Ayra.
"Oke. Kalo lo mendekati Elgara karena menjalankan misi untuk menghancurkan Vanoztra–sekarang gue tanya, apa yang udah lo dapat selama ini?" tanya Nathan.
Deg!
Gadis itu tersentak atas ucapan Nathan barusan. Ayra mengulum bibirnya sembari berpikir untuk menjawab pertanyaan Nathan. Otaknya terus berpikir keras soal apa yang telah ia dapatkan, tapi kenyataanya Ayra tak mendapatkan apa-apa soal Vanoztra.
"Udah dapat apa?" tanya Nathan.
Merasa geram karena Ayra hanya terdiam tak menjawab perkataannya, Nathan menangkup pipi Ayra cukup kencang dengan satu tangannya. Membuat gadis itu mendongak menatap Nathan. Nathan semakin yakin bahwa selama ini sepupunya itu tidak menjalankan misinya, melainkan mencintai musuhnya.
"Gak bisa jawab, kan, lo? Jadi selama ini lo gak jalankan misinya, hah?!"
"Selama ini lo malah cinta sama orang yang udah bikin kakak lo mati?!"
"JAWAB AYRA!" bentak Nathan.
Ayra menepis tangan Nathan yang mencekal pipinya, kemudian ia berdiri tegak di hadapan Nathan dengan mata yang menatap tajam. "IYA! GUE TERLANJUR CINTA SAMA ELGARA! GUE GAGAL MENGHANCURKAN VANOZTRA!" bentak Ayra dengan napas yang memburu.
"Lo gak usah tanya kenapa gue jadi cinta sama Elgara! Karena gue sendiri pun gak tau kenapa bisa gue cinta sama dia!"
"Cinta sama orang yang jelas udah tembak kakak gue. Gue gak tau, gue gak ngerti kenapa semuanya jadi kayak gini! Rasa dendam gue sama Elgara, kalah sama rasa cinta gue ke Elgara!"
"KURANG AJAR LO AYRA! LO UDAH KHIANATI KITA SEMUA!" bentak Satria sembari mencekal kedua lengan atas Ayra sangat kencang.
Satria mengepalkan tangannya bersiap untuk melayangkan pukulan pada Ayra. "LO GAK BECUS JADI BAGIAN ALASKAR!"
Saat Satria akan melayangkan pukulannya pada Ayra, aktivitasnya langsung terhenti setelah Nathan mencekal tangannya. Tatapan Nathan menajam pada Satria.
"Gue gak minta lo buat pukul sepupu gue!" bentak Nathan.
Satria langsung menurunkan tangannya, ia mencoba menahan emosinya pada Ayra. Tak mau emosinya kembali meluap ia memilih duduk di kursi.
"Kalo Bang Micho masih ada dan tau kelakuan adiknya kayak gini–dia pasti marah besar sama lo, Ayra," ucap Gerald.
Ayra menundukkan kepalanya. Tetesan demi tetesan air matanya mengalir membasahi pipi. Ayra tau dirinya salah, Ayra tau seharusnya ia tidak seperti ini, tapi setelah rasa cinta ini datang ia kesulitan untuk menghilangkannya.
"Sekarang–" Nathan menghentikan ucapannya terlebih dahulu, setelah matanya terfokus pada benda yang ia benci sedari tadi.
Laki-laki itu menarik kalung yang melingkar di leher Ayra cukup kencang. Hingga kalung itu lepas dari leher Ayra dan juga terputus. "Putusin Elgara dan kembali pada tujuan utama lo!"
Ayra tak menjawab perkataan Nathan. Gadis itu segera merebut kalungnya dari tangan Nathan, kemudian ia melenggang pergi keluar dari basecamp.
"Ayra!" panggil Nathan, tapi Ayra tak menggubrisnya.
Saat langkahnya berhasil menuju keluar basecamp, tiba-tiba Ayra menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak saat melihat orang yang berdiri di hadapannya. Jantung Ayra berdegup kencang dua kali lipat.
"Oh my God ... Ayra Claresta, penyusun strategi penyerangan Alaskar," ucap Elgara dengan datar.