Vanoztra

Vanoztra
39. Dia terluka



"Masuk, Mam," ucap Elgara dengan suara lemas.


Resta berjalan masuk ke dalam kamar, ia menyimpan helm milik Elgara di atas meja. Melihat raut wajah Elgara yang terlihat sedang tidak baik-baik saja, membuat Resta khawatir dan bertanya-tanya.


"El, kamu baik-baik aja?" tanya Resta sembari memegang pundak Elgara.


Elgara tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. "Elgara baik-baik aja, Mam," jawab Elgara.


Resta terduduk di samping Elgara, ia meraih tangan putranya, kemudian mengusapnya. "Mulut kamu bohong, mata kamu jujur," ucap Resta.


Ucapan Resta sama seperti ucapan Ayra saat di taman waktu itu. Sontak Elgara menundukkan kepalanya, terdengar helaan napas dari diri Elgara. Resta mengusap punggung Elgara, kemudian ia menangkup wajah Elgara.


"Kamu berantem sama Ayra?" tanya Resta. Elgara memilih diam tak bersuara.


"Wajar kok, dalam hubungan itu pasti ada berantemnya. Kamu bisa lihat Mama sama papa yang udah nikah aja kadang suka berantem," jelas Resta.


"Penyebab berantem bukan karena sudah tidak saling cinta, tapi itu karena adanya keegoisan di diri kamu atau di diri Ayra."


"Bahkan pikiran yang negatif pun itu bisa menjadi penyebab pertengkaran," lanjut Resta.


Resta memegang kembali pundak Elgara, ia tersenyum ke arah putranya. "Selagi masih bisa baikan, kamu coba ajak Ayra untuk menyelesaikan masalahnya."


"Mama tau, Ayra itu tulus dan Mama bisa lihat dari mata Ayra yang sangat berbeda ketika menatap kamu," ucap Resta.


Elgara menghela napasnya, lalu ia berkata, "Iya Mam, makasih sarannya."


"Ya sudah, Mama mau bantu Lesya ngerjain tugas dulu," ucap Resta, kemudian beranjak dari duduknya.


Elgara membaringkan tubuhnya pada tempat tidur. Sejenak laki-laki itu memejamkan matanya, tapi pikirannya terus berputar tentang Ayra. Bahkan saat Elgara mencoba untuk menenangkan dirinya, semua ucapannya terus berputar.


"DAN GUE JUGA SADAR SEKARANG! KALO LO DEKETIN GUE, HANYA KARENA LO INGIN TAU SOAL VANOZTRA!"


Mata Elgara kembali terbuka, ia meraih ponselnya yang berada di samping–tempat ia berbaring. Elgara mengklik salah satu story Instagram milik Maudy.


Di sana terdapat video Maudy yang tengah bernyanyi bersama, Nana dan Shafira. Bukan hanya itu di sana pun terdapat Ayra yang sedang terduduk sembari tertawa melihat kelakuan ketiga sahabatnya.


Melihat Ayra tersenyum membuat bibir Elgara secara otomatis ikut tersenyum juga. Sadar apa yang ia lakukan raut wajah Elgara kembali datar. Laki-laki itu memijat pelipisnya, kemudian mengusap wajahnya.


"Dia terluka."


"Gue udah bikin senyuman Ayra berbeda. Senyumannya bercampur dengan rasa sakit."


"Maafin gue, Ra," ucap Elgara sembari menundukkan kepalanya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Dinginnya angin malam sudah menjadi hal biasa bagi Elgara. Kini laki-laki bermata elang itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia tak peduli dengan dirinya yang mungkin saja bisa mengalami kecelakaan hebat.


Tapi hal itu tidak Elgara pikirkan untuk hari ini, ia hanya ingin melampiaskan emosinya, rasa kekesalannya dan kekecewaannya. Rasa kesal dan kecewa pada dirinya sendiri dan pada Anres. Bisa dipastikan hubungan Elgara dan Anres kini tidak baik-baik saja.


"Kalo gue minta maaf pasti gak dimaafin. Dengar penjelasan gue aja Ayra gak mau. Gue harus gimana?!" ucap Elgara setelah tiba di taman.


Elgara menghentikan langkahnya, ia menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang berada di saku jaketnya. Kemana pun langkah Elgara pergi atau apapun kegiatan yang Elgara lakukan, pikirannya tetap berputar soal Ayra.


"Lo bunuh gue secara perlahan, Ra," ucap Elgara, kemudian ia mendongakkan kepala untuk menatap langit.


"Dari banyaknya cewek yang dekat sama gue, hanya lo yang selalu gue pikirin sampai mati-matian. Sekali pun gue lagi kesal sama lo," ucap Elgara.


"Arrgghh!" teriak Elgara sembari mengacak rambutnya frustasi.


Pandangan Elgara beralih ke arah samping, ia terfokus pada seorang wanita yang tak jauh dari jaraknya tengah tersedu-sedu menangis. Kesekian kalinya Elgara melihat Ayra menangis karenanya.


"Ayra," gumam Elgara.


Seolah ada yang menggerakkan, kaki Elgara dengan otomatis melangkah mendekati Ayra. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kursi yang diduduki Ayra, tapi Elgara menghentikan langkahnya. Ternyata Ayra tidak sendiri, ia tengah bersama Anres.


"Masih mau nangis?" tanya Anres sembari menatap Ayra.


Ayra menghapus air matanya ia menatap Anres. Detik berikutnya senyuman terbit di bibir Ayra. "Udah. Hati gue udah cukup tenang, kok," jawab Ayra.


Tangan Anres terulur mengusap puncak kepala Ayra. Melihat gadis itu kembali tersenyum membuat hatinya terasa lega, bahkan bibirnya pun ikut tersenyum juga.


"Gue gak beli yupi, Ra. Lo mau yupi, ya? Gue cari minimarket dulu," ucap Anres.


Ayra memegang lengan Anres sembari menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Gue lagi gak pengen, kok," ujar Ayra.


Sudah menjadi kebiasaan setelah menangis pasti Ayra akan terus menguap dan matanya pun akan terasa berat–mengantuk. Melihat Ayra terus menguap, Anres menarik kepala Ayra untuk bersandar di bahu nya.


Aroma parfum Anres tercium kuat oleh hidung Ayra. Gadis itu menatap Anres dari samping sembari tersenyum. "Thanks," ucap Ayra.


"Kenapa lo tiba-tiba pengen ke taman ini?" tanya Anres.


"Kalo gue gak ada di basecamp atau rumah. Lo bisa cari gue ke tempat ini."


"Karena tempat ini sering gue kunjungi ketika keadaan gue lagi hancur."


'Tapi Elgara gak ada di sini. Gue gak lihat dia.'


"Ra? Hei," panggil Anres sembari menjentikkan jarinya di hadapan Ayra.


Lamunan Ayra terbuyarkan, ia menegakkan tubuhnya sembari menatap ke arah Anres. "Sorry-sorry. Mm, gue cuma pengen ke sini aja, sih," jawab Ayra.


"Oh ... maksud lo pengen berduaan sama gue di taman," ucap Anres sembari tersenyum menggoda Ayra.


"A-apaansih, Res. Bukan gitu," sahut Ayra sembari memukul lengan Anres.


Tak jauh dari jarak mereka, Elgara menggeram kesal. Tangannya mengepal kuat seolah ingin menghajar Anres detik itu juga. Semakin lama napas Elgara semakin memburu, matanya menatap tajam ke arah Anres.


"Gue gak bisa tinggal diam. Detik ini juga gue–"


Ucapan Elgara terhenti karena sebuah dering ponsel yang bergetar di saku celananya. Setelah melihat nama yang menelepon dirinya dengan cepat Elgara menjawab telepon tersebut. Hati Elgara sudah tidak enak, ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Lo di mana, El?" tanya Brio di seberang sana.


"Di taman. Ada apa?"


Gawat El, lagi-lagi Alaskar cari masalah. Mereka sekap Nino sekarang.


"SIALAN!"


"Suruh semuanya kumpul. Gue otw ke basecamp."


Oke!


Elgara mematikan teleponnya, kemudian ia berjalan menghampiri Anres dengan raut wajah sangar. Bukan, Elgara menghampiri Anres bukan untuk menghajarnya, tapi ia harus memberitahu soal masalah barusan.


"Res, lihat deh, di langit itu ada dua bintang. Menurut lo, bintang mana yang paling cantik?" tanya Ayra menatap langit.


Anres tersenyum, kemudian ia menoleh menatap Ayra. "Yang di samping gue," jawab Anres.


Ayra terdiam sejenak menatap Anres, "Res ... gue nanya bintang ... bukan orang," jawab Ayra sembari tertawa.


"Tapi emang lo–"


Belum sempat Anres melanjutkan kalimatnya, ia tersentak saat kerah jaketnya ditarik Elgara. Tak terima atas perlakuan Elgara, laki-laki itu segera menghempas tangan Elgara.


"Ikut gue!" pinta Elgara dengan tegas.


"Gue gak mau ribut sama lo," sahut Anres.


"Ini masalah Vanoztra! Nino disekap sama Alaskar!" jelas Elgara.


Elgara sempat melirik ke arah Ayra yang tengah menatapnya. Bibir Elgara ingin sekali mengucapkan maaf pada Ayra, tapi ia tak punya banyak waktu. Elgara memilih mengabaikan Ayra, lalu menarik lengan Anres agar segera mengikuti langkahnya.


Setelah dua pria itu pergi menjauh dari hadapan Ayra, gadis bermata coklat itu segera mengikat rambutnya. "Saatnya gue berdiri di hadapan Vanoztra," ucap Ayra.


Ia meraih sebuah masker buff di saku jaketnya, kemudian Ayra segera menutup setengah wajahnya.


...🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️...


Suara tepuk tangan menyambut kedatangan Elgara dan beberapa anggota vanoztra lainnya. Seperti biasa Nathan menampilkan senyuman meremehkan di bibirnya, senyuman yang membuat emosi Elgara memburu.


"Lihat kawan, kita kedatangan tamu malam ini. Kita harus sambut mereka dengan penuh sopan santun. Karena mereka adalah para jagoan Bandung," ucap Nathan.


"Di mana Nino?" tanya Elgara penuh penekanan.


"Tenang aja Bro, anggota lo itu aman-aman aja gak kita apa-apain. Cuma beberapa pukulan aja, sih, gak bakal bikin anggota lo itu mati," jelas Nathan di akhiri senyuman miring.


"BANGSAT! DI MANA NINO?!"


"LEPASIN NINO ATAU LO GUE HABISIN MALAM INI?!" bentak Elgara dengan napas yang memburu.


"Habisin aja gue, biar gangster lo itu terbukti sebagai tempat ajal seseorang," ucap Nathan.


Elgara menyeringai sembari terkekeh kecil. "Vanoztra sebagai tempat ajal atau lo yang selalu mendekatkan diri pada ajal?" tanya Elgara.


"Kehabisan tempat bunuh diri lo mah, nyet! Sampai kita-kita dijadiin tempat buat bunuh diri," ucap Brio.


"SEKALI LAGI GUE PERINGATKAN, LEPASIN NINO SEKARANG JUGA SEBELUM TANGAN GUE MELAYANG KE WAJAH LO!" ucap Elgara.


"Gue susah payah sekap salah satu anggota lo. Gak mungkin dong, Bro, gue lepas gitu aja," ujar Nathan di akhiri tawaan kecil.


"BANGSAT!" Elgara semakin mengepalkan tangannya erat, ia siap melayangkan kepalan tangannya ini pada Nathan.


Saat Elgara akan melayangkan pukulan pada Nathan. Belum mengenai wajah laki-laki itu, tapi lengan Elgara berhasil dicekal oleh seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Seorang perempuan yang setengah wajahnya ditutup.


Kedua mata mereka saling menatap tajam. Elgara menghempaskan tangannya agar terlepas dari cekalan gadis di hadapannya. Dari atas hingga bawah Elgara memperhatikan tubuh Ayra.


'Siapa cewek ini?'


Ayra menoleh ke arah Nathan. "Lepasin dia, Nat," pinta Ayra.


"Lah, gak bisa, gak bisa. Apaansih lo main nyuruh lepasin aja," ucap Nathan.


"Lepasin dia," pinta Ayra.


Nathan berdecak kesal, ia berjalan menghampiri Ayra, kemudian menarik tangan Ayra agar lebih mendekat. "Gue gak akan lepasin dia. Dengan cara sekap salah satu anggota Vanoztra, ini misi untuk menghancurkan Vanoztra," bisik Nathan.


"Ingat ucapan gue waktu itu. Soal misi menghancurkan Vanoztra lo diem, Nat. Ini tugas gue, jangan sampai lo kacaukan semuanya," bisik Ayra.


"Jadi, lepasin dia sekarang juga," pinta Ayra.


Nathan menghela napasnya. "Oke, gue lepasin anggota lo malam ini," ucap Nathan, kemudian berjalan masuk ke dalam basecamp.


Pandangan Elgara terus menatap ke arah Ayra, sedangkan gadis itu memalingkan wajahnya karena ia tau Elgara tengah menyelidikinya. Ingin rasanya Ayra mencolok mata laki-laki di hadapannya ini yang terus menatapnya intens.


Satu langkah Elgara berjalan mendekati Ayra, detik itu juga jantung Ayra berdegup kencang dua kali lipat. Ia cemas jika Elgara mengenali siapa dirinya. Elgara mengulurkan tangannya berniat untuk menarik masker yang menutup setengah wajah Ayra.


"Lo–"


Deg!